
Selamat membaca........πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Saat ini Reza sedang merasakan kebahagiaan yang sudah lama ia impikan. Kebahagiaan yang jelas berbeda saat Reza masih bersama Anita, wanita yang sempat ia puja dan menjalin hubungan terlarang dengannya. Reza pernah merasakan bahagia, namun saat ini terasa sangat berbeda bersama kekasih halalnya.
Usai makan malam bersama, Reza sengaja menitipkan Inas pada Indah, mertuanya. Tentu dengan senang hati Indah menerimanya karena ia juga merasa kesepian jika harus tidur di kamar yang cukup luas seorang diri. Tak perlu Reza jelaskan alasannya menitipkan Inas karena mertuanya itu sudah tentu paham.
Reza menuju kamarnya dengan tak sabar ingin segera menagih janji istrinya yang bersedia mengajaknya berbuka puasa bersama.
Sedangkan di dalam kamar, Lira duduk di ranjang dengan perasaan gugup. Ini kali pertama bagi Lira menjalankan kewajibannya secara penuh untuk suaminya.
ceklek
Bunyi suara pintu terbuka dan menampilkan Reza di depan pintu yang sudah memasang senyum penuh arti. Reza berjalan perlahan menuju ranjang tempat Lira duduk. Reza merasakan betul jika saat ini istri kecilnya itu sedang merasakan gugup yang luar biasa.
"Sayang?" Panggil Reza lembut sambil mengusap pelan bahu Lira. "Kalo sayang belum siap, gak papa. Mas gak akan maksa. Kita masih punya banyak waktu." Lanjutnya merasa tak tega melihat kegugupan di wajah istrinya.
Wajar jika Lira bersikap demikian, mengingat dulu bagaimana Reza mengambil haknya dengan paksa tanpa ada kelembutan di dalamnya. Reza pikir, Lira masih merasa trauma dengan apa yang pernah terjadi dulu. Namun, ternyata dugaan Reza salah. Lira balik menghadapnya dengan senyum manis mengembang di wajah cantiknya.
"Mas, ini udah kewajiban Lira untuk melayani kebutuhan mas. Jadi mas jangan berpikir kalo Lira belum siap. Insya Allah Lira siap lahir dan batin." Jawab Lira lembut dan itu membuat Reza merasa terharu.
Reza mulai membacakan doa sebelum memulai aktifitas intim mereka.
Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."
Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
Reza mengecup kening istrinya dengan lembut, meluahkan perasaan sayangnya yang sangat dalam. Aktifitas itu dimulai dengan sangat lembut. Reza melakukannya dengan penuh kasih sayang. Reza tak ingin membuat istrinya menjadi tersakiti hingga menjadi trauma seperti saat pertama
ia mengambil haknya secara paksa dan kasar.
πΈπΈπΈπΈ
Subuh menjelang, Reza bangun dengan senyum mengembang di wajah tampannya. Reza merasa bahagia karena setelah cukup lama berpuasa, akhirnya ia bisa kembali merasakan haknya sebagai seorang suami. Reza bersyukur karena Lira tak menolaknya, justru Lira melakukannya dengan senang hati. Niat Lira selain untuk menyenangkan hati suaminya, ia juga ingin meraih ridho Allah dengan menjalankan kewajibannya sebagai istri.
Reza melihat istrinya masih tertidur dengan wajah lelahnya. Reza mengecup lama kening istrinya lalu bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, membiarkan istrinya tidur untuk menghilangkan sisa-sisa lelahnya. Setelah itu, ia bergegas ke masjid. Saat Reza menuruni tangga, ia melihat ayahnya sudah berdiri menunggunya di bawah tangga. Reza menghampiri ayahnya lalu mengajaknya menuju masjid bersama.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju masjid sambil berbincang-bincang ringan. Rasanya sudah lama mereka tidak jalan bersama seperti ini karena aktifitas padat mereka yang membuat Reza dan Martin menjadi jarang melakukan sholat berjamaah di masjid dekat rumah mereka.
"Papa lihat, wajah kamu kok lebih seger ya." Ejek Martin.
Reza menyebikan bibirnya mendengar ejekan ayahnya. "Ck, Papa kayak gak pernah muda aja." Balas Reza.
"Dulu aja nolak mentah-mentah, gak mau dinikahin sama gadis kampung. Eh, sekarang malah bucin."
"Udah dong, pa. Jangan diingetin lagi." Timpal Reza dengan wajah penuh sesal.
Andai waktu bisa diputar kembali, tentu Reza akan merubah semua kenangan buruknya yang pernah yang ciptakan untuk Lira, istrinya menjadi kenangan yang lebih indah. Namun, semua sudah terjadi dan sekarang Reza hanya bisa menjadikan kenangan buruk itu sebagai pembelajaran agar bisa menata rumah tangganya menjadi lebih baik lagi.
"Papa sengaja, biar kamu selalu jadikan masa lalu sebagai pembelajaran dan gak mengulangi kesalahan yang sama. Harusnya kamu bersyukur mendapat istri yang begitu sabar menerima kamu dan mau memaafkan kamu." Jelas Martin.
"Iya, pa. Reza bersyukur banget bisa mendapat istri yang solehah dan sabar seperti Lira. Terima kasih ya pa, udah memilih Lira menjadi istri Reza." Ucap Reza dengan sorot mata yang tulus.
"Sama-sama. Papa gak mungkin memilihkan kamu istri yang gak baik. Papa harap, kamu bisa membimbing istri dan anak kamu untuk selalu berada di jalan-Nya dan menggapai surga-Nya."
"Aamiin."
Mereka masuk ke dalam masjid lalu bergabung bersama jamaah yang telah siap untuk sholat berjamaah
πΈπΈπΈπΈ
Saat keluar dari kamar mandi, Lira melihat suaminya telah duduk dengan bersandar pada kepala ranjang dengan mengenakan kaos polos berwana abu tua dan celana pendek selutut sambil memangku laptopnya. Lira ingin menghampiri Reza, namun ia mengurungkan niatnya, memilih bersiap-siap untuk sholat sebelum habis waktu sholat subuh.
Usai sholat, Lira menghampiri suaminya. Wajah Reza terlihat sangat serius jika sedang bekerja, tapi tak mengurangi ketampanannya.
"Mas, kenapa tadi gak bangunin Lira?" Tanya Lira lembut.
Reza langsung mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang sudah duduk tepat di sebelahnya dan masih dibaluti kerudung putih dengan aksen bunga-bunga kecil melingkar indah di sisi wajah dan bagian pundak. Reza tersenyum hangat melihat wajah polos istrinya yang begitu meneduhkan hatinya.
"Maaf sayang, tadi mas gak tega bangunin sayang yang kecapekan karena ulah mas." Jawab Reza dengan senyum menggoda. "Terima kasih ya sayang, udah melayani mas dengan sangat baik." Ucap Reza sambil mengelus lembut kepala Lira. Bukan maksud Reza untuk menggombali istri kecilnya itu, tapi karena memang ia ingin berterima kasih dengan tulus dan merasa bersyukur istrinya sudah melayaninya dengan baik.
Wajah Lira langsung merah merona mendengar penuturan suaminya yang menurutnya sangat memalukan itu.
"Muka sayang kok jadi merah? Sayang sakit?" Goda Reza saat melihat wajah istrinya merah merona.
__ADS_1
"Mas, jangan gitu. Lira, kan jadi malu." Rengek Lira dengan manja.
Reza meletakan laptopnya di atas kasur lalu mendekap tubuh mungil istrinya dengan penuh kasih sayang. Reza mengecup ubun-ubun istrinya berkali-kali.
"Sayang, kenapa malu?" Tanya Reza sambil tertawa geli.
"Mas, udah. Gak usah dibahas."
Lira memukul pelan dada suaminya hingga membuat Reza tertawa renyah. Menggoda istri kecilnya, kini sudah menjadi hobi baru untuk Reza. Apalagi saat melihat wajah Lira yang akan berubah merah karena malu, hal itu membuat Reza menjadi semakin senang untuk menggodanya.
"Mas, Lira mau liat adek dulu di bawah. Takutnya adek nangis, nyariin kita."
Lira berusaha melepaskan diri dari dekapan hangat suaminya. Namun, Reza tak mengindahkan rengekan manja dari istrinya. Reza pikir, Lira hanya beralasan karena ingin menghindar darinya. Padahal, memang Lira ingin melihat putrinya yang semalam dititipkan pada ibunya.
"Tenang aja, sayang. Anak kita anteng kok, dia gak bakal rewel. Apalagi ada neneknya yang jagain, jadi kita akan aman untuk sementara." Jawab Reza santai.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dengan diiringi tangis anaknya yang terdengar nyaring dari balik pintu. Lira langsung mendongakan kepalanya menatap tajam suaminya. Reza yang mendapat tatapan tajam dari istrinya hanya bisa menyengir dengan memasang raut wajah tak berdosa.
"Tuh kan, mas. Lira bilang juga apa!"
Reza melepaskan dekapannya lalu membuka pintu. Benar saja, Indah sudah berdiri depan pintu sambil menggedong Inas yang sudah menangis histeris mencari kedua orang tuanya.
"Uuuhhhh, sayangnya papa kenapa nangis?" Reza mengambil Inas dari gendongan mertuanya.
"Pas bangun, si adek langsung nangis karena gak liat kalian." Jelas Indah.
"Makasih ya, bu. Udah jagain adek."
"Sama-sama. Ibu turun dulu, ya."
"Iya, bu." Jawab Reza dan Lira bersamaan.
Reza dan Lira langsung masuk ke dalam kamar. Lira melihat anaknya memeluk erat leher ayahnya sambil menangis sesegukkan, membuat Lira menjadi merasa bersalah.
Reza dengan telaten menenanangkan putri kecilnya dengan terus mengusap lembut punggung mungil putrinya yang masih berada dalam dekapannya. Cukup lama Reza mengusap punggung mungil Inas, lalu terdengar dengkuran halus dari bibir mungil putrinya. Reza dan Lira langsung saling bertatapan lalu tertawa geli melihat tingkah putrinya yang begitu menggemaskan.
Sejak Inas mulai dekat dengan ayahnya, balita menggemaskan itu tak pernah mau lepas dan jauh dari ayahnya. Terkadang, hal itu membuat Lira merasa cemburu karena putrinya lebih dekat dengan ayahnya dari pada dirinya. Namun, Lira paham dengan sikap manja putrinya karena butuh waktu lama baginya untuk bisa merasakan kasih sayang langsung dari ayahnya.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.....π