
Lanjut..........🌹🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”. (HR. Bukhari no. 5660).
🌸🌸🌸🌸
Sejak pertemuan dengan kliennya satu bulan yang lalu, Reza menjadi lebih banyak diam di saat ia sedang sendirian dan akan kembali ceria jika sedang berkumpul bersama keluarga kecilnya. Apalagi jika ia bersama kedua anaknya, maka semua beban pikirannya akan lenyap begitu saja tanpa bekas.
Sebenarnya, Lira juga merasakan ada yang berubah dari diri sang suami yang sering kali melamun. Beberapa kali tanpa sengaja, Lira mendapati Reza sedang duduk sendiri di balkon kamar sembari menatap langit yang gelap dan menghembuskan napas kasar. Lira dapat merasakan jika suaminya sedang menyimpan masalah, namun Reza seperti enggan untuk membaginya pada siapa pun, termasuk pada istrinya sendiri.
Beberapa kali juga Lira pernah menanyakan langsung pada sang suami, namun lagi-lagi ia hanya dibalas gelengan kepala dan senyuman oleh Reza. Terkadang Lira merasa khawatir pada suaminya, tapi Lira tak bisa berbuat apa-apa jika memang Reza sendiri yang tak mau membagi masalah padanya.
Saat sikap Reza tiba-tiba berubah, Lira pun sama. Akhir-akhir ini, Lira menjadi lebih sensitif dan sangat mudah tersinggung. Namun, Lira tak pernah menampakkan semuanya di depan keluarganya. Lira pun tak mengerti, ada apa dengan dirinya yang sangat mudah marah dan menangis. Ia hanya menduga, semua itu terjadi karena ia sedang merasa lelah saja.
"Mas, libur besok kita ke kampung ya. Udah lama banget kita gak nengokin ibu." Ucap Lira lembut saat sedang menikmati waktu santai mereka di balkon kamar tanpa kedua anak mereka, Inas dan Haidar karena kedua bocah itu telah tertidur di kamar mereka masing-masing.
Reza menyeruput teh hangat buatan Lira lalu menghela nafas berat. "Maaf sayang, libur besok mas belum bisa. Mas ada pertemuan penting dengan klien." Sahut Reza hati-hati karena tak ingin membuat istrinya kecewa.
"Tapi mas, kita udah lama banget lho gak pulang kampung. Lagian juga, masak hari libur mas masih kerja juga."
"Iya sayang, mas tahu. Tapi memang ini pertemuan penting yang gak bisa diwakilin, jadi mas harus dateng langsung."
Reza mencoba bersikap sabar menghadapi tingkah Lira yang akhir-akhir ini lebih sensitif dari biasanya. Terkadang Reza kesal, tapi ia tak bisa menunjukan kekesalannya di depan Lira karena tak ingin membuat istrinya itu menjadi kecewa dan tersinggung.
"Lira udah kangen banget mas, sama ibu. Dari kemarin tuh, Lira kepikiran ibu terus. Lira takut ibu kenapa-napa, mas."
"Itu cuma perasaan sayang aja. Coba sayang hubungin ibu, terus tanya kabar beliau gimana."
"Udah mas. Tapi ibu bilang baik-baik aja, gak ada apa-apa."
"Itu sayang udah tahu. Jadi sayang gak usah khawatir ya. Insya Allah, ibu gak papa kok."
"Tapi tetap aja Lira khawatir, mas."
Kesabaran Reza mulai menipis mendengar rengekan Lira yang semakin menjadi dan semakin membuatnya kesal.
"Astaga, Lira! Mas udah bilang, mas gak bisa. Kamu ngerti gak sih?! Mas itu capek, bisa gak sih, kamu ngertiin mas sedikit aja?" Bentak Reza dengan suara cukup keras hingga membuat Lira terlonjak kaget sambil memegang dadanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Lira, Reza pun pergi meninggalkan Lira sendirian dengan perasaan campur aduk, antara sedih dan kecewa. Pasalnya, setelah mereka berbaikan beberapa tahun yang lalu, ini kali pertama Reza kembali berbicara kasar padanya.
Lira masuk ke dalam kamar dengan perasaan terluka. Air mata Lira terus saja mengalir dengan deras. Lira menangis sambil memukul dadanya terasa sesak. Beruntung kamar mereka kedap suara, jadi anak-anaknya tak bisa mendengar suara tangisannya yang cukup kencang.
Lira membaringkan tubuhnya di kasur. Hatinya terasa perih mendengar bentakan yang keluar dari mulut suaminya. Tak ada lagi kata sayang yang biasa Reza ucapkan dengan mesra. Hati Lira terus bertanya-tanya tentang sikap suaminya yang tak biasa. Lira sangat takut jika Reza akan kembali menjadi kasar seperti dulu. Lira hanya meminta pulang kampung, apa itu salah? Kenapa Reza bisa berubah seperti itu? Apa yang membuat lnya bisa bersikap kasar seperti itu? Batin Lira terus bertanya-tanya.
Lelah menangis, Lira pun tertidur dengan posisi memeluk gulingnya yang belum pernah ia gunakan karena suaminya selalu memeluknya dengan nyaman setiap malam, menjelang tidur. Lira tertidur dengan penuh harap, besok pagi semua akan kembali seperti semula.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Setelah meninggalkan Lira sendiri, Reza memilih menyendiri di ruang kerjanya. Reza merasa bersalah karena sudah membentak istrinya. Namun, rasa kesalnya membuatnya enggan untuk kembali ke kamar dan meminta maaf pada Lira. Ia memilih menenangkan pikirannya lebih dulu, setelah itu ia akan kembali ke kamar. Reza ingin menyendiri untuk memikirkan cara menyampaikan semua apa yang sedang ia pikirakan pada istrinya. Reza tak ingin menyembunyikan semuanya lebih lama lagi.
Reza membaringkan tubuhnya di sofa panjang sambil meletakan tangannya di atas kepalanya. Kepalanya terlalu berat untuk berpikir. Reza pun tertidur tanpa merubah posisinya.
Saat tengah malam, Lira terbangun dengan kepala yang berat karena terlalu lama menangis. Lira melihat ke samping tempat di mana suaminya biasa tertidur, namun ia tak mendapati suaminya di sebelahnya. Lira kembali merasa kecawa. Lira bangun untuk melaksanakan sholat tahajud di kamar putrinya lalu dilanjutkan dengan mengaji sambil menunggu waktu sholat subuh tiba. Lira sengaja melaksanakan sholat di kamar putrinya demi menghindari suaminya yang rasa masih marah padanya.
Reza terbangun saat mendengar suara adzan subuh berkumadang. Ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berwudhu. Tiba di dalam kamar, Reza tak mendapati istrinya di sana. Namun karena masih merasa kesal pada sikap istrinya, ia pun menjadi tak peduli. Setelah itu, ia bersiap-siap menuju masjid bersama ayahnya yang sudah menunggunya di ruang keluarga.
Di dalam kamar Inas, Lira sholat berjamaah bersama putrinya yang sudah bangun saat Lira masuk ke kamarnya. Inas sempat melihat mata ibunya bengkak. Saat Inas bertanya kenapa matanya bisa bengkak, Lira hanya menjawabnya jika itu hanyalah efek dari bangun tidur. Dengan polosnya Inas percaya. Usai sholat berjamaah, Lira dan Inas pun mengaji bersama sebelum melakukan aktifitas mereka seperti biasa.
Sementara Reza, pulang dari masjid langsung kembali ke ruang kerjanya. Rasanya ia belum siap untuk bertemu istrinya. Selain itu juga, ia masih merasa sangat mengantuk karena tidur terlalu larut.
🌸🌸🌸🌸
Usai mengaji, Inas membereskan tempat tidurnya sendiri karena sejak dini ia sudah dibiasakan untuk melakukan hal itu. Meski di rumah ada asisten yang biasa membantunya, namun Lira tak ingin putrinya terbiasa hidup tanpa bisa melakukan pekerjaan rumah.
"Bunda, kakak udah selesai belesin tempal tidul kakak lho." Ucap Inas dengan girang.
"Masya Allah. Anak bunda emang pinter, udah bisa beresin tempat tidur sendiri." Sahut Lira dengan senyum khas di wajahnya.
"Iya, kalna kakak plinsesya papa sama bunda, jadi kakak halus bisa belesin sendili." Celotehnya dengan wajah menggemaskan.
"Ya udah, kalo gitu sekarang kakak siap-siap ke sekolah ya. Bunda mau siapin sarapan untuk prinsesnya bunda yang bawel ini."
"Siap, bunda. Hehe."
Lira langsung melipat mukenanya lalu meletakannya di atas nakas. Setelah itu, ia menuju dapur, menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya. Saat Lira hendak membuka pintu, tiba-tiba saja kelapanya menjadi pusing dan tubuhnya langsung terjatuh ke lantai.
Inas langsung menjerit melihat ibunya pingsan tepat di depan matanya. "Bundaaaaaa!! Bangun bunda. Kakak sayang bunda, ayo bangun."
Tangan mungil Inas terus saja menggoyangkan tubuh ibunya yang tak bergerak sedikit pun. Inas semakin menjerit kencang, merasa takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada ibunya.
Inas langsung membuka pintu dan berlari menuju kamar orang tuanya untuk memberitahu pada ayahnya tentang kondisi ibunya. Namun, sayangnya ia tak mendapati ayahnya di dalam kamar. Kemudian Inas menuruni tangga sembari berteriak memanggil ayah dan kedua eyangnya yang masih berada di dalam kamar.
"Papaaaaa, eyang, bunda pingsan." Teriak Inas dengan suara yang cukup kencang. "Papa, eyang, tolongin bunda." Teriaknya lagi dengan suara yang lebih kencang hingga membuat para asisten rumah berlarian ke arahnya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Begitu pun Martin dan Irma yang juga langsung keluar kamar saat mendengar suara cucu kesayangan mereka berteriak meminta tolong sambil menangis.
"Ada apa, sayang? Kenapa kakak menangis?" Tanya Irma panik.
"Bunda, eyang, bunda."
"Iya, bunda kenapa sayang?"
"Bunda pingsan di kamal kakak."
"Apa?!" Pekik Irma. "Kok bisa? Papa di mana, sayang?"
"Papa gak ada di kamal, eyang. Tadi kakak udah cali tapi gak ada." Sahut Inas sambil sesenggukan.
"Ya Allah, kemana lagi tuh anak." Kesal Irma. "Pa, tolong cari Reza ke ruang kerjanya ya. Mama mau liat Lira dulu, takut dia kenapa-napa. Tapi habis itu, papa nyusulin mama ke atas ya."
__ADS_1
"Iya, ma." Martin mengangguk.
Martin langsung menuju ruang kerja Reza. Sementara Irma bersama para asistennya sudah lebih dulu ke lantai dua bersama Inas yang sejak tadi tak berhenti menangis sembari sesegukan.
Tiba di kamar Inas, Irma langsung meminta bantuan pada asistennya untuk mengangkat tubuh Lira ke kasur. Setelah itu, Irma menyuruh salah satu dari asistennya, meminta Jono menyiapkan mobil untuk segera ke rumah sakit. Dengan cekatan asistennya pergi memanggil Jono. Sedangkan Irma sibuk menggosokkan minyak kayu putih ke leher dan perut Lira agar terasa hangat.
"Kakak tenang ya, jangan nangis. Kakak bantuin eyang gosokin kayu putih ke tangan bunda, biar anget."
"Iya, eyang." jawab Inas patuh dengan suara parau dan hidung yang sudah membengkak.
Tak lama, Mantin masuk ke kamar Inas seorang diri. Irma menjadi mengerutkan dahinya, merasa heran.
"Papa kok sendirian? Reza mama?"
"Tadi papa udah gedor-gedor pintu ruang kerjanya berkali-kali, tapi tetep aja gak ada sahutan. Pintunya juga dikunci dari dalem."
"Papa udah telfon nomernya?"
"Udah ma, tapi gak diangkat.
"Terus gimana dong, pa?"
"Kita bawa ke rumah sakit aja, ma."
"Iya mama juga mikir gitu, makanya tadi mama udah minta sama Mbak Sumi untuk bilang ke Jono siapin mobil."
Setelah itu, Jono datang sambil mengetuk pintu mengucapkan dan mengucapkan salam. "Maaf bu, mobil sudah siap." Ucap Jono sopan.
"Ya udah, tolong kamu bantuin bapak angkat Lira ke mobil." Pinta Irma.
"Baik, bu."
"Kakak ikut ya, eyang."
"Gak boleh sayang. Kakak kan mau ke sekolah"
"Gak mau. Kakak gak mau sekolah. Kakak mau temenin bunda ke lumah sakit." Inas langsung menangis kencang.
Tak tega melihat cucu kesayangannya menangis kencang, Irma pun setuju untuk mengajak Inas ke rumah sakit.
"Ya udah, kakak boleh ikut ke rumah sakit. Tapi kakak gak boleh nangis lagi ya, biar bunda cepet sembuh."
"Iya, eyang."
"Mirna, tolong siapin baju Lira dan Inas ya. Nanti tolong dianter ke rumah sakit." Perintah Irma pada salah satu asistennya. "Tolong sekalian, liatin Haidar ya. Kalo dia nangis langsung buatin susu."
"Baik, nyonya."
Irma langsung menyusul suaminya ke mobil. Kemudian mereka menuju rumah sakit milik mereka dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.......😊