
Selamat membaca.......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Selama satu bulan ini, Reza tak pernah berhenti berusaha untuk mencari alamat kampung Lira. Ia bahkan meminta bantuan pada detektif swasta yang terkenal handal untuk ikut membantunya. Ia tinggal menunggu kabar baik dari deketif itu. Reza sengaja tak meminta bantuan pada anak buah ayahnya karena ia tak ingin ayahnya tahu tentang masalah rumah tangganya.
Setelah mengerjakan sholat subuh di masjid, Reza merebahkan tubuh jakungnya ke kasur empuk miliknya. Matanya yang selama ini biasanya terlihat tajam, kini hilang berganti tatapan sendu. Tatapan terlihat kosong, menerawang jauh. Kepingan kejadian masa lalu, di mana ia begitu keji menyiksa istrinya berputar jelas di otaknya, bak sebuah film yang diputar di bioskop.
Reza mengembuskan nafas berat. Ia mengusap kasar wajah tampannya yang kini terlihat kusam tak terurus. Reza merasa frustasi. Rasanya ia ingin membunuh dirinya sendiri karena sikap kejinya yang dulu terus saja menghantuinya.
Tring...tring...tring....
Bunyi suara ponselnya membuyarkan lamunannya. Nama salah satu detektif bayarannya tertera di layar ponselnya. Reza menggeser warna hijau untuk menerima panggilan masuk.
"Halo." Suara Reza terdengar dingin, namun jantungnya berdetak kencang, harap-harap cemas mendengar kabar yang akan ia terima.
"Halo, bos. Kami sudah menemukan alamat kampung istri bos. Akan kami kirimkan alamatnya sekarang juga." Ujar orang itu tegas.
"Kerja bagus. Saya akan transfer sisa uang kalian sekarang, ditambah bonus. Terima kasih untuk kerja keras kalian."
Wajah Reza yang tadinya tegang, kini berubah menjadi kebahagiaan. Penantian panjangnya kini terbayar sudah. Tak sia-sia ia mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk menyewa detektif Bukankah untuk meraih sebuah kebahagiaan, harus ada yang dikorbankan? Reza telah mengorbankan waktu, tenaga, dan uangnya untuk mencari keberadaan istri kecilnya.
Reza meraih foto USG anaknya, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Hay, sayangnya papa. Gak lama lagi kita akan bertemu. Papa udah gak sabar ketemu sama dedek dan mama. Dedek sehat-sehat, ya. Papa janji akan jemput dedek dan mama pulang." Reza mengecup foto USG anaknya sambil memejamkan matanya menyalurkan kerinduannya.
πΈπΈπΈπΈ
Pukul enam pagi, Reza telah bersiap-siap untuk berangkat menuju kampung Lira. Ia sengaja berangkat lebih pagi karena sudah tak sabar untuk bertemu istri kecilnya. Reza memasukan beberapa lembar pakaiannya ke dalam tasnya yang berukuran sedang. Ia sengaja ingin mengendarai mobilnya sendiri tanpa supir agar ia bisa lebih leluasa pergi tanpa harus merasa tak enak hati pada supir yang menunggunya.
Reza memilih mobil mewahnya yang biasa digunakan untuk perjalanan jauh. Ketika telah siap untuk berangkat, dering ponselnya berbunyi dengan sangat nyaring. Wajah ibunya terpampang jelas di layar ponselnya. Dengan cepat Reza menerima telpon dari ibunya.
"Assalamu'alaykum, ma?"
"Wa'alaykumussalam. Nak, papa___" Suara Irma terdengar berat seperti sedang menahan tangis.
__ADS_1
"Papa kenapa, ma?" Wajah Reza langsung berubah panik setelah mendengar suara ibunya terdengar berat di seberang sana.
"Papa masuk rumah sakit karena serangan jantung. Kamu ke sini ya, nak. Mama cuma sendiri di sini." Indah langsung menumpahkan tangisnya yang sedari tadi ia tahan agar tak pecah.
"Kok bisa sih, ma? Papa habis ngapain?" Tanya Reza masih dengan wajah panik.
"Nanti sampe sini baru mama cerita. Kamu berangkat sekarang, ya."
"Iya, ma. Reza akan ke sana sekarang." Tanpa berpikir lama, Reza langsung mengiyakan keinginan ibunya. Rencananya untuk menemui Lira, ia tunda. Namun, Reza berjanji akan menjemput Lira, setelah ia kembali dari Jerman nanti.
Reza langsung berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil pembantunya dengan suara yang cukup keras.
"Bibi, Bi Ipeh." Teriak Reza.
Ipeh yang sedang membersihkan halaman belakang, mendengar suara teriakan keras dari majikannya langsung berlari tergopoh-gopoh menuju Reza yang sudah memasang wajah panik.
"Iya tuan, ada apa?" Tanya Ipeh sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
"Bi, sekarang saya mau berangkat ke Jerman, ada urusan mendadak. Selama saya pergi, bibi tolong jaga rumah, ya. Bibi boleh ajak anak dan suami bibi untuk temani bibi di rumah. Ini uang belanja untuk bibi dan sisanya nanti saya transfer lagi dari sana." Ucap Reza dengan tergesa-gesa sambil menyodorkan beberapa lembar uang merah ke tangan Ipeh.
Reza mengangguk lalu melenggang pergi meninggalkan Ipeh yang masih berdiri dengan wajah penuh tanda tanya. Reza berjalan dengan tergesa-gesa menuju taksi online yang sudah menunggunya di depan rumah. Sebelumnya, Reza telah memesan tiket pesawat dan taksi secara online. Beruntung ada pesawat pagi yang hendak terbang menuju Jerman, jadi ia bisa berangkat saat itu juga. Reza bisa saja berangkat menggunakan pesawat pribadi milik ayahnya, namun karena khawatir dengan kondisi ayahnya, ia tak berpikir jernih. Pikirannya seolah buntu setelah mendapat kabar tentang ayahnya yang tiba-tiba masuk rumah sakit.
πΈπΈπΈπΈ
Setibanya di bandara, Reza langsung berjalan cepat masuk ke dalam bandara karena tinggal beberapa menit lagi, pesawat ia tumpangi akan segera terbang. Usai melakukan check in, Reza langsung masuk ke dalam pesawat lalu menuju kelas bisnis bersama dengan penumpang lainnya yang juga akan menuju Jerman.
Setelah menempuh perjalanan selama 13 jam, akhirnya Reza tiba di Bandara Udara Internasional Tempelhof, Berlin. Ia langsung menaiki taksi menuju Rumah Sakit Vivantes, Berlin. Rumah Sakit Vivantes merupakan salah rumah sakit terbesar dengan fasilitas dan pelayanan terbaik di Jerman. Reza langsung menuju ruang inap VVIP tempat di mana ayahnya dirawat. Reza mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan mewah itu. Ia melihat wajah pucat ayahnya yang masih tertidur di atas ranjang pesakitan. Sementara, Irma duduk di sofa dekat ranjang. Wajah Irma terlihat begitu lelah efek kurang tidur karena harus menjaga suaminya seorang diri selama dirawat di rumah sakit.
"Assalamu'alaykum, ma." Reza menghampiri Irma yang sedang duduk sambil memegang tangan kiri suaminya yang tidak diinfus, lalu Reza menyium punggung tangan ibunya dengan lembut.
Indah menoleh ke arah Reza sambil tersenyum senang melihat kedatangan putranya.
"Wa'alaykumussalam. Akhirnya kamu datang, nak." Irma berdiri menyambut kedatangan putranya sambil memeluk tubuh tegap itu untuk menumpahkan kesedihannya.
"Kenapa papa bisa jadi sakit kayak gini, ma?"
__ADS_1
Pertanyaan itu yang selalu terlintas di benak Reza sejak masih berada dalam perjalanan menuju Jerman, hingga ia berdiri tepat di depan orang tuanya. Setahu Reza, penyakit ayahnya sudah lama tidak kambuh karena ayahnya selalu menjaga kesehatannya dengan baik sesuai anjuran dokter.
"Papa mendapat telpon dari seseorang, setelah itu jantung papa langsung sakit." Jawab Irma dengan derai air mata yang terus berlinang di wajahnya.
"Papa dapat telpon dari siapa, ma? Apa itu ada hubungannya dengan perusahaan papa?"
Irma menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Reza.
"Ini berhubungan dengan masalah rumah tanggamu bersama Lira." Jawab Irma dengan wajah yang masih berderaian air mata.
Deg
Jantung Reza langsung memompa dengan cepat. Wajahnya juga berubah menjadi pucat pasi. Tidak mungkin ayahnya sakit karena telah mengetahui masalah rumah tangga yang sedang Reza alami. Lebih tepatnya mengetahui perlakuan buruk Reza pada Lira.
"Ma-maksud mama apa?" Tenggerokan Reza tercekat. Lidahnya terasa kelu.
Irma meraih tangan Reza lalu menggenggamnya dengan lembut.
"Sebenarnya sejak beberapa hari ini, perasaan papa udah gak enak. Papa selalu mikirin kamu dan Lira. Setelah itu, papa sengaja menghubungi salah satu anak buahnya untuk mencari tahu. Kemudian anak buah papa mengabarkan kalo ternyata selama ini kamu gak pernah bersikap baik pada Lira, sampe akhirnya istri kamu pergi dari rumah dalam keadaan hamil dan itu pun atas izin dari kamu, nak."
Irma menjeda kalimatnya, menarik nafasnya dengan sangat dalam kemudian melanjutkan ceritanya.
"Yang bikin papa tambah kecewa adalah ketika kamu memilih wanita yang tidak lain adalah mantan kamu daripada Lira, istri kamu sendiri. Tak lama setelah itu, jantung papa langsung sakit, lalu jatuh pingsan." Jelas Irma dengan raut wajah kecewa.
Reza tertunduk malu. Ia tak menyangka jika kekejamannya pada Lira, akan diketahui oleh orang tuanya dan harus berdampak buruk pada kesehatan sang ayah. Reza bersimpuh di hadapan ibunya sambil meletakan kepalanya di atas paha wanita yang telah berjasa pada hidupnya itu.
"Maaf ma. Maafin Reza yang udah keterlaluan pada Lira. Maaf juga karena ulah Reza, papa sampe jadi kayak gini." Reza terisak dipangkuan ibunya.
Irma mengusap lembut kepala Reza. Jujur saja, Indah sangat kecewa pada Reza karena telah bersikap kejam pada Lira. Namun, ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan Reza atas masalah ini. Karena sebelum menikahi Lira, Reza dengan tegas telah menolak perjodohannya yang dilakukan ayahnya. Karena desakan dari ayahnya juga lah yang membuat Reza akhirnya bersedia menerima Lira. Ayahnya menganggap, perjodohan itu merupakan bentuk rasa terima kasihnya pada Lira yang telah menolong dan mendonorkan darahnya untuk Martin.
"Kamu gak salah, nak. Papa sama mama yang salah karena udah maksa kamu menerima Lira untuk menjadi istrimu."
"Gak ma, Reza yang salah. Reza khilaf. Tapi sekarang Reza menyesal, ma. Lira pergi atas izin Reza tanpa memberitahu tentang kehamilannya. Reza juga menyesal karena udah ninggalin Lira karena wanita lain." Reza menangis hingga punggungnya ikut bergetar.
πΈπΈπΈπΈ
__ADS_1
Bersambung......π