
"Orang-orang yang memiliki sifat kasih sayang akan disayang oleh Allah yang Maha Penyayang, sayangilah semua yang ada di bumi maka semua yang ada di langit akan menyayangimu. Kasih sayang itu bagian dari rahmat Allah, barang siapa menyayangi, Allah akan menyayanginya. Siapa yang memutuskannya, Allah juga akan memutuskannya." (Hadis riwayat Tirmidzi)
Selamat membaca.........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Baby Haidar benar-benar mencuri perhatian semua keluarganya. Bahkan, baby Haidar sudah seperti bola bergilir yang dioper ke sana ke mari. Usai digendong Bela, kini baby Haidar yang masih setia memejamkan matanya itu, sudah berada dalam gendongan sang Eyang Kakung. Martin benar-benar tak bisa lepas dari cucu tampannya.
Kamar itu terdengar begitu ramai dengan kehadiran baby Haidar. Tak lama kemudian, terdengar suara azdan berkumadang. Reza yang telah mandi dan rapi pun bersiap-siap menuju mushola rumah sakit bersama ayahnya.
"Sayang, mas sholat dulu ya." Pamitnya sambil mengecup kening Lira dan baby Haidar bergantian. Tak lupa juga, ia menyium gemas kedua pipi Inas yang sedang bermain bersama Farel. "Kakak, papa titip bunda ya, sayang." Lanjut Reza dengan senyum jenaka. Sementara, Inas hanya mengangguk tanpa menoleh ke arah ayahnya.
Lira hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah lucu putrinya yang begitu fokus dalam bermain.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah." Jawab mereka serentak.
Selang beberapa menit sepeninggal Reza dan Martin, Amel masuk bersama putrinya, Riri yang sudah bisa berjalan tertatih-tatih, sambil mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum." Ucap Amel lalu menyium punggung tangan Irma dan Indah bergantian.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah." Jawab semua yang ada di ruangan itu serentak.
"Mbak Amel, ke sininya sama siapa mbak?" Tanya Lira sambil tersenyum ramah.
"Sama Mas Doni. Tapi tadi Mas Doni lagi ke musholah bareng Mas Reza dan Papa Martin."
"Kok, mereka bisa bareng ke mushola?"
"Iya, Ra. Tadi gak sengaja ketemu di depan lift." Lira hanya mengangguk faham. "Masya Allah, dedek bayinya ganteng banget sih. Mirip banget sama papanya." Lanjut Amel tersenyum gemas melihat wajah tampan baby Haidar.
Lira langsung cemberut mendengar pengakuan Amel. Hampir semua orang yang datang menjenguk baby Haidar, pasti akan mengucapkan hal yang sama.
"Apa gak bisa gitu ya, Mbak Amel nyenengin Lira? Bilang kek, kalo baby mirip dikit sama Lira, gitu!"
Semua yang ada di situ langsung tertawa mendengar ucapan Lira. Wajar saja jika Lira cemburu dan merasa itu tak adil baginya. Ia yang hamil dan melahirkan tapi ketika lahir, kedua anaknya justru lebih mirip ayahnya. Lira hanya kebagian salah satu anggota wajah saja, seperti bibir.
"Kan Mas Reza yang punya bibitnya, Ra. Jadi wajar kalo anak-anaknya ngikutin muka ayahnya." Ucap Amel sambil tertawa renyah.
Kemudian, Amel mengambil baby Haidar dari gendongan Irma. Amel begitu gemas melihat wajah tampan baby Haidar. Rasanya, Amel ingin kembali memiliki anak. Namun sayangnya, Doni belum mengizinkan dengan alasana Riri masih terlalu kecil dan masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Doni bersedia memiliki anak lagi, jika usia Riri telah menginjak tiga tahun atau lebih.
Para ibu-ibu itu pun saling mengobrol hangat, membahas banyak hal. Kecuali membahas perkembangan anak, karena mereka tak ingin menyinggung perasaan Irma yang tak bisa memiliki keturunan. Meski Irma tak merasa tersinggung soal itu karena ia sudah sangat terima dengan takdir hidupnya. Namun, Lira dan yang lainnya tetap berusaha menjaga perasaan sang mertua tercinta.
Jika pada ibu sibuk mengobrol, maka anak-anak lebih memilih bermain bersama di atas karpet bulu yang lembut. Inas sangat bahagia ketika melihat Riri datang hingga membuat Inas lupa pada adik bayinya. Ketiga balita menggemaskan bermain sambil sesekali mereka tertawa nyaring bersama. Entah yang apa yang membuat mereka tertawa begitu lepas dan bahagia. Namun, hal itu membuat para orang tua mereka juga ikut bahagia melihat keakraban ketiganya yang sudah tertanam sejak dini.
🌸🌸🌸🌸
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu, para suami pun telah kembali dari musholah. Kini giliran para istri yang menuju musholah untuk melaksanakan sholat dhuhur di sana. Hanya Amel dan Lira saja yang sedang berhalangan.
Reza mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai lalu menuju Lira yang sedang menggendong baby Haidar.
"Baby Haidar tidur lagi ya, sayang?" Tanya Reza lembut.
"Iya, mas. Udah kenyang dianya, jadi tidur lagi." Jawab Lira sambil mengusap lembut kening putranya.
"Sini mas yang gendong, biar sayang bisa istirahat."
Reza mengambil alih putranya dari gendongan istrinya lalu menimangnya sambil berjalan menuju sofa tempat ayah dan sahabatnya duduk.
Doni yang sejak tadi merasa penasaran ingin melihat baby Haidar pun langsung terkagum-kagum melihat hasil produk dari sahabatnya itu.
"Masya Allah. Cakep bener anak lo, Za." ucap Doni penuh kekaguman. "Kalo gue punya anak cewek lagi, gue mau dong dijodohin sama anak lo." Candanya sambil menyengir.
"Paan sih! Anak gue masih kecil, woy. Udah main dijodoh-jodohin aja." Balas Reza kesal.
Sementara Martin, Amel, dan Lira hanya menggelengkan kepala. Kedua ayah berparas tampan itu selalu saja bersikap konyol tanpa mengingat usia mereka yang sudah lebih dari kepala tiga.
🌸🌸🌸🌸
Menjelang sore hari, barulah orang tua serta para sahabat pulang ke rumah meninggalkan Reza dan Lira yang masih duduk di ranjang sambil menggendong putra mereka yang sedang tertidur lelap usai menyusu.
Reza terus menatap dalam wajah putranya. Terbesit rasa bersalah yang sangat besar di hatinya jika mengingat bagaimana perjuangan istrinya saat melahirkan Inas tanpa fasilitas yang lengkap seperti sekarang yang diterim baby Haidar. Bahkan Reza tahu, semua pakaian yang pernah Inas pakai adalah pakaian bekas, hasil sumbangat dari para tetangga yang merasa iba melihat kedipan Lira dan Inas. Betapa mirisnya kehidupan yang pernah dijalani istri dan anaknya.
Reza mengalihkan kesedihannya dengan mengganggu putra tampannya yang sedang tertidur. Ia juga mengajak putranya berbicara, ladahal ia tahu betul, jika putra yang baru saja lahir itu belum bisa mendengar. Reza hanya bisa berdoa, semoga kelak sang putra tak mengikuti sifat buruknya dalam memperlakukan wanita.
Reza terus saja mengganggu putranya, hingga terdengar tangisan kencang dari bayi menggemaskan itu, barulah Reza berhenti mengganggunya.
Lira yang baru saja akan menikmati potongan buah-buahan yang dibawah oleh ibunya dan disusun rapi ke dalam wadah Tupperware berukuran besar pun langsung mendengus kesal ke arah suaminya yang sudah memasang tampang tak bersalah.
"Mas, ih! Anaknya lagi tidur, malah digangguin." Ucap Lira kesal lalu meletakan kembali wadahnya ke atas nakas.
"Ya, maaf sayang. Habisnya, mas gemes banget liat mukanya." Sahut Reza dengan menyengir kuda.
Lira tak menghiraukan suaminya. Ia memilih menggendong putranya dan menimangnya agar tertidur kembali. Namun sayang, baby Haidar justru semakin menangis kencang. Lira pun langsung menyusui putranya agar mau diam. Benar saja, baby Haidar pun langsung terdiam saat kembali mendapat jatah ASI. Bayi menggemaskan itu paling kuat menyusu. Selang beberapa jam sekali, baby Haidar akan menjulurkan lidah mungilnya untuk meminta susu.
Rasa lega terlihat jelas di wajah Reza saat baby Haidar mulai tenang. Sebagai permintaan maafnya, Reza mengambil wadah berisi buah itu lalu menyuapi istrinya yang sedang menyusui putranya sambil bersholawat. Lira yang merasa faham jika Reza sedang berusaha membujuknya agar tak marah lagi pun langsung tersenyum lalu menerima suapan itu.
Reza merasa senang karena istrinya tak kesal lagi padanya. Mudah saja bagi Reza untuk meluluhkan hati istrinya. Reza mengusap lembut kepala istrinya yang terlihat semakin cantik usai melahirkan.
"Sayang, nanti kalo baby udah agak besar dan udah bisa diajak jalan, kita jalan-jalan ke luar negri yuk."
"Ke luar negri?"
"Iya. Sayang pengen ke negara mana?"
__ADS_1
"Gak tahu, mas. Lira gak punya bayangan tentang negara-negara yang punya tempat wisata menarik."
Sejak kecil, bisa dihitung berapa kali Lira menonton televisi. Karena benda mahal itu tak ada dalam rumahnya. Selain itu juga, Lira tak punya waktu untuk melihat dunia luar. Lira hanya tahu nama-nama negara lain lewat pelajaran di sekolahnya, tanpa tahu seperti apa bentuk dari negara-negara itu . Jadi tak heran, jika Lira tak memiliki bayangan tentang negara yang ingin ia kunjungi.
"Kalo kita ke Jerman aja, gimana? Kebetulan, di sana ada rumah papa."
"Gak mau, ah. Lira pengennya ke Mekkah. Mau liat makam Rasulullah."
"Kalo itu, udah pasti kita bakal ke sana sayang. Tapi selain itu, ada gak negara lain yang pengen sayang kunjungin? Misalnya Korea, Jepang, atau...."
Belum selesai Reza berbicara, namun Lira sudah memotong ucapannya dengan cepat.
"Turki. Lira pengen ke Turki, mas."
"Ok! Kalo gitu, Insya Allah nanti ke Turki." Lira mengangguk senang. Nama negara itu tiba-tiba terlintas di benaknya karena ia pernah mendengar ceramah dari seorang ustadz tentang negara itu.
Lira pun menjadi semakin tertarik ingin mengunjungi Turki karena ia sangat penasaran dengan sejarah Negara Turki dan ingin melihat secara langsung Kota Konstantinopel yang pernah ditaklukan oleh kesultanan Utsmaniyyah pada tahun 1453 dengan sosok pemimpinnya yang terkenal yaitu Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih (sang penakluk). Seorang pemimpin yang baru berusia 21 tahun itu, sudah mampu memimpin perang melawan Bangsa Romawi.
"Beneran lho, mas. Lira udah semangat nih, pengen ke sana."
"Iya, sayang. Insya Allah, kalo baby Haidar udah agak gedean. Nanti kita ajak papa, mama sama ibu juga ke sana."
"Ih, seneng banget. Akhirnya, Lira bisa liat sejarah kerajaan Islam di sana." Ucap Lira antusias.
"Sekalian, kita bikin adik lagi buat baby Haidar ya sayang." Goda Reza dan langsung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Apaan sih, mas. Ini aja baru lahir, udah mikirin itu." Ucap Lira sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya, kan sambil menyelam minum air sayang."
"Iya, tapi gak juga dong mas. Ini aja, jahitannya belum kering."
Reza tertawa renyah melihat wajah kesal istrinya yang justru terlihat menggemaskan. Reza menyubit kedua pipi Lira dengan gemas hingga membuat Lira meringis kesakitan.
"Gemesy banget sih, istri mas. Tambah sayang deh. Makasih bunda, udah ngasih papa dua malaikat kecil yang lucu-lucu. Maaf, kalo papa belum bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk kalian. Tapi insya Allah, papa akan terus belajar untuk menjadi imam dan kepala keluarga yang baik untuk bunda dan anak-anak." Ucap Reza tulus sambil menatap dalam wajah cantik nan meneduhkan istrinya.
Lira langsung tersenyum haru mendengar ucapan Reza yang begitu menyentuh hatinya. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah tampan suaminya yang sudah banyak memberinya kebahagiaan itu.
"Mas adalah suami serta papa yang baik untuk bunda dan anak-anak. Lira bersyukur karena menjadi bagian hidup mas, saat ini dan insya Allah selamanya hingga kita menuju syurga-Nya bersama kelak. Terima kasih udah ngasih Lira begitu banyak cinta dan kebahagiaan." Sahut Lira dengan linangan air mata.
Sepesang kekasih halal itu langsung saling berpelukan usai mengungkapkan perasaan masing-masing.
🌸🌸🌸🌸
TAMAT
TAPI BO'ONG😂
__ADS_1
DITUNGGU KELANJUTANNYA, YA. TERIMA KASIH😊❤️