
"Sesungguhnya setiap orang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari (berupa ******), kemudian menjadi segumpal darah dalam waktu empat puluh hari pula, kemudian menjadi segumpal daging dalam waktu empat puluh hari juga. Kemudian diutuslah seorang malaikat meniupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat hal; rejekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah dia menjadi orang yang celaka atau bahagia.โย (Muslim bin Hajjaj An-Naisaburi, Shahรฎh Muslim).
Selamat membaca.........๐น๐น๐น๐น
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
Waktu terus berlalu. Tak terasa, kandungan Lira telah memasuki usia empat bulan. Hari ini, di rumah Reza sedang diadakan tasyakuran empat bulanan yang diisi dengan makan bersama keluarga besar dan para anak yatim. Banyak dari sanak saudara yang datang, ikut mendoakan agar Lira dan bayinya mendapatkan keselamatan, serta menjadi anak yang saleh atau salehah.
Seperti pada hadist di atas bahwa di usia kandungan 4 bulan, Allah juga memerintahkan satu malaikat untuk melakukan dua hal.ย Pertama meniupkan ruh ke dalam janin. Kedua, malaikat diperintah untuk mencatat empat perkara yang berkaitan dengan rezeki, ajal, amal, dan bahagia atau celakanya janin ketika ia hidup dan mengakhiri hidupnya di dunia kelak.
Seluruh keluarga Reza kompak mengenakan pakaian muslim berwarna putih. Termasuk keluarga Doni yang juga ikut hadir dalam acara tasyakuran itu.
Saat acara itu berlangsung, Reza dan Lira menjadi pusat perhatian semua keluarganya yang datang. Tak semua keluarga Reza mengenal Lira karena saat Reza dan Lira menikah serta acara akikahan Inas, sebagian keluarganya tak hadir.
Bukan hanya Reza dan Lira saja yang menjadi pusat perhatian, tapi Doni bersama keluarganya turut menjadi perhatian seluruh keluarga Reza. Pasalnya, Doni datang sambil menggendong putri kecilnya yang sudah berusia 5 bulan dan terlihat menggemaskan dengan gamis putih serta hijabnya yang senada.
Usai menyantuni anak-anak yatim, kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama. Lira duduk bersama kedua ibunya, Ambar, dan Amel yang sedang memangku putrinya serta keluarga Reza dari pihak ayah dan ibunya. Kini mereka tengah menikmati makan siang bersama. Sedangkan Reza, duduk makan bersama para pria sambil mendudukan Inas dipangkuannya.
Setelah makan bersama, mereka pun duduk berkumpul sambil bercanda. Banyak dari keluarga Reza yang merasa gemas melihat wajah gembul Inas. Dari mereka, ada yang ingin menggendong Inas tapi sayangnya Inas menolak dengan menenggelamkan wajahnya di leher ayahnya. Sontak saja hal itu membuat yang lain langsung tertawa nyaring.
"Makanya, cepetan nikah biar bisa gendong anak sendiri. Gak melulu gendong anak orang." Ucap seorang pria yang seumuran dengan Reza, mengejek adik sepupunya yang mendapat penolakan dari Inas.
"Apaan sih. Gue juga pengen nikah kali, tapi jodohnya aja yang belum keliatan hilalnya." Jawabnya kesal.
"Lo sih, kebanyak milih. Maunya yang kayak model lah, dokter lah. Ujung-ujungnya, gak ada yang mau sama lo." Timpal sepupu Reza yang memakai kaca mata dan berprofesi sebagai arsitek.
Reza hanya menggelengkan kepala mendengar para sepupunya saling bercanda satu sama lain karena momen seperti ini sangat langka bagi mereka.
Tak lama, salah satu sepupu Reza yang memang cukup dekat dengannya yang sejak tadi hanya diam pun akhirnya ikut bercanda.
"Tapi gue salut banget sama Reza. Dia aja yang dingin banget sama cewek terus udah umuran juga, tapi bisa dapet bini yg masih muda dan cantik. Malah sekarang anaknya udah mau dua, lagi. Lah gue, di umur yang sekarang aja belum dapet apa-apa." Keluhnya yang langsung mendapat sorakan dari para sudaranya.
"Lo sih, kelewat tebar pesona. Jadi cewek-cewek pada ilfeel duluan, deh." Timpal Reza dengan tawa mengejeknya.
Yang lain pun ikut mengangguk setuju dan tertawa bersama melihat wajah saudaranya yang kesal.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Memasuki waktu sholat dhuhur, sebagian dari keluarga Reza sudah pulang dan sebagian lagi masih bertahan untuk lebih dulu melaksanakan sholat dhuhur berjamaah bersama di masjid. Para wanita pun melakukan hal yang sama, sholat dhuhur berjamaah di rumah dan Indah sebagai imamnya.
Para wanita yang tidak sholat, ditugaskan untuk menjaga anak-anak yang sedang bermain, termasuk Inas dan Riri. Melihat para sepupunya bermain, Inas pun ikut bergabung bersama mereka. Di antara anak-anak yang bermain itu, hanya Inas yang masih balita dan sisanya anak-anak berusia 5-8 tahun.
Inas sangat senang bermain bersama para sepupunya yang baru pertama kali ia temui. Inas tak henti-hentinya tertawa nyaring. Suara tawa Inas terdengar hingga keluar rumah.
Pulang dari masjid, para sepupu Reza langsung mengajak anak dan istri mereka untuk berpamitan pulang dan memilih beristirahat di rumah mereka masing-masing.
Reza melihat Inas berlari ke arahnya. Usia Inas sudah memasuki 1 tahun 10 bulan. Jadi Inas sudah bisa berlari dan berbicara dengan lancar, meski masih cadel.
"Jangan lari-lari, sayang." Ucap Reza saat Inas sudah berada dipelukannya.
"Papa dayi mana?"
"Papa dari masjid. Kakak seneng ya, tadi banyak temennya?"
"Iya papa, teneng."
Merasa gemas melihat putrinya sudah bisa berbicara, Reza langsung gemas dan menyium wajah mungilnya hingga Inas memekik.
"Geyi (geli) papa."
"Papa gemes banget tahu, sama kakak."
Lira keluar dari kamar usai mengganti pakaiannya dengan baju santai dan hijab instan. Lira menghampiri suami dan anaknya yang sedang bercanda di ruang keluarga bersama orang tua mereka.
"Bunda." Panggil Inas sambil merentangkan kedua tangannya meminta untuk segera digendong oleh ibunya.
Lira hanya tersenyum melihat wajah memohon Inas yang begitu menggemaskan.
"Kakak, digendong papa aja ya. Kita main boneka yuk, bareng eyang sama nenek, gimana?" Bujuk Reza dan langsung mendapat anggukan setuju dari Inas.
"Baik, papa."
Inas sangat mudah dibujuk dengan boneka karena sejak bayi, Inas sudah sering melihat boneka. Tak heran jika di kamarnya dipenuhi dengan berbagai jenis boneka yang lucu-lucu. Mulai dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Reza dan kedua orang tuanya sangat memanjakan Inas. Meski mereka sering mendapat protes dari Lira, tapi mereka tetap saja memberikan mainan pada Inas.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Malam pun datang, seluruh penghuni rumah sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing. Malam ini Inas tidur bersama Indah, neneknya. Sejak Inas sudah bisa berjalan dan berbicara dengan lancar, Reza mulai membiasakannya untuk tidur terpisah tapi tetap harus ditemani oleh Nur atau Indah, jika ia sedang berkunjung. Awalnya Lira menolak jika putri kecilnya harus tidur terpisah darinya, tapi dengan lembut Reza memberi pemahaman pada istrinya bahwa ia tak ingin Inas menendang perut Lira ketika tidur.
Saat ini, Reza sedang menemani Lira membersihkan muka dan menggosok gigi di kamar mandi. Sejak perut Lira mulai membuncit, Reza semakin posesif. Lira dilarang melakukan pekerjaan apapun. Bahkan untuk ke kamar mandi saja, Reza harus menemaninya dengan alasan ia tak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan pada istri dan calon anak keduanya.
Keluar dari kamar mandi, Reza juga membantu Lira menyisir rambutnya. Setiap Lira menolak dengan halus atau protes, pasti Reza tak ingin mendengarnya. Terkadang Lira merasa tak enak pada Reza karena sebagai istri, Lira sering mengabaikan kewajibannya mengurus suaminya. Itu pun atas keinginan Reza sendiri yang menolak diurus keperluannya oleh Lira dan memilih mengurus dirinya sendiri karena lagi-lagi Reza tak ingin istrinya kecapekan.
"Mas, Lira bisa lho nyisir rambut sendiri."
"Gak papa, sayang. Mas pengen ngurus semua keperluan sayang tanpa bantuan orang lain." Jawabnya sambil terus menyisir rambut Lira.
"Tapi harusnya kan, itu tugas Lira mengurus suami. Kok sekarang malah kebalik, sih?"
"Ya emangnya kenapa, sayang? Menurut mas, itu sah-sah aja, kok."
"Iya, tahu. Tapi tetep aja Lira gak enak, mas."
Reza menghadap Lira dan menangkupkan kedua tangannya di wajah Lira yang sudah semakin berisi.
"Sayang, mas cuma ingin menebus semua kesalahan mas yang dulu waktu sayang mengandung si kakak. Mas ingin di kehamilan sayang yang sekarang, harus mas yang mengurus semua keperluan sayang karena mas ingin selalu dan harus tahu perkembangan anak kita. Jadi mas mohon, sayang jangan nolak ya."
"Iya, mas. Terima kasih karena udah selalu berusaha untuk menjadi suami dan ayah yang baik untuk kami." Ucap Lira tulus dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sama-sama, sayang."
Reza mengecup kening Lira dengan sangat dalam lalu mengecup kedua mata Lira secara bergantian.
"Udah ya, sekarang kita tidur."
Reza memeluk tubuh Lira dari belakang dan meletakan tangannya tepat di atas perut Lira yang sudah membuncit. Dengan gerakan lembut, tangan Reza terus mengelus perut buncit Lira sambil membacakan ayat kursi dan bacaan dzikir lainnya hingga terdengar dengkuran halus dari mulut Lira.
Reza berharap, kelak anak-anaknya bisa menjadi penghafal Qur'an yang berakhlak mulia dan bisa menjadi penyelamat kedua orang tuanya di akhirat nanti.
"Selamat tidur istriku, bidadari dunia dan akhiratku. I love you." Bisik Reza tulus.
Kecupan hangat mendarat di kening Lira sebagai pengantar tidurnya. Reza mulai tertidur sambil memeluk tubuh mungil itu tanpa melepaskan tangannya dari perut Lira.
๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ
__ADS_1
Bersambung......๐