
Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸🌸
Tepat pukul 2 malam, Reza bersama kedua orang tuanya telah tiba di Indonesia. Mereka dijemput langsung oleh Jono, supir pribadi Martin yang sudah menunggu kedatangan mereka di bandara sejak pukul 12 malam tadi.
Selama berada dalam perjalanan menuju rumah mereka, Reza tak henti-hentinya memandang foto wajah anaknya yang sedang tertawa bahagia sambil memegang mainan dari botol bekas. Namun satu hal yang mengganjal di hati Reza. Selama ini ia selalu mengirimkan uang untuk kebutuhan anak dan istrinya melalui anak buahnya, lalu kemana semua uang itu? Apakah uang itu memang tidak sampai ke tangan anak dan istrinya? Atau jangan-jangan, anak buahnya sudah mulai bermain kotor di belakangnya? Jika memang benar begitu, maka Reza tak akan tinggal diam. Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jika benar itu adalah perbuatan anak buahnya, maka ia akan segera menghukumnya mereka.
"Kalo benar mereka macam-macam, gue gak bakal kasih ampun." Gumam Reza geram dengan wajah memerah menahan emosinya.
Sementara Irma dan Martin masih tertidur pulas karena kelelahan. Perjalanan mereka memang sangat melelahkan karena usai pulang dari rumah sakit, tanpa istirahat mereka langsung pulang ke Indonesia. Padahal, mereka masih bisa istirahat lebih dahulu sebelum memutuskan untuk pulang. Namun, Martin dan Irma sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan cucunya. Sedangkan Reza? Jangan ditanya lagi. Justru dia lah yang paling semangat saat ayahnya memutuskan untuk pulang saat itu juga. Tanpa membantah, Reza langsung melaksanakan titah dari sang ayah dengan senang hati.
🌸🌸
Setibanya mereka di rumah, Reza langsung merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Belum sempat Reza memejamkan matanya, ia langsung teringat pada anak buahnya. Reza langsung menghubungi anak buahnya itu mengajak mereka bertemu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Halo. Di mana kalian?" Tanya Reza dingin.
"........"
"Besok kita ketemu di tempat biasa, jam 1 siang. Ada hal yang penting yang mau saya bahas dengan kalian." Reza langsung memutuskan panggilannya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.
Reza membuang nafasnya kasar. Dilihatnya jam dinding berbentuk bulat yang bergantung di kamarnya, sudah menunjukkan pukul 03.30 pagi. Sebentar lagi akan masuk waktu sholat subuh, Reza langsung beranjak dari pembaringannya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu berwudhu.
Dengan mengenakan baju Koko berwarna abu tua, sarung serta peci berwana putih polos, Reza siap menuju masjid untuk ikut melaksanakan sholat subuh berjamaah. Saat sedang menuruni tangga, Reza tak sengaja berpapasan dengan ayahnya yang juga akan menuju masjid.
"Papa mau ke masjid juga?" Tanya Reza basa-basi.
__ADS_1
"Hmmm."
Martin hanya berdehem menjawab pertanyaan basa-basi dari Reza, lalu berlenggang pergi mendahului Reza yang masih berdiri di tangga sambil membuang nafasnya pelan.
Martin melihat bayangan Reza yang berjalan tepat di belakangnya. Ia tahu, Reza pasti ingin berjalan beriringan bersamanya. Sebenarnya Martin sudah memaafkan Reza, tapi ia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Reza. Martin tersenyum saat melihat tingkah putranya yang terlihat lesu.
🌸🌸🌸🌸
Usai mengerjakan sholat subuh berjamaah, Reza dan ayahnya tak langsung pulang. Mereka memilih mendengarkan kajian subuh yang memang rutin dilakukan setiap tiga kali sepekan, yaitu Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan mereka beruntung bisa mengikuti kajian subuh di hari terakhir. Jika tidak, mereka harus menunggu lagi pekan depan.
Ustadz yang mengisi kajian subuh telah siap duduk bersila di hadapan para jamaah yang sudah menunggu dengan setia untuk duduk bermajelis. Dengan menggunakan gamis putih dan sorban di kepala, ustadz yang masih terlihat muda itu langsung memulai kajiannya.
"Iya, kita langsung saja memulai kajian subuh kita pada hari ini. Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatu.
Alhamdulillaahi robbil ‘aalamiin, wassholaatu wassalaamu ‘alaa asyroofil anbiyaa-i wal mursaliin, nabiyyinaa wahabiibinaa muhammadin, wa’ala alihi washahbihi aj’ma’iin, wa man tabi’ahum biihsanin ilaa yaumiddin, Amma ba’du.
Usai menjelaskan tentang arti dari kata Sakina, Mawaddah, dan Warahmah, ustadz itu lalu mengutip isi kajiannya dengan surah dalam Al-Qur'an.
"Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (QS. Ar-Rum 21)
Landasan dari terbentuknya suatu keluarga yang islami adalah ibadah kepada Allah SWT. Setiap kegiatan yang dilakukan, sebisa mungkin kita selalu melibatkan Allah di dalamnya, seperti saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, dan lain sebagainya semua itu dilakukan karena Allah SWT semata."
Panjang lebar ustadz itu menjelaskan apa saja yang harus dilakukan agar rumah tangga tangga selalu diridhoi oleh Allah.
Reza mendengarkan kajian itu dengan sangat khusyu hingga masuk ke dalam relung hati.
Kemudian ustadz itu kembali mengutip pada salah satu hadits.
__ADS_1
"Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik kepada istri-istrinya”
[HR. At-Tirmidzi, 3/466; Ahmad, 2/250 dan Ibnu Hibban, 9/483. Hadits dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani].
Maka dari itu, dalam menjalani sebuah rumah tangga, jadikanlah Rasulullah sebagai suri tauladan. Bagaimana beliau memperlakukan istri-isirinya dengan sangat mulia dan baik. Agar kita dapat menggapai keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah. Tak pernah sekali pun beliau berkata kasar, membentak, apalagi sampai mengangkat tangan memukul istri-istrinya. Sebagaimana dalam sebuah hadist mengatakan.
"Nasehatilah istri-istri kalian denga cara yang baik, karena sesungguhnya para wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya (paling atas), maka jika kalian (para suami) keras dalam meluruskannya (membimbingnya), pasti kalian akan mematahkannya. Dan jika kalian membiarkannya (yakni tidak membimbingnya), maka tetap akan bengkok. Nasehatilah isteri-isteri (para wanita) dengan cara yang baik."
Hal lain yang juga sama pentingnya yaitu suami sebagai kepala keluarga, memiliki tanggung jawab yang besar dalam mencukupi segala kebutuhan, khususnya dalam hal yang bersifat materi, seperti sandang, pangan, papan, maupun kebutuhan lainnya seperti pendidikan, hiburan, dan lain sebagainya.
Semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang dzolim pada istri dan anak-anak kita. Karena setiap apa yang kita kerjakan di dunia, suatu saat kelak kita akan pertanggungjawabkan semuanya di hadapan Allah." Lanjut ustadz itu.
Hati Reza menjadi tersentil mendengar semua ceramah yang disampaikan oleh ustadz muda itu. Air mata penyesalan mengalir dari sudut matanya. Betapa berdosanya ia pada istrinya yang sering ia dzolimi dengan sedemikian keji. Ia bahkan dengan sengaja mengabaikan tanggung jawabnya dengan tidak menafkahi istrinya dan membiarkannya kelaparan, hanya karena tak adanya cinta di hatinya untuk istrinya.
🌸🌸🌸🌸
Waktu terus berputar dan tak terasa, satu jam sudah kajian subuh berjalan. Reza dan Martin langsung pulang ke rumah usai mendengarkan kajian subuh yang penuh dengan pembelajaran tentang rumah tangga. Reza sangat bersyukur karena bisa mengikuti kajian subuh itu. Dengan begitu, ia bisa mengetahui sedikit ilmu tentang rumah tangga seperti apa yang Rasulullah contohkan.
Reza merebahkan tubuhnya ke kasur tanpa mengganti bajunya lebih dahulu karena matanya sudah sangat berat dan mengantuk. Sejak tiba di Indonesia, ia belum tidur sama sekali. Tak butuh lama, Reza pun tertidur dengan posisi kaki kirinya menjuntai ke bawah hingga menyentuh lantai.
Reza memicingkan matanya ketika cahaya matahari menyerobot masuk melalui sela-sela jendela kamarnya. Reza melirik ke arah jam dinding kamarnya, waktu telah menunjukan pukul 9 pagi. Reza langsung bangun lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Siang nanti, usai sholat Dzuhur, Reza akan menemui anak buahnya di taman yang ada di dekat rumah sakitnya.
Usai membersihkan diri, Reza lansung menuju dapur untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Saat sedang menyantap makanannya, Reza melihat para pembantunya yang dulu sengaja ia liburkan, kini telah kembali bekerja atas perintah dari Martin dan Irma selaku pemilik rumah. Reza tak merasa terkejut karena ia tahu, cepat atau lambat ini pasti akan terjadi.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung.....😊
__ADS_1