Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 140


__ADS_3

Lanjut.........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Dan siapa yang merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya. Maka ia bukanlah dari (golongan) kami" (HR. Ahmad)


🌸🌸🌸🌸


"Gitu ceritanya, sayang." Ucap Reza usai menceritakan semuanya pada Lira.


Lira masih diam seribu bahasa. Sebagai seorang wanita, tentu Lira ikut merasa sedih seperti apa yang sedang Anita rasakan. Namun, Lira juga tak ingin mengorbankan perasaannya, apalagi harus mengorbankan rumah tangganya yang telah ia perjuangkan dengan melewati banyak luka dan air mata, hanya demi wanita lain. Kali ini ini, Lira harus bersikap egois dengan mempertahankan rumah tangganya dari orang-orang yang ingin mengambil kesempatan dari kebaikan dan kelemahan hatinya. Tak ada wanita yang rela membahagiakan wanita lain di atas penderitaannya.


"Sayang, kok diem? Ada apa?" Tanya Reza lembut karena merasa heran melihat Lira tetap diam tanpa sepatah kata pun.


"Hmm....Apa yang akan mas lakukan sekarang?" Bukannya menjawab, Lira justru menjebak Reza dengan pertanyaan yang sulit, menurutnya.


"Kalo menurut sayang, gimana?" Tanya Reza yang juga menguji kesabaran Lira.


"Kalo mas tanya Lira, jelas Lira akan jawab gak setuju! Lira gak mau, mas nikah sama Mbak Anita. Maaf mas, kali ini Lira harus egois demi rumah tangga kita. Masih banyak cara untuk membantu Mbak Anita tanpa harus menikahinya. Kalo mas pikir Lira bakal setuju buat mas menikah lagi! Mas salah besar. Lira bukan lagi wanita lemah, yang mau ditindas sesuka hati. Tapi kalo mas tetap mau menikahi Mbak Anita dengan alasan membantu, tanpa sepengetahuan dari Lira! Siap-siap aja, mas bakalan kehilangan Lira dan anak-anak. Lira gak akan pernah mau ketemu sama mas lagi. SAMPAI KAPAN PUN. CAM KAN ITU!" Jawab Lira tegas penuh ancaman.


Entah keberanian dari mana yang Lira dapatkan. Yang pasti, hal itu mampu membuat Reza menjadi ketakutan setengah mati.


Reza benar-benar takut kehilangan istri dan anak-anaknya. Ia tak bisa membayangkan, jika ia harus menjalani hidupnya tanpa istri dan anak-anaknya yang menggemaskan itu di sampingnya.


Kali ini, Reza harus bisa bersikap tegas. Betul apa yang Lira katakan. Masih banyak cara untuk membantu Anita dan itu tidak harus dengan cara menikahinya. Reza tak ingin melakukan kebodohan yang sama untuk kedua kalinya, yang mana ia nyaris hampir kehilangan istri dan anaknya, hanya demi nafsunya saja.


"Iya, sayang. Mas gak akan melakukan kesalahan bodoh kayak dulu lagi. Udah cukup bagi mas ditinggal pergi satu kali. Mas gak mau merana untuk yang kedua kalinya."


"Bener ya? Awas aja kalo mas berani macem-macem lagi di belakang Lira. Mas bakal tahu akibatnya. Anceman Lira itu berlaku sampe kapan pun! Lagian ya mas, merusak hubungan orang lain itu dosa besar."


Lira mulai menjelaskan apa yang diketahuinya.


Perbuatan merusak rumah tangga orang lain, termasuk salah satu dosa besar. Sebab, jika syari’at melarang meminang pinangan saudaranya, maka bagaaimana halnya dengan orang yang merusak isterinya, serta berusaha memisahkan di antara keduanya sehingga dia bisa berhubungan dengannya.


Perbuatan dosa ini tidak kurang dari perbuatan keji (zina). Walaupun tidak melebihinya, dan hak lain tidak gugur dengan taubat dari kekejian. Meskipun taubat telah menggugurkan hak Allah, namun hak hamba masih tetap ada.


Menzalimi seseorang (suami) dengan merusak isterinya dan kejahatan terhadap ranjangnya, hal itu lebih besar dibandingkan merampas hartanya secara zalim. Bahkan, tidak ada (hukuman) yang setara di sisinya kecuali (dengan) mengalirkan darahnya.” (al-manawi dalam Faaidhul Qadiir)


Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Tidak halal bagi seorang wanita meminta (kepada suaminya) agar sang suami mencerai wanita lain. (yang menjadi istrinya). dengan maksud agar sang wanita ini memonopli ‘piringnya’. Sesungguhnya hak dia adalah apa yang telah ditetapkan untuknya”. (Hadîts, muttafaq ‘alaih).


(Sumber : Google)


"Iya, sayang. Mas tahu. Ya ampun. Istri mas kok jadi nakutin gini, sih!"


"Siapa suruh, mas kayak gitu."


"Janji gak gitu lagi. Kan udah insyaf."


Reza mengeratkan pelukannya, seolah Lira benar-benar akan pergi jauh dari hidupnya. Reza tak rela jika hal itu sampai terjadi.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


"Halo, assalamu'alaikum. Man, Minggu ini tolong siapkan pertemuan dengan Edi Priyanto di kantor. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." Ucap Reza tegas saat menghubungi Arman.


"Baik, mas. Mau jam berapa?" Tanya Arman di seberang sana.


"Pas istritahat makan siang."


"Siap, mas. Akan saya laksanakan secepatnya."


Usai menghungin Arman, Reza langsung kembali ke kamar Lira. Ia tak bisa lama-lama meninggalkan Lira di kamar perawatan, karena memang Lira tak mau jauh darinya. Sejak hamil anak ketiga, sikap manja Lira semakin menjadi-jadi.


Di dalam kamar perawatan yang super mewah itu, sudah ada si menggemaskan Inas dan si tampan Haidar yang selalu setia menemani ibu mereka. Haidar bahkan menjadi sangat manja pada sang ibu. Entah karena tak lama lagi gelarnya sebagai anak tampan akan bergeser, padahal jenis kelamin dari sang adik saja belum bisa diketahui atau memang bocah itu memang tak mau melihat ibunya menjadi lemah tak berdaya dengan berbaring di atas ranjang pasien. Yang pasti, saat ini Haidar menjadi semakin lengket dengan Lira.


"Kakak, adek, ayo pulang. Kakak sama adek harus istirahat dulu, habis itu baru jagain bunda lagi." Ajak Reza saat melihat kedua anaknya masih enggan meninggalkan ibunya, mengingat sekarang telah memasuki waktu istirahat bagi keduanya.


"Nda mau papa. Ade mau dagain bunda di tini. Tan, bunda ladi takit." Jawab Haidar dengan wajah menggemaskan.


"Iya, kakak juga gak mau pulang. Kakak masih mau di sini, jagain bunda." Timpal Inas tak mau kalah.


Reza menghela nafasnya kasar lalu memijit pelipisnya yang mendadak sakit. Ia harus ekstra sabar dalam membujuk kedua anaknya. Apalagi Haidar yang begitu dekat dengan Lira, pasti tak akan mudah untuk membujuknya. Reza harus melewati tahap drama yang cukup panjang dulu. Seperti menjanjikannya berlibur ke kebun binatang, ke Ancol, bahkan Reza membujuknya dengan mengajak Haidar ke kampung untuk menjenguk sang nenek yang sudah cukup lama tidak mereka temui. Namun, lagi-lagi ia tak berhasil. Akhirnya, Lira pun langsung turun tangan untuk ikut membujuk Haidar.


"Dek, mau dengerin bunda gak, sayang? Tanya Lira lembut.


" Mau unda." Jawabnya dengan mengangguk kecil.


"Adek sayang gak sama bunda?"


"Iya, ade tayang tama unda."


"Unda duga mau bobo?"


"Iya sayang, bunda juga mau bobo. Nanti kalo adek bobo, bunda akan pulang ke rumah. Adek mau kan?" Bujuk Lira "Terus, nanti kita telpon nenek buat dateng ke sini." Lanjutnya sambil mengusap lembut kepala Haidar.


"Iya unda, ade mau. Nanti telpon nene ya, unda."


"Iya, sayang. Sekarang adek pulang bareng kakak sama eyang ya."


"Iya, ade puyang tama eyang."


Di situlah Reza bernafas lega. Di saat seperti ini, hanya Lira yang bisa menjinakkan Haidar. Melihat hal itu, menbuat Martin dan Irma terkikik geli. Mereka tak menyangka, Reza yang dingin dan tak mau mengalah, bisa luluh begitu saja pada anaknya sendiri.


"Cih! Kamu bisanya apa sih, Za!? Bujuk anak aja, harus Lira yang turun tangan." Cibir Martin dengan senyum mengejek.


"Dia bisanya cuma nyakitin istrinya aja, pa." Timpal Irma sinis.


Reza tak ingin menjawab karena menurutnya, itu sangat percuma. Ia tak akan pernah bisa menang jika sudah berhadapan dengan kedua orang tuanya. Jika sudah begini, Reza hanya bisa pasrah melihat tatapan sinis dari kedua orang tuanya yang begitu menyayangi Lira dibandingkan dirinya, anak mereka sendiri.


🌸🌸🌸🌸


Menjelang sore hari, Lira sudah diperbolehkan pulang ke rumah, tapi dengan syarat harus tetap banyak istirahat. Kali ini, Reza menjadi lebih siaga daripada kehamilan Lira sebelumnya, saat mengandung Haidar. Lira juga disarankan untuk menjaga pola makan dengan memperbanyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung nutrisi yang lebih dari sebelumnya ketika belum hamil.


Terlebih lagi kandungan Lira yang tergolong lemah, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, kalsium, asam folat, serta protein untuk membantu pembentukkan janin dengan sempurna.

__ADS_1


Kepulangan Lira disambut gembira oleh kedua anak serta mertuanya. Haidar yang baru beberapa jam saja tak melihat sang ibu pun langsung berlari kecil untuk menyambutnya. Haidar merentangkan tangan mungilnya, meminta sang ibu untuk segera menggendongnya. Namun bukan Lira yang menggendongnya, melainkan Reza. Hal itu sontak saja membuat Haidar menjerit histeris. Hingga membuay Reza menjadi gelagapan sendiri.


"Mau tama unda, mau unda. Nda mau tama papa. Ade mau unda. Huaaaaaaaa." Jerit Haidar sambil meronta dalam gendongan Reza.


"Tapi bundanya belum sehat, sayang. Adek sama papa dulu ya."


"Nda mauuuuuuu!!!!!! Eyang, papa dahat." Adu Haidar pada Martin.


Martin juga menjadi serba salah. Tak mungkin Martin membiarkan Lira menggendong Haidar, sementara tubuh Lira masih terlihat sangat lemah. Irma pun sama, tak bisa membujuk Haidar karena sudah dipastikan ia tak akan berhasil.


"Dek, gimana kalo sekarang kita telpon nenek. Adek mau kan?" Bujuk Reza lembut.


"Mau, mau. Kakak juga mau ngomong sama nenek. Kakak udah kangen banget sama nenek." Timpal Inas girang. "Ayo, dek. Kita telpon nenek sekalang." Ajak Inas pada Haidar yang langsung diam saat mendengar nama sang nenek.


Selain dekat dengan Lira, Haidar juga dikenal sangat dekat dengan neneknya. Tak jarang, Haidar selalu meminta untuk berkunjung ke kampung agar bisa bertemu neneknya, Indah. Namun karena kesibukan Reza, mereka menjadi jarang untuk pulang kampung. Haidar hanya bisa melihat wajah Indah melalui video call saja.


"Ade duga mau tepon nene. Unda, ade tepon nene, ya."


"Iya, sayang."


Reza langsung menghubungi mertuanya melalui video call dan pada sambungan pertama, langsung terlihat wajah teduh milik Indah.


"Halo, assalamu'alaikum." Sapa Indah lembut saat melihat wajah menggemaskan kedua cucunya di layar.


"Wa'alaikumussalam. Nenek, apa kabal? Kakak kangen banget sama nenek."


"Alhamdulillah, kabar nenek baik."


"Ade duga tanen tama nene." Timpal Haidar dengan suara yang cukup kencang.


"Nenek juga kangen sama kakak, sama adek juga." Sahut Indah. "Kapan kakak sama adek mau main ke kampung nenek?" Tanya Indah penuh harap.


"Tunggu bunda sehat dulu, nek." Jawab Inas polos yang membuat Indah terkejut.


"Bunda sakit apa, kak?" Tanya Indah khawatir.


"Kemalin bunda pingsan di kamal kakak. Telus eyang bawa bunda ke lima sakit punya eyang."


"Ya Allah. Bundanya sekarang di mana, sayang?"


Inas langsung menyerahkan ponsel milik Reza pada Lira. Mata Lira langsung berkaca-kaca saat melihat wajah ibunya yang begitu ia rindukan. Begitu pun Indah, langsung menangis melihat wajah pucat putri kesayangannya.


Kedua ibu dan anak itu langsung saling bertukar kabar. Tak lupa juga, Lira memberitahukan tentang kabar kehamilannya pada Indah dan langsung disambut bahagia oleh Indah dari seberang sana. Namun, Lira tak memberitahukan tentang kandungannya yang lemah karena ia tak ingin membuat ibunya merasa khawatir.


Inda pun langsung memberi wejangan pada Lira untuk selalu menjaga kesehatannya. Indah juga berjanji untuk segera datang mengunjungi Lira secepatnya, dengan membawa serta kedua anaknya. Tentu Lira sangat bahagia mendengar ibu dan kedua adiknya akan datang ke Jakarta untuk menemuinya.


Usai melepas rindu pada ibunya, Lira pun diminta oleh mertuanya untuk beristirahat di kamar. Dengan ditemani oleh suami serta kedua anaknya, Lira menuju kamarnya untuk segera beristirahat sebelum memasuki waktu sholat Maghrib.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung......😊

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, DAN VOTE YA EPRIBADEHHH😁😁😁


__ADS_2