Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 48


__ADS_3

Terima kasih banyak untuk dukungannya....


ikuti terus ceritanya ya, selamat membaca....🌹🌹🌹🌹


Satu bulan telah berlalu. Sejak kejadian Reza meninggalkan Lira di ruang tamu dalam keadaan menangis, sejak saat itu juga tak pernah lagi terdengar teriakan amarah dari Reza atau tangisan kesakitan dari Lira. Karena sejak saat itu, Reza lebih sering menghabiskan waktunya di apartemen Doni dan akan pulang pada waktu tengah malam, saat Lira telah tertidur lelap.


Reza memilih menghindar, tak ingin melihat wajah Lira yang selalu menghantui pikirannya. Terkadang Reza merasa jenuh dengan apa yang sedang ia alami. Ia menolak untuk mengakui perasaanya yang perlahan mulai tumbuh pada Lira. Ada perasaan tak tega ketika ia meninggalkan Lira seorang diri di rumah tanpa ada yang menemani atau membantunya dalam mengerjakan semua pekerjaan rumah.


Akhir-akhir ini tanpa sepengetahuan Lira, Reza sering menaruh makanan di depan pintu kamar Lira pada waktu pagi hari sebelum Lira keluar kamar, dan tengah malam ketika Lira akan ke kamar mandi untuk buang hajat. Reza terus melakukan hal yang sama setiap harinya dan itu membuatnya tersenyum senang ketika ia melihat Lira mengambil makanan atau cemilan pemberiannya.


Namun, sampai saat ini Reza belum mengetahui perihal kehamilan Lira yang sudah memasuki bulan kedua. Karena ketika Lira merasa mual atau muntah di pagi hari, Reza sudah lebih dulu pergi dari rumah. Jadi, ia tak pernah tahu apa yang sedang dialami Lira.


Sikap Reza yang tiba-tiba saja berubah, tak lagi marah-marah saat Lira terlambat membersihkan rumah atau pulang kerja sedikit lebih lama dari waktu yang telah ditentukan, membuat Lira sedikit lega. Ia tak lagi harus merasa ketakutan, karena setiap ia pulang ke rumah, Reza belum ada di rumah. Namun, di satu sisi Lira juga merasa kesepian dan merindukan wajah Reza. Mungkin karena faktor kehamilannya, hingga Lira menjadi ingin selalu melihat atau sekedar mendengar suara Reza.


🌸🌸🌸🌸


Sudah seminggu Lira tidak bekerja karena Yati dan suaminya sedang pulang kampung, menjenguk ibunya yang sedang sakit. Lira memilih berdiam diri di rumah dan mengerjakan sesuatu yang membuatnya tak merasa bosan.


Sementara Reza, masih sering pulang larut malam. Perasaan Reza pada Lira, perlahan mulai tumbuh. Namun, Reza masih ingin meyakinkan hatinya lebih dulu. Ia sempat berfikir, jika perasaannya yang muncul bukanlah sebuah perasaan sayang, melainkan hanyalah rasa bersalah karena sudah terlalu sering membuat Lira menangis dan terluka.


Malam ini, Lira tidur lebih awal dari biasanya. Namun, tepat pukul 9 malam ia terbangun, karena sangat ingin makan sate Padang yang mangkal di pinggir jalan, tak jauh dari rumah mertuanya. Lira duduk dengan perasaan gelisah, terus membayangkan betapa lezatnya sate Padang yang dipenuhi bumbu kacang. Ia mencoba untuk tidur kembali, namun matanya tetap saja tak bisa terpejam.


Akhirnya dengan sangat terpaksa, Lira pergi keluar menuju tempat sate Padang itu berada. Lira meraih dompetnya yang berada di atas meja. Ia keluar dengan sangat hati-hati, takut jangan sampai Reza sudah pulang dan penyakit marah-marahnya kembali kambuh.

__ADS_1


Saat tiba di depan warung yang menjual sate padang, Lira terus memerhatikan para pelanggan yang sedang makan dengan sangat lahap. Bahkan, ada yang menjilat tangannya karena merasa tidak rela jika saos kacangnya terbuang begitu saja.


Sebelum memesan sate, Lira lebih dulu mengecek dompetnya, apakah masih ada sisa uang di sana atau tidak. Wajahnya langsung berubah sendu saat tahu isi uang di dompetnya hanya ada satu lembar pecahan uang lima ribu rupiah, tidak lebih. Wahah Lira berubah menjadi sendu. Harapannya untuk bisa menyicipi lezatnya sate Padang, pupus sudah.


🌸🌸🌸🌸


"Bro, gue pulang ya!" Pamit Reza pada Doni, setelah cukup lama mereka duduk di balkon apartemen Doni sambil menikmati suasna malam ibu kota.


Seperti biasa, selesai kerja Reza tidak langsung pulang ke rumah. Ia lebih memilih menghabiskan waktunya di apartemen Doni hingga larut malam. Seperti sekarang, ia langsung berpamitan saat melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia pikir pasti Lira sudah tidur.


"Lo mau sampe kapan kek gini terus? Gak kasian apa sama Lira, sendirian di rumah Lo yang gede itu?"


Doni belum tahu jika kedatanganya Reza setiap malam di apartemennya adalah untuk menghindari Lira.


"Gak tahu lah, bro." Jawab Reza cuek.


"Ya udah deh, terserah lo. Tapi besok kalo mau ke sini, lo bisa gak sih bawain gue makanan atau apa kek. Jangan cuma datang bawa diri dan beban hidup lo ke sini. Pusing gue liatnya." Gerutu Doni.


"Iya deh iya. Besok gue bawaain makanan kesukaan lo. Puas?"


"Gue belum merasa puas, sebelum lo udah bawain apa yang Lo bilang tadi." Doni paling bisa bikin Reza naik darah tapi tak bisa marah padanya.


"Au ah, males gua ladenin omongan lo yang gak mutu." Ucapnya sambil berlalu pergi meninggalkan Doni yang sudah tertawa karena telah berhasil membuat sahabatnya menjadi kesal.

__ADS_1


Reza meninggalkan apartemen Doni untuk pulang ke rumahnya. Ia sengaja melajukan mobil mewahnya dengan santai karena ingin menikmati suasana malam.


Cukup lama ia menikmati pemandangan malam dari dalam mobilnya. Sebenarnya, pemandangan seperti ini sudah sering ia saksikan, tapi entah kenapa malam ini ia merasa sangat berbeda.


Saat melewati banyaknya warung kaki lima yang mangkal di pinggir jalan, tak jauh dari rumahnya, Reza melihat seorang wanita yang sedang berdiri didepan kepulan asap dari pembakaran sate sambil menghirup wangi khas dari sate yang sedang dibakar itu.


Reza memicingkan matanya, merasa mengenali postur tubuh dari wanita itu. Merasa yakin jika wanita itu adalah Lira, Reza menghentikan mobilnya tepat di seberang warung untuk melihat apa yang sedang Lira lakukan. Dari kejauhan, Reza terus mengamati Lira yang kini sudah berpindah posisi menghadap para pelanggan yang sedang makan di dalam warung.


Dari kejauhan ia bisa mendengar suara dari pedagang sate yang sedang memarahi Lira karena sedari tadi, ia hanya berdiri memandangi pelanggannya yang sedang makan, hingga membuat pelanggannya menjadi risih. Pedagang sate itu akhirnya mengusir Lira dengan sedikit membentak.


Meski telah diusir, Lira masih tetap berdiri sambil terus memandangi orang yang sedang makan dengan lahap, sesekali ia mengelus perutnya. Setelah itu, ia pergi meninggalkan warung sate Padang itu dengan perasaan sedih dan kecewa karena keinginannya tak tercapai.


Ada rasa kasihan ketika melihat Lira dibentak di depan banyak orang. Namun, ia tak ingin ikut campur karena ia tak ingin Lira menjadi salah paham padanya.


🌸🌸🌸🌸


Pelan-pelan Reza mengikuti Lira dari belakang. Ia sengaja mematikan lampu mobilnya agar Lira tak menyadari jika saat ini Reza sedang mengamatinya.


Lira terus berjalan gontai dengan perasaan sedih bercampur malu karena telah dibentak oleh pedagang sate di depan banyak orang. Andai saja ia masih memiliki sisa uang lebih, sudah pasti ia akan membeli sate itu dan memakannya dengan sangat lahap.


Tiba di rumah, Lira langsung merebahkan tubuhnya. Ia mencoba mengalihkan pikirannya dari bayang-bayang sate Padang yang sangat ingin ia makan. Lira memejamkan matanya sambil terus berdzikir agar ia lebih muda tertidur. Akhirnya usahanya berhasil, meski harus berperang dengan keinginannya, tapi Lira berhasil masuk ke alam mimpinya.


Sementara Reza, memilih berdiri di depan pintu kamar Lira. Ingin rasanya ia bertanya apa yang sedang ia lakukan di depan warung sate tadi. Namun, gengsinya terlalu tinggi untuk bertemu langsung dengan Lira. Sebelum Lira mengetahui kehadirannya, Reza langsung pergi menuju kamarnya untuk beristirahat, setelah lelah bekerja melayani banyaknya pasien.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Bersambung..,........


__ADS_2