Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 93


__ADS_3

Selamat membaca....🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Saat pesanan makanan mereka datang, Lira langsung bertepuk tangan kegirangan. Lira terlihat lucu dengan tingkah polosnya yang membuat Reza semakin cinta dan sayang padanya. Selain karena sikapnya yang sopan dan bertutur kata lembut, Lira juga tak pernah bersikap pura-pura dan selalu apa adanya, membuat ia mudah untuk disayangi oleh siapapun. Bodonya dulu, Reza pernah menyianyiakan wanita yang begitu baik seperti Lira.


Lira menikmati nasi gorengnya dengan sangat lahap. Ia bahkan lupa untuk menawarkan suaminya makan.


"Pelan-pelan, sayang."


"Iya, mas. Masya Allah, ini nasi gorengnya enak banget, mas." Ucap Lira semangat.


"Mas tahu, sayang. Tapi makannya pelan-pelan dong."


Lira hanya mengangguk. Reza pun ikut makan sambil menyuapi putrinya. Balita menggemaskan itu sangat tenang berada di pangkuan ayahnya. Ia bahkan tak peduli, melihat ibunya makan tanpa menyuapinya. Ia seolah paham bahwa ibunya sedang makan dan tak ingin diganggu.


"Aduh maaf mas, Lira lupa nyuapin si adek." Ucap Lira langsung menghentikan makannya.


Lira baru sadar setelah melihat putrinya makan sambil memukul-mukul meja menggunakan sendok.


"Udah, gak papa sayang. Lanjutin aja makannya. Biar mas yang nyuapin dedek." Jawab Reza lembut.


"Makasih, mas."


Lira kembali melanjutkan makannya sambil terus memandangi putrinya yang makan dengan lahap dan tenang.


🌸🌸🌸🌸


Usai makan, Reza mengajak anak dan istrinya menuju sebuah butik milik salah satu artis papan atas Indonesia yang menjual berbagai busana muslim berkelas untuk orang dewasa hingga anak-anak.


Reza memilihkan beberapa gamis yang lucu untuk putrinya. Sementara Lira hanya mengikutinya dari belakang.


"Sayang, ayo dipilih bajunya."


"Tapi mas, baju Lira kan masih banyak yang baru. Ngapain beli lagi? Nanti malah mubazir, lho."


"Ya udah, kalo gitu sayang pilih satu atau dua aja deh. Nanti sayang pake kalo mau jalan sama mas."


"Iya, mas."


Ternyata tanpa sepengetahuan Reza, Lira tak hanya membeli gamis untuk ia dan putrinya, tapi Lira juga membelikan gamis untuk ibunya juga mertuanya. Lira juga membelikan beberapa lembar baju Koko untuk suami juga ayah mertuanya. Saat sedang memilih-milih gamis, Lira jadi teringat dengan dua adik angkatnya. Lira langsung membelikan mereka dua pasang gamis cantik dengan model yang sama tapi warnanya berbeda, yang cocok untuk usia mereka.


Puas berbelanja, Reza mengajak Lira menuju tempat wahana bermain untuk anak-anak. Inas langsung kergirangan hingga menghentakan kakinya di udara saat mereka sudah memasuki tempat itu.


"Dedek keliatannya seneng banget, sayang. Kayaknya dia suka ya, ke sini?" Tanya Reza sambil tertawa geli melihat tingkah lucu putrinya.


"Iya, mas. Padahal kan dedek udah sering ke sini sama mama, papa."


"Mungkin karena hari ini perginya bareng kita, sayang. Jadinya tambah seneng deh."


"Iya, mungkin aja gitu mas."


Reza menuju salah satu wahana mandi bola dan meletakan Inas di dalam kumpulan bola yang warna-warni hingga membuat Inas menjerit kegirangan. Inas mengambil salah satu bola lalu melempar bola itu ke arah ayahnya sambil tertawa.


Lira hanya berdiri, memandangi kegiatan Inas yang sedang bermain bersama ayannya sambil terus tertawa.


"Jika dulu aku tak kembali bersama Mas Reza, apa aku bisa sebahagia ini? Apa aku bisa melihat putriku bisa tertawa lepas seperti ini? Tapi apapun itu, aku bersyukur karena Mas Reza telah benar-benar berubah menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab. Melihat putri kecilku tumbuh bersama keluarga yang utuh, membuatku merasa sangat bersyukur. Terima kasih ya Allah, atas segala nikmat kebahagiaan yang telah engkau beri. Meski ini tidak mudah untukku raih. Meski harus banyak air mataku yang terkuras dan harus merasakan banyak luka, tapi semua tergantikan dengan melihat kebahagiaan putri kecilku. Terima kasih juga karena engkau telah menguatkan hatiku agar tetap sabar dan ikhlas hingga aku bisa meraih kebahagiaan ini."


Puas memanjakan putrinya dengan berbagai macam permainan, Reza langsung menghampiri istrinya yang sedang duduk sambil menunggu mereka selesai bermain.


"Sayang, mas sholat dhuhur duluan ya. Sayang tunggu mas di sini, jangan ke mana-mana. Nanti kita gantian sholatnya.


"Iya, mas."


Lira dan Inas menunggu Reza yang sedang sholat di mushalah mall yang yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Reza datang dan langsung duduk di samping Lira yang sedang bersholawat untuk menidurkan putrinya yang yang sudah mengantuk.


"Sayang, si adek udah tidur?"


"Udah, mas. Kayaknya si adek kecapean, deh."


"Sini sayang, biar mas yang gendong. Sayang pergi sholat dulu."


Lira langsung menyerahkan Inas pada Reza yang sudah siap dengan gendongannya. Inas yang begitu nyenyak, hingga tak sadar jika saat ini ia sudah berada dalam gendongan sang ayah.


Setelah selesai sholat, Lira kembali ke ke tempatnya semula. Lira melihat Reza sedang menggoyang-goyangkan badannya pelan sambil mengusap pelan punggung Inas.


"Si adek nangis, mas?"


"Gak sayang, tadi cuma gerak dikit aja kok, tapi gak sampe kebangun." Jawabnya. " Sayang, kita mau langsung pulang atau sayang masih pengen jalan-jalan lagi? Kali aja ada barang yang pengen sayang beli?"


"Kita pulang aja, mas. Lira juga udah ngantuk."


"Ya udah, sayang. Kita pulang sekarang, ya."


Reza berjalan sambil menggandeng tangan Lira dengan begitu mesra. Sedangkan Lira menenteng paper bag hasil belanjaannya.


🌸🌸🌸🌸


Tiba di rumah, Lira langsung mengganti pakaian Inas dengan baju santai. Setelah itu, Lira menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengenakan daster. Lira merebahkan tubuhnya di samping Inas. Tak lama, Lira pun tertidur karena merasa lelah.


Reza yang sejak pulang tadi langsung membuka laptopnya untuk membaca email yang masuk dari sekretarisnya karena besok ia harus kembali menjalani kesibukannya di kantor.


Merasa hening, Reza mengalihkan pandangannya ke arah istrinya yang sedang tertidur pulas dan saling berpelukan.


"Pantesan sepi. Udah pada tidur semua ternyata."


Reza meletakan laptopnya di atas meja lalu berjalan menuju tempat tidur. Senyum Reza terukir saat melihat wajah lelah dari anak dan istrinya. Reza mengecup pipi Lira dan Inas secara bergantian dengan penuh kasih sayang, setelah itu ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Reza terus membaca proposal kerja sama yang dikirimkan oleh sekretarisnya selama satu jam. Karena merasa lelah, Reza menutup laptopnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Reza membuka lemari dan mengambil kaos tipis dan celana bokser. Setelah itu, ia menyusul Lira dan Inas yang sudah terlelap sejak satu jam yang lalu.


🌸🌸🌸🌸


"Dedek asik main di mall, ma. Terus tadi karena kecapean, dia langsung tidur." Jawab Lira


"Seneng banget pasti dia. Secara kan, udah lama banget dia gak jalan-jalan bareng kalian."


"Ya gitu deh, ma. Sampe gak mau diem tadi. Pengennya main terus. Reza ajak ke tempat lain, dedeknya malah nangis." Reza ikut menimpali.


"Namanya juga anak kecil, Za. Ya, kayak gitu. Kamu juga waktu kecil suka nangis kalo gak diturutin kemauannya." Kali ini Martin yang menjawab dengan seringai mengejek.


"Apaan sih, pa. Jangan buka aib di depan istri Reza dong." Ucap Reza bercanda.


"Kok, aib sih? Itu kenyataan ya, Za." Balas Irma tak mau kalah.


Mereka semua yang ada di situ langsung tertawa bersama. Bahkan Inas juga ikut tertawa, padahal ia sama sekali tak paham dengan apa yang sedang ditertawakan.


"Dedek kok ikut ketawa? Dedek ngerti ya?" Tanya Reza.


Inas yang ditanya bukannya menjawab, ia justru tertawa kencang. Reza menjadi gemas langsung menyium kedua pipi Inas berkali-kali hingga Inas menjerit kegelian.


Lira hanya tersenyum melihatnya. Malam ini Lira merasa tubuhnya sangat lelah dan kepalanya sedikit pusing, tapi Lira tetap bersikap tenang karena tak ingin membuat suami dan mertuanya merasa khawatir padanya.


🌸🌸🌸


Pukul satu malam, Reza merasakan tubuh Lira sangat panas saat sedang memeluknya. Reza terbangun lalu memastikan suhu tubuh Lira dengan meletakan punggung tangannya di dahi Lira. Dan benar saja, Lira sedang panas dengan suhu tubuh yang sangat tinggi.


Reza langsung menyalakan lampu kamar dan membangunkan Lira yang sudah terlihat pucat.


"Sayang, bangun." Reza menepuk pelan pipi Lira. "Sayang, plis bangun. Jangan buat mas khawatir, sayang."

__ADS_1


Tak ada balasan dari Lira, Reza langsung turun ke lantai satu menuju kamar supirnya untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


tok....tok...tok...


"Pak Jono, cepet bangun pak." Teriak Reza dengan suara panik.


Tak lama Jono membuka pintu dengan wajah yang masih mengantuk.


"Ada apa, Den Reza?"


"Pak, tolong anter saya ke rumah sakit. Istri saya panas tinggi, pak. Ayo, cepet."


"Eh, iya iya den. Saya cuci muka dulu."


Reza mengangguk. Setelah itu Reza kembali ke kamarnya sambil berlari cukup kencang. Reza mengganti pakaiannya dengan yang lebih sopan. Reza juga memakaikan Lira jilbab instan panjang serta memakaikan rok dan kaos kaki dengan tangannya yang gemetar.


"Sayang, plis bangun."


Lira merasakan tangannya digenggam dengan sangat erat langsung terbangun. Tubuhnya sangat lemas tak bertenaga.


"Mas." Panggil Lira dengan suara lemah.


"Iya, sayang. Alhamdulillah, kita ke rumah sakit ya."


Lira hanya mengangguk lemah tanda setuju. Tak lama kemudian Irma dan Martin masuk ke dalam kamar Reza yang memang pintunya tidak ditutup.


"Reza, Lira kenapa?" Tanya Irma ikutan panik.


Tadi saat Reza mengetuk pintu kamar Jono, dengan cukup kencang, Irma dan Martin terbangun karena merasa terganggu. Kemudian mereka langsung keluar kamar dan menuju kamar Reza.


"Badan Lira panas tinggi, ma. Reza mau bawa Lira ke rumah sakit." Jawab Reza.


"Ya udah, kita ke rumah sakit sekarang." Ajak Martin


"Gak usah pa. Biar Reza aja yang pergi. Tolong jaga dedek dulu ya ma, pa."


"Iya, Za. Nanti mama yang jagain si dedek."


Reza langsung mengangkat tubuh Lira menuju mobil yang sudah di supiri oleh Jono.


"Cepet, pak."


"Baik, den."


"Sayang, sabar ya. Bentar lagi kita tiba di rumah sakit." Lira hanya diam karena memang ia sudah sangat lemas. Tubuhnya seakan tak mampu untuk digerakan.


Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya tiba di rumah sakit milik keluarga Reza yang memang tak jauh dari rumah mereka. Dengan sigap Reza langsung mengangkat tubuh lemah Lira menuju ruang UGD.


"Tolong periksa istri saya." Titah Reza pada salah satu dokter wanita yang sedang piket.


"Baik tuan."


Dokter wanita itu langsung memeriksa Lira dengan sangat teliti. Sebenarnya bisa saja Reza yang memeriksa sendiri kondisi Lira, meski Reza dokter spesialis mata, tapi ia juga seorang dokter yang pernah menangani pasien dengan kasus yang sama seperti yang sedang Lira alami. Hanya saja, rasa khawatirnya yang begitu besar membuatnya tak berpikiran sampai ke sana.


"Bagaimana kondisi istri saya, dok." Tanya Reza yang masih belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya.


"Suhu tubuh istri tuan mencapai 39 derajat. Kami akan mengambil sampel darahnya untuk memastikan, apakah ada gejalah lain atau hanya panas tinggi saja." Jawab dokter itu dengan hati-hati karena saat ini ia sedang berhadapan langsung dengan pemilik rumah sakit tempatnya bekerja, jadi ia tak boleh gegabah.


"Baiklah. Tolong pindahkan istri saya ke ruangan VVIP."


"Baik tuan."


🌸🌸🌸🌸


Bersambung.......

__ADS_1


jangan lupa dukungannya ya man teman


terima kasih😊


__ADS_2