
Selamat membaca.......πΉπΉπΉπΉ
πΈπΈπΈπΈ
Malam pun tiba. Sebelum tidur, Reza lebih dulu menuju balkon kamarnya menghubungi seseorang untuk memberikan kejutan pada Lira. Setelah itu, ia turun ke dapur untuk membuat susu untuk Lira juga Inas.
Reza masuk ke dalam kamar bertepatan dengan Lira yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya menggunakan piyama polos lengan panjang berwarna biru tua.
"Sayang, diminum dulu susunya." Reza menyodorkan susu ibu hamil rasa coklat pada Lira.
"Lira lagi gak pengen minum susu, mas. Rasanya bikin mual." Jawabnya sambil menutup mulutnya.
"Kalo sayang gak minum susu, nanti kasian baby. Diminum ya, dikit juga gak papa yang penting sayang minum susu."
Lira mengangguk pasrah. Ia menjepit hidungnya lalu meminum susu itu hingga setengah gelas karena merasa tak sanggup dengan baunya yang amis.
"Udah, mas. Lira gak kuat, amis banget."
"Ya udah, gak papa."
Reza menaruh gelasnya di atas meja. Kemudian Reza memberikan botol susu pada putrinya yang masih bermain di atas tempat tidur. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi balita menggemaskan itu masih enggan untuk tidur.
"Sayang, ayo minum susu sambil bobok."
"Papa-papa-papa." Celoteh Inas sambil memamerkan deretan giginya yang kecil dan lucu.
Merasa gemas melihat wajah lucu dan menggemaskan Inas, Reza langsung menyerang wajahnya dengan ciuman hingga membuat Inas memekik kegelian.
Puas bermain hingga kelelahan, Inas langsung tertidur dengan botol susu yang masih berada di mulut kecilnya. Melihat Inas telah terlelap, Reza melepas botol susu itu dengan pelan dan meletakannya di atas meja bersama gelas susu bekas Lira.
Reza menutup tubuh mungil putrinya dengan selimut lembut untuk menghangatkan tubuh mungilnya. Kecupan hangat mendarat di kening dan kedua pipi gembul Inas. Ditatapnya dalam-dalam wajah polos putrinya yang semakin mirip dengannya. Hanya bulu matanya saja yang mirip Lira, lentik dan lebat. Setetes kristal bening mengalir dari sudut matanya. Reza segera menghapus air matanya, sebelum Lira melihatnya.
Penyesalannya yang dulu pernah menolak kehadiran putrinya, kini berganti dengan rasa sayang dan cinta yang sangat besar dalam diri Reza. Bahkan Reza sudah memikirkan masa depan putrinya sejak dini.
Puas melihat wajah menggemaskan putrinya, Reza beralih ke istrinya yang sedang menyisir rambutnya di meja rias. Senyum manis terukir di wajah tampannya melihat wajah istrinya yang semakin cantik. Reza turun dari tempat tidur lalu menuju ke arah Lira.
"Sayang, sini mas bantu sisir rambutnya."
Tanpa menunggu jawaban, Reza langsung mengambil sisir dari tangan Lira. Reza mulai menyisir rambut Lira yang bertambah panjang hingga ke pinggang dengan pelan.
Lira memperhatikan wajah tampan suaminya lewat kaca besar di depannya. Perhatian kecil seperti ini yang selalu Lira impikan ketika dulu hamil Inas.
"Sayang kenapa liatin mas kayak gitu?"
Ya, sejak tadi Reza sadar jika Lira sedang menatapnya lewat kaca, tapi ia pura-pura tak peduli.
__ADS_1
"Gak papa, Lira cuma seneng aja." Jawab Lira sambil tersenyum lebar.
"Seneng kenapa, sayang?"
"Lira seneng karena mas perhatian sama Lira. Terima kasih ya, mas." Ucapnya tulus.
Reza menaruh sisir di atas meja rias lalu duduk bersimpuh di depan Lira sambil menggenggam kedua tangan mungil itu dengan lembut.
"Sayang, semua perhatian yang mas kasih itu adalah sebagai bentuk rasa cinta mas. Sekarang dan selamanya, mas akan tetap perhatian ke sayang, ke Inas juga. Jadi sayang stop bilang terima kasih karena itu memang hak sayang untuk menerima perhatian dan cinta dari mas." Jelas Reza lalu mengecup kedua tangan Lira dengan mesra.
"Sekarang kita tidur ya, udah malam." Ajak Reza lalu menarik tangan Lira menuju tempat tidur.
Usai berdoa bersama, Reza menyelimuti Lira agar terasa hangat lalu mendaratkan kecupan mesra di kening dan perut Lira.
"Selamat tidur, sayang. Mimpi indah, ya."
"Selamat tidur juga, mas." Balas Lira lalu menutup matanya yang sejak tadi sudah terasa berat.
Reza memeluk erat tubuh Lira dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang miliknya sambil terus mengusap lembut kepala Lira hingga tertidur. Terdengar dengkuran halus dari mulut Lira yang membuat Reza kembali mendaratkan kecupan di kening istri kecilnya itu.
"I love you, bidadariku." bisik Reza langsung ikut tertidur.
πΈπΈπΈπΈ
Pagi ini Reza sengaja tak pergi ke kantor karena siang nanti, ia ingin memberi kejutan untuk istri tercintanya. Kebetulan hari ini pekerjaannya di kantor sedang tak banyak, jadi masih bisa ditangani oleh Ferdi.
Inas sangat bahagia saat bermain air. Inas terus tertawa sambil menyipratkan air menggunakan kedua kakinya. Tawanya terdengar kencang hingga ke dalam rumah dan membuat para penghuni rumah ikut tertawa mendengarnya. Sementara, Lira hanya bisa menyaksikan mereka dari tepi kolam sambil ikut tertawa melihat kebahagiaan putri kecilnya.
Tak terasa, satu jam sudah Reza dan Inas berenang. Reza menggendong Inas menuju tepi kolam, tapi Inas langsung menangis kencang. Inas menolak untuk berhenti bermain air. Tak tega melihat Inas menangis, Reza terpaksa membawanya ke tengah kolam untuk kembali bermain air. Benar saja, Inas langsung berhenti menangis dan bahkan lucunya lagi, Inas malah kembali tertawa nyaring. Sekitar lima menit, Reza mengikuti keinginan Inas bermain air dan akhirnya ia menyudahinya karena tak ingin putrinya kedinginan dan masuk angin.
Meski Inas terus menangis, menolak berhenti, tapi Reza tetap membawanya menuju kursi yang berada di pinggir kolam kemudian memakaikan handuk tebal pada tubuh mungil Inas. Balita menggemaskan itu masih saja merengek meminta untuk kembali bermain air, membuat Reza berusaha membujuknya dengan berbagai macam cara agar putrinya mau tenang.
"Tuh kan, kakak gak mau berhenti main air. Mas sih, gak mau denger omongan Lira." Omel Lira sambil cemberut sambil menyodorkan handuk kimono pada Reza.
"Habisnya mas gak tega liat si kakak nangis terus. Sayang kan liat sendiri, kakak seneng banget main air."
"Iya, tapi mas jangan terlalu ngikutin maunya. Nanti kalo dia kebiasaan, gimana? Kita yang repot mas."
"Gak papa, sayang. Mas yakin kalo kakak gak akan kayak gitu, asal kita mau ngajarin kakak dengan baik."
"Terserah mas aja, deh."
Lira merasa takut jika dewasa nanti, Inas tak bisa mengendalikan dirinya karena selalu dituruti kemauannya dan terlalu dimanjakan dengan segala fasilitas mewah dari ayah serta nenek dan kakeknya, hingga membuatnya tak mau berusaha untuk mencapai sesuatu yang ia inginkan. Namun, Lira tak pernah menang jika berdebat dengan Reza soal Inas.
"Gak gitu, sayang. Maksud mas, nanti kita latih si kakak tapi kalo dia udah sedikit besar. Sekarang biar dia main dulu sepuasnya."
__ADS_1
Lira hanya diam tak menanggapinya. Lira mencoba untuk mengambil alih Inas yang mulai terlihat tenang, tapi lagi-lagi Reza melarangnya.
"Sayang mau ngapain?"
"Mau gendong kakak, bawa ke kamar biar gak kedinginan." Jawabnya santai tanpa menghiraukan tatapan tajam Reza.
"Sayang, inget gak mas pernah bilang apa? Sayang gak boleh gendong kakak. Sayang lupa di sini ada apa?"
"Ada baby, terus?"
"Ya Allah, sayang nurut dong. Mas gak mau sayang sama baby kenapa-napa."
"Lira cuma gendong kakak, mas. Nanti dia kedinginan. Tuh liat, bibirnya udah pucet gitu."
"Iya, mas tahu. Tapi biar aja mas yang gendong. Sayang siapin aja baju buat kakak dan mas."
"Iya-iya. Sekalian badan si kakak tolong dibilas ya, mas."
"Siap, sayang. Laksanakan! Ayo sayang, kita bilas terus pake baju biar kakak tambah cantik. Go..go..go...!!"
"Papa-papa-papa ." Celoteh Inas kegirangan.
πΈπΈπΈπΈ
Usai sholat dhuhur, semua keluarga Martin duduk bersama di meja makan untuk menikmati makan siang. Lira dengan telaten melayani suaminya, menyendokan nasi dan lauk ke piringnya. Setelah itu, Lira duduk kembali di sebelah suaminya. Sedangkan Inas, duduk di kursinya sendiri tepat di tengah-tengah nenek dan kakeknya.
Lira terlihat tak berselera saat melihat makanan lezat yang tersaji dengan rapi di atas meja. Sejak kemarin, Lira sangat merindukan masakan kampung yang dibuat langsung oleh ibunya. Irma melihat wajah sendu Lira, langsung membuka suara di tengah keheningan.
"Ada apa, Ra? Kamu gak selera sama menunya?"
"Iya, ma. Lira pengen makan masakan ibu." Jawabnya sendu.
"Ya ampun, kamu ngidam ya? Baby pengen makan masakan neneknya yang di kampung tuh, Ra." Ucap Irma girang.
"Kayaknya gitu, ma." Balas Lira.
Ting tong...Ting tong....
Terdengar suara bel dari ruang depan. Tanpa menunggu perintah, Mirna langsung menuju ruang tamu untuk membuka pintu. Wajah Mirna langsung tersenyum senang melihat siapa yang datang. Mirna membuka pintu lebar-lebar lalu mempersilakannya masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam Warahmatullah."
Semua menjawab kemudian menoleh ke sumber suara. Mata Lira langsung membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di depan matanya.
__ADS_1
πΈπΈπΈπΈ
Bersambung.....π