Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 142


__ADS_3

Maaf baru bisa up. selama beberapa hari ini othor lagi gak enak badan (demam, panas, sama sakit kepala). Tolong dimaapin ya 😊


Lanjut........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


"Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (Al An’am : 32)


🌸🌸🌸🌸


Usai pertemuannya dengan Edi beberapa saat lalu yang penuh dengan drama air mata serta bujukan agar Edi mau berobat demi kesembuhannya. Kini Reza kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang sempat tertunda hingga ia tak menyadari banyaknya panggilan masuk ke ponselnya. Reza memang sengaja memasang mode hening pada ponselnya agar tak mengganggu konsentrasinya saat bekerja. Namun, Reza lupa akan ucapannya sebelum berangkat ke kantor tadi, yang meminta pada kedua ibunya untuk segera mengabarinya mengenai keadaan istrinya di rumah.


Ketukan pintu yang berbunyi beberapa kali pun, tak juga mengalihkan perhatian Reza dari tumpukan berkas yang sedang dibacanya. Hingga dengan terpaksa, Arman masuk ke dalam ruangan sambil mengucapkan salam. Namun, Reza hanya membalas salamnya tanpa menoleh sedikit pun.


"Permisi pak, maaf mengganggu." Ucap Arman sopan.


"Iya, ada apa?" Sahut Reza tanpa menoleh pada Arman.


"Maaf pak, barusan saya mendapat telfon dari Pak Martin. Beliau meminta saya untuk memberitahukan pada bapak mengenai kondisi ibu Lira yang dilarikan ke rumah sakit."


"Apa?! Barusan kamu bilang apa? Ada apa dengan istri saya?" Tanya Reza dengan wajah terkejut.


"Istri bapak, Ibu Lira dilarikan ke rumah sakit kare-"


Belum sempat Arman menyelesaikan kalimatnya, namun Reza dengan segera menyambar kunci mobil dan ponselnya di atas meja lalu segera keluar ruangan dengan cepat. Ia tak peduli lagi dengan pekerjaannya yang menumpuk. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah istrinya. Bayang-bayang Lira yang terbaring lemah kembali berputar di benaknya.


Reza bahkan tak membalas sapaan para karyawan yang berpapasan dengannya. Fikirannya terlalu kalut memikirkan sang istri tercinta.


Melihat kepergiannya yang begitu cepat, membuat Arman mendesah kasar. Jika sudah seperti ini, alamat ia akan lembur dan pulang terlambat lagi. Namun, Arman tak bisa berbuat apa-apa karena memang semua di luar kendali Reza. Suami mana yang senang mendengar istrinya dilarikan ke rumah sakit? Jika hal itu terjadi pada Bela, tentu Arman akan merasakan hal yang sama seperti yang Reza rasakan.


🌸🌸🌸🌸


Reza tiba di rumah sakit milik keluarganya dengan sangat cepat. Kekhawatiran pada istrinya membuat Reza mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ia sudah tak peduli dengan keselamatannya. Padahal Lira sudah sering mengingatkan untuk selalu berhati-hati ketika berkendara. Di saat genting seperti ini, Reza sudah tak mengingat apapun selain istrinya.


Tiba di ruangan perawatan Lira, Reza langsung masuk ke dalam. Ia tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya saat mendengar sang istri kembali harus dilarikan ke rumah sakit. Kedatangannya bahkan disambut dengan tatapan tajam dari Martin yang merasa geram karena Reza tak mengangkat telfonnya.


"Kamu dari mana aja sih, Za? Kenapa telfon papa gak kamu angkat?" Tanya Martin dengan nada marah yang tertahan karena tak ingin menganggu menantu kesayangannya yang sedang tertidur pulas.


"Maaf pa, tadi hape Reza di silent jadi gak tahu kalo papa telpon." Jawab Reza jujur.


"Lain kali sesibuk apapun kamu, hp harus tetap dicek, biar gak kayak gini lagi." Timpal Irma tak kalah kesal.


"Iya ma, maaf." Reza tertunduk dengan wajah menyesal. "Kenapa Lira bisa kayak gini, ma? Terus anak-anak sama siapa?" Lanjutnya dengan wajah sedih.


"Sejak kamu berangkat ke kantor, Lira sama sekali gak mau makan. Mama udah bujuk tapi dia nya tetap gak mau. Sampe udah lewat jam makan siang, Lira tetap gak mau makan juga. Dia terus muntah-muntah, gak berhenti. Karena panik, kami mutusin bawa Lira ke rumah sakit. Mama minta sama papa buat telfon kamu, tapi malah gak kamu angkat." Sahut Irma sendu. "Anak-anak tadi mama titipin ke Bi Mirna dan Bu Nur buat jagain. Tadinya mereka nangis pengen ikut ke sini, tapi mama larang. Mama bujuk mereka dibeliin coklat yang banyak, baru deh pada mau diem," lanjut Irma.


Reza menatap sendu wajah pucat istrinya. Ia tak menyangka, kehamilan Lira kali ini begitu berat sampai harus kembali dirawat di rumah sakit. Reza duduk di sebelah Lira yang masih tertidur. Diraihnya tangan mungil yang terpasang selang infus itu, lalu diciumnya dengan mesra. Tangan Lira semakin kecil. Terlihat dari tulang-tulangnya yang menonjol keluar.


"Ma, apa Reza terlalu egois ya karena menginginkan banyak anak?" Tanya Reza dengan suara parau menahan tangis.


"Maksud kamu?"


"Iya ma. Reza merasa terlalu egois sampe harus mengorbankan istri Reza sendiri. Reza pengen punya banyak anak, tapi Reza gak mikirin gimana dampaknya pada Lira. Dia yang harus nanggung semuanya."


Irma terlalu bingung hingga tak tahu harus menjawab apa. Melihat hal itu, Indah pun membantunya untuk menjawab pertanyaan Reza yang terdengar begitu menyedihkan karena menyalahkan diri sendiri.


"Nak Reza, ini sudah menjadi kodrat Lira sebagai wanita. Bahkan bukan hanya Lira saja yang merasakan ini. Banyak wanita di luar sana yang rela mengorbankan nyawa demi anak mereka bisa lahir ke dunia. Dalam islam, wanita sangat dimuliakan. Sedangkan untuk seorang ibu, derajatnya tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorang ayah karena Nabi menyebut ibu tiga kali, baru lah ayah. Nak Reza harusnya bersyukur karena Allah sudah mempercayakan kalian kembali dengan menitipkan amanah berupa anak di rahim Lira. Seperti firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 72 yang artinya:


“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?”

__ADS_1


"Nak Reza juga gak salah kalo menginginkan banyak anak. Karena dalam Islam, kita dianjurkan untuk memiliki banyak anak, dengan maksud dan tujuan yang suci mengikuti ‘Syari’at Rabbul ‘Alamin di antaranya yang terpenting adalah untuk memperbanyak umat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, Nak Reza berhenti menyalahkan diri sendiri. Syukuri dan jagalah apa yang sudah Allah titipkan ini. Didik anak-anak kalian agar menjadi anak-anak yang soleh dan Soleh yang selalu mengingat Rabb nya." Jelas Indah panjang lebar.


Reza merasa lebih tenang setelah mendapat penjelasan dari mertuanya yang begitu menyentuh hati dan jiwanya. Reza baru ingat, dulu ia juga pernah membaca sebuah hadist mengenai hubungan antara harta dan anak.


"Ya Allah! Banyakanlah hartanya dan (banyakanlah) anaknya dan berkahilah apa yang engkau telah berikan kepadanya” (HR. Bukhari)


"Terima kasih ya bu, sudah ingetin Reza tentang hal ini. Insya Allah, Reza akan berusaha untuk mendidik anak-anak kami agar menjadi anak-anak yang soleh dan solehah."


"Sama-sama." Jawab Indah lembut. "Ya udah, sekarang Nak Reza tolong jagain Lira dulu ya. Ibu mau pulang dulu ke rumah, mau buatin Lira bubur sekalian liat anak-anak. Nanti ibu ke sini lagi."


"Eh, kita bareng aja dek pulangnya. Mbak juga mau pulang liat anak-anak." Timpal Irma cepat.


Sejak merasa dekat dengan Indah, Irma langsung mengubah panggilannya agar lebih akrab. Irma merasa panggilan yang dulu pernah ia sematkan pada besannya terkesan seperti orang asing. Setelah adanya panggilan baru itu, mereka menjadi lebih dekat layaknya saudara.


"Iya mbak."


Irma, Indah dan Martin langsung pulang ke rumah. Mereka tak tega meninggalkan kedua cucu mereka di rumah, yang pasti sedang kesepian.


Tinggallah Reza dan Lira di ruang perawatan mewah yang terkesan bukan seperti sebuah ruang perawatan orang sakit, melainkan kamar hotel. Semua fasilitas yang ada di ruang perawatan Lira terlihat mewah dan elegan. Itu semua atas permintaan Martin, selaku pemilik rumah sakit. Martin ingin menantu kesayangannya mendapatkan pelayanan yang terbaik. Selain itu, Martin ingin menantu kesayangannya merasa nyaman selama dirawat di rumah sakit.


Reza tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Lira. Sesekali kecupan hangat ia berikan pada tangan mungil Lira. Reza mengusap lembut pipi Lira yang sudah terlihat tirus karena Lira tak nafsu makan. Hingga Reza merasakan jari-jari Lira bergerak dalam genggamannya. Lira mengerjapkan matanya yang terasa berat. Saat berhasil membuka matanya, Lira melihat wajah tampan dari lelaki yang ia cintai sedang tersenyum padanya. Lira hanya bisa membalasnya dengan tersenyum samar.


"Alhamdulillah, akhirnya sayang bagun juga." Ucap Reza penuh syukur sambil mengecup tangan Lira berkali-kali.


"Mas udah lama di sini?" Tanya Lira pelan.


"Iya sayang. Tadi pas dapat kabar kalo sayang masuk rumah sakit, mas langsung ke sini. Maaf ya, mas terlalu sibuk sampe lupa sama sayang."


"Gak papa, mas. Tanggung jawab mas bukan hanya pada Lira dan anak-anak, tapi juga semua karyawan yang ada di kantor. Mas juga kerja untuk Lira dan anak-anak. Jadi gak usah merasa bersalah kayak gitu."


"Iya sayang." Jawabnya tak kalah lembut. "Oh iya, sayang mau makan apa? Biar mas beliin."


"Tapi sayang tetap harus makan, biar cuma dikit. Kasian dedek di perut gak dapet nutri kalo sayang gak makan."


"Tapi Lira gak bisa mas."


Lira langsung terisak. Bukan kemauannya untuk tak makan. Ibu mana yang tega membiarkan janinnya tumbuh tanpa nutrisi? Tentu Lira tak menginginkan hal itu. Namun, Lira tak berdaya. Setiap mencium bau makanan, Lira akan memuntahkan semua isi perutnya hingga habis tak tersisa.


Reza langsung memeluk tubuh mungil Lira dengan penuh kasih sayang. Ia menjadi merasa bersalah karena terlalu memaksa Lira untuk makan.


"Maaf sayang. Maaf karena udah maksa sayang untuk makan. Tapi nanti kalo sayang pengen makan sesuatu, langsung bilang sama mas, ya."


Lira hanya mengangguk. Rasanya begitu nyaman berada dalam pelukan hangat suaminya di saat ia terkulai lemas seperti ini.


🌸🌸🌸🌸


Mendapat kabar dari suaminya tentang masuknya Lira ke rumah sakit, Bela langsung meminta izin untuk membesuk sahabatnya. Sebelumnya, Bela menitipkan kedua anaknya ke rumah Martin agar mereka bisa bermain bersama anak-anak Lira yang diawasi langsung oleh baby sitter dan para asisten rumah Martin.


Bela menaiki taksi menuju rumah sakit. Tak lupa juga Bela membawa buah tangan berupa keranjang berisi buah-buahan segar. Bela mendengar dari Indah, jika Lira tak berselera makan. Setiap makanan yang masuk ke mulutnya, akan dimuntahkan tanpa sisa. Maka dari itu, Bela berinisiatif untuk membawa buah-buahan. Jika Lira tak bisa menyium bau makanan, Bela berharap setidaknya buah-buahan itu bisa sedikit membantu mengisi perut Lira yang kosong.


Tiba di depan ruang perawatan Lira, Bela langsung mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Setelah mendapat balasan salam dari dalam, Bela pun langsung masuk. Lira tersenyum senang melihat kedatangan sahabat baiknya yang ia rindukan. Apalagi akhir-akhir ini, mereka jarang bertemu karena kesibukan mereka sebagai ibu rumah tangga yang mengurus dua anak. Serta Bela yang sering pulang kampung untuk menengok orang tuanya yang sudah sering sakit-sakitan.


"Kamu apa kabar, Ra?" Tanya Bela usai meletakan keranjang buah di atas meja kaca yang tak jauh dari ranjang Lira.


"Alhamdulillah, udah mendingan Bel. Kamu ke sini sama siapa?"


"Aku dateng sendiri. Anak-anak aku titipin ke rumah papa. Biar bisa main bareng Inas dan Haidar."


"Anak-anak gak rewel kan?" Tanya Lira khawatir.

__ADS_1


"Gak kok. Mereka anteng banget. Apalagi mereka dapet coklat banyak dari mama, jadi mereka tambah anteng."


"Alhamdulillah. Aku khawatir banget sama anak-anak."


"Udah, kamu tenang aja. Yang penting sekarang kamu harus banyak-banyak istirahat dan jangan lupa untuk tetap makan. Biar cuma sedikit-sedikit, asal ada makanan yang masuk ke perut."


"Tapi mulut aku pait, Bel," ucap Lira lirih.


"Gimana kalo makan buah? Mau ya?" Bujuk Bela.


"Nanti kalo aku muntah lagi, gimana?" Tanya Lira ragu.


"Dicoba aja dulu."


Bela mulai mengupaskan Lira satu buah apel merah segar. Setelah itu, Bela menyuapi Lira dengan telaten sedikit demi sedikit. Anehnya, Lira tak merasakan mual sama sekali. Lira bahkan menghabiskan satu buah apel itu dengan lahap dan meminta Bela untuk mengupaskan satu buah lagi untuknya. Tentu dengan senang hati Bela lakukan.


Tak hanya Bela yang merasa senang melihat Lira yang menghabiskan buah apel itu, Reza jauh lebih senang karena Lira mau makan meski itu hanya buah apel. Reza tersenyum bahagia lalu mengucap syukur dalam hati.


Kedekatan di antara Lira dan Bela sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan mereka bisa dikatakan sudah seperti saudara kandung yang saling menyayangi. Melihat bagaimana cara mereka interaksi dengan bahasa yang lembut, membuat Reza bersyukur karena Lira mempunyai sahabat sebaik Bela yang begitu peduli padanya.


🌸🌸🌸🌸


Satu jam sudah Bela membesuk Lira di rumah sakit. Selama satu jam itu, banyak hal yang mereka ceritakan mengenai tumbuh kembang serta tingkah lucu anak-anak mereka yang selalu mengundang gelak tawa. Tak lupa juga mereka menceritakan hal-hal lucu yang terjadi di sekitar mereka. Meski masih dalam keadaan lemas, tapi Lira masih bisa bercanda dan tertawa bersama sahabatnya, hingga ia mengabaikan suaminya yang duduk di sebelahnya.


Merasa cukup dengan pertemuan mereka, kini saatnya Bela berpamitan pulang karena ia tak bisa berlama-lama meninggalkan anak keduanya yang masih menyusui. Bela memeluk Lira sambil mengusap perut datar Lira dengan lembut.


"Aku pamit pulang dulu ya. Maaf gak bisa lama-lama, kasian anak-anak di rumah."


"Iya, gak papa. Kamu dateng ke sini aja, aku udah seneng banget."


"Jangan lupa makan. Ingat dedek janinnya butuh nutrisi."


"Iya. Bawel banget sih." Sahut Lira dengawajah cemberut.


"Biarin. Wleeee!"


"Ih, nyebelin."


"Udah ah, aku pulang ya mas."


"Iya. Makasih ya Bel, udah mau dateng nengokin Lira. Hati-hati di jalan."


"Sama-sama, mas. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam Warahmatullah." Jawab Lira dan Reza bersamaan.


Setelah Bela pergi, Reza kembali duduk di sisi ranjang sambil mengecup perut datar Lira dan mengusapnya dengan lembut. Lira meletakan tangannya di atas punggung tangan Reza yang masih terus mengusap perut datarnya.


"Ada yang lagi seneng nih, habis kedatangan sabahat baik sampe mas dicuekin." Ucap Reza dengan pura-pura memasang wajah cemberut.


"Eh, gak gitu mas. Tadi Lira seneng aja karena udah lama gak ketemu Bela. Mas kan tahu sendiri, Bela sering pulang kampung, jadi udah jarang main ke rumah. Maaf ya, Lira gak bermaksud buat nyuekin mas." Jawab Lira merasa bersalah.


"Mas cuma becanda, sayang. Justru mas bersyukur dan berterima kasih sama Bela karena udah bikin istri mas jadi ceria lagi. Dan yang terpenting, Bela udah berhasil bujuk sayang makan dengan lahap."


Lira pun tersenyum. Benar kata Reza, ia harus bersyukur dan berterima kasih pada Bela yang sudah berhasil membuatnya makan dengan lahap tanpa merasa mual sama sekali.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........

__ADS_1


__ADS_2