Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 72


__ADS_3

"*Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah, yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."


(QS. Az-Zumar : 10*)


Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Malam pun hilang berganti subuh yang begitu dingin hingga menusuk kulit. Keluarga kecil itu masih tertidur dengan posisi saling berpelukan seolah memberi kehangatan satu sama lain. Mereka sama sekali tak merasa terusik dengan suhu dingin di luar, hingga terdengar suara adzan subuh berkumandang memecah keheningan, barulah salah satu dari mereka terbangun.


Lira mengusap wajahnya dengan lembut usai membaca doa bangun tidur. Ia tersenyum bahagia saat melihat kedua orang yang dicintainya masih tertidur dengan sangat nyenyak dengan saling memeluk. Lira merasa bersyukur karena doanya terkabul, meski harus melewati banyaknya cobaan dan air mata.


Lira mengecup kening putri kecilnya yang tidur sambil memeluk sang ayahnya dengan gemas. Cukup lama Lira memandangi wajah suami dan anaknya, lalu ia membangunkan Reza dengan cara mengusap lembut lengan kokoh suaminya itu.


"Tuan, ayo bangun. Sudah waktunya sholat subuh." Ucap Lira sambil terus mengusap lengan Reza.


Meski telah kembali bersama Reza, namun Lira masih belum terbiasa memanggil Reza dengan sebutan 'mas'. Reza juga sudah berulang kali mengingatkan Lira untuk tidak lagi memanggilnya dengan sebutan 'tuan, hanya saja Lira masih merasa canggung dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri kembali.


Karena belum ada tanda-tanda Reza akan bangun, akhirnya Lira mencoba kembali membangunkannya. kali ini Lira mengusap lembut wajah Reza sambil berbisik di telinganya.


"Tuan, bangun. Ini sudah subuh."


Benar saja, usaha Lira berhasil. Reza menggeliat saat merasakan nafas hangat Lira yang masuk ke telinganya.


"Iya sayang, aku bangun." Reza bangun lalu duduk sebentar untuk menghilangkan rasa kantuknya. "Tadi kamu panggil aku apa?" Reza sempat mendengar suara Lira membangunkannya dengan menyebutnya 'tuan'.


"Maaf, Lira masih belum terbiasa." Jawab Lira sambil menunduk takut.


Reza melihat ketakutan di wajah Lira, langsung meraih tangan Lira dan menggenggamnya.


"Gak papa. Tapi harus dibiasakan mulai dari sekarang, ya. Karena kamu itu istriku, ibu dari anak-anakku. Bukan pembantuku." Ucap Reza lembut.


Lira mengangguk sambil tersenyum lembut.


"Iya, m-mas."


Reza tersenyum mendengar jawaban Lira yang kaku saat menyebutnya 'mas'. Reza mengecup kening Lira lalu mengusap kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Terima kasih. Ya udah, mas wudhu dulu ya, mau sholat di masjid bareng papa."


Melihat Reza berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, Lira langsung menyiapkan baju koko dan sarung untuk Reza, kemudian Lira menuju kamar tamu tempat ibunya beristirahat untuk berwudhu.


Reza keluar dari kamar mandi langsung tersenyum saat melihat pakaian sholat yang telah disiapkan istrinya yang diletakan di atas tempat tidur. Betapa bersyukurnya Reza mendapat istri yang begitu sabar dan Solehah seperti Lira.


Reza bergegas menuju masjid bersama ayahnya. Sejak kehadiran cucunya di rumahnya, Martin menjadi semakin sehat dan tak lagi mengeluh sakit.


🌸🌸🌸🌸


Seperti biasa usai sholat, Lira duduk berdoa untuk mengucapkan syukur atas segala kebaikan yang telah Allah berikan padanya. Kesabarannya kini telah berbuah manis. Tangisannya yang dulu terdengar pilu, kini telah berganti tawa bahagia.


Setelah berdoa, Lira melanjutkannya dengan mengaji. Suara Lira masih sama seperti dulu, terdengar begitu merdu hingga menyentuh hati. Lira menyelesaikan bacaan Qur'an nya sampai lembaran terakhir pada surah yang dibaca. Namun, ia belum mau beranjak dari tempatnya. Lira masih merasa nyaman dengan posisi duduknya saat ini sambil memegang Al-Qur'an nya yang sebelumnya telah ia tutup.


Reza yang telah pulang dari masjid, sengaja berdiri di depan pintu untuk mendengar istrinya mengaji. Setelah itu ia menghampiri Lira lalu duduk di hadapannya. Melihat Reza yang sudah berada di hadapannya, Lira langsung meletakan Al-Qur'an nya di atas meja kecil sebelah tempat tidur.


Tangan kiri Reza menggenggam tangan Lira, tangan kanannya mengusap lembut pelipis Lira yang terdapat bekas luka.


"Ternyata suara kamu gak berubah ya. Masih sama seperti dulu, sangat merdu." Ucap Reza, tangannya masih membelai lembut wajah Lira.


"Maksud mas apa?"


Reza tekekeh geli, merasa lucu melihat ekspresi Lira yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Dulu mas pernah gak sengaja denger kamu ngaji,.merdu banget sampe hati mas jadi adem dengernya. Mas berdiri di depan pintu kamar kamu sampe kamu selesai ngaji terus mas kembali ke kamar." Jelas Reza.


"Masak sih, kok Lira gak tahu." Tanya Lira polos.


"Ya iyalah sayang, pintu kamar kamu kan tertutup."


Wajah Lira berubah menjadi merah merona saat Reza menyebutnya sayang. Jantungnya berdetak dengan begitu kencang.


"Terima kasih ya, untuk semua kesabaranmu. Maaf untuk semua sikap mas yang dulu. Bantu mas agar bisa menjadi suami dan ayah yang baik untuk kamu dan dedek." Ucap Reza sambil menatap lembut mata Lira.


"Udah mas, gak usah minta maaf terus. Lira udah maafin mas, kok. Kita belajar sama-sama menjadi orang tua yang baik untuk dedek. Supaya kita bisa ke surganya Allah sama-sama."


"Aamiin. Tapi sampe kapan pun, mas akan tetap mengucapkan maaf. Kalau perlu sampe seumur hidup, mas akan terus mengucapkan kata maaf. Mas sadar, kesalahan yang mas buat sangat besar. Mas menzalimi kamu dengan sangat keji. Mas juga pernah mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati kamu dengan menolak kehadiran anak yang hadir di rahim kamu. Dosa mas begitu besar. Bahkan terkadang mas merasa malu pada diri sendiri, malu sama kamu juga yang begitu sabar dan masih mau memaafkan semua kesalahan mas."

__ADS_1


Reza tertunduk dengan air mata yang mulai mengalir dengan deras membasahi wajah tampannya. Guratan penyesalan terlihat jelas di wajahnya.


Lira menangkup wajah Reza dengan kedua tangan mungilnya.


"Mas, manusia itu tempatnya khilaf. Gak ada manusia di muka bumi ini yang gak pernah melakukan kesalahan selama hidupnya. Setiap manusia juga berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua untuk menebus kesalahan yang pernah ia perbuat. Begitu juga dengan mas, Lira ngasih mas kesempatan karena Lira yakin kalo mas pasti berubah. Itu sebabnya kenapa Lira masih setia menunggu sampai mas datang untuk menjemput Lira. Gak tahu kenapa, hati Lira merasa sangat yakin kalo mas pasti akan datang. Lira bersyukur karena Allah telah mengabulkan doa-doa Lira, meski Lira harus menunggu cukup lama untuk itu semua. Lira harus menghadapi banyaknya kerikil tajam untuk bisa menjemput kebahagiaan yang telah Allah janjikan dan siapkan untuk Lira." Balas Lira lembut.


"Terima kasih." Hanya kata itu yang bisa Reza ucapkan untuk mewakili rasa syukurnya.


Reza memeluk erat tubuh mungil istrinya. Air semakin deras mendengar jawaban yang menyejukkan dari istri kecilnya itu. Reza melepas pelukannya lalu mengecup kening Lira dengan sangat dalam lalu kecupannya beralih ke bekas luka di pelipis Lira.


Lira menutup matanya saat menerima kecupan hangat yang Reza berikan padanya. Lira kembali membuka matanya, lalu mengusap air mata Reza yang masih mengalir itu.


"Udah atuh nangisnya. Malu kalo diliat dedek, masak papanya yang galak ini jadi cengeng, sih." Ucap Lira dengan senyum mengejek.


"Udah berani ya, ngejekin mas."


Reza menggelitik perut Lira hingga wanita itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Hahahaha, mas ampun. Hahaha, udah mas." Ucap Lira di sela-sela tawanya.


Reza melepasnya gelitikkannya di perut Lira. Nafas mereka tersengal-sengal usai tertawa bersama. Tak lama terdengar suara tangis Inas yang begitu kencang.


"Tuh kan, dedek jadi bangun." Omel Lira sambil membuka kerudungnya lalu berjalan menuju Inas yang sudah duduk sambil menangis.


Lira meraih tubuh mungil anaknya ke dalam dekapan hangatnya. Reza ikut duduk di dekat Lira, ikut mengelus pelan kepala anaknya.


"Papa nakal ya, dek. Papa berisik jadi dedek keganggu tidurnya, iya dek?" Ucap Lira.


Reza hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa bersalah karena sudah menggangu tidur nyenyak anaknya.


"Maafin papa ya, dek. Papa udah nakal."


Mendengar suara ayahnya, balita menggemaskan itu langsung diam dari tangisnya lalu merentangkan tangannya agar ayahnya menggendongnya. Reza dengan senang hati menggendong putri kecilnya itu. Reza menyium gemas pipi gembul putrinya hingga balita itu tertawa terbahak-bahak. Melihat putrinya tertawa, Lira dan Reza juga ikut tertawa.


🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊

__ADS_1


__ADS_2