
Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹
🌸🌸🌸
Hubungan Doni dan Afika akhirnya kandas, setelah Doni memergoki Afika sedang jalan bersama lelaki lain yang diakui Afika sebagai calon suaminya. Ternyata, selama ini Afika telah dilamar oleh kekasihnya yang telah ia pacari setelah satu tahun ia berpacaran bersama Doni. Selama ini Afika bermain sangat cantik dan rapi, hingga Doni tak pernah merasa curiga padanya.
Anehnya meski telah dikhianati oleh kekasihnya, Doni tak merasakan sakit hati atau kecewa. Doni justru merasa lega karena telah lepas dari Afika. Dengan begitu, ia tak lagi merasa bersalah karena telah menaruh hati pada wanita lain. Amel! Gadis sederhana yang pernah ditolongnya itu, ternyata telah berhasil mencuri hati Doni dan berhasil bertahta di hati dengan menggeser nama Afika di sana.
Doni baru menyadari, ternyata inilah alasan mengapa Reza tak pernah menyukai Afika. Andai ia mengetahuinya sejak dulu, pasti ia tak akan membuang-buang waktunya hanya untuk wanita yang tak setia seperti Afika. Doni merasa menyesal karena telah mengabaikan setiap ucapan Reza yang dipikirnya hanyalah ocehan seorang sahabat yang merasa iri melihat sahabatnya bahagia. Ternyata dugaannya salah, Reza tetap sahabatnya yang selalu menjaga perasaannya termasuk tak membocorkan tentang perselingkuhan Afika.
Setelah putus dari Afika, Doni berencana untuk mendekati Amel. Ia akan berjuang untuk mendapatkan hati Amel, lalu melamarnya. Usia Doni memang setahun lebih muda dari Reza, tetapi ia tak boleh terus-terusan berdiam diri. Ia juga mendambakan untuk membangun sebuah keluarga kecil yang bahagia hingga akhir hayat. Doni merasa Amel lah wanita yang pantas untuk menyandang status sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya kelak.
Saat sudah berada di apartemennya, Doni langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Menjadikan tangannya kanannya sebagai bantal, tangan kirinya diletakan di atas keningnya. Doni menatap langit-langit kamarnya sambil terus tersenyum, membayangkan betapa bahagianya jika Amel mau menerima perasaanya dan bersedia menghabiskan waktu bersamanya sebagai sepasang suami istri. Doni terus saja tersenyum, hingga ia tak menyadari kehadiran Reza di sampingnya yang sudah memasang wajah bingung, menyaksikan kekonyolannya.
"Astaghfirullah, Ya Allah. Sejak kapan lo di sini?" Saat Doni ingin beranjak menuju kamarnya, ia langsung terkejut melihat Reza yang sudah duduk manis di sofa sambil memasang tampang menyelidik.
"Sejak lo senyum-senyum sendiri sambil liat ke atas." Jawab Reza datar.
Doni hanya menyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hehe, lo bisa aja bro." Doni merubah posisi duduknya mendekat pada Reza. "Bro, gue mau minta maaf nih sama lo. Sorry kalo dulu gue gak pernah mau denger omongan lo tentang Afika. Ternyata yang lo bilang itu bener, bro. Gue nyesel, kenapa gak dari dulu gue putusin dia?" Doni menundukkan wajahnya penuh penyesalan.
Reza tersenyum miring mendengar penjelasan sahabatnya tentang Afika, wanita yang sudah menghianati ketulusan cinta Doni. "Bagus deh, kalo lo udah sadar. Seenggaknya gue gak perlu lagi capek-capek buat nyembunyin keburukan dia ke lo."
__ADS_1
"Iya, bro. Makanya itu gue mau minta maaf sama lo."
"Santai, udah gue maafin kok. Sekarang mendingan lo fokus aja ke bisnis lo yang lagi berkembang. Gue yakin, suatu saat lo bakal ketemu sama cewek yang bener-bener tulus sama lo." Ucap Reza sambil menepuk bahu Doni dengan pelan.
"Aamiin. Terima kasih bro.
"Sama-sama."
🌸🌸🌸🌸
Malam ini Lira kembali dilanda ngidam. Ia masih sangat ingin memakan sate Padang di tempat kemarin. Sedangkan waktu telah menunjukan pukul 10 malam, tapi ia merasa tak tahan membayangkan kelezatan dari sate Padang itu.
Saat tiba di depan warung sate Padang, Lira berdiri mematung menyaksikan para pelanggan yang sedang menyantap sate Padang dengan semangat. Sang pemilik warung melihat Lira kembali melakukan hal yang sama seperti malam sebelumnya, menjadi geram. Kemudian ia mendekati Lira untuk mengusirnya.
"Maaf pak, saya bukan pengemis. Saya sedang ngidam ingin makan sate Padang ini, tapi saya gak punya uang." Balas Lira sambil menunduk malu karena orang-orang yang ada di situ, semua melihat ke arahnya.
"Alah, alesan aja. Bilang aja kalo kamu itu pengemis. Lihat aja baju kamu, usang begitu." Ucapnya dengan nada mengejek.
Lira merasa telah dihina dan dipermalukan, akhirnya memilih pergi. Ia hanya bisa menangis sambil terus mengusap perutnya.
"Maaf ya dek, malam ini bunda belum bisa penuhin keinginan adek untuk makan sate Padang. Insya Allah, nanti kalo bunda udah punya uang, pasti bunda beliin adek sate Padang yang banyak biar adek kenyang." Gumam Lira tersenyum getir, menyemangati janinnya agar tak merasa sedih dan kecewa karena keinginannya tak terpenuhi.
Lira berjalan gontai menuju rumah. Lagi-lagi ia harus menelan rasa kecewa karena tak dapat memenuhi keinginan janinnya. Ia merasa bersalah, seharusnya ia bisa memenuhi kebutuhan nutrisi janinnya. Namun, karena keadaan, Lira hanya bisa memendamnya.
__ADS_1
Dari kejauhan, Reza melihat Lira sedang berjalan sendiri, sama seperti malam sebelumnya. Ia melihat Lira berjalan pelan menyusuri jalan sambil sesekali menyeka air matanya.
Reza merasa tak tega menyaksikan pemandangan itu. Meski Lira menangis bukan karena ulahnya, namun tetap saja Reza merasa kasihan. Sekali lagi karena egonya yang terlalu tinggi, akhirnya Reza hanya bisa menyaksikan tanpa mau ikut campur.
🌸🌸🌸🌸
Lira membuka pintu kamarnya dengan wajah yang masih diliputi perasaan kecewa. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa memenuhi kebutuhan janinnya.
Di saat seperti ini, ia jadi semakin merindukan ibunya. Rasanya, ia ingin sekali pulang ke kampung untuk menyalurkan semua perasaanya di pangkuan ibunya. Mencurahkan semua penderitaannya yang selama ini dipendamnya seorang diri. Namun, itu tak mungkin. Itu sama saja secara tak langsung, ia ingin membuat ibunya kembali sakit. Tentu Lira tak ingin hal itu terjadi. Ia hanya memiliki ibu, jadi sebisa mungkin ia akan menjaga perasaan ibunya agar tak sakit lagi. Biarlah ia yang menderita tanpa harus menyerat ibunya masuk ke dalam lubang penderitaannya.
Besok pagi Lira berencana untuk mencari pekerjaan baru sambil menunggu Yati kembali ke Jakarta. Ia tak mungkin terus-terusan hanya duduk diam tanpa penghasilan. Bagaimana pun juga, ia masih punya banyak kebutuhan yang harus ia tanggung sendiri.
Lira mulai memejamkan matanya yang sudah terasa berat. Ia berharap, semoga esok akan ada keajaiban untuk dirinya juga janin di kandungannya.
🌸🌸🌸🌸
Bersambung......
jangan lupa dukungannya ya....
LIKE, KOMEN, VOTE
terima kasih😊
__ADS_1