Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 99 (REVISI)


__ADS_3

Maaf baru bisa up. Beberap hari ini, author punya kesibukan di dunia nyata yang sangat menguras tenaga.


Author juga mau mengucapkan maaf karena tidak bisa mengikuti permintaan kalian yang meminta agar Lira hamil anak kembar dan pada akhirnya membuat author sedikit pusing dan beberapa kali terpaksa harus merubah alur cerita agar pembaca tetap bisa menikmati kisahnya. Author mau tegaskan bahwa di kisah nyatanya, memang tidak ada anak kembar. Jadi tolong hargai alur yang sudah author buat dengan susah payah.


terima kasih juga untuk kalian yang selalu menantikan kelanjutan cerita ini dan selalu memberi dukungan serta komentar positif.😘❤️


Selamat membaca........🌹🌹🌹🌹


🌸🌸🌸🌸


Reza dan Lira langsung menuju rumah sakit milik mereka. Inas pun terpaksa ikut bersama mereka karena balita menggemaskan itu terus saja menangis tak ingin lepas dari pelukan ibunya.


Mobil mewah Reza telah memasuki halaman rumah sakit. Reza keluar lebih dulu, membukakan pintu untuk Lira dan menggendong Inas. Mereka masuk ke dalam rumah sakit sambil bergandengan tangan dengan mesra. Tentu itu adalah kemauan Reza yang secara tak langsung ingin memberitahukan kepada semua orang, bahwa Lira adalah istrinya.


Saat memasuki rumah sakit, semua mata tertuju pada mereka. Selain dokter dan suster yang pernah merawat Lira, tak ada orang lain lagi yang tahu tentang hubungan mereka karena hingga saat ini, Reza belum mengumumkan pernikahannya ke publik.


Reza tak menghiraukan tatapan penuh tanya dari orang-orang yang mengenalnya sebagai pewaris tunggal dari MM Group. Sementara Lira hanya jalan sambil tertunduk malu karena sebagian dari orang itu menatapnya dengan tatapan tak suka.


Merasa paham dengan perubahan wajah istrinya, Reza mengusap lembut tangan mungil yang berada digenggamannya itu. Seolah ingin memberikan kekuatan padanya.


Tiba di depan ruangan dokter spesialis kandungan terbaik yang ada di rumah sakit miliknya, Reza langsung mengajak Lira masuk tanpa harus menunggu panggilan atau mengantri lebih dulu seperti orang-orang yang ada di belakangnya.


"Selamat pagi, Tuan Reza dan Nyo-nya Li-raa." Sapa seorang dokter wanita cantik itu terbata dengan mata melebar sempurna saat melihat wajah Lira.


"Lira? Benar kamu Lira?" Tanyanya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dokter itu langsung memeluk erat tubuh mungil Lira. Ia sangat merasa bahagia bisa melihat Lira kembali. Lira membalas pelukannya sambil tersenyum. Saking bahagianya, tanpa terasa air mata mereka menetes. Reza memandang mereka dengan heran.


"Ya Allah, akhir kita ketemu lagi. Kamu apa kabar?" Tanya dokter itu dengan raut wajah bahagia yang terlihat jelas.


"Alhamdulillah, baik dok." Jawab Lira tak kalah bahagia.


Tak tahan melihat drama pertemuan yang membahagiakan di depan matanya, Reza pun akhirnya bersuara.


"Kalian, saling kenal?"


"Iya dong. Lira pernah jadi salah satu pasien aku di tempat praktik." Jawab Ambar santai.


Ya, dokter cantik itu adalah Ambar. Ia adalah salah satu dokter terbaik di rumah sakit milik keluarga Reza dan ia juga yang pernah menjadi dokter kandungan untuk Lira ketika hamil Inas. Selain itu juga, Ambar merupakan saudara sepupu Reza dari pihak ibunya. Umur Ambar satu tahun di atas Reza.


Meski mereka saudara sepupu, tapi Ambar dan Reza sangat jarang bertemu. Mereka hanya bisa bertemu di rumah sakit, itu pun juga karena urusan pekerjaan yang mengharuskan mereka bertemu. Setiap ada perkumpulan keluarga, Reza sangat jarang ikut. Reza lebih suka menghabiskan waktunya bersama sahabatnya Doni, daripada harus berkumpul bersama keluarganya yang hanya bisa saling memamerkan bisnis dan kekayaan mereka masing-masing. Tapi Ambar tak termasuk dalam golongan sepupunya yang suka pamer harta.


"Sayang, kok gak bilang kalo kenal sama Ambar."


"Ya, kan Lira gak tahu kalo mas juga kenal sama dokter Ambar."

__ADS_1


Mulut Ambar menganga cukup lebar. Ia sungguh terkejut dengan apa yang barusan didengarnya. Ada hubungan apa antara Reza dan Lira? Bukankah suami Lira seorang TKI? batin Ambar.


"Tunggu-tunggu. Ini maksudnya apa? Kalian ada hubungan apa, sih? Terus ini anak siapa?" Tanya Ambar beruntun.


Reza mulai menceritakan pernikahannya karena perjodohan pada Ambar. Tapi Reza tak menceritakan bagaimana awal pernikahan mereka yang penuh luka dan air mata dari Lira.


"Jadi kamu suami Lira dan ini anak kalian? Ini anak yang dulu kamu kandung, Ra?" Tanya Ambar lagi dengan wajah tak percaya. Balita lucu yang berada dalam gendong Reza adalah bayi yang dulu Lira kandung.


Lira mengangguk sambil tersenyum. "Iya, dok."


"Udah deh, Mbar. Nanti lagi ceritanya. Sekarang tolong periksa istri gue." Titah Reza pada sepupunya itu.


"Iya, iya. Tapi habis ini, lo utang penjelasan ke gue." Balas Ambar dengan tatapan sinis.


"Iya, bawel. Cepetan."


Ambar mulai bertanya pada Lira tentang keluhannya. Setelah itu, ia meminta Lira baring di ranjang untuk memeriksakan kandungannya. Seorang perawat yang baru saja masuk ke dalam ruangan langsung diminta untuk membantu menyingkap baju Lira hingga ke atas perut. Setelah itu diberi kain untuk menutupi bagian tubuh Lira yang terbuka.


Sang perawat mulai mengoleskan gel ke perut Lira, lalu Ambar mulai menempelkan alat yang terhubung ke layar yang berbentuk persegi empat.


"Kalian bisa lihat ya, di sini ada janin yang baru berumur dua minggu dan ukurannya masih sebesar biji kacang hijau." Jelas Ambar sambil terus memutar alatnya di atas pergi Lira yang sudah diberi gel.


Reza langsung tersenyum bahagia. Tanpa terasa, butiran bening ikut mengalir dari sudut matanya. Ia tak menyangka, saat ini di rahim istrinya sedang tumbuh hasil dari benihnya. Tak hanya Reza saja, Lira pun merasakan hal yang sama. Lira merasa terharu dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan kembali nikmatnya menjadi ibu hamil.


Reza terus mengecup lembut punggung tangan Lira sebagai bentuk rasa cinta dan terima kasihnya karena Lira masih bersedia mengandung anaknya.


"Mulai sekarang, tolong dijaga kandungannya kamu ya, Ra. Jangan sampai kekurangan nutrisi seperti dulu." Jelas Ambar lembut.


"Insya Allah, dok."


Perawat mulai membersihkan sisa gel di perut Lira. Setelah itu, dengan sigap Reza membantu Lira bangun dari tempat tidur. Senyum bahagia tak luntur dari wajah tampannya. Meski sebelumnya wajahnya sempat berubah sendu karena mendengar penjelasan Ambar tentang Lira yang pernah kekurangan nutrisi saat sedang mengandung Inas. Reza berjanji akan menjaga kandungan Lira dengan baik dengan memenuhi semua nutrisinya.


"Dok, saya kok gak merasa mual atau pusing seperti kehamilan yang pertama ya?" Tanya Lira saat ia duduk di kursi sebelah Reza yang berhadapan dengan Ambar.


"Setiap kehamilan itu berbeda-beda, Ra. Gak semua wanita hamil akan merasakan pusing, mual atau muntah. Memang biasanya di awal kehamilan, sebagian wanita akan mengalami yang namanya Morning sickness alias mual. Ini adalah kondisi yang sangat umum terjadi pada ibu hamil. Umumnya, kondisi ini dimulai di minggu ke-6 kehamilan dan berakhir di minggu ke-12 kehamilan. Namun, dalam banyak kasus seorang wanita mengalami rasa mual ini sepanjang kehamilannya. Tapi diingat lagi, tak semua wanita mengalaminya.


Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab munculnya morning sickness alias rasa mual saat hamil yaitu pertama, kadar hormon estrogen di dalam tubuh yang meningkat hingga 100 kali lebih tinggi saat hamil hingga dipercaya berkontribusi pada rasa mual. Kedua kadar hormon progesteron yang tinggi kadar progesteron nya membantu mengencangkan otot-otot rahim untuk mencegah kelahiran prematur. Selain itu, progesteron juga mendorong pertumbuhan kelenjar penghasil susu di payudara selama kehamilan. Tingginya kadar progesteron ini diduga memicu berbagai gejala sindrom pramenstruasi, seperti mual, nyeri payudara, kembung, dan perubahan mood. Ketiga, Hipoglikemia atau gula darah rendah juga diduga bisa menjadi penyebab mual saat hamil. Hipoglikemia terjadi ketika tidak ada cukup glukosa atau gula dalam darah.


Akibatnya, akan muncul berbagai gejala seperti mual, berkeringat, pusing, wajah pucat, dan denyut jantung semakin cepat. Hipoglikemia kerap terjadi pada ibu hamil karena plasenta menguras energi dari tubuh ibu karena makanan yang masuk juga dibagi dua dengan janin. Nah, hal ini juga diduga menjadi penyebab mual saat hamil. Dan masih banyak lagi faktor-faktor lainnya, Ra. Sisanya, biar suami kamu yang menjelaskan. Dia juga kan seorang dokter, Ra." Jelas Ambar sambil tersenyum mengejek ke arah Reza.


Reza hanya memutar bola matanya jengah. Ia tahu jika Ambar sedang mengejeknya karena ia sudah tak lagi berprofesi sebagai dokter.


Setelah mendengar penjelasan dari Ambar, mereka berpamitan pulang karena Reza harus ke kantor. Sebelum mereka keluar, Ambar lebih dulu memberitahukan jika hari Minggu nanti ia dan suaminya akan berkunjung ke rumah Reza. Lebih tepatnya, Ambar ingin mendengar langsung penjelasan Reza lebih dalam lagi tentang awal pernikahannya bersama Lira yang menurut Ambar, penuh misteri.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Reza tiba di kantornya bersama Lira dan Inas. Saat di tengah perjalanan pulang ke rumah, Lira merengek ingin ikut Reza ke kantor. Lira tak ingin pisah jauh dari Reza meski hanya beberapa jam saja. Awalnya Reza tak mengizinkan dengan alasan Lira harus banyak istirahat, tapi karena melihat mata Lira yang sudah berkaca-kaca, terpaksa Reza mengikuti keinginan Lira. Dan di sini lah mereka, di depan gedung tinggi milik Martin yang sudah diserahkan kepada Reza sebagai pemimpinnya.


Reza kembali menggendong Inas dan menggandeng tangan Lira. Adegan ini tak pernah bosan Reza lakukan ketika sedang berada di luar bersama keluarga kecilnya.


Berita datangnya Reza ke kantor bersama seorang wanita sederhana, berhijab lebar yang jauh dari kata glamor serta balita perempuan lucu dan menggemaskan dalam gendongannya langsung tersebar luas ke seluruh karyawan.


Banyak yang bertanya-tanya, ada hubungan apa di antara keduanya? Setahu mereka, sang CEO belum menikah apalagi memiliki anak. Mereka juga tahu seperti apa wanita yang menjadi tipe idaman Reza karena beberapa kali muncul hasil wawancara Reza di majalah yang menjelaskan tentang tipe wanita idamannya. Yang pastinya, semua jauh dari apa yang ada pada diri seorang Lira.


Reza membawa anak dan istrinya ke dalam ruangannya yang cukup luas. Reza meletakan Inas di atas karpet bulu lalu memberikan boneka kesayangannya yang selalu dibawa kemana pun mereka pergi. Reza juga menyuruh Lira untuk duduk di sofa empuk dekat Inas duduk. Reza tak membiarkan Lira menggendong Inas meski balita menggemaskan itu terus merengek pada ibunya.


"Sayang, mau makan apa? Biar nanti mas minta OB yang beliin." Tanya Reza lembut sambil terus mengusap perut Lira yang masih rata.


"Lira gak pengen makan, mas. Lira cuma pengen tiduran aja." Jawabnya manja, menyandarkan kepalanya ke dada bidang Reza sambil menghirup aroma tubuh Reza yang begitu menenangkan.


Reza tersenyum lebar. Ia mengelus kepala Lira sambil sesekali mengecup kepalanya dengan penuh kasih sayang. Sementara Inas masih sibuk bermain bersama boneka kesayangannya tanpa menghiraukan kedua orang tuanya yang sedang bermesraan.


"Kalo sayang ngantuk, tiduran di kamar mas aja yang ada di sebelah sana." Tunjuknya pada sebuah ruangan yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk. Ruangan itu merupakan kamar pribadi yang Reza jadikan sebagai tempat istirahat ketika lelah dan juga sebagai tempat sholat.


"Kalo Lira tidur, terus dedek gimana?" Tanya Lira tanpa melepas pelukannya.


"Kakak, sayang bukan dedek. Kan bentar lagi Inas bakal punya adik."


"Iya, kakak.Terus gimana, mas?"


"Biar nanti kakak, mas yang jaga. Sayang tiduran aja." Reza kembali mengecup kepala Lira.


"Tapi Lira mau tidur sambil peluk mas kayak gini."


"Iya, sayang."


Tanpa menunggu aba-aba, Reza langsung menggendong Lira menuju ruangan pribadinya. Dengan hati-hati Reza meletakan tubuh mungil Lira di atas tempat tidur empuk miliknya. Reza juga membantu Lira membuka jilbabnya dan meletakkannya di atas sofa. Setelah itu, Reza membuka pintu lebar-lebar agar ia bisa tetap mengawasi Inas yang sedang bermain sendiri.


Reza membuka jasnya, meletakannya di sofa bersama jilbab Lira, kemudian ia menyusul Lira yang sudah setengah tertidur. Reza memeluk Lira sambil mengusap kepalanya dengan lembut. Namun, mata Reza tak lepas dari Inas yang sedang asik bersama bonekanya.


Tak lama terdengar dengkuran halus dari bibir Lira. Reza tersenyum, dengan pelan ia melepaskan pelukannya lalu memberi kecupan hangat di kening dan perut rata istrinya. Reza terus mengusap perut Lira dengan penuh kasih sayang.


Setelah itu, Reza keluar dari ruangan tanpa menutup pintu. Reza berjalan menuju kursi kebesarannya untuk mengerjakan pekerjaannya. Beruntung hari ini Reza hanya menandatangani beberapa berkas saja, jadi ia bisa pulang lebih cepat.


🌸🌸🌸🌸🌸


Bersambung........😊


Pada bab ini sudah saya revisi karena ada kesalahan dalam penulisan nama dokternya. Terima kasih banyak pada pembaca yang sudah teliti dan langsung merespon ke kolom komentar. Jadi saya bisa tahu di mana letak kekeliruan saya.


tetap dukung terus karya saya dan jangan lupa tinggalkan jejak like, komen positif (bukan umpatan nama hewan atau yg lainnya) terus vote sikhlasnya ya...

__ADS_1


terima kasih....


__ADS_2