Kepingan Hati Seorang Istri

Kepingan Hati Seorang Istri
BAB 100


__ADS_3

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu.


Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah yang telah meminjamkan bakat menulis keada saya. Tanpa terasa, novel KEPINGAN HATI SEORANG ISTRI telah sampai pada episode 100. Saya ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada para pembaca setia KHSI yang tiada henti memberi dukungan serta komentar-komentar yang positif kepada karya saya. Tanpa kalian, karya ini bukanlah apa-apa. Di awal saya membuat novel ini, saya sempat pesimis dan ragu, takut karya saya tidak bisa menyentuh hati para pembaca. Mulai dari tokoh dan penokohan, cerita, serta alurnya yang tidak sesuai. Tapi Alhamdulillah, berkat usaha kerja keras, doa serta dukungan dari kalian semua sekarang novel ini sudah masuk dalam karya kontrak NOVELTOON.


Tetap dukung karya saya dengan memberikan komentar-komentar yang positif dan tidak menyakiti hati. Semoga apa yang kalian berikan kepada saya, akan dibalas setimpal oleh Allah. Bagi pembaca yang sempat meninggalkan jejak komentar pedas, saya juga tetap mengucapkan terima kasih. Berkat kritikan kalian, saya bisa terus belajar untuk menghasilkan karya yang terbaik.


Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Tetap jaga kesehatan ya.


Salam sayang dari author kaleng-kaleng๐Ÿ˜โค๏ธ


Lanjut.......


Selamat membaca.....๐Ÿ˜Š


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Reza terus fokus pada tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Meski begitu, matanya tak pernah lepas dari putri kecilnya. Hingga 2 jam kemudian, Reza masih tetap pada tugasnya. Memeriksa laporan dan menandatangani berkas-berkas penting yang nantinya akan dikembalikan pada sekretarisnya.


Saking terlalu fokus pada pekerjaanya tanpa Reza sadari, Inas telah berjalan ke arah pintu keluar yang terbuka. Sambil memegang boneka kelinci kesayangannya, Inas terus melangkah tertatih-tatih keluar dari ruangan ayahnya.


Sekretaris Reza yang berada di luar pun tak sadar jika balita menggemaskan itu telah melangkah jauh. Inas tiba di ujung lorong yang terhubung dengan pintu lift. Dengan santai dan tenang, Inas duduk bermain di depan pintu lift itu.


Tepat pukul 11 siang, Reza beristirahat sejenak, merenggangkan otot-ototnya yang tegang karena terlalu lama menunduk sambil membaca tumpukan berkas di atas mejanya. Reza mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruangan di mana istrinya masih tertidur pulas. Sudah dua jam berlalu, tapi Lira masih belum juga bangun dari tidurnya.


Kemudian Reza mengalihkan pandangannya ke arah karpet bulu, tempat Inas duduk. Menyadari jika putrinya sudah tak ada di ruangannya, Reza langsung bangkit dari singgasananya. Menyusuri setiap sudut ruangannya mencari keberadaan putrinya. Reza mulai gelisah karena tak mendapati Inas di dalam ruangannya.


Reza keluar dari ruangannya menemui sekretarisnya. Wajah Reza terlihat sangat khawatir.


"Ferdi, kamu liat anak saya gak?" Tanya Reza gusar.


Ferdi yang sejak tadi disibukan dengan tugasnya membaca beberapa berkas penting sebelum nantinya diserahkan kepada Reza, jelas tak menyadari jika beberapa waktu yang lalu Inas lewat di depannya. Selain karena sibuk, tinggi meja juga menghalangi tubuh mungil Inas dari pandangan Ferdi.


"Tidak, pak." Jawab Ferdi cepat sebelum kena amukan Reza.


"Cepat bantu cari anak saya." Titah Reza tegas lalu melangkah dengan cepat meninggalkan Ferdi yang masih berdiri di mejanya.


Ferdi mengangguk paham. Ia segera mengumumkan hilangnya Inas pada seluruh karyawan melalui via chat group di W**hatsApp. Kemudian Ferdi berlari ikut menyusul Reza.


Reza berjalan cepat menyusuri lorong menuju lift yang berada cukup jauh dari ruangannya. Reza tak dapat menutupi kekhawatirannya. Ia takut jika putrinya diculik oleh saingan bisnisnya yang memang selalu mengincar keluarganya.


Pikiran Reza sangat kalut. Saat sedang melangkah menuju lift, samar-samar ia mendengar suara anak menangis. Reza mencari sumber suara itu hingga akhirnya ia melihat bocah kecil yang mirip putrinya sedang menangis tepat di depan pintu lift sambil memeluk erat bonekanya. Inas menangis karena tak mendapati kedua orang tuanya di dekatnya. Reza berlari dengan kencang menghampiri putrinya. Dengan gerakan cepat Reza menggendong putrinya. Nafasnya naik turun di sertai detak jantungnya yang berpacu begitu kencang.


"Alhamdulillah, Ya Allah." Reza mengucap syukur saat menemukan putrinya baik-baik saja. Reza menggendong tubuh mungil Inas lalu menenangkannya. "Cup...cup...Kakak jangan nangis lagi ya, sayang."


Reza menghapus air mata yang mengalir deras di pipi Inas lalu ia mengecup seluruh wajah mungil yang sudah memerah karena terlalu lama menangis. Guratan kekhawatiran akan takut kehilangan, terlihat jelas di wajah Reza. Ia mengucap syukur karena putrinya masih dilindungi oleh Allah dari orang-orang yang berniat jahat padanya. Beruntung juga saat itu tak ada orang yang masuk ke dalam lift.


"Huwwaaaaaa...huuuwaaaa...huuuwaaaa." Tangis Inas semakin kencang diperlukan ayahnya. Tangan mungilnya memeluk erat leher ayahnya seolah sedang ketakutan.


"Ssttttt, sayangnya papa jangan nangis."


Reza terus membujuk agar Inas mau diam dari tangisnya. Saat Inas mulai tenang, Reza membawanya kembali Inas ke dalam ruangannya. Sementara Ferdi yang sejak tadi berdiri di belakang Reza, ikut merasa lega melihat putri bosnya baik-baik saja.


"Fer, tolong kamu belikan makan siang untuk saya dan anak istri saya, dan untuk kamu juga. Jangan lupa beli susu hamil dan buah segar. Oh iya, beli juga cemilan sehat untuk anak saya. Cepat, saya tunggu." Titahnya lalu mengeluarkan sepuluh lembar uang merah dari dompetnya untuk diberikan pada Ferdi.


"Baik, pak." Jawab Ferdi sigap. Tanpa bertanya menu apa yang mau dibeli, ia segera menuju lantai bawah untuk membelikan pesanan bosnya. Ferdi sudah cukup lama bekerja dengan Reza, jadi ia cukup tahu apa saja makanan yang disukai dan tidak disukai Reza. Sebelumnya, Ferdi bekerja pada Martin sebagai sekretaris pribadinya, tapi sejak Martin menyerahkan jabatannya pada Reza, maka sejak saat pula Ferdi berpindah sebagai sekretaris Reza.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Reza memasuki ruangannya sambil menggendong putri kecilnya yang masih sesegukan. Kemudian Reza duduk di sofa tanpa melepaskan pelukan putrinya.


Tak lama Lira keluar dari kamar dengan wajah yang sudah terlihat segar. Lira duduk di sebelah Reza dengan wajah bingung karena melihat Inas sesegukan.


"Mas, kakak kenapa nangis?"

__ADS_1


"Gak papa, sayang. Tadi kakak bosen main sendiri terus dia minta keluar. Karena mas gak bolehin, kakak jadi nangis deh."


Reza sengaja berbohong karena tak ingin istrinya merasa khawatir. Apalagi saat ini istrinya sedang hamil muda dan emosinya masih labil. Jadi Reza menghindarinya dengan cara berbohong.


"Uuuhhh, sini sayang sama bunda. Kakak mau jalan-jalan, ya?" Tanya Lira pada Inas yang masih memeluk erat ayahnya.


"Gak usah sayang, biar mas aja yang gendong. Sayang harus ingat, ada baby di sini. Jadi sayang gak boleh gendong kakak dulu." Ucap Reza sambil mengelus perut Lira dengan lembut.


"Tapi kakak masih sesegukan gitu, mas."


"Sayang, nurut ya sama mas."


Lira hanya mengangguk patuh. Padahal ia hanya ingin sekali menenangkan putrinya. Apalagi saat melihat wajah putrinya yang memerah, rasanya Lira tidak tega.


"Oh iya sayang, tadi mas udah minta Ferdi beliin makan siang. Jadi sebentar sayang makan, ya."


"Lira lagi gak napsu makan, mas." Rengek Lira manja sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Reza.


"Gak boleh gitu, sayang. Kalo sayang gak makan, nanti kasian baby lho."


"Iya deh." Balasnya pasrah.


Mereka menunggu Ferdi cukup lama hingga terdengar suara adzan dhuhur berkumandang. Mereka memilih melaksanakan sholat lebih dahulu. Usai berwudhu, Reza memimpin sholat. Untung Lira mengenakan pakaian syar'i, jilbab lebar hingga menutupi dada serta kaos kaki. Jadi ketika ingin sholat, ia tak perlu lagi repot mencari mukena.


Sebelum sholat berjamaah, Reza lebih dahulu menutup dan mengunci pintu agar Inas tak keluar ruangan dan kejadian tadi tak terulang lagi.


Usai melaksanakan sholat dhuhur berjamaah, mereka tak lupa dengan ritual yang sering dilakukan. Lira menyium punggung tangan Reza dan Reza mengecup kening Lira dengan sangat dalam. Reza juga mengusap perut Lira dengan lembut.


"Sehat-sehat di perut bunda ya, dek. Papa gak sabar ketemu sama dedek." Ucap Reza sambil menyium perut rata Lira.


"Terima kasih ya, sayang. Udah bersedia jadi ibu dari anak-anak, mas. Udah jadi wanita yang sabaaaarr banget menghadapi, mas."


Reza kembali menghujani wajah Lira dengan kecupan. Lira hanya tersenyum mendengar ungkapan hati Reza yang begitu dalam. Padahal Reza sudah sering mengucapkan itu, tapi Lira tak pernah bosan untuk mendengarnya.


"Huuuuwwaaaa......huuwaaaaaaaa. Dadadada." Ucapnya di sela-sela tangisnya sambil berjalan menuju ke arah orang tuanya yang masih duduk bersila di atas sajadah lalu ia merentangkan tangannya ke arah ibunya.


Reza dengan sigap langsung mengangkat tubuh mungil Inas dan mendudukkan Inas ke pangkuannya.


"Kakak gak boleh digendong sama bunda dulu ya. Di perut bunda lagi ada dedek, sayang."


"Ya ampun, mas. Si kakak mana ngerti."


Lira terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Reza pada Inas yang jelas-jelas belum paham dengan bahasa seperti itu.


"Ya kan, mas hanya jelasin aja sayang. Kita harus biasain dari sekarang kalo dia bentar lagi bakal jadi seorang kakak." Timpal Reza tak mau kalah.


"Terserah mas aja, deh."


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


tok.....tok....tok ...


"Silakan masuk." Ucap Reza.


Ferdi masuk ke ruangan Reza sambil menenteng banyak kantung plastik yang berisi makanan dan buah segar, serta susu hamil untuk Lira.


"Ini makanan pesanan anda dan ini kembaliannya, pak."


Ferdi meletakan kantung plastik itu di atas meja kaca yang cukup besar lalu menyerahkan beberapa lembar uang kembalian kepada Reza.


"Kembaliannya ambil aja buat kamu."


"Gak usah, pak. Terima kasih. Bapak sudah terakhir saya makan, itu sudah cukup untuk saya." Tolak Ferdi halus.

__ADS_1


"Gak ada penolakan. Anggap aja itu rejeki kamu."


Ferdi tersenyum senang karena sisa uang kembalian Reza masih tersisa banyak. Bagi seorang perantau yang tinggal di kontrakan sepertinya, tentu sangat membutuhkan uang. Uang kembalian itu masih bisa ia gunakan untuk membeli makanan di warteg selama beberapa hari ke depan.


"Terima kasih banyak, pak."


"Hmmmm."


Kemudiam Ferdi pamit undur diri untuk menikmati makan siang di mejanya. Ia meninggalkan Reza yang sedang sibuk menyuapi anaknya nasi lembek yang dilengkap dengan telur rebus, wortel, kacang polong dan brokoli yang direbus khusus balita yang sudah ia bawa dari rumah.


Usai menyuapi Inas, Reza mulai makan sambil menyuapi Lira. Awalnya Lira menolak dengan menutup rapat mulutnya, tapi Reza memaksanya karena sejak pagi Lira hanya makan satu lembat roti tawar yang diberi selai coklat dan minum segelas susu.


"Cukup, mas. Lira udah kenyang." Tolak Lira sambil menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.


"Dikit lagi ya, biar baby juga ikut makan. Sayang baru makan dua suap, lho." Bujuk Reza lembut.


"Gak mau, mas."


"Ya udah, kalo gitu sayang minum susu ya."


"Tadi pagi kan Lira udah minum susu, mas."


"Itu beda sayang. Yang ini susu untuk ibu hamil."


"Dulu waktu Lira hamil si kakak, Lira gak pernah minum susu hamil, tapi kami sehat-sehat aja tuh."


"Sayang lupa, dulu sayang pernah kekurangan nutrisi. Jadi, sayang jangan ngeyel ya." Ucap Reza lembut. Ia berusaha agar tak marah yang pada akhirnya nanti akan menyakiti hati Lira.


"Lira kekurangan nustri itu karena Lira jarang makan, mas."


Reza menghembuskan nafasnya pelan. Ia harus sabar menghadapi perubahan istrinya yang lebih sensitif. Benar apa yang Lira ucapkan. Ia kekurangan nutrisi karena dulu ia tak pernah makan makanan bergizi. Meski tak berniat menyinggung masa lalu, tetap saja Reza merasa sakit mendengarnya. Itulah alasan mengapa di kehamilan Lira yang kedua ini, Reza ingin membalasnya dengan memberikan makanan bergizi pada Lira. Ia tak ingin kejadian setahun yang lalu terulang kembali.


"Maaf."


Cuma satu kata yang terlontar dari mulut Reza, mewakili isi hatinya. Meski kata maaf tak bisa memutar kembali waktu yang telah lewat, setidaknya kata maaf bisa menjadi jembatan untuk memulai segalanya menjadi lebih indah dan mengubur kenangan buruk yang sudah terjadi.


"Mas, maksud Lira bukan gitu." Ucap Lira dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Lira merasa bersalah karena tanpa sengaja, ia telah melukai perasaan suaminya dengan mengingat kembali kenangan buruk mereka dahulu.


"Iya sayang, mas ngertu kok. Sayang jangan nangis, ya."


Reza membawa Lira ke dalam pelukannya. Mengusap lembut kepala Lira, ingin mencurahkan seluruh kasih sayangnya.


"Udah sayang, nanti dedek di perut ikutan sedih." Bujuk Reza lembut.


"Maaasss."


"Apa, sayang?"


"Ih, nyebelin."


Reza terkekeh geli melihat wajah cemberut manja Lira yang terlihat begitu menggemaskan menurutnya.


"Udah ya, sekarang sayang minum susunya. Biar dedek di perut jadi sehat."


"Iya, mas. Terma kasih ya."


"Sama-sama, sayang."


Hal sederhana seperti sudah cukup membuat Reza merasa bahagia. Bercanda bersama keluarga kecilnya mampu menghilangkan tekanan batin yang selama ini membelenggu dirinya. Penyesalannya akan masa lalunya yang kejam, selalu menghantui Reza dan membuatnya merasa tertekan. Namun, tutur kata Lira selalu mampu menenangkan jiwanya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Bersambung.......๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2