Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
10. Ke perusahaan


__ADS_3

Setelah Sakinah menyelesaikan urusannya dengan kedua mertuanya dan mendapatkan tanda tangan Renaldi untuk proses perceraian mereka berdua. Sakinah langsung menuju ke kantor tempat dia bekerja sebelumnya.


" Kalau Bi Warsih lelah, tinggallah dulu di hotel yang nanti akan aku sewa selama keberadaan kita di Jakarta! Tampaknya kita akan lama di Jakarta Bi. Karena harus mengurus persidangan perceraianku dengan mas Renaldi. Jadi kita akan mencari sebuah hotel ataupun apartemen untuk tempat tinggal kita. Sementara kita berdua berada di Jakarta!" ucap Sakinah kepada Bi warsih.


Bi Warsih tampak memikirkan sesuatu. Kemudian dia pun berkata kepada Sakinah dengan lembut.


" Lebih baik bibi kembali saja ke desa. Non Sakinah bisa menyelesaikan urusan di sini. Nanti kalau sudah selesai, baru kembali lagi ke desa. Kalau sekiranya akan lama di sini. Lebih baik membeli apartemen saja Non. Apartemen yang bisa ditempati ketika Non Sakinah berada di Jakarta. Nanti kita bisa menyewakannya kepada orang yang membutuhkan kalau tidak di tempat lagi oleh Non Sakinah. Bisa digunakan untuk tempat tinggal dan juga investasi masa depan!" ucap Bi Warsih memberikan saran kepada Sakinah.


Sakinah tampak mengerutkan keningnya. Sakinah berpikir keras mengenai pendapat dan juga ide dari Bi Warsih yang selama ini dia kenal memiliki pemikiran yang tajam dan juga bijaksana.


Terbukti dari perusahaan neneknya yang sekarang berkembang pesat di bawah kepemimpinan Bi Warsih.


" Baiklah bi kalau begitu. Sekarang kita lebih baik mencari apartemen dulu saja. Agar Bibi bisa beristirahat di sana!" ucap Sakinah menyetujui ide Bi Warsih.


" Bibi pulang saja hari ini ke desa non!" ucapnya.


Akan tetapi Sakinah tidak mau dan bersikeras agar Bi Warsih malam ini tetap tinggal bersamaannya di apartemen yang baru. Besok pagi, dia akan mengantarkan Bi Warsih kembali ke desa.


" Baiklah kalau seperti itu pemikiran Non Sakinah. Bibi manut Non!" ucap Bi warsih yang akhirnya mengikuti Sakinah mencari apartemen yang tidak terlalu mewah tetapi juga tidak terlalu sederhana.


Sakinah memilih sebuah apartemen yang berkelas premium yang berada di pusat kota yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor tempat dia bekerja saat ini.

__ADS_1


" Kalau misalkan Non Sakinah merasa nyaman dengan tempat bekerja saat ini, tidak apa-apa Non. Non Sakinah bisa melanjutkan pekerjaan itu. Nanti Bibi bisa tetap membantu non Sakinah untuk mengurus perusahaan di desa." Sakinah tersenyum menatap di warsih yang selalu menyayanginya seperti cucunya sendiri.


Setelah sampai di apartemen yang sudah dia beli, Sakinah kemudian meminta Bi Warsih untuk beristirahat di sana dan dia akan pergi ke kantor tempat dia bekerja sebelum ini, untuk mengundurkan diri.


" Ya sudah hati-hati lah Non. Ingat jangan pulang terlalu malam ya? Kalau ada apa-apa, tolong telepon Bibi ya?" pesan Bi Warsih kepada Sakinah.


Sakinah kemudian melajukan kendaraannya menuju ke kantor. Begitu sampai Sakinah langsung menemui direktur personalia dan memberikan surat pengunduran dirinya kepada beliau.


" Ya ampun Sakinah! Kau ke mana saja toh? Semua divisimu kebingungan mencari kamu. Kenapa kau datang-datang malah meminta mengundurkan diri sih? Apa kau tidak tahu? Setiap hari bos besar kita selalu mengamuk untuk mencari keberadaan mu?" tanya Pak Edwin direktur personalia di perusahaan itu.


Sakinah hanya tersenyum mendengar ucapan Pak Edwin yang membicarakan tentang Stanley yang sudah beberapa kali menyatakan cinta kepada Sakinah.


" Saya sekarang sedang mengurus proses perceraian saya dengan suami saya Pak. Oleh karena itu saya ingin fokus ke sana dulu. Karena saya mau segera menyelesaikan masalah saya dengan suami saya!" ucap Sakinah menjelaskan alasannya yang memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan.


Sakinah pun kemudian memberikan nomor teleponnya yang baru yang tentu saja tidak diketahui oleh Renaldi. Karena dia tidak mau hidupnya diteror terus oleh mantan suaminya.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan pak Edwin Sakinah kemudian sebentar saja pergi mengunjungi divisi nya dulu bekerja di kantor itu untuk sekedar mengucapkan selamat tinggal dan memohon maaf kepada teman-teman dia. Apabila selama dia bekerja memiliki kesalahan terhadap rekan-rekan kerjanya di sana.


Setelah selesai berpamitan dengan rekan-rekan kerjanya. Sakinah pun langsung kembali ke apartemen dan menemui Bi Warsih yang sedang tertidur karena kelelahan.


Sakinah langsung mandi, kemudian pergi ke luar untuk mencari makan malam untuk dirinya dan juga Bi Warsih yang sedang tidur yang pastinya sudah kelaparan karena sejak tadi siang belum makan apapun.

__ADS_1


Setelah mendapatkan makan malam. Sakinah langsung kembali ke apartemennya. Tanpa Saakinah sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan semua gerak-geriknya dari kejauhan.


" Robert! Bukankah itu adalah Sakinah? Sedang apa dia di gedung milik kita?" tanya Stanley mengerutkan keningnya. Dia sangat penasaran dengan wanita yang pernah membuat dia hampir gila karena mencarinya kemana-mana.


Robert pun kemudian pergi ke bagian pengelolaan gedung apartemen yang sekarang ditempati oleh Sakinah.


Setelah mendapatkan informasi dari sang manajer kepercayaan Stanley. Robert pun langsung menghadap Stanley yang masih menunggunya di unit apartemen miliknya yang ada di lantai paling atas di gedung itu.


Robert kemudian menjelaskan semuanya kepada Stanley. Bahwa sekarang Sakinah memiliki unit di gedung itu dan unit Sakinah berada tepat di bawah unit milik Stanley.


Stanley sangat terkejut mendapatkan kenyataan itu bahwa ternyata wanita yang dia cintai tepat berada di hadapannya sendiri.


" Baguslah jadi aku akan semakin mudah untuk mendekatinya! Oh ya Robert, cepat kau katakanlah kepada pengelola gedung untuk memberikan diskon 50% untuk Sakinah untuk mendapatkan apartemen itu!" perintah Stanley kepada Robert yang auto melotot dengan kegilaan bosnya tersebut.


Akan tetapi apalah posisi seorang Robert yang hanya seorang asisten saja. Dia tidak berani untuk protes kepada Stanley yang sedang dimabuk cinta.


" Apakah ada pesan yang lain tuan?" tanya Robert untuk mengkonfirmasi kepada Stanley yang saat ini sedang senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.


Stanley tampak diam dan tampak berfikir dengan keras, kira-kira apa yang dibutuhkan untuk membuat Sakinahnya bisa betah di apartemen itu.


" Katakan juga kalau apartemennya akan mendapatkan layanan gratis setiap hari dari housekeeping yang nanti tagihannya akan aku bayar dengan uangku pribadi!" ucap Stanley dengan senyumnya yang begitu menawan.

__ADS_1


Robert hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat semua kegilaan sang bos besar yang baru saja jatuh cinta terhadap seorang wanita.


Selama ini Stanley memang banyak mendapatkan layanan dari wanita yang dengan rela melemparkan diri mereka ke pelukan Stanley, akan tetapi, kalau perihal benar-benar jatuh cinta kepada seorang wanita. Baru kali ini Robert melihatnya dengan mata kepalanya sendiri dan itu sukses memberikan pening ke kepalanya.


__ADS_2