
Aldo tampaknya tidak mau menyerah untuk mendapatkan Angel sebagai kekasihnya ataupun calon istrinya.
" Ayolah Tante! Pertemukan aku dengan Angel. Aku mohon! Dia pasti akan menyukai aku setelah kami bertemu!" ucap Aldo terus berusaha untuk membujuk Mirah agar mau mempertemukan dirinya bersama dengan Agnes yang tetap bersikeras tidak ingin memiliki hubungan dengan siapapun.
" Aiya! Aldo!! Kalau kau ingin tahu, Tante lah orang yang paling ingin sekali melihat Agnes menikah lagi dan memiliki suami. Tetapi dia? Seperti yang kau lihat! Agnes sama sekali tidak tertarik untuk memiliki hubungan dengan siapapun. Dia hanya ingin fokus dengan kehamilannya. Dia saat ini tidak tertarik dengan apapun selain itu!" ucap Mirah yang benar-benar sangat frustasi dengan keinginan Aldo yang ingin berhubungan dekat dengan Agnes.
" Ah! Tante gak asik!" ucap Aldo merasa kecewa kepada Mirah yang tidak bisa mengabulkan keinginannya.
Aldo pun kemudian pulang dengan menggunakan mobil mulusnya. Aldo adalah anak kepala desa di tempat itu. Bisa di katakan Aldo pemuda yang cukup terkenal di desa itu dan dia memiliki basis pendukung yang besar di tempat kediamannya.
" Awas saja! Nanti malam aku pasti akan menemui Agnes aku tidak peduli Walaupun dia akan menolakku yang jelas aku harus menjadikan dia sebagai kekasihku!" ucap Aldo dengan tekad baja yang dia miliki di dalam hatinya.
Aldo selama ini terkenal sebagai seorang pemuda yang suka berbuat sekehendak hati dengan mengatasnamakan ayahnya sebagai kepala desa untuk berbuat sewenang-wenang terhadap warga sekitar.
Sementara itu Agnes yang masih sibuk bekerja di tempatnya. Agnes sedang meniti perusahaan baru mililnya sendiri. Agnes merasa terganggu dengan panggilan ibunya yang sejak tadi terus saja berdering dan tidak mau berhenti sama sekali.
Agnes menghela nafasnya dengan berat. Kemudian dia pun mengangkat panggilan telpon tersebut dengan kesal, " Mama ada apa sih dari tadi ganggu terus Aku yang lagi bekerja. Apa tidak bisa dibicarakan ketika aku sudah pulang mah?" tanya Agnes merasa kesal luar biasa dengan kelakuan ibunya.
" Mama khawatir denganmu. Apa kau sudah makan siang? Kau ingatlah! Saat ini ada anak di dalam perutku. Kau tidak boleh sembarangan mengosongkan perut dan tidak mau makan!" ucap Mirah mengingatkan kepada Agnes untuk segera makan dan tidak menunda-nunda mengkonsumai makanannya yang selalu di bekal oleh ibunya dari rumah.
" Ya ampun mah! Mama sejak tadi terus saja menggangguku, cuma ingin mengingatkan makan? Aku ini sudah dewasa mah! Aku bisa mengatur diriku sendiri! Udah Mah! Agnes tutup dulu teleponnya. Agnes sedang sibuk sekali saat ini!" ucap Agnes yang kemudian memilih untuk mematikan ponselnya karena dia tidak mau terganggu terus dengan panggilan yang malah membuat dia menjadi tidak bisa fokus bekerja.
Setelah mematikan ponselnya. Agnes merasa lebih baik hatinya. Karena tidak lagi mendengar suara berisik dari ponselnya. Baik notifikasi pesan maupun panggilan.
" Nyonya! Ada seorang klien yang memaksa ingin bertemu dengan Anda!" ucap Mika yang merupakan sekretaris dan juga asisten dari Agnes.
Karena perusahaan itu masih merintis dan belum memiliki banyak klien. Oleh karena itu Agnes merangkapkan beberapa pekerjanya dengan double job. Untuk menghemat sumber daya dan juga menghematnya dalam menggaji para karyawannya.
__ADS_1
" Baiklah suruh dia datang kemari!" ucap Agnes tanpa mengangkat kepalanya karena saat ini dia sedang sibuk sekali memeriksa bahan-bahan baku yang akan digunakan untuk produksinya.
Di daerah Agnes tinggal saat ini, banyak sekali petani tebu. sementara pabrik di Sana hanya ada satu buah yang selalu kewalahan untuk menerima hasil produksi para petani. Oleh karena itu Agnes memutuskan untuk membuat pabrik tebu dan membuat gula putih serta produk hasil olahan lainnya.
Tidak sia-sia Agnes menabung selama ini. Sehingga dia bisa membuat sebuah pabrik kecil. Setidaknya cukup untuk berputar dan beroperasi setiap hari sampai 10ton tebu segar dengan karyawan hampir 30 orang.
Agnes melakukan kontrak dengan para petani untuk menyerahkan hasil panen mereka ke pabrik yang saat ini dia kelola.
" Sayang!" ucap seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu membuat Agnes benar-benar terkejut.
" Fic?" tanya Agnes yang tanpa disadari bangkit dari duduknya.
" Sayang! Kenapa kau pergi begitu saja dari aku?" tanya Fic dengan mata berkaca-kaca sambil mendekati Agnes yang masih bingung apakah yang saat ini di hadapannya benar-benar suaminya atau hanya sebatas halusinasinya saja.
Bukan tanpa alasan Agnes merasa seperti itu. Karena sejak perpisahannya dengan Fic beberapa bulan belakangan ini. Agnes sering sekali Agnes merasakan hal seperti itu.
" Sayang kamu baik-baik saja? Ternyata benar kata dokter kalau kau saat ini sedang hamil!" ucap Fic sambil mendekati Agnes dan mengelus perutnya yang mulai buncit.
" Maksudnya?" tanya Agnes masih membeku di tempat.
" Ya sayang! Setelah Kau pergi di bulan kedua, aku selalu lemas dan sakit. Kata dokter yang mendiagnosisku. Katanya mungkin saja istriku sedang hamil. Sehingga membuat aku mengidam setiap hari!" ucap Fic sambil duduk di hadapan Agnes yang mulai bisa mengendalikan dirinya.
Fic menarik tangan Agnes untuk duduk di sampingnya." Duduklah sayang! Jangan sampai anak kita nanti kenapa-napa. Kalau kau terus berdiri seperti itu!" ucap Fic yang sangat bahagia setelah mengetahui kalau Agnes benar-benar sedang hamil.
" Dari mana kau tahu aku ada di sini?" tanya Agnes seakan masih belum percaya dengan kehadiran Fic di hadapannya.
" Apa kau lupa Kalau suamimu ini adalah asisten dari tuan Stanley Craig? kau tahu kan siapa itu Tuan Stanley? Dia memiliki ratusan bahkan ribuan anak buah yang bisa di kerahkan untuk mencari kamu." dusta Fic.
__ADS_1
Padahal Fic mengetahui informasi tentang Agnes berasal dari Sakinah yang memberitahukan Stanley tentang keberadaan Agnes sebelum Sakinah akhirnya pergi dari rumah dan berakhir di rumah sakit untuk melahirkan putra mereka.
Agnes terkesiap mendengarkan Pengakuan dari Fic. Fic melakukan itu hanya agar Agnes tidak marah kepada Sakinah yang sudah membocorkan keberadaan Agnes kepadanya.
Fic hanya tidak ingin menghancurkan kepercayaan Agnes terhadap Sakinah. Sebagai orang yang pernah menjadi atasannya dan mungkin sebentar lagi akan menjadi sahabatnya setelah mereka berempat berkumpul bersama.
" Kau mau apa datang kemari? Apakah kau ingin memberikan surat gugatan perceraian kamu untuk aku tanda tangani?" tanya Agnes dengan suara gemetar sambil menyentuh perutnya yang buncit.
Hati Fic berdesir seketika. Saat mendengar ucapan dari Agnes tentang perceraian mereka berdua.
" Kau bicara apa sayang? Kau saat ini sedang mengandung anakku. Bagaimana mungkin aku akan tega untuk menceraikanmu?" tanya Fic terlihat begitu gugup.
Agnes melepaskan tangannya dari genggaman fix kemudian kembali ke kursi tempat dia bekerja.
Fic bisa melihat bahwa fisik Agnes sekarang sudah mulai berubah. Tubuhnya agak berisi. Mungkin karena pengaruh hormon kehamilan yang membuat tubuh Agnes menjadi lumayan gendut. Karena sejak Agnes hamil Dia sangat senang sekali mengemil di tengah malam.
" Dari mana kau memiliki keyakinan itu bahwa anak ini adalah milikmu? Apakah kau lupa di saat perpisahan kita aku melakukan janjian untuk bertemu dengan Kekasihku?" ucap Agnes yang sepertinya kembali kumat penyakitnya yang suka memprovokasi Fic untuk marah kepadanya.
Tidak tahu kenapa. Agnes sangat suka membuat Fic marah kepadanya. Walaupun untuk hal yang remeh sekalipun.
Benar-benar sebuah hobi yang sangat aneh. Bahkan Agnes tidak tahu kalau hobinya itulah yang selama ini telah memisahkan mereka berdua sehingga bertahun-tahun lamanya.
" Tentu saja aku yakin kalau anak yang ada di dalam kandunganmu adalah milikku! Kalau dia adalah milik orang lain. Tidak mungkin kan ngidamnya datang sama aku?" tanya Fic dengan tersenyum bahagia memandang Agnes yang tampak salah tingkah.
Hmmm Hmmm
Agnes berkali-kali berdehem sekedar untuk menghilangkan kegugupan di hatinya. Saat dia melihat Fic yang sejak tadi terus menatap ke arahnya dengan begitu terpesona dan penuh kerinduan yang jelas terlihat di mata sayu dan wajah tampannya.
__ADS_1