Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
108. Kesempatan emas


__ADS_3

Raymond memang sengaja meminta kepada kedua orang tuanya untuk mendampingi Vivian yang sebentar lagi mempersiapkan proses melahirkannya di rumah sakit


Vivian sebenarnya ingin melakukan caesar akan tetapi Raymond melarangnya.


Setelah selesai membereskan barang-barang Vivian ke dalam kamarnya. Raymond kemudian meminta kepada Vivian untuk pindah ke atas ranjang miliknya karena dia tidak tega melihat Vivian yang tidur di sofa.


" Vivian pindahlah ke atas ranjang atau aku akan menggendongmu ke sana!" Raymond berusaha membangun kan Vivian akan tetapi Vivian rupanya sangat kelelahan dan tertidur dengan sangat pulas.


Raymond akhirnya merasa putus asa dengan hal itu. " Kalau aku menggendongnya. Aku khawatir kenapa-kenapa dengan perut dan bayinya. Aih, ternyata mengurus wanita hamil itu sangat merepotkan dan membingungkan banget. Apalagi ibu hamilnya seperti Vivian yang seorang pembangkang total!" Raymond bermonolog sendiri sambil terus menatap ke arah Vivian yang sampai saat ini masih terlelap dalam tidurnya.


" Wah istriku ketika sedang tidur ternyata cantik sekali. Seandainya dia benar-benar bisa menjadi istriku secara normal. Aku pasti bahagia sekali bisa memiliki istri dan anak dalam bersamaan! Hidupku Pasti sangat diberkahi karena memiliki kebahagiaan yang begitu besar seperti itu!" monolog Raymond dengan suara yang terdengar begitu sendu.


Ketika terdengar suara bel pintu, Raymond pun memilih untuk keluar dari kamarnya. Karena dia tahu bahwa itu adalah makanan yang tadi dia pesan untuk makan malam mereka sekeluarga.


Setelah mengetahui bahwa Raymond sekarang sudah keluar dari kamar, Vivian pun membuka matanya.


" Ya ampun ternyata dia memperdulikanku dan juga khawatir dengan keadaanku dan juga anakku! Apakah benar kalau dia memang mencintaiku dan mau menerima anakku sebagai bagian dari keluarganya?" monolog Vivian yang ternyata meragukan ketulusan hati Raymond yang mau menerima kehadiran anaknya di dalam kehidupannya.


Vivian tidak tahu. Apakah hal itu benar-benar terjadi ataukah hanya karena Raymond yang sedang membutuhkan bantuannya.


Vivian sangat tahu kalau sejak dulu kedua orang tua Raymond selalu memaksa Putra mereka untuk segera menikah dan memiliki anak akan tetapi Raymond yang memang sejak dulu selalu menjadi jomblo Abadi lebih memilih untuk membujuk Vivian agar menjadi istri di atas kertasnya dari pada memilih wanita lain untuk dia jadikan sebagai istri.


Vivian yang kebetulan juga membutuhkan seorang suami untuk status anak yang ada di dalam kandungannya akhirnya menerima penawaran dari Raymond yang ternyata serius dengan keinginan dan penawarannya.

__ADS_1


Akhirnya mereka pun menikah dengan cepat dan berstatus sebagai suami istri dalam waktu satu malam.


Vivian kembali memejamkan matanya ketika mendengar langkah kaki Raymond yang akan kembali masuk ke dalam kamar mereka.


" Vivian! Ayo makan malam dulu. Makanannya sudah datang. Bukankah tadi kau bilang kalau kau lapar?" tanya Raymond sambil mengguncangkan bahu Vivian yang sedikit menggeliat sehingga gaunnya sedikit tersingkap. Raymond terlihat kesulitan menelan salivanya sendiri melihat kejadian itu di depan matanya.


Vivian kemudian membuka matanya dan berpura-pura bahwa dia baru saja terbangun dari tidurnya.


" Apakah makanannya sudah datang?" tanya Vivian sambil mengulet dan menguap. Khas bangun tidur yang saat ini sedang dilakukan oleh Vivian untuk mengelabui Raymond.


Raymond benar-benar sesak nafas dibuatnya. Gara-gara kelakuan Vivian yang entah sengaja ataukah hanya sedang refleks saja. Saat dia melakukan itu. Hanya karena merupakan kebiasaan Vivian saat bangun tidur.


Tapi yang jelas saat ini Raymond kesulitan menahan sesuatu yang ada di bawah sana yang mulai menggeliat. " Kacau!!" rutuk Raymond yang akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kamar mandinya.


Vivian yang kebingungan melihat kelakuan Raymond hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Tiara dan Raja terlihat tersenyum saat melihat menantu mereka baru saja bangun tidur. Wajah Vivian yang terlihat begitu sayu dan kusut menjadi penanda bahwa menantu mereka baru saja bangun.


Tiara langsung bangun dari duduknya dan membantu Vivian untuk menyiapkan piring dan juga yang lain-lainnya agar makanan yang tadi dipesan oleh Raymond dari restoran bisa disantap dengan nyaman oleh mereka semua.


" Duduklah sayang. Kamu gak usah repot begitu. Biarkan mama yang atur semuanya. Kamu harus menyiapkan tenagamu untuk proses melahirkan cucu Mama. Jangan sampai nanti kamu kenapa-napa karena kelelahan begitu!" Vivian hanya dapat menganggukkan kepalanya karena merasa benar-benar sangat terharu dengan semua perhatian yang telah diberikan oleh ibu dari suaminya.


" Benar sayang! Kau duduklah duduk di sini bersama Papa. Biarkan mamamu yang mengurus semuanya!" Raja mengulas senyum kepada Vivian yang akhirnya menuruti semua kemauan mereka.

__ADS_1


Raymond adalah anak bungsu mereka yang sangat dimanjakan oleh mereka sejak dulu.


" Ke mana Raymond sayang? Kenapa tidak turun bersamamu!" tanya Raja kepada Vivian.


" Dia di kamar mandi Pah. Tampaknya dia sedang mandi dan membersihkan tubuhnya karena tadi dia lupa tidak mandi setelah pulang dari kantor!" Vivian mau tidak mau harus melakukan dusta itu agar kedua orang tuanya tidak curiga kepada dirinya maupun kepada suaminya.


Padahal Vivian tahu alasan Raymond sekarang berada di dalam kamar mandi. Tentu saja adalah karena dirinya yang memang sengaja memancing gairah seorang Raymond yanv ternyata sangat mudah di bangkitkan. Vivian tersenyum ketika dia mengingat kembali apa yang tadi terjadi terhadap mereka berdua.


Raja tersenyum kepada menuntutnya seperti mengerti dengan maksud perkataan Vivian.


Setelah semuanya beres dan disiapkan oleh Tiara. Mereka pun kemudian bersama-sama ke meja makan. " Raymond belum datang juga?" tanya Tiara yang heran melihat putranya yang masih juga belum bergabung bersama mereka padahal tadi dia yang membangunkan mereka.


" Biar Vivian yang memanggil Mas Raymond, Mah!" Vivian sudah bersiap untuk bangkit dari duduknya akan tetapi Raymond sudah turun dan bergabung dengan mereka. Melihat Raymond yang mandi keramas membuat kedua orang tuanya hanya bisa gelengkan kepala mereka.


Vivian dan Raymond bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran Tiara dan Raja yang saat ini sedang menatap satu sama lain.


Mereka masih paruh baya yang masih sehat dan bugar. Bahkan Tiara masih begitu cantik dengan penampilan fashionablenya. Tiara selalu rajin merawat dirinya dengan perawatan mahal dan juga pakaian-pakaian mahal yang membuat nya selalu berpenampilan modis dan tidak terlihat sebagai wanita yang sudah memiliki anak dan cucu. Penampilannya masih layak di sebut wanita berusia 30 tahunan walaupun usianya sudah hampir kepala 5.


Apalagi Raja. Penampilan dia masih begitu gagah dan sangat mempesona. Pesonanya masih terlihat begitu kentara hanya dalam satu kali pandang.


ketampanan Raymond mewarisi Raja yang di masa mudanya sanggup membuat para wanita histeris karena dirinya.


Mereka pun kemudian makan malam dengan tenang. Setelah selesai makan. Terlihat Raymond yang membereskan meja makan dan mencuci piringnya.

__ADS_1


Sementara Vivian diajak mengobrol di ruang tamu oleh Tiara dan Raja.


" Apakah semua perlengkapan bayi yang sudah siap? Kalau belum, besok kita akan berbelanja. Supaya nanti ketika lahir kamu tidak terlalu repot untuk menyiapkan ini itunya!" Vivian benar-benar sangat terharu dengan cinta kasih dan perhatian mereka untuk bayinya yang akan lahir sebentar lagi.


__ADS_2