Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
39. Jangan bercanda!!


__ADS_3

Mendengarkan perkataan Stanley, Fic auto melotot. Dia tidak percaya bahwa Bos besarnya akan mengatakan hal seperti itu mengenai Starla yang dia tahu sangat mencintai Stanley.


" Jangan bercanda!! Yang dia cinta itu adalah kau, bukan aku. Sudahlah! Nggak usah ikut campur urusan hidupku. Kau urus saja hidup kau dan istrimu saja!" ucap Fic yang saat ini entah sedang kerasukan setan apa. Dia sampai berani menantang kuasa seorang Stanley yang dalam hari biasa selalu dihormati dengan jiwa raganya.


" Wah, kau berani bicara begitu padaku Fic? Auto kau bosan hidup kah??" tanya Stanley benar-benar merasa terkejut, asistennya yang juga menjadi sahabatnya berani melakukan itu kepadanya apalagi di hadapan Sakinah.


" Sudahlah kalian malam-malam kok malah pada ribut sih? Fic kok Istirahatlah sana!" ucap Sakinah menyuruh Fic untuk beristirahat dan tidak usah melayani Stanley lagi yang pasti nya bisa berakibat fatal atau panjang.


Fic yang memang saat ini sedang tidak enak perasaannya. Dia pun hanya berdiri saja. Kemudian masuk ke dalam kamarnya. Fic tidak mempedulikan raungan Stanley yang merasa tersinggung dengan kata-katanya yang terkesan kasar dan tidak menghargainya sebagai bos besar organisasi mereka.


" Ya ampun Sayang. Kenapa kau lakukan itu padaku? Kalau kita membiarkannya saja. Fic besok-besok akan melakukannya lagi. Apa kau tega melihat suamimu tidak dihargai oleh anak buahnya?" tanya Stanley terlihat protes kepada Sakinah yang kini dia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Sudahlah sayang. Ayo kita istirahat saja. Aku sudah lelah sekali! Apa kau tidak lelah huh? Seharian ini kau terus saja menggerutu nggak jelas begitu kepada semua orang!" ucap Sakinah sambil melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam kamar meninggalkan Stanley yang masih bengong di tempat.


Stanley pun kemudian mengikuti Sakinah yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang mereka.


Sejak kehamilannya, Sakinah sekarang sangat mudah sekali lelah dan sangat suka dengan tidur. bahkan Sakinah pernah tertidur di lobby Hotel ketika menemani Stanley untuk bertemu dengan kliennya sehingga membuat Stanley menjadi klapakan sendiri di buatnya.


" Sayang perasaan kamu sejak hamil kok doyan banget tidur sih? Apakah badanmu pegel-pegel atau bagaimana sih?" tanya Stanley yang langsung menarik tubuh istrinya agar masuk ke dalam pelukannya.


" Kenapa memangnya? Apakah kamu keberatan sayang, kalau aku tidur? Ini adalah bawaan anak kita. Dia yang selalu membuat mataku berat dan mengantuk. Terkadang anakmu juga membuatku tidak bisa makan apapun dan selalu memuntahkan apapun yang aku makan!" ucap Sakinah yang saat ini sudah membenamkan wajahnya di dalam pelukan sang suami yang selalu membuatnya merasa nyaman dan bahagia.


" Tidak sayang. Aku tidak masalah kalau kau suka tidur. Karena aku yakin bahwa semua hal yang kau lakukan pasti ada yang terbaik untukmu dan juga anak kita. Aku hanya takut kalau misalkan engkau tidur sembarangan. Kemudian ada orang jahat yang menculikmu atau membawamu dariku!" Sakinah yang diadak bicara oleh Stanley ternyata Sudah terlelap di dalam pelukan suaminya.


Stanley hanya bisa menetap Sakinah dengan frustasi. Karena sekarang sangat sulit untuk bisa mengobrol dengan Sakinah yang selalu saja cepat tertidur pulas. Di saat dia mencoba untuk berkomunikasi dengan istrinya.


" Ya ampun Sayang. Sekarang rasanya sangat sulit sekali untuk bertemu denganmu. Sekarang waktumu dihabiskan hanya tidur di atas ranjang dan aku selalu berbicara sendiri. Aku kesepian tahu nggak sih sayang?" tanya Stanley sambil mencium kening Sakinah.

__ADS_1


Akan tetapi Sakinah yang benar-benar sudah terlelap tidak bisa mendengarkan keluhan suaminya lagi. Matanya yang terlalu berat, kesulitan untuk di ajak kompromi.


" Anakku! Apa kau tahu? Kalau kau sudah membuat Daddy kamu begini kesepian? Karena kau selalu membuat Mommy kamu tidur dan meninggalkan Daddy kamu sendiri!" keluh Stanley sambil mengelus perut Sakinah dan berbicara dengan anaknya yang ada di dalam kandungan istrinya.


Entah hanya karena kebetulan saja ataukah memang bayi yang ada di dalam perut itu tengah merespon apa yang di katakan oleh ayahnya. Terlihat bayinya bergerak di dalam kandungan Sakinah.


Stanley yang melihat bayinya bergerak-gerak dan menendang perut ibunya. Dia pun merasa senang dan sepanjang malam dia terus mengelus perut istrinya dan berbicara dengan anak yang ada di dalam kandungannya sampai bayinya tenang kembali.


" Sayang tidurlah Nak. Karena Daddy juga ingin sekali tidur. Sekarang Daddy sudah mengantuk. Besok kita bersama lagi. Oke sayang?" tanya Stanley sambil mencium perut istrinya yang sekarang sudah membuncit dan terlihat besar sekali.


Stanley begitu excited menghadapi kehamilan Sakinah Apalagi setelah dia mengetahui bahwa bayi yang dikandung oleh istrinya adalah bayi laki-laki tentu saja dan dia merasa sangat bahagia karena sang pewaris keluarga Craig akan segera terlahir dan dia merasa sangat bangga sekali dengan hal itu.


Keesokan paginya Sakinah terbangun karena suara adzan subuh. Dia melihat Stanley yang saat ini sedang tertidur dan tangannya masih memeluk perutnya.


Terbit senyum di wajah Sakinah. Dia merasa bahagia karena suaminya begitu menyayangi anak yang ada di dalam kandungannya. Stanley bahkan sampai rela bergadang hanya untuk menemani bayinya yang terus bergerak semalaman suntuk.


" Aku mau salat subuh Mas. Apa kau juga tidak bangun Mas? Ingatlah! Kalau kita ini sebentar lagi akan mempunyai anak. Kita harus membiasakan shalat tepat waktu Mas. Supaya nanti anak kita meneladani kesalehan kedua orang tuanya!" ucap Sakinah sambil mengelus pipi Stanley yang terlihat begitu lelap dalam tidurnya.


Setelah Stanley melepaskan dirinya. Sakinah kemudian pergi ke kamar mandi untuk sekedar membersihkan dirinya dan juga untuk mengambil air wudhu.


Sakinah berusaha membangunkan Stanley. Dengan malas-malasan Stanley kemudian menuruti semua permintaan istrinya.


Stanley benar-benar sudah menemukan pawangnya dan dia tidak membantah apapun yang dikatakan oleh Sakinah.


Bahkan setelah sarapan pagi, Stanley dengan senang hati mendampingi Sakinah untuk lari maraton di sekitar kediaman mereka.


" Dokter bilang lari marathon di pagi hari akan sangat baik untuk kelahiran anak kita nantinya. Maaf ya sayang. Kalau udah ganggu waktu istirahatmu. Dengan menemani aku untuk mendampingi lari marathon pagi-pagi begini!" ucap Sakinah sambil memeluk Stanley.

__ADS_1


Semua kemesraan mereka berdua tampak terus diperhatikan oleh Renaldi yang berada lumayan jauh dari mereka berdua.


Dengan menggunakan teropong. Renaldi terus memperhatikan Sakinah dan Stanley yang begitu harmonis dan bahagia dalam menjalani pernikahan mereka.


" Aku senang kalau kau sekarang sudah menemukan kebahagiaanmu. Maafkan aku Sakinah yang selama ini tidak pernah benar-benar memperhatikanmu dan menganggapmu sebagai istriku. Aku senang karena kau sekarang sudah menemukan kebahagiaan yang tidak bisa kuberikan ketika kau menjadi istriku. Bahkan kau sekarang sedang hamil. Kau pasti sangat bahagia dengan kehidupan barumu tanpa aku di dalamnya bukan?" tanya Renaldi terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Ketika melihat Stanley dan Sakinah sudah bersiap untuk kembali ke mansion mereka. Renaldi pun kemudian meninggalkan tempat itu dan menuju ke apartemen miliknya.


" Aku hanya ingin meminta maaf kepadamu Sakinah. Sebelum kematian menjemputku. Aku selama ini selalu berbuat dosa padamu dan selalu menyakiti hatimu! Maafkan aku!" terlihat air mata yang mengalir di kelopak mata Renaldi yang saat ini sedang menyesali kehidupannya yang selama ini tidak pernah menganggap Sakinah sebagai istrinya.


Padahal selama menjalani pernikahannya bersama Renaldi. Sakinah sudah sangat berusaha untuk menjadi seorang istri yang sholehah bagi dirinya.


Tetapi selama ini Renaldi yang matanya memang selalu tertutup dengan dendam dan kebencian. Sehingga dirinya tidak pernah bisa melihat ketulusan dan juga usaha Sakinah untuk mempertahankan rumah tangga mereka berdua.


Saat kesadaran itu datang kepadanya, ternyata semuanya sudah terlambat. Karena sekarang Sakinah sudah bukanlah miliknya lagi. Sakinah sudah menemukan kebahagiaan hidupnya bersama dengan Stanley.


Renaldi yang saat ini sudah divonis dengan penyakit yang mematikan oleh dokternya. Dia sedang berusaha untuk mendapatkan maaf dari Sakinah untuk segala dosanya yang dia lakukan selama 5 tahun.


Dosa di saat dirinya masih menjadi suaminya Sakinah. Akan tetapi dirinya selalu saja memberikan rasa sakit dan air mata kepada istrinya yang telah banyak berkorban untuk menerima semua perilaku buruknya selama menjadi suami dari Sakinah.


Sesuatu baru terlihat indah dan berharga. Ketika sudah tidak dimiliki lagi. Itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Renaldi. Ketika dia melihat kebahagiaan yang dimiliki oleh Sakinah bersama Stanley.


Kebahagiaan yang tidak pernah bisa dia berikan kepada Sakinah selama syakinah menjadi istrinya.


" Aku memang laki-laki yang paling bodoh di dunia. Sekarang Kau telah bertemu dengan laki-laki yang bisa menghargai dan juga mencintaimu. Aku yakin bahwa kamu pasti akan selalu bahagia bersama Stanley yang terlihat begitu memuliakan kamu sebagai istri dan ibu dari calon anak kalian!" Renaldi terus bermonolog dengan dirinya sendiri.


Sejak Renaldi di vonis oleh Dokter yang merawatnya dengan penyakit yang mematikan. Dekarang kegiatan Renaldi setiap hari hanyalah terus memperhatikan segala aktivitas yang dilakukan oleh Sakinah bersama Stanley di mansion mereka.

__ADS_1


__ADS_2