
Sementara itu Sakinah yang terus melajukan kendaraannya menuju kampung halamannya dia menembus kegelapan malam. Tanpa merasa takut sama sekali.
Demi keselamatannya dan juga anaknya yang ada di dalam kandungannya. Sakinah memutuskan untuk meninggalkan Stanley di mansion dan dia pulang ke kampung halamannya yang lumayan jauh dari Jakarta.
Karena Sakinah merasa lelah dan mengantuk. Dia pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sebuah hotel kecil. Sakinah memang sengaja melakukannya. Hanya untuk menghindari Stanley yang pasti akan selalu mencarinya di hotel-hotel besar.
Setelah mendapatkan kamar. Sakinah langsung membaringkan tubuhnya. Tubuh yang penat dan lelah yang luar biasa membuat Sakinah langsung terlelap dalam tidurnya. Tidak perduli dengan apapun lagi.
Sakinah memang sengaja tidak menurunkan kopernya karena dia tidak mau terlalu repot ketika kembali meninggalkan hotel.
Keesokan paginya Sakinah bangun setelah shalat subuh dia langsung tidur lagi karena masih mengantuk. Selepas dhuhur Sakinah baru tancap gas lagi. Sakinah terus melajukan kendaraannya dengan cepat. Tidak terlalu mempedulikan rasa lelah di tubuhnya. Karena dia hanya ingin segera sampai di kampung halamannya.
Akhirnya pada saat Maghrib Sakinah pun sampai di kampung halamannya. Sakinah tidak menyadari kalau ada sebuah mobil yang selalu mengikuti kemanapun dia pergi.
Mobil itu adalah pengawal yang sengaja dikirimkan oleh Stanley untuk mengawal istrinya agar sampai ke tempat tujuannya dengan selamat.
Stanley memang sengaja berpesan kepada pengawalnya untuk tidak mengganggu Sakinah dalam melakukan perjalanannya. Stanley membiarkan istrinya untuk beristirahat di kampung halaman. Setidaknya sampai dia melahirkan di sana.
" Tuan Nyonya sudah sampai di kampung halamannya dengan selamat! Sekarang dia sudah berkumpul dengan neneknya!" lapor anak buah Stanley kepada Stanley.
Stanley menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tahu bahwa istrinya merasa tidak bahagia. Saat dia berada di sampingnya. Karena masalah anak yang sudah meninggal di dalam kandungan gara-gara insiden Starla dan Robert yang sudah menculik Sakinah dan Fic yang akhirnya membuat mereka kehilangan calon anak Mereka.
Stanley merasa selama ini istrinya baik-baik saja. Tetapi ternyata, siapa yang tahu, Sakinah telah menyembunyikan luka di dalam hatinya begitu rapat. Senyum dan tawanya selama ini hanya topeng yang dia tutupi untuk mengelabui Stanley agar tidak mengetahui bahwa dia saat ini sedang terluka karena kehilangan anak mereka.
" Kalian awasilah baim-baik istriku. Jaga dia dari orang jahat yang akan membahayakan keselamatannya! Ingat jangan terlalu dekat!Aku tidak mau kalau dia merasa curiga dengan kehadiran kalian di sekitarnya!" ucap Stanley memberikan peringatan kepada anak buahnya yang saat ini sudah ada di kampung halaman Sakinah.
__ADS_1
" Tuan apa yang harus kami lakukan disini?Menunggu sampai Nyonya Sakinah melahirkan itu sangat lama. Kalau kami hanya berkeliaran saja di sini. Pasti Nyonya Sakinah akan curiga dengan keberadaan kami!" ucap Sukma yang kali ini bertugas sebagai pimpinan pengawal yang di tugaskan Stanley.
" Besok secara terpisah kalian melamarlah pekerjaan di perkebunan ataupun pabrik milik Sakinah. Selama ini karena tidak pernah menampakan wajah kalian di hadapan Sakinah. Saya yakin Sakinah tidak akan curiga dengan kehadiran kalian! Ingatah! Tugas kalian adalah menjaga keselamatannya dan laporkan setiap kegiatan dia padaku!" ucap Stanley dengan tegas.
" Siap Tuan! Besok kami secara bertahap akan melamar pekerjaan. Supaya Nyonya Sakinah tidak curiga dengan kehadiran kami!" ucap Sukma mengatakan rencananya kepada Stanley.
Setelah berpamitan kepada Stanley. Sukma pun mengatur anak buahnya untuk mencari kontrakan secara terpisah. Agar nantinya tidak dicurigai sebagai satu kawanan yang ditugaskan untuk mengawasi Sakinah oleh Stanley.
" Tuan kita itu tampaknya benar-benar sangat mencintai istrinya. Lihatlah! Istrinya kabur pun masih begitu diperhatikan!" ucap Boga sambil menggelengkan kepalanya.
" Memangnya kamu baru tahu kalau Tuan kita itu sangat mencintai Nyonya Sakinah?" tanya Sukma yang mulai membaringkan tubuhnya di ranjang.
Seharian mereka mengikuti Sakinah atas perintah Stanley. Tugas mereka sungguh berat sekali. mereka ditugaskan untuk selalu mengawasi tetapi diwajibkan untuk tidak dicurigai dan mereka juga diwajibkan untuk selalu melapor apapun kegiatan Sakinah. Bagaimana mereka tidak frustasi dengan tugas seberat itu?
" Tampaknya kehidupan kita akan mulai membosankan!" ucap Boga yang belum apa-apa sudah mulai frustasi di buatnya.
" Setiap tugas itu memiliki tantangannya tersendiri. Kita sebagai seorang Bodyguard profesional tidak boleh menyerah dan pantang mundur! Ingat keberhasilan kita menjaga Nyonya Sakinah adalah prestasi untuk kita semua. Tuan Stanley pasti akan mengapresiasi keberhasilan itu!" ucap Sukma menyemangati mereka semua.
" Lihatlah kita baru di sini satu hari saja,Tuan Stanley sudah mengirimkan uang 100 juta. Uang ini untuk kita mencari rumah yang bisa ditempati dengan nyaman. Sudah kita laksanakan tugas kita dengan baik dan jangan sampai nanti Tuan Stanley kecewa dengan pekerjaan kita dan akhirnya kita malah kehilangan pekerjaan yang sangat bagus dan enak ini!" ucap Sukma.
" Besok saya akan langsung menarik uang ini untuk dibagikan kepada kita berlima. Masing-masing 20 juta. Bisa digunakan untuk biaya kita hidup selama berada di sini." ucap Sukma yang disetujui oleh rekan-rekan yang lain.
" Untuk malam ini kita akan menginap di hotel terdekat dan besok kita akan mencari kontrakan untuk kita menetap di kampung halaman ini. Tentu saja setelah kita dapat kerjaan di perusahaan milik Nyonya Sakinah." ucap Sukma.
Sukma memang ditunjuk oleh Stanley untuk menjadi pemimpin di antara teman-teman yang lain. Karena dia memang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Sehingga dipercaya untuk mengatur rekan-rekannya yang lain.
__ADS_1
***
Sakinah yang baru saja sampai di kampung halamannya dia langsung menyalami Bi Warsih yang saat ini sedang sakit.
" Non Sakinah. Kenapa mau datang kemari tidak mengatakan kepada bibi? Kalau tidak kan Bibi bisa menyiapkan makanan kesukaan Non Sakinah!" ucap Bi Warsih sambil terlihat batuk-batuk saat menyambut Sakinah.
Sakinah merasa tidak enak karena sudah mengganggu waktu istirahat Bi Warsih yang begitu berharga.
" Jangan begitu Bi. Aku juga datang kemari karena buru-buru tidak ada waktu untuk menghubungi Bibi!" ucap Sakinah yang langsung menghambur keburukan Bi Warsih yang merasa bingung dengan perkataannya.
" Memangnya ada masalah apa? Sampai Non Sakinah terburu-buru untuk pulang?" Tanya Bi Warsih berusaha untuk menyadarkan tubuhnya di dasboard ranjang.
" Tidak apa-apa Bi. Saya hanya rindu dengan bibi dan ingin menghabiskan waktu di sini bersama Bibi!" ucap Sakinah berusaha untuk tetap tegar dan tidak menangis.
Bi Warsih sangat kenal sifat Sakinah. Dia tahu kalau saat ini Sakinah pasti sedang menyembunyikan sesuatu yang belum mau di ceritakan padanya.
" Ya sudah Non Sakinah sebaiknya beristirahat saja. Besok kita bercerita-cerita lagi. Bibi juga mau tidur. Karena tadi habis minum obat jadi bawaannya ngantuk sekali!" ucap Bi Warsih sambil tersenyum kepada Sakinah yang sedang memeluknya denga erat.
Sakinah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Karena bagaimanapun dia tidak mau membuat bewarsih menjadi khawatir dengan dirinya.
Bi Warsih bisa merasakan getaran kesedihan Sakinah akan tetapi dia tidak mau mendesak Sakinah untuk menceritakan masalahnya kepada dirinya saat ini.
" Istirahatlah di kamarmu kalau butuh apa-apa panggil saja si mbok di kamar dia!" ucap Bi Warsih berpesan kepada sakinah.
Sakinah kemudian berpamitan kepada Bi Warsih dan masuk ke dalam kamarnya sendiri yang selalu bersih karena selalu dibersihkan setiap hari oleh pembantu yang bekerja di rumah itu.
__ADS_1
Bi warsih selalu bersiaga kalau sampai Sakinah tiba-tiba datang ke rumah. Oleh karena itu dia selalu berpesan kepada pembantunya untuk membersihkan kamar Sakinah setiap hari. Bi Warsih sangat ingat dengan kelakuan Sakinah yang selalu memberikan kejutan dan datang tiba-tiba.