
Sean dan Mark di kirim ke Italia oleh Stanley untuk melanjutkan sekolah SMA mereka.
Sakinah terlihat sedih karena harus melepaskan putranya yang akan pergi ke luar negeri bersama Mark yang telah ditugaskan oleh stainless sebagai asisten pribadi.
Sejak Agnes menikah dengan suami barunya. Sejak saat itu juga Mark lebih memilih untuk tinggal bersama dengan mereka.
Mark tidak ingin menjadi sumber kesedihan ibunya apabila melihat dirinya yang pasti akan mengingatkannya kepada almarhum sang ayah yang telah menyakiti hati ibunya dengan berselingkuh dan memiliki anak darinya.
Stanley tidak keberatan sama sekali dengan keberadaan Mark di kediamannya. Sejak saat itu Mark diberikan tugas sebagai asisten Sean yang selalu pergi ke manapun juga bersama dengan putranya tercinta.
" Mama, kalau mereka pergi Lolly ga ada teman lagi," rengek seorang bocah cantik berusia 4,5 tahun di dekat Sakinah.
Sakinah langsung menggendong putrinya yang begitu menyayangi Mark layaknya saudara sendiri.
" Sayang kedua kakakmu pergi untuk belajar. Mereka akan kembali setelah mereka selesai dengan pendidikan mereka." Sakinah berusaha untuk membujuk putrinya agar tidak sedih lagi.
" Tapi Mah. Lolly tidak mau sendirian di sini. Lolly mau mereka bersamaku!" gadis cantik itu pun kemudian menangis karena tidak rela berpisah dengan Sean dan Mark, yang berdasarkan jadwal yang di susun sekretaris Stanley hari ini akan terbang ke Italia.
Stanley mendekati putrinya kemudian berusaha untuk membujuk Lolly agar tidak menghalangi keduanya pergi.
Sean matanya sudah berkabut melihat adiknya yang saat ini sedang menangis karena tidak ingin dia tinggalkan.
" Papah!! Biarkan kedua kakakku sekolah di sini saja. Mereka masih remaja belum selayaknya pergi jauh dari kita. Mereka akan kesepian tinggal di sana dan merindukan kita semua. Aku mohon Pah, hiks hiks!" Lolly terus merengek meminta kepada kedua orang tuanya untuk menggagalkan rencana mereka mengirim Sean dan Mark ke Italia untuk belajar di sana.
Sakinah bersedih hatinya melihat Lolly yang terus menangis. Sakinah menatap suaminya yang tetap bersikeras menginginkan mereka untuk sekolah di luar negeri.
" Bagaimana kalau 3 tahun Lagi saja mereka pergi ke luar negerinya, sayang? Mereka kuliah di sana. Putri kita masih menginginkan mereka bersamanya di sini. Lolly bisa sakit kalau terus seperti ini," Sakinah membujuk suaminya yang keras kepala.
Stanley tidak mau berbuat lunak pada kedua anaknya. Kalau sudah berurusan dengan pendidikan dia tidak akan mau memberikan kelonggaran apapun.
__ADS_1
" Papa sudah menyiapkan semuanya di sana. Kalau dibatalkan begitu saja, bukankah itu merusak nama baik papa?" tanya Stanley sambil menggelengkan kepala.
Sakinah yang sudah pusing melihat Lolly yang dari tadi terus merengek dan menangis akhirnya hanya bisa melotot kepada Stanley.
" Jadi kau lebih mementingkan nama baikmu daripada putrimu sendiri? Aku tidak akan mengampunimu kalau sampai Lolly sakit gara-gara ini!" Sakinah kemudian menggendong putrinya untuk masuk ke dalam rumah sambil terus berusaha untuk membujuknya agar tidak menangis.
Sean dan Mark hanya bisa tertunduk menatap semua kejadian itu. Sebenarnya mereka pun belum siap untuk berpisah dengan keluarga yang mereka sayangi untuk hidup di luar negeri dan mandiri di sana.
Akan tetapi mereka tahu kalau semua yang mereka lakukan sia-sia. Karena Sean sangat kenal siapa ayahnya yang kalau sudah mengambil keputusan akan sulit untuk dirubah oleh siapapun.
Stanley menata putranya seakan ingin bertanya apa kehendaknya.
" Katakan sama papa, Bagaimana pendapat kamu tentang keinginan adikmu? Apa kamu tidak masalah kalau sekolahmu ke Italia dibatalkan?" tanya Stanley ingin mengetahui pendapat keduanya.
" Kami akan mengikuti semua yang sudah Papa putuskan." Sean menundukkan sedih.
" Lalu, bagaimana pendapatmu Mark?" tanya Stanley lagi sambil mengalihkan pandangannya kepada Mark yang berdiri di samping Sean.
" Saya juga akan mengikuti apa yang sudah diputuskan oleh Om." Mark juga tidak berani menentang kekuasaan Stanley.
Stanley kemudian menghubungi sekretarisnya. Sean dan Mark hanya bisa saling menatap satu sama lain. Mereka saat ini berdebar-debar hatinya ingin mengetahui keputusan apa yang akan dilakukan oleh Stanley atas masa depan mereka.
" Batalkan perjalanan Sean dan Mark. Carikan sekolah SMA yang terbaik yang ada di negeri ini untuk Mark dan Sean." mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya Sean dan Mark sontak saling berpelukan satu sama lain.
" Kalian ternyata juga tidak bersedia untuk pergi ke Italia? Untuk kali ini Papa masih bisa mentolerir masalah ini. 3 tahun yang akan datang, kalian sudah tidak bisa menolak sama sekali dan Papa tidak peduli akan perduli dengan apapun lagi. Kalian harus berangkat ke Italia untuk kuliah di sana dan mendalami management bisnis. Apa kalian mengerti?" tanya Stanley kepada mereka.
Sean dan Mark langsung memeluk Stenley karena merasa bahagia sekali mereka tidak jadi di kirim ke luar negeri untuk sekolah di sana.
" Ingatlah! Kelak kalau kalian sudah waktunya untuk kuliah, papa akan mengirimkan kalian ke Italia untuk melanjutkan pendidikan kalian di sana." Sean dan Mark mengangguk pelan, kemudian langsung masuk ke dalam rumah untuk menemui Sakinah dan Lolly yang masih sesegukan dipelukan ibunya.
__ADS_1
" Papa jahat! Padahal aku masih ingin bersama dengan kakak. Tapi kenapa Kakak harus dikirim ke luar negeri?" tanya Lolly dengan air mata yang berderai di pipinya.
Sean dan Mark tersenyum melihat adiknya yang masih menangis.
" Kaka tidak jadi ke Italia sekarang, tapi nanti kalau kami berdua sudah mau kuliah. Apa kau senang Lolly?" tanya Sean sambil mengelus rambut adiknya.
Lolly dan Sakinah mendengar berita itu merasa sangat bahagia sekali.
Stanley yang saat ini sedang berdiri di depan pintu. Terlihat begitu bahagia ketika melihat Sakinah beserta kedua anaknya saling berpelukan. Mark ikut merasakan kebahagiaan Mereka bertiga yang tidak jadi berpisah karena harus pergi ke luar negeri.
" Om, Aku mau pergi ke rumah mama sebentar ingin berbicara sesuatu dengannya. Apakah boleh?" tanya Mark kepada Stanley yang mengizinkan Mark pergi.
" Ajaklah Sean dan Lolly bersamamu. Supaya Papa barumu tidak merasa canggung ketika berhadapan denganmu." Stanley kemudian mendekati Sakinah.
Sakinah langsung memeluk suaminya yang mau mendengar saran dan keinginan mereka agar tidak mengirim Sean ke luar negeri.
" Terima kasih, sayang!" Sakinah mencium bibir Stanley dengan bahagia.
Melihat kedua orang tuanya yang begitu senang, mereka bertiga ikut bahagia.
" Sean, Lolly! Ayo ikut denganku ke rumah ibuku." ucap Mark yang saat ini merasa tidak nyaman melihat kemesraan Sakinah dan Stanley yang membuat hati mereka senang.
Setelah kepergian anak-anak ke rumah Agnes, Stanley dan Sakinah masuk ke dalam kamar dan meluahkan rasa cinta mereka di atas ranjang.
" Terima kasih sayang atas kesabaranmu dalam menghadapiku dan segala masalah yang menyertai diriku selama pernikahan kita. Alhamdulillah setelah sekian lama aku berjuang, akhirnya aku berhasil untuk memenuhi keinginan kamu untuk segera membubarkan bisnis ilegal yang berada di organisasi di bawah kepemimpinanku. Sekarang bisnis yang dijalani oleh kami semuanya adalah legal dan tidak melanggar aturan negara. Aku harap sekarang kau bisa tenang dengan apa yang kulakukan di luar sana," Sakinah benar-benar merasa bahagia karena sang suami sudah memenuhi apa yang menjadi bahan pikirannya selama ini.
" Syukurlah kalau kau sudah berhasil untuk melakukan itu aku harap kedepannya jangan mengulangi lagi untuk membuat bisnis ilegal seperti itu yang merugikan generasi muda kita dan juga negara kita!" Stanley mengangguk pelan sambil mencium bibir Sakinah yang selalu menjadi candu untuk dirinya.
TAMAT
__ADS_1
Thanks for reader untuk selalu menemani autor dalam berkarya. Selamat datang di karya author yang baru ya, author masih lelah setelah sakit beberapa hari kemaren. Jadi harap maklum ya kalau author update nya dikit doang. Otak dan perasaan sedang tidak bisa diajak kerjasama untuk menulis novel. Semoga kondisi author bisa segera membaik dan bisa kembali berkarya seperti sebelumnya. Amien yra.