
Stanley kemudian mengantarkan ibunya menuju Mansion miliknya agar bisa beristirahat di sana.
" Mah, aku ada urusan yang sangat penting sekali yang harus aku urus. Apa mama bisa di sini dulu, sampai nanti aku kembali lagi?" tanya Stanley yang merasa bersalah terhadap ibunya.
Andien menatap putranya dengan lekat dan intens " Urusan apakah yang tidak bisa kau tunda?" tanya Andien kepada Stanley.
" Masalah menantu mama!" ucap Stanley sambil menundukkan kepalanya.
Andien mengerutkan keningnya mendapatkan jawaban dari Sang putra tercinta.
" Emangnya ada apa dengan menantu Mama?" tanyanya heran sekali.
" Tidak ada apa-apa Mah. Sudahlah Mama tidak usah kecampur urusan aku. Kalau mama sudah ikut campur pasti tidak akan ada yang beres!" ucap Stanley merasa tidak senang.
Andien langsung memukul bahu putranya dengan gemas luar biasa.
" Kamu itu ya, tidak bertemu dengan mamanya lama sekali tidak ada rasa rindu sama sekali!" ucap Andien kesal sekali.
Stanley kemudian meringis dan tersenyum kepada ibunya.
" Temanilah Mama di sini Stanley. Mama cuma sebentar doang berada di Indonesia hanya ingin melihatmu!" ucapnya sedih.
" Baiklah mama. Mama mau berapa lama tinggal di Indonesia?" tanya Stanley ingin mengetahui kejelasan keberadaan ibunya.
" Kau ini benar-benar keterlaluan jadi anak. Kau tidak pernah merindukan ibumu sama sekali! Bertahun-tahun kau tidak pernah menjenguk ibumu sekalian ya ibumu datang kemari kau sama sekali tidak peduli!" ucap Andien benar-benar merasa kecewa kepada putranya sendiri.
" Maafkan aku mama Sayang!" ucap Stanley yang akhirnya memutuskan untuk menemani ibunya dulu dan menunda urusannya bersama Sakinah untuk sementara waktu.
Andien merasa senang karena akhirnya Stanley mau menemani dia.
" Baiklah Mama akan ke kamar dulu dan beristirahat!" Stanley kemudian mengantarkan Andien menuju kamarnya.
" Selamat beristirahat mama!" ucap Stanley yang kemudian memeluk ibunya dengan erat.
Setelah Andien masuk ke dalam kamarnya. Stanley langsung memanggil Fic untuk datang ke ruangan kerjanya.
" Fic, Pergilah ke kampung halaman sakinah dan urus tentang investasi itu. Jangan sampai nanti dia merasa curiga dengan kita berdua. Kalau bisa kau menataplah di sana untuk sementara waktu!" ucap Stanley memberikan perintah kepada asistennya.
Fic terkejut sekali mendapatkan perintah semacam itu.
" Menetap di sana tuan? Wah itu benar-benar sangat berat!" bocah Fic merasa keberatan dengan keinginan Stanley.
__ADS_1
Stanley melotot sempurna mendapatkan protes dari asisten nya.
" Apa kau sudah berani melawanku sekarang Fic?" tanya Stanley dengan tatapan horornya yang membuat Fic gemetar seketika.
Fic pun langsung menggelengkan kepalanya, sungguh tidak berdaya menghadapi Stanley yang selalu saja suka memaksakan kehendak kepada siapapun yang ada di bawah perintahnya.
" Baiklah Tuan Saya akan berusaha untuk menetap di sana. Setidaknya sampai urusan tuan dan nyonya Sakinah selesai. Tapi apakah Tuan bisa menjalani tugas-tugas Tuan di sini tanpa kehadiran saya?" tanya Fic merasa ragu dengan kemampuan Stanley.
Karena selama ini semua hal yang di butuhkan oleh Stanley selalu dia mengurus.
" Tenanglah untuk sementara aku akan mencari penggantimu selama kau berada di sana!" ucap Stanley dengan senyum tengilnya yang benar-benar membuat Fic menjadi kesal.
Fic akhirnya menuruti permintaan Stanley Karena bagaimanapun dia juga merasa penasaran tentang Agnes yang sekarang menjadi asisten Sakinah.
" Ingat Fic! Kau jangan macam-macam di sana! Tugasmu hanya mengawasi Sakinah dan juga menjaganya jangan berbuat macam-macam!" ucap Stanley memberikan peringatan kepada Fic.
Fic hanya bisa mengelus dadanya melihat sifat posesif yang ditunjukkan oleh Stanley kepadanya.
" Kenapa bukan Tuan saja yang menjaga Nyonya Sakinah di sana dan saya yang disini?" tanya Fic merasa tidak nyaman dicurigai oleh Stanley.
Sementara Stanley terus melihat ke arah Fic yang sejak tadi dari terus menggelengkan kepalanya.
" Memangnya kau bisa menghadapi ibuku?" tanya Stanley pada Fic.
" Wah, daripada aku harus menghadapi macan betina. Lebih baik aku bertemu dengan Agnes dan memperbaiki hubunganku dengannya!" ucap Fic yang kemudian meninggalkan Mansion milik Stanley.
Fic menggunakan pesawat pribadi milik Stanley untuk segera sampai ke sana.
Bagaimanapun Fic benar-benar merasa penasaran dengan Agnes yang bisa menjadi asisten dari Sakinah.
" Baiklah! Mari Kita uji. Apakah kau bisa mengenaliku atau tidak!" ucap Fic sambil tersenyum bahagia.
Ya Fic benar-benar merasa bahagia karena Akhirnya bisa bertemu lagi dengan Agnes. Setelah beberapa tahun tidak bertemu.
Sejak kekalahan Agnes terakhir kali, saat mereka bersaing untuk menjadi asisten Stanley. Sejak saat itu Agnes mengundurkan diri dari perusahaan dan mereka tidak pernah bertemu lagi sejak saat itu.
Setelah sampai di kampung halaman Sakinah Fic kembali merubah penampilannya menjadi culun sesuai dengan dandanan yang sudah diinstruksikan oleh make up artist yang disewa oleh Stanley waktu itu.
Walaupun agak berat untuk Fic tetapi demi bisa bertemu lagi dengan Agnes, Fic rela melakukan itu.
" Bagaimana ya? Apakah penampilan ini sudah sempurna?" tanya Fic ketika dia mengecek lagi penampilan yang sudah dia buat sebelum ke kantor Sakinah untuk bertemu dengan Agnes.
__ADS_1
" Aku rasa penampilan ini sudah sempurna! aku yakin Agnes tidak akan mungkin mengenaliku. Apalagi kami sudah lama sekali tidak bertemu!" ucap Fic merasa percaya diri sekali.
Dengan menggunakan supir yang waktu itu ditinggalkan oleh dan Fic pun kemudian menuju kantor Sakinah.
" Tuan Albert kamu sudah kembali?" tanya Agnes mengagetkan Fic yang baru saja masuk ke lobi kantor milik Sakinah.
" Astaghfirullahaladzim kau benar-benar mengagetkanku!" ucap Fic sambil mengelus dadanya yang terkejut bukan kepalang saat tiba-tiba saja Agnes menepuk bahunya tanpa aba-aba terlebih dahulu.
Agnes tampak tersenyum kepada Fic kemudian dia meminta maaf karena sudah mengagetkannya.
" Maafkan aku Tuan Albert, dari tadi Aku memanggilmu. Akan tetapi tampaknya kau sedang melamun. Jadi tidak mendengar apa yang aku katakan!" ucap Agnes sambil tersenyum kepada Fic yang jadi gugup.
Sungguh benar-benar menjengkelkan sekali karena belum apa-apa, Fic sudah dibuat sport jantung oleh Agnes. Akan tetapi Fic tidak bisa marah kepada Agnes karena dia tidak mau kalau sampai penyamarannya terbuka begitu saja di hadapan Agnes.
Bagaimanapun Stanley memiliki misi yang sangat besar berada di tempat itu dan dia tidak mau menggagalkan misi Stanley hanya karena kepentingan pribadinya.
" Di mana Tuan James? Kenapa tidak kembali bersama anda?" tanya Agnes tampak kepo.
" Tuan James harus menemani ibunya yang kebetulan sedang berkunjung ke Indonesia. Kenapa anda bertanya tentang Tuan James?" tanya fix sambil mengerutkan keningnya.
" Memangnya kenapa? Aku kan hanya bertanya saja tidak bermaksud apa-apa!" jawab Agnes dengan ketus.
Fic benar-benar ingin sekali mencium bibir Agnes yang sedang manyun. Eh, mencium bibirnya?? Fic sampai menepuk jidatnya dengan pikiran kotornya terhadap Agnes yang sudah lama tidak bertemu dengannya.
" Tampaknya aku harus merestart ulang otakku agar tidak selalu berpikir kotor!" ucap Fic lirih. Akan tetapi Agnes bisa mendengarkan apa yang dikatakan oleh Fic.
" Kenapa?"
" Apanya yang kenapa?"
" Kenapa Anda harus merestart ulang otak kamu?" tanya Agnes sambil menopang kepalanya dengan telapak tangannya.
Fic seketika gugup melihat Agnes melakukan hal seperti itu terhadapnya.
" Eh, apa yang kau lakukan?" tanya Fic tidak tahan melihat wajah Agnes yang saat ini terlihat begitu imut di matanya.
Fic bahkan sampai memukul kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri agar tidak mudah terpesona kepada gadis itu.
' Sejak dulu dia selalu merasa sebagai sainganku. Dia pasti akan marah kalau tahu aku ada di sini!' bathin Fic merasa dilema.
" Memangnya kenapa sih? Anda aneh banget tahu gak sih? Aku tidak melakukan apa-apa kok!" ucap Agnes mengelak dari Fic.
__ADS_1
Fic memilih untuk meninggalkan Agnes daripada harus berurusan dengan gadis itu yang tidak pernah ada selesainya.
Fic memilih untuk menemui Sakinah dan menyelesaikan urusan mereka yang tadi pagi belum selesai gara-gara Stanley yang keburu dipanggil pulang ke Jakarta oleh ibunya.