Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
47. Amarah Sabrina


__ADS_3

Saat ini Sabrina berada di dalam kamarnya. Dia sedang mengamuk dan marah karena keinginannya untuk bersama dengan Stanley sepertinya hanya akan menjadi sebuah mimpi yang tidak akan pernah jadi kenyataan.


" Kenapa sih kamu harus bersikap begitu Stanley? Apa salahku sama Kamu sehingga kamu harus selalu menunjukkan antipati dan penolakanmu?" tanya Sabrina benar-benar masa bingung dengan sikap laki-laki yang dia cintai selalu dingin dan selalu menolaknya Padahal dia sudah berusaha untuk menjadi seorang wanita yang manis dan juga mempesona.


Berbagai cara sudah dia gunakan untuk membuat Stanley jatuh cinta kepadanya. Namun bukannya membuat Stanley mencintainya malah semakin membuat dia jauh darinya. Sabrina putus asa untuk mengambil hatinya.


" Apa yang harus kulakukan?" tanya Sabrina sambil menundukkan wajahnya dengan memeluk kedua kakinya di lutut.


" Aku harus membunuh istrinya dengan begitu aku bisa memiliki Stanley seutuhnya!" Sabrina pun membuat keputusan untuk menghabisi Sakinah.


Sabrina kemudian menghubungi ayahnya. jangan minta bantuan ayahnya untuk mengirimkan anak buah yang paling handal yang akan dia gunakan untuk membunuh Sakinah wanita yang sudah merebut laki-laki yang dia cintai.


" Ayah kirimkan 100 anak buah terbaikmu. Aku butuh untuk membunuh seseorang yang sangat penting!" ucap Sabrina ketika dia menghubungi Markus Alberto.


" Siapa yang ingin kau bunuh sehingga membutuhkan begitu banyak orang?" tanya Markus mengintrogasi fotonya yang dia tahu selalu bertindak gegabah.


" Istrinya Stanley!" ucap Sabrina tanpa tedeng aling-aling.


Markus terkejut dengan ucapan putrinya yang mengatakan akan membunuh istrinya Stanley.


" Apa kau tidak salah? Itu sama saja kau hendak menyerang sarang Harimau 100 anak buah tidak akan ada artinya!" ucap Markus tidak menyetujui keinginan Putrinya.


Sabrina tampak terdiam mendengarkan ucapan ayahnya. Dia sadar kalau menghadapi Stanley adalah sesaat yang sangat mustahil. Karena kekuatannya sangat luar biasa. Selain pasukan Pengawal inti, dikabarkan Stanley juga memiliki pengawal bayangan yang kekuatannya sangat luar biasa dan sudah teruji ketika menumpas pemberontakan Robert yang hanya di libas dalam hitungan menit tanpa menimbulkan banyak huru-hara.


" Kalau begitu papa datanglah kemari bantu aku untuk membunuh istri Stanley dan jadikan Stanley sebagai menantumu!" ucap Sabrina meminta tolong kepada ayahnya.


Markus tampak terdiam lama sekali memutuskan dan menimbang sesuatu yang benar-benar sulit seperti itu membutuhkan banyak tenaga dan kekuatan.


" Kau tahu ka Kalau usaha Papa di sini sangat riskan. Kalau Papa meninggalkan markas, maka usaha kita di sini pasti akan dihancurkan oleh musuh-musuh kita. Jelas itu akan sangat berbahaya untuk organisasi kita!" ucap Markus pada akhirnya yang hingga membuat Sabrina mengamuk.


" Baiklah Pah! Papa urus saja semua bisnis Papa. Biarkan Sabrina melawan Stanley dan anak buahnya sendiri. Kalau sampai Papa melihat mayatku yang di kirim oleh mereka, Papa tidak usah menangisinya!" setelah mengatakan itu Sabrina langsung menutup panggilan teleponnya.


Amarah Sabrina sudah benar-benar di ubun-ubun akan tetapi ayahnya masih memikirkan tentang bisnis mereka.


" Papa memang tidak pernah menyayangiku bisnis bisnis dan bisnis selalu saja yang dipikirkan! Apakah dia tidak pernah berpikir tentang kebahagiaanku? Papa jahat!" ucap Sabrina yang kemudian segera pergi keluar kamar dan mencari kepala pelayannya.


" Paman cepat hubungi semua anak buah kita yang ada di Jakarta. Suruh mereka semua datang kemari. Cepat aku tunggu dalam waktu 1 jam!" ucap Sabrina memberikan perintah kepada kepala pelayannya.


" Maafkan saya Nona besar Untuk apa kita mengumpulkan semua orang-orang kita di Jakarta?" Sabrina melotot kepada kepala pelayan yang sudah berani mempertanyakan perintahnya kepada dia.


" Tugasmu hanya menjalankan perintahku! Bukan mempertanyakan perintahku. Apa kau paham?" tanya Sabrina dengan menatap tajam kepada kepala pelayan yang tidak berani menatap amarah di mata Sabrina yang begitu besar.

__ADS_1


" Baik Nona besar! Akan segera saya laksanakan keinginan anda. Namun sebelum itu saya harus kepada tuan Markus karena dialah komando tertinggi dalam organisasi kita!" Sabrina langsung menarik kerah pakaian kepala pelayan yang sudah berusia hampir 50 tahun itu kemudian dia langsung menampar pria itu dengan sekuatnya.


" Dasar tua bangka kurang ajar! Lancang dan berani mati huh? berani-beraninya kau menentang keinginanku. Kau sudah bosan hidup rupanya huh?" tanya Sabrina.


Mata berapi-api milik Sabrina yang langsung menikam jantungnya. Benar-benar membuat kepala pelayan tidak mampu untuk berkutik.


" Cepat laksanakan perintahku sebelum kepalamu aku tembak!" ucap Sabrina kepada kepala pelayannya yang kemudian langsung menyetujui perintahnya.


" Baik Nona! Tunggulah sebentar dalam waktu 1 jam apa yang Anda minta akan segera terlaksana!" kepala pelayan pun kemudian mundur dari hadapan Sabrina dengan ketakutan yang luar biasa.


Dia tahu Sabrina adalah anak yang paling disayangi oleh Marcus Arberto anak satu-satunya dan sangat berbahaya bahkan lebih berbahaya dari ayahnya.


" Bagaimana ini? Apakah aku harus menghubungi Tuan besar atau tidak ya? Tapi ini adalah sebuah kejadian yang sangat besar. Kalau ada apa-apa pasti aku yang akan disalahkan oleh Tuan besar!" kepala pelayan kemudian memutuskan untuk menghubungi Markus tanpa sepengetahuan Sabrina.


Dengan sembunyi-sembunyi kepala pelayan kemudian menghubungi Markus bertujuan agar Sabrina tidak tahu apa yang dia lakukan.


" Halo Tuan. Nona Sabrina memerintahkan saya untuk mengumpulkan semua anak buah yang ada di Jakarta. Apa yang harus saya lakukan Tuan?'' tanya kepala pelayan kepada Markus yang langsung menggeram kesal luar biasa.


" Gadis bengal itu memang benar-benar sudah tidak bisa tertolong lagi. Cintanya kepada Stanley sudah benar-benar membutuhkan akal sehatnya. Sebaiknya kau ungsikanlah semua anak buah kita dari Jakarta. Jangan biarkan Sabrina menyentuh mereka. Aku tidak mau kehabisan anak buahku hanya untuk memenuhi Ambisi gila dari putriku!" ucap Markus memberikan keputusannya kepada kepala pelayan yang gemetar ketakutan.


" Tapi Tuan. Nona Sabrina mengatakan kalau saya tidak bisa menyelesaikan untuk segera mengumpulkan semua anak buah kita dalam waktu 1 jam, maka dia akan menembak kepala saya!'' ucap kepala pelayan benar-benar Dilema dan sangat ketakutan.


Markus menembus kesal mendengarkan permintaan itu. Dia seakan telah gagal untuk mendidik anaknya sendiri sehingga selalu bersikap gegabah dan merugikan organisasi.


" Akan banyak jatuh korban. Akan banyak anak-anak yang menjadi yatim, gara-gara perang itu. Perang konyol yang hanya untuk mebuat senang hati Sabrina yang sedang di mabuk Cinta terlarang kepada Stanley yang sekarang sudah memiliki Seorang Istri!" ucap Markus menerangkan segalanya kepada kepala pelayannya.


Kepala pelayan memang sudah tahu perihal Sabrina yang mencintai Stanley dan dia juga sangat tahu bahwa akan sangat sulit untuk menghindari perintah tersebut.


" Jadi sekarang Saya harus bagaimana Tuan?" tanya kepala pelayan dengan benar-benar pusing dan juga kalut sekali.


Pikirannya saat ini benar-benar sedang kacau dia tidak tahu harus melakukan apa.


" Heh tuh Bangka! Sedang apa kau di sini? Bukannya menuruti perintahku dengan mengumpulkan anak buah kita, kau di sini sedang apa?" tanya Sabrina sambil berkacak pinggang di hadapan kepala pelayan yang auto gemetar ketakutan.


Markus yang mendengarkan suara anaknya yang saat ini sedang marah menggelegar. Markus langsung nenutup panggilan telepon tersebut dan segera menuju Indonesia untuk menghentikan keburutalan sang anak.


" Aku tidak bisa membiarkan gadis bengal itu menghancurkan segalanya hanya untuk cinta butanya terhadap Stanley!" Markus kemudian langsung menghubungi beberapa anak buah yang penting yang akan dibawa bersamanya ke Indonesia sementara kepemimpinan organisasi di Meksiko diserahkan pada adiknya yang sangat dia percaya.


Markus sudah mempersiapkan pertarungan yang sangat besar dengan Stanley kalau benar-benar Sabrina tidak bisa diajak bicara baik-baik maka terpaksa pertarungan itu harus terjadi.


" Beginilah kalau mempunyai seorang putri yang sangat manja dan selalu mendapatkan semua yang dia inginkan. Sungguh merepotkan dan sangat menyebalkan!" rutuk Markus di sepanjang perjalanan.

__ADS_1


Markus tahu kalau Sabrina memang sangat mencintai Stanley dan selama ini sudah banyak melakukan hal gila untuk mendapatkan perhatian dari pria tampan itu.


Kekuatan Stanley tidak bisa dianggap remeh. Karena selain berprofesi sebagai CEO yang begitu terkenal di permukaan Stanley juga merupakan ketua organisasi mafia yang cukup handal di dunia bawah tanah.


" Tampaknya Sabrina sudah siap untuk mengubur semua kekuatan keluarga Alberto bersama dengan cintanya yang kandas. Baiklah tidak masalah asalkan membuat Sabrina bisa membuka matanya lebar-lebar bahwa cintanya itu tidak masuk akal!" Markus kemudian memerintahkan kepada anak buahnya untuk segera berangkat ke Indonesia karena waktunya yang sangat sempit dan sangat tidak memungkinkan untuk banyak persiapan.


Sementara itu Sabrina saat ini sedang mengamuk di hadapan kepala pelayannya yang sudah membangkang perintahnya.


" Kau sungguh berani tua bangka!" ucap Sabrina dengan menodongkan pistol ke arah kepala kepala pelayan yang sudah gemetar ketakutan.


Saat pelatuk itu hampir saja ditarik oleh Sabrina tiba-tiba ada seorang pemuda yang masuk ke dalam ruangan itu dan menghentikan semuanya.


" Hentikan semua kegilaanmu Sabrina!" ucap Matteo yang melihat sepupunya hampir saja membunuh kepala pelayan di kediaman itu.


Sabrina marah sekali dengan kelancangan Matteo yang sudah mengganggu dirinya yang hendak memberi hukuman kepada kepala pelayan yang membangkang dengan perintahnya.


" Mau apa kau Matteo? Pergilah Aku tidak membutuhkanmu!" usir Sabrina kepada Matteo yang langsung melotot sempurna.


" Dengarkan aku Sabrina! Aku diperintahkan oleh Paman Markus untuk mengurungmu di dalam kamar dan memastikan kalau kau tidak akan berbuat aneh-aneh!" ucap matteor yang langsung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Sabrina agar bisa dia kurung di dalam kamarnya sesuai dengan perintah dari Markus.


Sabrina yang mendengarkan perintah itu benar-benar sangat marah dan dia siap untuk meletuskan senjata di tangannya untuk membunuh Matteo.


" Sebenarnya aku berada di pihak siapa Matteo? Kenapa kau tidak mematuhi keinginanku?" tanya Sabrina yang mulai kehilangan akal.


Matteo kemudian membentuk tubuh Sabrina yang saat ini sedang gemetar. dia tahu kalau sepupunya itu sangat mencintai Stanley sejak dulu tetapi tidak pernah terjawab.


" Aku tahu penderitaanmu Sabrina. Tetapi dengarkan aku! Apa yang kau lakukan ini salah kalau kau membuat perang dengan Stanley itu hanya akan membuat dia semakin membencimu! Percayalah padaku aku pasti akan membantumu untuk mendapatkan Stanley!" ucap Matteo menjanjikan akan membantu Sabrina.


Sabrina yang awalnya matanya begitu liar dan nyalang kini semakin lembut matanya menatap mata Matteo.


" Apakah kau yakin kalau kau akan membantuku untuk mendapatkan Stanley?" tanya Sabrina sekali lagi ingin mengkonfirmasi semuanya kepada sepupunya yang dia kenal memang sejak dulu selalu menyayanginya.


Sejak dulu Mateo selalu melindungi Sabrina dan selalu menjadi Guardian Angel nya.


" Percayalah padaku Sabrina. Aku pasti akan membuatmu memiliki Stanley. Tetapi kau harus bersabar. Bukan dengan cara emosi seperti ini itu tidak akan mendapatkan apapun!" Matteo kemudian membisikkan sesuatu kepada Sabrina yang membuat Sabrina langsung bahagia.


" Benarkah kamu lakukannya Matteo?" tanya Sabrina dengan mata berbinar-binar.


" Memang sejak kapan, aku mengecewakan kamu? Sejak dulu aku selalu membuat kamu senang bukan dengan semua keinginanmu yang tercapai?" tanya Matteo sambil memeluk Sabrina yang langsung bahagia mendengarkan janjinya.


Maka mulai hari itu Sabrina dan Matteo melakukan kerjasama untuk membuat Stanley takluk ke tangannya.

__ADS_1


Kepala pelayan yang tadi sudah gemetar ketakutan karena hampir saja pelatuk pistol itu memecahkan kepalanya sekarang dia bisa bernapas legah setelah melihat Sabrina yang sudah berhasil dijinakkan oleh Matteo.


" Oh ya ampun Untung saja Tuan Matteo datang tepat waktu Kalau tidak aku pasti sudah jadi mayat! Nona Sabrina kalau sudah marah benar-benar sangat menakutkan!" kepala pelayan itu pun kemudian bangkit dan kemudian dia langsung kembali ke dalam kamarnya untuk menenangkan dirinya yang dari tadi Sport jantung gara-gara Sabrina.


__ADS_2