
Camelia mengalami kesulitan menelan salivanya sendiri ketika melihat Stanley yang saat ini sedang melotot ke arahnya.
" Bukan itu maksud saya. Aih, Maafkan tante Sakinah! Mulut Tante ini memang sangat sulit untuk dikendalikan." Camelia langsung keluar dari mobil dan memeluk Sakinah karena dia sangat takut dengan Stanley yang saat ini sedang melotot ke arahnya.
Bahkan beberapa orang Bodyguard sekarang sudah berdiri di belakang Stanley dengan tampang menyeramkan mereka.
Camelia benar-benar tidak bisa berkutik lagi apalagi secara terang-terangan dia telah menghina sakinah dan juga Stanley. Yang notabene sekarang mereka adalah tuan rumah dari acara yang sedang berlangsung.
Sakinah merasa bahwa tantenya memang sangat ketakutan kepada para pengawal yang saat ini sedang berdiri di belakang Stanley dengan tampang penuh kewaspadaan.
" Sayang kau suruhlah para pengawal kita untuk pergi dari sini. Karena tanteku merasa ketakutan melihat mereka!" pentas Sakinah kepada Stanley yang kemudian langsung memberikan kode untuk para pengawalnya meninggalkan mereka.
Salsabila tampak begitu takjub dengan kekuasaan seorang Stanley yang hanya dengan mengedipkan mata bisa langsung menggerakkan puluhan orang Bodyguard yang sejak tadi terus mengawasi mereka.
" Keren!" Salsabila begitu takjub melihat Stanley dan tanpa dia sadari dia telah menjadikan Stanley sebagai idolanya.
Gadis remaja yang masih berusia 17 tahun itu terus menetapkan Stanley yang saat ini sedang menggenggam telapak tangan Sakinah dengan erat.
" Tante daripada menginap di hotel. Sebaiknya tinggallah di sini. Bukankah kita sudah lama sekali tidak pernah bertemu? Sebentar lagi acara juga akan segera selesai tamu-tamu akan segera pulang!" Sakinah berusaha untuk bersikap ramah terhadap Camelia yang sejak tadi begitu ketakutan melihat Stanley yang menatapnya dengan tidak bersahabat.
" Sayang sepertinya mereka tidak akan nyaman untuk tinggal di sini bersama kita yang seorang mafia. Mereka pasti akan ketakutan kalau musuh-musuh ku datang ke tempat ini dan membunuh mereka satu demi satu. Apalagi bukankah kita harus segera bersiap untuk segera meninggalkan kota ini dan kembali ke Jakarta?" tanya Stanley sambil tersenyum kepada Sakinah.
Camelia benar-benar dibuat mati kutu oleh Stanley. Dia sudah gemetar ketakutan hanya dengan kata-katanya yang menusuk jantung.
" Katakan padaku!! Apakah kau benar-benar seorang ketua mafia?" tanya Camelia dengan begitu gugup dan ketakutan.
__ADS_1
John dan Salsabila yang sejak tadi terus memperhatikan interaksi antara Stanley, sakinah dan Camelia. Hanya bisa saling menatap satu sama lain.
" Pah! Apakah Mamahku akan ditembak oleh anak buah suaminya Sakinah? Lihatlah itu! Walaupun mereka sudah disuruh pergi tetapi pistol mereka masih stand by di tangan!" demi mendengarkan ucapan Salsabila Camelia sampai gemetar. Keringat dingin sudah mengucur dari sekujur tubuhnya yang semakin gemetar ketakutan saat dia melirik ke arah para pengawal yang seram bukan main dari sorot mata mereka.
" Benar aku adalah ketua dari organisasi mafia! di Jakarta Aku memiliki ribuan anak buah dan juga memiliki ratusan Kasino dan juga rumah bordil yang menjual pelacur. Aku bisa mengirim Putri mau ke sana kalau kau membuatku marah. Dia bisa di lelang dengan harga ribuan dolar oleh para onta arab yang paling hoby daun muda seperti putrimu itu!" ucapan Stanley benar-benar sukses membuat Camelia tidak bisa berkutik sama sekali.
Camelia langsung bersimpuh di bawah kaki Sakinah untuk meminta maaf atas semua kesalahannya terhadap keponakannya.
Camelia tidak mau kalau sampai putrinya dilelang kepada para onta Arab yang terkenal kejam dan suka menyiksa kepada para pelacur yang mereka beli atau sewa.
" Maafkan Tante Sakinah! Tante mohon, maafkan Tante, Sakinah!" Camelia matanya sampai berkaca-kaca.
Sakinah melirik alas Stanley dan memintanya untuk tidak menggoda bibinya lagi karena Sakinah benar-benar tidak tega melihat Camelia yang sudah sangat ketakutan.
John dan Salsabila hanya bisa meraup wajahnya dengan kasar. Ketika mereka mendengar semua yang dikatakan oleh Stanley yang sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti Camelia saja.
Mereka berdua pun baru kali ini bertemu dengan Stanley. Jadi tidak sepantasnya kalau istrinya itu dengan seenaknya saja langsung memberikan penilaian yang begitu buruk kepada suaminya Sakinah.
" Sudahlah tante." ucap Sakinah berusaha untuk menenangkan Camelia yang kelihatan begitu ketakutan kepada Stanley yang sejak tadi terus memasang wajah permusuhan terhadap tantenya.
" Sakinah. Kami lebih baik menginap di hotel saja. Lagi pula Hotel itu sudah kami pesan jauh-jauh hari. Sebelum kami merencanakan datang kemari. Baiklah kalau begitu kami semua permisi!" Jhon kemudian berpamitan kepada sakinah dan Stanley yang dengan berat hati melepaskan mereka.
" Hati-hati di jalan Om dan mohon maaf atas ketidaknyamanan kalian dalam menghadiri acara anak kami!" Sakinah benar-benar merasa tidak enak kepada keluarga tantenya yang bahkan harus meninggalkan rumah mereka dalam keadaan gemetar ketakutan.
Setelah keluarga Camelia meninggalkan rumah Sakinah. Tak lama kemudian, para tamu yang lain pun mulai satu demi satu berpamitan kembali ke rumah mereka masing-masing.
__ADS_1
" Ya ampun sayang! Kamu kenapa sih? Kok tadi sampai menakut-nakuti tanteku begitu? Tadi itu dia hampir terkencing-kencing di celana gara-gara kamu!" tegur Sakinah pada Stanley yang hanya bisa tertawa. Karena merasa lucu dengan Camelia yang hanya bisa ngomong di belakang istrinya. Akan tetapi ketika berhadapan dengan mereka berdua. Dia langsung melempem seperti kerupuk.
" Biarin aja Sayang. Orang kayak gitu tuh harus dikasih pelajaran sesekali. Supaya dia tidak mengumbar mulutnya yang seperti comberan itu!" Stanley benar-benar gemes dengan tipe-tipe wanita seperti Camelia yang hanya berani menggunjing di belakang tetapi tidak berani ketika berhadapan secara langsung dengan orang yang sudah dia caci maki di belakang punggung orang tersebut.
" Kau lihatkan sayang? Suaminya saja diam saja. Ketika tadi aku memberikan pelajaran kepada istrinya. Itu artinya bahwa pamanmu pun mengerti bahwa yang dilakukan istrinya adalah sebuah kesalahan!" Sakinah hanya bisa menggelengkan kepalanya kemudian meninggalkan suaminya.
Sakinah tahu bahwa berdebat dengan Stanley tidak akan pernah menang walau bagaimanapun caranya.
Karena suaminya yang intelektual itu sudah terbiasa menghadapi berbagai macam tipe orang di dalam kehidupannya sebagai seorang pimpinan sebuah organisasi besar. Sebagai seorang CEO dari perusahaan yang memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia.
" Terserah kamu lah!" akhirnya Sakinah pun menyerah untuk berdebat dengan suaminya.
Stanley yang saat ini sedang duduk di sofa dan merenggangkan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah acara yang seharian dihadiri olehnya bersama sang istri tercinta.
" Ah, akhirnya selesai juga acara yang sangat melelahkan ini! Sayang! Ayo kita bersiap untuk segera kembali ke Jakarta. Rasanya aku sudah tidak sabar untuk kembali ke mansion-ku!" Stanley kemudian bangkit dari sofa dan masuk ke dalam kamar mereka.
Sakinah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya yang kekanakan menurutnya. Tetapi Sakinah merasa bahagia karena suaminya berada di sisinya saat acara akikah putra mereka. Alih- alih berada di kapal pesiar bersama rekan-rekan bisnisnya yang lain.
Sakinah sangat tahu kericuhan macam apa yang ada di dalam kapal pesiar ketika para CEO itu sudah berkumpul di satu tempat.
Alkohol, judi, wanita, dan maksiat lainnya semua berkumpul di sana. Oleh karena itu Sakinah benar-benar merasa bahagia dan mengapresiasi Apa yang dilakukan oleh Stanley demi membuatnya tidak marah terhadap sang suami.
Sakinah dengan dibantu oleh beberapa pelayan yang bekerja di rumahnya. Dia mulai menyiapkan barang-barang mereka yang di anggao penting yang akan dibawa ke Mansion yang ada di Jakarta.
" Barang-barang Sean usahakan untuk terbawa semua. Karena kalau ditinggal di sini pun percuma tidak akan ada yang menggunakan. Untuk barang-barangku, biarkan saja ditinggal di sini. Siapa tahu aku sesekali akan datang kemari untuk menengok Bi Warsih dan juga perusahaan!" ucap Sakinah memberikan perintah kepada pelayan yang saat ini sedang membantunya.
__ADS_1
Setelah selesai semua barang-barang di packing di dalam koper. Mereka pun segera menyiapkan ke ruang tamu. Agar besok ketika helikopter datang untuk menjemput mereka, mereka tinggal berangkat saja. Stanley menginginkan perjalanan aman untuk keluarganya makanya dia memilih helikopter.