Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
119. Menyerah??


__ADS_3

Mely kemudian pergi ke kampung halamannya dan akhirnya menikah di sana dengan tunangannya yang bahagia akhirnya Mely mau juga menikah dengannya.


' Biarlah tidak apa-apa menikah dengan Okan. Toh dia juga pria yang tampan dan juga berada. Orang tua dia kaya, walaupun kalau dibandingkan dengan Tuan Fic, apalagi Tuan Stanley, mereka bukan apa-apa.' bathin Mely.


***


Sakinah hari ini berniat ingin mengunjungi suaminya yang katanya akan bertemu dengan klien dari Swiss. Sakinah hanya ingin tahu saja tipe seperti apakah klien dari luar negeri yang tadi malam diceritakan oleh suaminya.


" Apa aku akan ganggu ya?" monolog Sakinah ketika dia sudah berada di depan kantor suaminya. Agak ragu, tetapi dia sangat penasaran. Dengan menggandeng tangan Sean, Sakinah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor suaminya yang dulu merupakan tempat kerjanya juga.


Para karyawan menyambut kedatangan Sakinah dengan senang. Karena selama ini Sakinah memang jarang datang ke kantor Stanley. Sakinah lebih suka di rumah dan keluar hanya bila ada keperluan saja.


" Apakah klien Tuan Stanley sudah datang?" tanya Sakinah pada sekretaris Stanley yang duduk di depan pintu ruangan suaminya.


Sekretaris Stanley pun berdiri hanya untuk menyambut dan menghormati nyonya besarnya. " Sudan Nyonya. Ada di ruangan meeting. Apa mau saya beritahukan kedatangan anda kepada tuan Stanley?" tanya sang sekretaris kepada Sakinah.


" Hmm, aku akan menunggu di ruangan suamiku saja." Sakinah akhirnya memutuskan untuk tidak mengganggu suaminya.


Bagaimanapun Sakinah tidak mau menghalangi sikap profesional sang suami dengan urusan pribadi. Ya, Sakinah berubah pikiran untuk bertemu dengan klien suaminya yang sejak semalam membuat Sakinah penasaran sekali.


" Baiklah Nyonya. Saya akan menyampaikan kepada Tuhan Stanley Kalau Anda menunggunya di ruangan dia." ucap sekretaris yang kemudian meninggalkan Sakinah untuk pergi ke ruang meeting.


Akan tetapi gerak langkahnya terhenti karena suara Sakinah yang menghentikannya.


" Tidak usah. Aku akan menunggunya di sana. Biarkan suamiku menyelesaikan urusannya." Sakinah kemudian melangkahkan kakinya bersama putranya yang tercinta.


" Baiklah," sekretaris Stanley begitu terpesona melihat ketampanan Sean yang sudah mewarisi ketampanan ayahnya sejak kecil.


Sakinah menatap kantor suaminya yang begitu mewah dan luas.


" Hmmm, dulu kantor ini menjadi tempat impian para karyawan wanita yang bekerja di sini untuk menjadi istri pemiliknya. Tidak di sangka, malah aku yang tidak pernah menginginkannya, malah yang berada di sini dengan status sebagai istrinya. Dunia memang aneh sekali," ujar Sakinah melihat ke sekeliling.


Sakinah memang sangat jarang sekali datang ke kantor Stanley. Jadi dia terkadang masih suka excited kalau berada di ruangan suami tercintanya.

__ADS_1


" Mommy, where my daddy?" tanya Sean pada Sakinah.


" Sean!! Pakai bahasa Indonesia saja!! Kamu masih kecil, belajar bahasa Inggris di mana?" tanya Sakinah kepada Sean.


" Daddy setiap malam selalu mengajariku keberbicara bahasa Inggris. Mommy, Aku adalah calon pemilik ruangan ini aku harus lebih pintar daripada karyawanku!" Sakinah benar-benar terkejut mendengar ucapan putranya yang masih kecil tetapi sudah memiliki kosakata seorang dewasa.


" Daddy yang ajari kamu bicara begitu?" tanya Sakinah sambil mengerutkan keningnya.


Sakinah sudah menduganya ketika melihat putranya menganggukan kepala dengan begitu yakin.


" Baiklah sayang. Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di kantor milik Daddy kamu ini? Supaya kamu bisa melihat, sebesar apa kantor yang kelak akan kau miliki ketika kau sudah dewasa nanti!" Sakinah tersenyum kepada putra kesayangannya.


Saat Sakinah hendak bangun dan berniat untuk keluar dari ruangan itu. Tiba-tiba saja Stanley dan Fic masuk ke dalam ruangannya.


" Tampaknya tuan Raymond puas dengan presentasi yang tadi kita sampaikan," ucap Fic kepada Stanley yang terlihat mengangguk.


" Kau benar Fic. Teruslah jalin kerjasama dengan perusahaannya. Apalagi perusahaan Kingford memiliki jaringan luas sampai ke luar negeri bahkan yang aku dengar ayahnya juga seorang mafia di Meksiko. David Kingford sejak dulu sudah melegenda di dunia mafia!" Stanley terkejut ketika dia menatap ke dalam ruangannya, ternyata melihat sakinah dan juga Sean.


Sekretaris Stanley memang sengaja tidak memberitahukan keberadaan syafi'inah di dalam ruangannya untuk memberikan kejutan kepada bos besarnya.


Sakinah begitu penasaran ketika mendengar standing berbicara tentang Raymond Kingford yang merupakan temannya sewaktu kecil dulu.


' Apakah itu Raymond yang sama ataukah Raymond yang berbeda?' bathin Sakinah.


" Bos saya kembali ke ruanganku dulu. Kalau butuh apa-apa. Telepon lah saya!" Fic segera meninggalkan ruangan Stanley. Setelah dia melihat Sakinah dan juga Sean berada di sana juga.


Fic tidak ingin mengganggu family time di antara mereka. Toh, Sakinah juga tidak setiap hari berada di kantor Stanley.


" Tadinya aku penasaran sekali ingin bertemu dengan klienmu, sayang. Tapi aku kemudian berubah pikiran ketika sudah ada di sini. Karena aku takut akan mengganggu," Sakinah kemudian mengecup bibir suaminya secara sekilas sebagai salam pertemuan untuk keduanya.


Stanley sangat bahagia dengan istrinya yang begitu pengertian dengan dirinya.


" Kita udah buat janji temu untuk makan siang dengan Raymond dan team dia. Ikutlah denganku, sekalian kita bisa makan bersama. Dia juga membawa putrinya yang masih kecil. Nanti bisa main bersama Sean." Ucap Stanley.

__ADS_1


Sakinah lumayan terkejut mendengar seorang CEO membawa putrinya untuk bekerja.


" Dia tidak punya ibu sejak lahir dan sangat lengket dengan ayahnya. Jangan heran ya, sayang. Akan tetapi pengasuhnya selalu bersama dia kok, jadi tidak akan mengganggu pembicaraan bisnis." Stanley menjelaskan hal yang menjadi pertanyaan Sakinah tadi.


Sakinah cukup takjub dengan kemampuan suaminya yang selalu mengerti apapun yang ada di dalam pikiran dan hatinya.


" Baiklah, kami akan ikut. Aku benar-benar sangat penasaran dengan klienmu itu!" ucap Sakinah sambil tersenyum kepada Stanley.


Stanley mengurutkan keningnya karena heran dengan sang istri yang tidak biasanya.


" Kenapa kau merasa penasaran dengan klienku ini, sayang? Perasaan sebelumnya kau biasa saja dengan semua klien aku!" Stanley terlihat tidak suka lebih tepatnya cemburu dengan hal itu.


Sakinah tersenyum melihat respon dan reaksi sang suami. " Entahlah aku merasa familiar saja dengan nama Raymond. Aku hanya penasaran. Apakah dia Sahabat masa kecilku ataukah bukan." ucap Stanley sambil mengulas senyum kepada Stanley.


" O, lalu apa yang akan kau lakukan kalau dia adalah sahabat masa kecil kamu?" tanya Stanley sambil mencium pipi Sean yang ada di dalam pelukannya.


" Daddy!! Mommy bilang saat berbicara dengan Mami harus menggunakan bahasa Indonesia tidak boleh menggunakan bahasa Inggris!" Sean mengadukan apa yang tadi dikatakan oleh Sakinah kepada Stanley.


Stanley senyum mendengarkan ucapan Sean, " Mommy kamu benar sayang. Sebaiknya kau berbicara Bahasa Indonesia ketika kau bertemu dengan orang Indonesia. Gunakan Bahasa Inggris hanya untuk orang luar negeri saja! Paham jagoanku?" Stanley pun kemudian mencium pipi putranya sekali lagi.


Dalam sekejap Stanley sudah melupakan pembicaraannya bersama Sakinah tadi. Soal Raymond. Karena Stanley lebih fokus untuk bermain bersama putranya yang sangat jarang mengunjungi dirinya di kantor.


Stanley cukup kenal dengan karakter istrinya yang lebih menyukai kesunyian daripada keramaian hiruk pikuk kantor yang berisik dengan aneka ragam orang yang bekerja di sana.


" Baiklah sayang. Ayo kita bersiap-siap untuk pergi ke restoran dan makan siang bersama dengan klienku. Ayo jagoan Daddy!! Lets going on!" Stanley langsung menggendong putranya dengan penuh kebahagiaan.


Stanley sangat bangga dengan putranya yang merupakan calon pewaris dari perusahaan miliknya yang besar.


" Daddy, tadi aku dan Mommy hendak berjalan-jalan untuk melihat perusahaan ini. Akan tetapi Daddy keburu datang. Jadi kami tidak melakukannya. Apakah bisa Daddy sekarang mengajakku berkeliling? Aku ingin melihat sebesar apakah perusahaan yang akan menjadi milikku kelak!" Sean mengoceh dengan mulut mungilnya yang membuat Stanley menggelengkan kepalanya.


" Baiklah sayang!! Ayo kita jalan-jalan sebentar, sambil ke ruangan Om Fic." Stanley kemudian menggandeng lengan Sakinah dan berjalan beriringan ke ruangan Fic yang masih sibuk dengan berkas-berkas yang akan di bawa ke restoran.


" Fic tinggalkan saja berkas-berkas itu. Biarkan kita gunakan acara makan siang ini untuk sesuatu yang non formal. Jangan terlalu stress dengan urusan bisnis!" Stanley mengingatkan Fic.

__ADS_1


" Baiklah bos!" Fic kemudian meletakkan kembali berkas-berkas yang tadi disiapkan di brankas mililnya


" Ayo kita berangkat sekarang!" ucap Stanley yang kemudian berjalan di depan Fic bersama Sakinah dan Sean yang sangat bahagia setelah berjalan-jalan bersama Daddynya.


__ADS_2