Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
12. Mengalah dulu


__ADS_3

Stanley tahu bahwa Bi Warsih bukanlah pembantu biasa. Melihat dari cara Sakinah memperlakukan pembantu tersebut dengan begitu hormat dan tampak sangat akrab sekali.


" Baiklah Sakinah untuk malam ini aku akan pulang dulu. Besok pagi-pagi aku akan datang lagi kemari untuk menjemputmu supaya kita berangkat ke kantor sama-sama!" ucap Stanley sambil bangkit dari kursi dan kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


" Maafkan saya tuan Stanley. Tetapi saya sudah bukan karyawan anda lagi sekarang. Saya menetap di Jakarta hanya menunggu proses pengadilan perceraian saya bersama dengan suami saya. Setelah itu saya akan kembali ke desa saya dan melanjutkan hidup saya di sana!" ucap Sakinah sambil menundukkan pandangannya.


Stanley benar-benar gemes kalau sudah berhadapan dengan Sakinah dan Sakinah tidak mau menatap wajahnya.


" Aku tidak peduli kalaupun kamu udah resign dari kantor aku. Pokoknya besok kau harus ikut denganku ke kantor. Nanti Aku akan memberikan jabatan baru untukmu yang lebih tinggi dari jabatanmu yang kemarin!" ucap Stanley bersikeras dan tidak ingin ditolak oleh Sakinah.


Sakinah hanya menggelengkan kepalanya melihat karakteristik Stanley yang selalu saja egois dan tidak pernah mau mengalah kepada siapapun.


" Sungguh kasihan yang menjadi istrinya nanti. Oh Tuhan! Dia pasti setiap hari pusing memikirkan kelakuan suaminya yang tidak pernah mau mengalah dan selalu mau mengatur segala hal supaya selalu ada di bawah telunjuknya! Ckckckc!" ucap Sakinah lirih sambil menggelengkan kepalanya.


" Tapi percayalah wanita yang menjadi istriku pasti adalah wanita yang paling beruntung karena dia akan kucintai dengan sepenuh hati!" Sakinah sampai terkejut setengah mati ketika tiba-tiba saja Stanley sudah berada di hadapannya lagi dan tersenyum kepadanya.


Sakinah terus-menerus mengelus dadanya. Sambil mengucapkan istighfar untuk mengekspresikan rasa kaget, bahkan sampai sekarang masih belum reda, semua itu gara-gara perbuatan Stanley yang muncul tiba-tiba di hadapannya saat dia hendak menutup pintu apartemennya.


" Aku hanya mau mengucapkan selamat malam kepadamu!" ucap Stanley sambil tersenyum manis sekali.


Entah kenapa Sakinah merasa jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat cepat, melihat senyum Stanley yang begitu eksklusif diberikan hanya kepadanya.


Sakinah sangat tahu bahwa Stanley selama ini selalu dingin dan juga introvert ketika berada di kantor.

__ADS_1


Sangat jarang sekali melihat Stanley tersenyum ketika dalam mode bekerja dia selalu 100% serius dan sangat membosankan bagi Sakinah.


Apalagi kalau sifat Stanley yang suka sekali semena-mena kepadanya sudah keluar, itu jelas benar-benar membuat Sakinah sangat tidak nyaman bahkan cenderung membenci laki-laki itu.


Seandainya Sakinah tahu bahwa Stanley melakukan itu adalah karena dia sedang mencari perhatian terhadap Sakinah pasti perasaan Sakinah akan merasa senang.


Stanley walaupun selalu menghabiskan malam bersama para wanita. Tetapi dia tidak pernah menyerahkan rasa cintanya kepada mereka.


Sakinah adalah wanita pertama yang benar-benar telah berhasil menyentuh relung hati Stanley yang sudah lama sekali tertutup.


Setelah kepergian Stanley, Sakinah masuk kamarnya dan memutuskan untuk langsung tidur. Karena dia pun tidak ada mood untuk mengobrol. Apalagi besok pagi-pagi dia harus mengantarkan Bibi Warsih kembali ke desa.


Walaupun Bi Warsih bersikeras untuk tidak diantarkan olehnya saat pulang ke desa. Tetapi Sakinah benar-benar tidak tega kalau harus membiarkan wanita paruh baya yang sudah banyak berjasa terhadap keluarganya itu kembali ke desa sendirian.


Semua kenangan ketika dia berada di kantor dan selalu diganggu oleh Stanley terus saja berputar di kepalanya.


" Ayolah Sakinah! Berhentilah ?emikirkan orang yang bukan hakmu. Tidurlah dan selesaikan urusanmu di Jakarta. Kemudian kembali ke desa dan mulailah hidupmu yang baru di sana. Lupakan semua hal yang ada di Jakarta!" ucap Sakinah mensugesti dirinya sendiri sambil terus memukul kedua pipinya dengan kedua tangan agar dirinya sadar dengan kenyataan yang ada di hadapannya.


Sakinah sangat tahu tentang Stanley yang selalu bergenta-ganti pasangan dan dia tidak menyukai laki-laki semacam itu.


Sakinah berharap bahwa suami yang akan menjadi imamnya kelak adalah laki-laki Sholeh yang akan membimbingnya menuju ke surganya Allah.


" Ya Allah kirimkanlah laki-laki sholeh untuk menjadi suamiku dan jauhkanlah laki-laki jahiliyah dari kehidupanku! Amien!" setelah mengucapkan doa itu Sakinah kemudian langsung memejamkan matanya dan berusaha untuk terlelap.

__ADS_1


Sementara itu Stanley yang saat ini sedang berdiri di balkon apartemennya. Dia kembali membayangkan pertemuannya dengan Sakinah yang tanpa diduga-duga.


" Memang yang namanya jodoh tuh nggak akan ke mana! Dulu aku membayarnya dari suaminya dengan harga yang sangat mahal, dia tidak datang ke kamar yang sudah aku pesan. Eh, tiba-tiba saja sekarang dia datang langsung ke hadapanku dan tinggal di gedungku, setelah dia mengurus gugatan perceraian dia dengan suami sampahnya itu!" monolog Stanley dengan begitu bahagia memikirkan alur hidupnya dengan Sakinah yang begitu lancar.


Seandainya Stanley mengetahui apa yang ada di dalam pikiran Sakinah. Mungkin dia tidak akan sebahagia itu. Karena bagi Sakinah Stanley bukanlah tipenya untuk di jadikan seorang suami masa depannya.


Sakinah dulu menikah dengan Reynaldi hanya karena perjodohan yang dipaksakan oleh kedua orang tuanya karena hutang sang ayah.


Sekarang Sakinah sudah memiliki kehidupan yang mapan dan menjadi wanita yang sangat mandiri. Dia bisa memilih laki-laki manapun yang dia inginkan untuk menjadi suaminya. Tidak akan sembarangan lagi menyerahkan hidupnya kepada laki-laki yang tidak sesuai dengan kriterianya.


Sementara itu Robert sang asisten tiba-tiba sudah berada di belakang Stanley dan hendak melaporkan sesuatu kepadanya.


" Lapor tuan! Tadi Renaldi, mantan suami dari Sakinah. Dia telah datang ke kasino dan dia sudah menyerahkan pembayaran hutangnya kepada kita!" ucap Robert dengan nada datar ketika dia melaporkan hal tersebut kepada Stanley.


" Tidak apa-apa. Kita terima saja uang itu. Lagi pula aku sudah tidak membutuhkan pria sampah itu lagi untuk mendapatkan Sakinah. Sakinah sekarang sudah berada di hadapanku dan berada di dalam genggamanku! Aku bisa mendapatkannya kapanpun aku mau!" Ucap Stanley dengan penuh rasa percaya diri.


Robert merasa senang karena bosnya tidak memaksa dia lagi untuk mendapatkan Sakinah melalui mantan suaminya yang sangat susah diatur oleh dirinya.


" Baiklah Bos sekarang juga saya akan pergi dan menyelesaikan pelunasan hutang yang sudah dibayarkan oleh Renaldi!" ucap Roberts mengundurkan diri dari hadapan Stanley.


" Tunggu!"


" Ya bos, ada apa?"

__ADS_1


" Pastikan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mengganggu Sakinah lagi. Suruh dia untuk segera menandatangani surat perceraian itu, kalau dia tidak mau, tambahkan bunga pinjamannya sebanyak 200% kalau dia tidak bisa membayarnya patahkan saja kaki dan tangannya!" ucap Stanley memberikan perintah tegas kepada Robert yang langsung ngeri mendengarnya.


__ADS_2