
Sakinah saat ini sedang bersiap-siap untuk menemui investor baru yang akan datang ke perusahaannya. Sesuai dengan janji temu yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak sejak satu minggu yang lalu.
" Agnes, apa semua filenya sudah kau persiapkan?" tanya Sakinah pada asistennya yang sejak tadi pagi sudah sibuk mempersiapkan semua kebutuhan pertemuan mereka.
" Sudah Nyonya. Semuanya sudah saya siapkan di meja kerja anda!" ucap Agnes sambil tersenyum kepada Sakinah.
" Nyonya duduklah di kuris. Saya benar-benar tidak tega melihat anda begitu sibuk ke sana kemari. Sementara kandungan anda sudah semakin membesar!" ucap Agnes ngeri-ngeri sedap melihat Sakinah yang begitu semangat dalam bekerja.
Sakinah yang merasa bahwa dirinya sekarang adalah ibu tunggal. Dia merasa harus segera mempersiapkan masa depan untuk putranya.
" Aku baik-baik saja Agnes. Justru kalau aku diam saja, aku malah menjadi pusing!" ucap Sakinah mengulas senyum kepada asistennya.
" Nyonya memang tipe wanita yang suka bekerja keras saya sangat salut sekali!" ucap Agnes begitu bangga memiliki atasan seperti Sakinah yang selain baik dia pun sangat perhatian kepada para karyawannya.
Bi Warsih menyerahkan semua pekerjaan di pabrik maupun perkebunan kepada Sakinah karena dia sekarang sudah mulai sakit-sakitan dan tidak sanggup untuk bekerja lagi. Sakinah juga sudah meminta kepada Bi Warsih untuk pensiun dan menyerahkan semua tanggung jawab pekerjaan kepadanya.
" Tenang saja! Saya baik-baik saja Agnes. Kau bisa melakukan pekerjaanmu dengan tenang! Ayo sekarang aku akan mengecek catering dan juga lokasi pertemuan kita!" ucap Sakinah yang sudah bersiap untuk meninggalkan kantornya.
Akan tetapi security tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan Sakinah.
" Tuan James dari Singapore sudah datang!" ucapnya pada Sakinah.
Sakinah menatap kepada Agnes kemudian dia melihat jam di pergelangan tangannya.
" Bukankah katamu mereka akan datang jam 10.00 pagi?" tanya Sakinah pada Agnes.
" Saya tidak tahu Nyonya mungkin mereka mempercepat pertemuannya?" tanya Agnes.
Sakinah hanya menggelengkan kepalanya mendengarkan jawaban dari asistennya.
" Baiklah ayo kita keluar jangan sampai mereka menunggu kita terlalu lama!" ucap Sakinah yang kemudian menyuruh Agnes untuk membawa berkas-berkas yang sudah dipersiapkan oleh mereka sejak kemarin.
Dengan percaya diri Sakinah melangkahkan kakinya untuk menemui James dan Albert. Ya, nama samarana Stanley adalah James. Sementara Fic bernama Albert sebagai asisten dari James.
Entah Stanley mendapatkan identitas mereka dari mana. Sehingga telah sukses membuat Sakinah percaya dengan identitas palsu mereka yang sengaja di siapkan oleh Stanley dengan matang sempurna.
__ADS_1
Sementara itu Stanley yang saat ini sedang berdebar jantungnya sangat kencang karena pertemuan kembali bersama Sakinah, setelah perpisahan mereka yang hampir 5 bulan lamanya terjadi.
Stanley berusaha sangat keras sekali untuk bisa bersikap normal.
" Apa yang harus aku lakukan Fic?" tanya Stanley merasa gugup saat ekor matanya melihat Sakinah yang saat ini sedang melangkah ke arahnya dengan ditemani oleh seorang gadis cantik di sampingnya.
Fic tanpa kesulitan menelan salivanya ketika melihat Agnes yang berdiri di samping Sakinah.
" Tuan Kenapa Agnes bisa ada di sini?" tanya Fic merasa frustasi.
Bagaimana tidak?? Agnes adalah musuh bebuyutan Fic ketika bekerja di perusahaan milik Stanley.
Agnes pernah beberapa kali mendaftar sebagai asisten Stanley tetapi selalu gagal. Karena Fic yang selalu mendapatkan nilai sempurna di dalam setiap tes yang diberikan oleh Stanley.
Oleh karena itulah hubungan mereka berdua menjadi semakin memanas. Agnes selalu menganggap Fic sebagai saingannya.
Entah bagaimana caranya Agnes tiba-tiba menjadi asisten Sakinah dan bekerja di perusahaannya.
" Halo Tuan James apa kabarnya?" tanya Sakinah dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
" Tuan James!" ucap Sakinah mencoba untuk menyadarkan Stanley yang saat ini masih terpaku menatap Sakinah yang berada di hadapannya tetapi tidak mengenalinya.
Fic menyenggol bahu Stanley untuk menyadarkannya dari lamunannya.
" Ah maaf!! Saya pasti terlalu lelah karena melakukan perjalanan yang jauh!" ucap Stanley dengan begitu gugup sambil memperbaiki kacamatanya yang tadi sempat melorot karena Stanley yang hampir saja berlari untuk memeluk Sakinah.
" Baiklah tidak masalah. Saya mengerti anda pasti sangat lelah setelah perjalanan yang jauh ke tempat kami!" ucap Sakinah yang kemudian mempersilahkan Stanley dan juga Fic untuk masuk ke dalam ruangan yang sudah dipersiapkan oleh perusahaannya dalam menyambut kedatangan mereka berdua.
" Baiklah Tuan James! Anda ingin beristirahat dulu atau kita langsung membahas tentang pekerjaan dan kerjasama diantara kedua perusahaan kita?" tanya Sakinah yang tampak begitu Pro dengan perannya sebagai CEO di perusahaan itu.
Stanley tidak pernah menyadari kalau istrinya ternyata memiliki jiwa seorang pemimpin yang begitu kuat.
" Bagaimana kalau kita beristirahat dulu? Jujur saja kepala saya masih pusing sekali setelah melakukan perjalanan darat yang begini jauh!" ucap Stanley sambil terus menatap Sakinah yang sangat dia rindukan.
Sakinah kemudian melirik kepada Agnes.
__ADS_1
" Agnes. Apakah kau sudah menyiapkan ruangan untuk Tuan James dan Tuan Albert beristirahat?" tanya Sakinah pada Agnes yang sejak tadi terus memperhatikan Fic.
Entah kenapa Agnes merasa hatinya seakan mengenal Albert yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap dia.
" Agnes!! Kamu kenapa sih? Dari tadi Aku memanggilmu. Kau seperti yang tidak konsentrasi!" ucap Sakinah menegur Agnes.
" Maafkan saya Nyonya Sakinah. Saya hanya merasa bahwa saya seperti familiar dengan Tuan Albert!" ucap Agnes berbisik pada sakinah.
Sakinah melotot ke arah Agnes, " Bagaimana caranya kau bisa familiar kepada Tuan Albert? Sementara kalian berdua baru bertemu kali ini? Sudahlah Agnes toh jangan membuat semuanya jadi rumit. Apakah ruangan untuk Tuan James istirahat sudah siap?" tanya Sakinah pada Agnes.
" Sudah Nyonya! Mari saya antarkan mereka ke tempat yang sudah saya sediakan!" ucap Agnes yang kemudian bangkit dan bersiap Untuk mengantarkan Fic dan Stanley.
Sakinah bangkit dari tempat duduknya akan tetapi tanpa kesulitan karena perutnya yang sudah membuncit.
" Ahhhh," tampak Sakinah yang meringis kesakitan ketika dia bangkit.
Stanley yang melihat Sakinah tadi hampir jatuh otomatis langsung berlari ke arahnya dan mencoba untuk menolong.
" Anda tidak apa-apa?" tanya Stanley pada Sakinah yang terlihat begitu gugup melihat cara Stanley menatapnya.
" Saya tidak apa-apa terima kasih Tuan James sudah menolong saya. Maklumlah namanya juga bumil ya beginilah. Semuanya serba terbatas!" ucap Sakinah yang meringis pada Stanley.
Stanley yang benar-benar sangat merindukan Sakinah hampir saja tidak bisa menahan diri untuk mencium bibir Sakinah.
Untung saja Stanley sudah diingatkan beberapa kali oleh Fic agar tidak lupa diri. Sehingga penyamaran mereka berdua tidak akan dicurigai oleh Sakinah.
" Baiklah Tuan James. Selamat beristirahat. Saya akan kembali ke ruangan saya dulu. Karena harus mengurus pekerjaan saya yang lain. Setelah dzuhur kita akan bertemu lagi di ruangan ini!" ucap Sakinah sambil pamit kepada Stanley yang matanya hampir berkaca-kaca karena melihat Sakinah kembali di hadapannya setelah lima bulan berpisah dengannya. Hati Stanley mencelos seketika melihat Sakinah yang kesulitan berjalan karena kehamilannya yang semakin membesar.
Hati Stanley menghangat melihat istrinya yang saat ini sedang mengandung anaknya.
Rasanya perjuangan mereka berdua berpisah terbayar lunas. Ketika Stanley melihat kandungan sakinah yang begitu sehat. Terlihat dari wajah Sakinah yang begitu cerah dan bercahaya. Terlihat semakin cantik di mata Stanley yang memang bucin tingkat dewa pada istrinya yang tercinta.
Stanley terlihat masih membeku di tempat sehingga airnya Fic perlu menyenggol lengannya untuk membuat Stanley kembali sadar dan kembali ke alam realita.
Mereka berdua pun kemudian mengikuti Agnes dan masuk ke sebuah ruangan di mana terdapat dua buah ranjang yang sudah siap di sana.
__ADS_1