
Sakinah menuruti apa yang dikatakan oleh suaminya. Mereka kemudian meninggalkan Rumah Sakit dengan perasaan yang sangat pilu karena kehilangan orang yang mereka sayangi.
Pemakaman dijalankan dengan khidmat para anak buah stenlis semuanya hadir dan memberikan penghormatan terakhir kepada wakil pimpinan organisasi dan juga sahabat Stanley yang selama ini selalu mendampingi bos besar mereka.
Tidak banyak yang bisa dikatakan oleh mereka. Karena mereka semua tahu tentang pengorbanan serta pengabdian Fic terhadap organisasi mereka.
Flash back off
Mark terlihat begitu tegar dengan kematian ayahnya. Stanley terus menatap wajah anak tanggung itu yang wajahnya benar-benar mirip seperti Fic ketika seusinya dulu.
" Fic! Damailah kau di sana dan lihatlah bahwa aku pasti akan mengurus anak-anak kamu. Aku juga akan mencari keberadaan putrimu. Sesuai dengan amanat yang kau berikan padaku, sebelum kau meninggal. Percaya padaku Fic!" Sakinah menyentuh bahu suaminya dengan lembut. Karena dia tidak mau kalau sampai Stanley juga mengalami tekanan batin seperti Fic.
Sakinah sangat mencintai Stanley dan dia tidak mau kalau suaminya harus menghabiskan hidupnya dengan kesedihan.
" Sayang sudahlah jangan bersedih lagi. Belajarlah untuk mengikhlaskan Fic Kasihan dia di alam sana kalau sampai kau tidak mau melelaskan kepergian dia. Ingatlah sayang semua makhluk yang bernyawa di atas dunia ini pasti kelak akan kembali kepada yang maha kuasa." Sakinah memeluk tubuh suaminya yang terlihat begitu pucat.
Sakinah bisa merasakan kesedihan suaminya yang begitu besar. Ya sejak meninggalnya Fic, Stanley seperti kehilangan sebelah tangannya yang sangat berarti. Stanley sudah menganggap Fic sebagai bagian dari hidupnya sebagai saudara dan juga sebagai sahabatnya.
" Hanya karena kesalahan setitik, rusak susu sebelanga. Kesalahan Fic malam itu telah menghancurkan semua kebaikan yang dimiliki oleh Fic di hati keluarganya. Sayang, Aku benar-benar merasa sangat bersalah pada Fic. Kalau saja seandainya malam itu Aku tidak memaksa Fic untuk mewakiliku untuk hadir di pertemuan kapal pesiar, pasti semua ini tidak akan pernah terjadi. Pasti sejarah hidup ini akan berubah menjadi kisah yang manis. Fic akan tetap hidup bahagia bersama dengan istrinya dan juga anaknya. Tidak akan ada kesedihan di sini," Stanley menunjuk dadanya yang sekarang terasa begitu sakit dan pilu.
Sakinah tahu bahwa perasaan merasa bersalah itu suatu saat pasti akan terus menggerogoti suaminya.
Sakinah hanya bisa memeluk suaminya dengan berusaha untuk memberikan dukungan dan juga hiburan terbaik untuk sang suami tercinta.
__ADS_1
" Aku akan mengerahkan detektif terbaik untuk mencari keberadaan Amanda. Atau paling ekstrem, aku akan memaksa Agnes untuk mengatakan kepada temannya itu membawa pergi Amanda," terlihat binar amarah di mata Stanley.
Sakinah jadi merasa bersalah dan serba salah. Di mana dirinya akan berpihak saat ini. dipandang dari sudut seorang laki-laki. Apa yang dilakukan oleh Agnes adalah sebuah kesalahan. Karena terlalu memikirkan keegoisan dirinya sendiri tanpa mempedulikan bagaimana perasaan suami nya yang sedang berusaha mencuci perasaan berdosanya terhadap anak kandungnya sendiri.
Akan tetapi kalau dipandang dari sudut seorang wanita semua yang dilakukan oleh Agnes adalah sesuatu yang wajar. Sakinah sebagai seorang wanita bisa memahami. Bagaimana perasaan Agnes saat ini.
Hati wanita manakah yang akan rela melihat suaminya setiap hari selalu memikirkan anak dari wanita lain? Sudah cukup bagus, Agnes mengirimkan Amanda ke keluarga konglomerat yang sekarang tinggal di Italia. Alih-alih mengirimkan ke jalanan sebagai pembalasan dendam di hatinya.
' Kalau aku di posisi Agnes mungkin tidak akan pernah mampu melakukan hal demikian. Agnes adalah wanita yang hebat. Aku tidak akan mau kalau sampai suamiku terus memikirkan masalah ini hingga tak berkesudahan. Anakku juga butuh ayahnya.' Sakinah terus menatap suaminya yang saat ini masih melamun di atas balkon kamarnya
Mark dan Sean saat ini sedang asik bermain di kolam renang keluarga Craig. Stanley terus memperhatikan mereka berdua.
" Mereka berdua benar-benar sama percis seperti aku dulu bersama dengan Fic. Aku berharap mereka berdua bisa menjadi sahabat yang tak terpisahkan." Sakinah mengangguk kemudian meminta kepada suaminya untuk masuk ke dalam kamar.
Stanley meraup wajahnya dengan pasar mendengar semua yang dikatakan istrinya.
" Kau benar sayang. Baiklah aku akan berusaha untuk melupakan semua ini. Sayang, kalau kita pergi berlibur ke Italia bagaimana? Sudah cukup lama keluarga kita tidak berlibur." tanya Stanley pada Sakinah yang ingin menebus hari-harinya yang telah lewat ketika dirinya begitu sibuk mengurus permasalahan Fic dan juga anak-anaknya.
Sakinah hanya bisa mengangguk mencoba untuk mengerti semua usaha yang sedang dilakukan oleh suaminya demi keutuhan rumah tangga mereka.
" Lakukanlah semua yang ingin kau lakukan. Aku akan selalu menuruti semuanya. Asal kau merasa bahagia dan tidak sedih lagi," Sakinah kemudian memeluk tubuh suaminya dan mencium bibirnya dengan lembut.
Sakinah benar-benar merindukan suaminya yang sejak Fic meninggal lebih banyak melamun dan bersedih.
__ADS_1
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam kamar dan melepaskan semua kerinduan yang hampir satu bulan ini mereka berdua begitu sibuk dengan masalah Fic yang masuk ke rumah sakit dan kemudian meninggal. Setelah itu Stanley sibuk dengan pencarian Amanda demi amanah yang sudah diberikan oleh Fic sebelum menghembuskan nafas yang terakhir.
" Sayang! Terima kasih karena kau mau memahami dan mau mengerti semua yang sedang terjadi dalam hidupku sekarang. Maafkan aku yang kurang memperhatikanmu akhir-akhir ini. Sayang, aku berjanji setelah menemukan Amanda aku akan menyerahkan dia kepada Raymond dan setelah itu kita bisa menjalani kehidupan kita secara normal seperti dulu lagi." Stanley mencium kening istrinya yang sudah lebih dari 10 tahun mendampingi hidupnya dengan penuh pengertian dan cinta kasih.
Stanley sangat tahu apa saja yang sudah dilalui oleh Sakinah selama ini sebagai istri dari bos sebuah organisasi mafia.
" Tenanglah aku akan selalu mendukungmu dan akan selalu berada di sampingmu. Kau tidak usah sedih lagi. Sayang, Aku tidak mau kalau kau mengalami nasib seperti Fic yang harus meninggal karena tekanan batin dan juga pikiran bersalahnya sendiri. Aku mohon! Aku mohon kau berdamailah dengan masa lalumu dan lupakanlah semua itu. Karena itu bukanlah kesalahanmu." Sakinah berusaha untuk membuka jalan pikiran suaminya agar tidak selalu merasa bersalah kepada Fic.
" Semua yang terjadi di dalam hidup seseorang adalah merupakan takdir yang harus dia jalani. Kita manusia hanya tinggal menjalani dengan iklas dan sekuat tenaga agar tidak melakukan sebuah kesalahan yang kelak akan kita sesali." Sakinah memeluk suaminya yang terlihat meneteskan air mata kesedihannya.
Perasaan Sakinah saat ini benar-benar pilu. Melihat suaminya yang sepertinya akan sangat sulit untuk melepaskan masalah yang mengganjal di hatinya.
" Ikhlaskan dan doa kan Fic agar bisa beristirahat dengan tenang di sana. Lanjutkan hidupmu dengan bahagia. Aku yakin Fic pasti tidak ingin kalau melihatmu terus sedih karena masalah itu!" Sakinah meraup wajah suaminya dengan kedua tangannya.
" Dan yang lebih penting di atas segalanya, ada kehidupan lain di sini," Sakinah mengajarkan lengan suaminya ke perutnya yang masih terlihat rata ,"Dia dan aku yang sangat membutuhkan dirimu sebagai ayah dan suamiku yang tercinta." Stanley terkesiap mendengar apa yang dikatakan istrinya.
" Sayang? Kau, kau hamil?" tanya Stanley seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya.
" Ya, sayang. Selama ini aku berusaha untuk mencari waktu yang tepat untuk dapat menyampaikan ini semua padamu." Stanley begitu bahagia mendengar kabar gembira dari istrinya.
" Terima kasih sayang," Stanley langsung memeluk tubuh polos Sakinah ke dalam pelukan hangatnya.
Sakinah sangat bahagia melihat kebahagiaan di wajah suaminya yang sudah lama tidak terlihat karena tertutup awan mendung.
__ADS_1
" Aku mohon berbahagialah seperti saat ini agar anakmu mengetahui bahwa ayahnya bahagia dengan kehadirannya," ucap Sakinah berbisik di telinga Stanley.