Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
116. Pesan Terakhir Vivian


__ADS_3

Vivian dan Raymond saat ini sudah berada di rumah sakit dan bersiap untuk melahirkan.


" Vivian Tenanglah aku akan selalu di sini bersamamu dan mendampingimu! Yakinlah! Kalau Kau pasti bisa untuk melakukan ini!" Raymond berusaha untuk menguatkan dan juga memberikan semangat kepada Vivian yang sebentar lagi akan melahirkan seorang putri untuk rumah tangga mereka.


Sementara itu di luar kamar persalinan, terlihat Raja dan Tiara yang sedang panik menunggu kelahiran putri Vivian yang sudah mereka anggap sebagai cucu mereka sendiri. Walaupun mereka sudah tahu kalau anak itu bukanlah milik Raymond Putra mereka.


" Rupanya perasaan menunggu sesuatu itu benar-benar sangat menyebalkan!" terlihat Raja yang sekarang menggenggam telapak tangan istrinya.


" Sabarlah sebentar lagi kita akan dipanggil kakek oleh anak Vivian. Aih, rasanya aku pun sudah tidak sabar untuk menggendong cucu pertama kita." Tiara terlihat tersenyum.


Sudah hampir 5 jam mereka menunggu di depan ruangan persalinan tetapi masih belum ada pergerakan apapun.


Sementara itu Vivian yang berada di dalam ruang persalinan bersama dengan Raymond sedang berjuang mati-matian untuk bisa melahirkan putrinya.


" Semangat sayang kau harus kuat demi Putri kita!" ucap Raymond terus berusaha untuk memberikan semangat kepada Vivian yang sekarang wajahnya bahkan sudah pucat karena terlalu banyak mengeluarkan darah.


Vivian tersenyum kepada Raymond dan merasa bersyukur kepada laki-laki itu yang selama dia mengandung telah begitu memberikan banyak support dan semangat kepadanya.


" Terima kasih Raymond atas semua yang sudah kau berikan dan semua yang telah kau lakukan untukku dan juga putriku. Kelak kalau putriku sudah dewasa. Kau boleh memperkenalkan Amanda Lorez kepada ayah kandungnya yang bernama Fic Lorez ada di Jakarta. Terserah kepadanya akan mengakui putrinya atau tidak. Tolong sampaikan maafku kepada kedua orang tuamu!" Vivian memberikan pesan terakhirnya kepada Raymond sebelum Dia menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Raymond tiba-tiba merasakan hatinya begitu sedih mendengar semua yang dikatakan oleh Vivian yang tiba-tiba saja terkulai lemah setelah putrinya lahir dengan selamat.


" Yang sabar ya Tuan. Nyonya Vivian sudah meninggal dalam damai. Selama ini Nyonya Vivian sudah benar-benar berjuang sangat keras untuk bisa mengandung anak ini. Padahal dirinya sedang mengidap penyakit kanker rahim yang sangat ganas. Syukurlah dia bisa berhasil melewati semuanya sampai putrinya lahir dengan selamat." dokter terlihat begitu prihatin saat melihat Vivian yang wajahnya pucat dan sekarang sudah mulai mendingin.


Raymond terkejut mendengar keterangan dari dokter. " Apa? Vivian mempunyai penyakit kanker rahim? Kenapa anda tidak pernah memberitahukannya kepada saya setiap kali kami menjalani pemeriksaan kehamilan?" tanya Raymond dengan sangat kecewa kepada dokter tersebut.


" Maafkan saya tuan Raymond. Semua ini adalah kehendak dan juga keinginan dari Nyonya Vivian. Dia khawatir kalau misalkan anda mengetahui tentang penyakitnya. Pasti anda akan memintanya untuk menggugurkan kandungan dia. Sementara dia Ingin sekali memberikan kenangan terakhir untuk Anda yang sudah begitu baik menerimanya sebagai istrimu." Raymond merasakan kesedihan luar biasa setelah mendengarkan semua yang dikatakan oleh sang dokter.

__ADS_1


Raymond kemudian keluar dari ruangan persalinan dengan menggendong Amanda yang masih merah dan terlihat begitu cantik.



Raymond merasakan hatinya saat ini benar-benar sedang sedih atas kelahiran Amanda Lorez yang ternyata harus mengorbankan nyawa ibunya.


Raymond keluar dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Raja dan Tiara merasa heran melihat Putra mereka keluar menggendong anaknya Vivian akan tetapi dengan air mata kesedihan yang begitu kentara di wajahnya yang tampan.


" Raymond apa yang terjadi Sayang? Kenapa kau menangis? Bukankah kelahiran seorang anak itu harus disambut dengan kebahagiaan dan senyuman?" tanya Tiara yang kemudian menyongsong putranya yang masih terisak.


Raja memeluk dengan erat bayi merah yang begitu cantik yang ada di tangan Raymond.


" Mah Vivian sudah meninggal setelah melahirkan Amanda ternyata selama ini dia memiliki penyakit kanker rahim stadium empat. Setiap hari dia selalu menahan rasa sakitnya hanya untuk bisa melahirkan Amanda ke dunia ini. Huhuhu!" Raymond menangis terisak diperlukan ibunya.


Selama ini mereka tidak peka dengan apa yang terjadi kepada Vivian.


Tiara hanya bisa memeluk putranya tidak bisa berkata apapun lagi karena dia pun saat ini masih belum percaya dengan berita tersebut.


Tiara kembali mengingat masa-masa kebersamaannya bersama Vivian. memang sejak Vivian bersiap untuk melahirkan Tiara dan Raja memutuskan untuk tinggal di Swiss dan menemani mereka sampai akhirnya Vivian melahirkan sekarang.


" Maaf kami harus segera membawa bayinya ke dalam ruang bayi." ucap suster yang kemudian mengambil Amanda di dalam pelukan Raja.


Raja memberikan Amanda kepada suster setelah selesai mengadzankannya dan juga mengkomatkannya.


Raymond sampai saat ini masih belum percaya bahwa wanita yang selalu dia tunggu cintanya Ternyata harus berakhir di liang lahat.

__ADS_1


Raymond masih menatap gundukan tanah merah yang telah menutup tubuh Vivian dengan tanah merah yang masih basah.


Raymond sampai saat ini masih menangis karena tidak mempercayai bahwa dirinya benar-benar telah kehilangan Vivian.


" Vivian. Kenapa kau tega sekali kepadaku? Selama ini aku selalu menunggumu untuk bisa mencintaiku dan menerima pernikahan kita. Akan tetapi kenapa kau memberikan begitu banyak luka seperti ini kepadaku? Aku kecewa kepadamu Vivian. Karena kau tidak percaya denganku. Kau menyembunyikan penyakitmu begitu saja dariku dan aku tidak kau berikan kesempatan untuk berjuang mengobatimu! Kamu benar-benar seorang wanita yang sangat keji!" Raymond terus bermonolog dengan dirinya sendiri seakan sedang berbicara dengan Vivian.


Tiara dan Raja yang saat ini juga sedang merasa sedih dengan meninggalnya Vivian tidak sanggup melihat putranya yang seperti linglung dan tidak bisa dibujuk untuk segera meninggalkan pemakaman.


" Raymond Ayo kita pulang sebentar lagi sudah mau magrib dan cuaca juga tampaknya mulai mendung. Ayah pulang nak. Di rumah Amanda sedang menunggu kita. b


Bukankah kau sudah dipasrahi dan diamanahi oleh Vivian untuk mengurusnya dengan baik? Lakukan itu kalau kau memang benar-benar mencintai Vivian. lakukan itu untuk membuktikan cintamu kepadanya!" Raja berusaha untuk menasehati putranya yang masih menangis di pusara Vivian.


Raymond selama ini sangat mencintai Vivian dan dia tahu kalau Vivian telah menghadapi begitu banyak penderitaan di dunia ini karena cinta yang selalu menyakitinya.


" Aku ingin di sini Pah tolong jangan ganggu aku. Aku mohon! Hiks hiks!" Raymond menangis terisak di atas Pusara yang bertuliskan nama Vivian.


Tiara kemudian mendekati putranya.


" Dengarkan kami Raymond! Kau menangis seperti ini benar-benar tidak mencintainya sama sekali. Kau sedang memberikan petir dan badai di dalam perjalanan Vivian menuju ke robnya!! Bangkitlah dan ikhlas kepergian Vivian. Karena Sesungguhnya setiap manusia yang bernyawa pasti akan kembali kepada rabb-nya yang telah menciptakan manusia di atas dunia ini. Diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Itu adalah ketentuan dN kodrat yang sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan iklas untuk mengiringi kepergian orang yang sudah meninggal. Bukan dengan air mata seperti ini!" Tiara berusaha menasehati fotonya dengan suara gemetar.


Tiara pun saat ini sedang merasakan kesedihan yang sama seperti putranya. Tetapi dia sadar bahwa menangisi orang yang meninggal secara berlebihan bukanlah cara untuk menunjukkan cinta terhadap mereka.


" Ayolah Nak! Ikutlah pulang bersama kami!" Raja kembali membujuk Raymond yang akhirnya mau bangun setelah mendengarkan ucapan ibunya.


Raymond sekali lagi mengusap Batu Nisan yang tertuliskan nama Vivian.


" Vivian! Aku berjanji aku akan merawat putrimu dengan baik. Dan suatu saat aku akan melakukan apa yang kau pesankan kepadaku di penghujung Nafasmu." Raymond kemudian meninggalkan Pusara tempat jenazah Vivian yang mulai saat ini akan tinggal di sana untuk selamanya.

__ADS_1


Setelah mencium batu nisan Vivian, Raymond pun kemudian meninggalkan area pemakaman dengan lunglai dan lemas. Kesedihannya masih begitu kentara di wajahnya.


__ADS_2