Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
88. Rindu


__ADS_3

Sakinah yang saat ini sedang disibukkan dengan mengurus bayinya tampak begitu bahagia dan tidak terlalu memikirkan tentang kerinduannya akan sang suami yang ada di Jakarta. Sakinah sangat mengerti dengan kesibukan Stanley yang pasti bejibun.


Apalagi sampai saat ini Fic masih berada di kampung halaman Agnes. Karena Fic masih belum bisa membujuk Agnes untuk ikut bersamanya ke Jakarta dan menjalani rumah tangga secara normal seperti orang lain.


" Mau berapa lama kita menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini? Kita selalu saja saling berjauhan dan tidak pernah bersama. Agnes! Apa kau tidak berpikir kalau rumah tangga kita terlalu aneh?" tanya Fic pada saat mereka berada di teras rumah milik Mirah.


Menikmati bulan purnama yang begitu indah dan menenangkan.


" Aku lebih suka tinggal di desa aku sudah bosan tinggal di Jakarta! Pergilah! Kalau kau ingin bekerja di Jakarta. Aku tidak keberatan sama sekali. Nanti kau bisa pulang kemari satu bulan sekali ataupun sesempatnya dirimu!" ucap Agnes sambil tersenyum kepada Fic yang mendesah frustasi karena sangat sulit sekali untuk meyakinkan istrinya agar mau mengikuti dirinya.


" Bagaimana mungkin kita bisa menjalani kehidupan seperti itu? Bagaimana nanti kalau anak kita sudah lahir? Apa kau tidak memikirkan perkembangan mental mereka karena jauh dari ayahnya?" Fic tetap berusaha untuk meyakinkan Agnes agar tidak keras kepala lagi dan mau menurut dengan dia.


" Kau tahu kan? Aku baru saja merintis perusahaan. Bagaimana mungkin aku kemudian pergi meninggalkannya begitu saja?" tanya Agnes masih bersikeras dan tidak mau mengalah kepada suaminya.


Fic menarik nafasnya dalam-dalam. Sungguh sangat sulit sekali untuk meyakinkan Agnes tetapi Fic yakin kalau dia bisa dan mampu untuk membawa istrinya ke Jakarta dan hidup bersamanya. Bila perlu Fic akan menggotong Agnes untuk masuk ke dalam mobilnya dan membuat Agnes menetap bersamanya.


" Kau jual lah perusahaan itu! Aku yakin di desa ini pasti banyak orang yang tertarik dengn perusahaan kamu. Kalau misalkan kau tidak mau menjual perusahaan itu, berikan saja kepada mamamu dan kita akan menempatkan beberapa orang yang bisa kita percaya untuk membantu Mamamu di sini. Aku pikir, Mama bisa kita ajarin untuk memanage perusahaan itu. Apalagi kalau keuntungan dari perusahaan itu lumayan. Mama selain mempunyai kegiatan yang produktif Mama juga akan memiliki waktu yang berkualitas!" Agnes memikirkan apa yang dikatakan oleh Fic.


" Nanti aku akan bertanya kepada Ibuku. Apakah dia mau kalau aku pasrahi untuk mengelola perusahaan. Kau tahu kan? Kalau Mamaku hanya lulusan SMA. Aku merasa sanksi. Apakah Mama benar-benar bisa melakukan itu? Memanage sebuah perusahaan tidak sama seperti mengolah padi di sawah!" ucap Agnes meragu.


Fic mengerti semua yang dikatakan oleh Agnes adalah kebenaran yang hakiki. Tapi dia yakin kalau dia bisa memberikan arahan dan juga pengajaran kepada Ibu mertuanya agar bisa mengelola perusahaan yang saat ini didirikan oleh Agnes dan saat ini perusahaan itu sudah mulai berkembang.

__ADS_1


" Kamu jangan khawatir Agnes! Mama pasti akan berusaha untuk mengembangkan perusahaan milikmu. Kau Pergilah bersama dengan suamimu. Bagaimanapun tempat seorang Istri adalah di samping suaminya! Mama tidak mau karena kamu berat terhadap mama malah mengorbankan suamimu dan juga rumah tangga kalian!" Mirah akhirnya angkat bicara karena dia sudah merasa kasihan kepada Fic yang sejak kemarin selalu saja membujuk Agnes untuk ikut dengannya ke Jakarta.


" Dengarkan Mama Nak! Seorang wanita ketika sudah menikah, maka dia memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada suaminya. Apalagi sebentar lagi kalian akan memiliki anak. Agnes, anakmu pasti akan mencari ayahnya suatu saat nanti. Walaupun ibarat kata kau sudah tidak membutuhkan seorang suami!" demi mendengarkan ucapan dari Mirah Agnes sampai tersipu malu.


" Mama bicara apa?" tanya Agnes sambil menatap tajam kepada Mirah.


" Apa yang dikatakan oleh Mama benar. Sayang! Anak kita pasti akan membutuhkan aku sebagai ayahnya! Tolonglah kau bisa mengerti kesulitan yang sedang Ku hadapi! Aku pun memiliki kewajiban di perusahaan dan juga organisasi untuk membantu Tuan Stanley sebagai asistennya dan juga orang kepercayaannya!" Fic benar-benar tidak pernah menyerah untuk meyakinkan Agnes.


" Lihatlah betapa baiknya Tuan Stanley kepada kita. Dia bahkan sampai rela mengerahkan semua anak buahnya untuk bisa menemukanmu! Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Bos sebaik dia? Bos yang tidak pernah memandang rendah diriku. Walaupun aku hanya asistennya!" terlihat Fic yang menundukkan kepalanya dan seakan merasa sedih dengan semua yang terjadi di dalam hidupnya.


Agnes bisa merasakan kesedihan Fic saat ini. Akan tetapi untuk kembali ke Jakarta pada saat ini, Agnes juga benar-benar belum siap.


" Kau kembalilah dulu ke Jakarta. Nanti kalau aku sudah siap untuk menjalani pernikahan kita secara normal. Aku akan menyusulmu ke Jakarta!" Fic sebenarnya bahagia dengan keputusan Agnes seperti itu. Akan tetapi dia tidak akan tenang kalau harus berpisah dengan istri dan juga calon bayinya.


" Kau tahu Agnes? Di dalam hidupku. Aku tidak pernah memohon seperti saat ini aku memohon kepadamu. Akan tetapi kalau permohonanku tidak berarti untukmu, maka aku tidak bisa berbuat banyak!" Fic kemudian bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamar mereka.


Mirah menatap Agnes dengan lekat dan berusaha membujuk putrinya agar tidak keras kepala lagi.


" Ikutin nasehat mama sayang. Kalau suatu saat kau kehilangan suami seperti dia, maka Kau pasti akan menyesalinya!" merah pun kemudian masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Allah yang masih tampak memikirkan apa yang dikatakan ibunya saat Agnes melihat teks yang membawa kopernya seketika hati Agnes merasa sedih.


" Baiklah aku akan ikut denganmu. Tapi tolong beri aku waktu satu atau dua hari untuk bisa mengajari ibuku agar bisa mengurus perusahaan aku!" akan tetapi Fic langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Selama satu minggu aku berada di tempat ini. Aku sudah banyak mengajari Mamah untuk memanage perusahaan. Aku yakin Mama pasti sudah mampu untuk berdikari. Selain itu aku juga sudah mewawancarai beberapa orang yang sangat ahli dan pasti bisa membantu mama dalam bekerja dengan baik! Sayang, tenanglah! Aku juga tidak akan mungkin melepaskan hasil kerja kerasmu begitu saja!" Fic menggenggam telapak tangan Agnes dengan lembut dan berusaha untuk meyakinkan istrinya bahwa semua sudah berada dalam kendalinya.


" Percayalah padaku sekali lagi!" Agnes akhirnya menganggukan kepala.


Setelah itu terlihat Mirah yang mengeluarkan koper milik Agnes yang ternyata sudah dipersiapkan oleh ibunya sejak tadi pagi.


" Rupanya kalian berdua sudah berkolusi ingin mengusirku dari Desa ini!" protes Agnes sambil cemberut ke arah Fic yang tersenyum kepadanya.


" Kalau kita pergi ketika kehamilanmu sudah besar. Pasti akan banyak kerepotan di jalan. Tolong mengerti yang sedang aku lakukan ini. Semua ini adalah untuk kebaikanmu dan juga anak di dalam kandunganmu!" Agnes berusaha untuk percaya dengan semua yang dilakukan oleh Fic adalah untuk kebaikan keluarga mereka.


Mirah tampak meneteskan air matanya ketika melepaskan yang akan membawa putrinya menuju Jakarta.


Para preman kampung yang kemarin menghajar Fic dan kalah hanya dalam hitungan menit, dari kejauhan tampak mereka terus menatap Fic dan Agnes yang sebentar lagi akan berangkat ke Jakarta.


" Bos kelihatannya benar kalau mereka itu suami istri. Lihatlah itu. Nyonya Agnes akan mengikutinya pergi dari desa kita!"


" Sepertinya laki-laki itu menjemput Agnes untuk tinggal bersamanya!"


" Diam kalian semua! Semua ucapan kalian cuma membuat kepalaku pusing!" Aldo kemudian memilih untuk meninggalkan tempat itu kembali ke markas besar milik mereka.


Hati Aldo sampai saat ini masih panas mengetahui ternyata suami Agnes bukanlah orang sembarangan bahkan merupakan Master taekwondo yang dalam waktu 5 menit saja sudah berhasil melumpuhkan 10 anak buahnya yang ditakuti di desa itu.

__ADS_1


" Awas aja suatu saat aku pasti bisa merebut Agnes dari laki-laki itu!" ucap Aldo.


__ADS_2