
Fic langsung masuk ke dalam ruangan Agnes tetapi Agnes terlihat begitu sibuk dengan pekerjaannya.
" Sayang, maafkan aku!" ucap Fic berusaha untuk membujuk Agnes.
Akan tetapi Agnes hanya menarik nafasnya. Kemudian melirik sekilas ke arah Fic dan melanjutkan kembali pekerjaan yang ada di atas mejanya yang menumpuk begitu banyak.
" Ayolah sayang! Jangan menyiksaku begini! Aku mohon, maafkan aku!" Pinta Fic sambil menarik tangan Agnes agar memperhatikan dirinya yang saat ini sedang bicara padanya.
" Tuan Albert!! Seperti yang Anda lihat! Di atas mejaku ini, ada banyak pekerjaanku. Aku tidak punya waktu untuk melayani keusilan anda! Minggir dan jangan ganggu aku!" ucap Agnes dengan sengit.
Fic kesulitan menelan salivanya sendiri melihat emosi di mata Agnes yang langsung menusuk jantung.
" Baiklah, aku akan kembali ke ruangan aku. Nanti makan siang aku akan ke mari lagi untuk menjemput kamu!" ucap Fic akhirnya menyerah dan membiarkan Agnes untuk bekerja.
" Tidak usah datang ke mari. Karena aku sudah ada janji makan siang dengan kekasih aku!" ucap Agnes tanpa melihat ke arah Fic.
Fic terperanjat mendengarkan apa yang dikatakan Agnes.
" Apa? Kekasih?" tanya Fic seperti linglung.
" Ya!! Kekasih!! Percis seperti yang Anda dengar. Hari ini dia akan melamar saya. Karena dia katanya ga bisa hidup tanpa saya!" demi mendengar ucapan Agnes kepala Fic terasa begitu pening.
Fic terus menatap Agnes yang seperti begitu ringan dan begitu santai menanggapi hubungan keduanya.
" Kita masih menikah! Bagaimana mungkin kau akan menerima lamaran dari laki-laki lain? Aku masih suami kamu!" ucap Fic dengan emosi.
" Suami di atas kertas! Asal kamu ingat! Kamu tidak pernah melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang suami, selama hampir bertahun-tahun lamanya dan rasanya kau sudah tidak punya hak untuk memandangnya lagi!" cicit Agnes menyadarkan Fic akan status mereka selama ini.
" Bukankah itu karena kamu yang pergi tanpa kabar dan berita?" elak Fic menanggapi semua perkataan dari Agnes yang sejujurnya menohok hati Fic.
Padahal Fic sudah membayangkan dirinya akan memperbaiki hubungannya bersama dengan Agnes. Setelah kejadian kemarin. Akan tetapi semuanya seperti diterbangkan ke awan begitu saja oleh kata-kata Agnes.
" Baiklah kau boleh menerima lamaran dari kekasihmu yanv tercinta. Aku akan segera mengurus proses perceraian kita berdua!" ucap Fic dengan emosi dan kecemburuan di hatinya. Fic kemudian keluar dari ruangan Agnes dengan mengepalkan kedua tangan karena emosi yang membuncah di dadanya.
__ADS_1
Hati Agnes mencelos seketika mendengarkan ucapan dari suaminya.
" Dasar laki-laki yang tidak peka! Seharusnya dia memperjuangkan pernikahan kami. Bukannya menyerah seperti itu seperti yang ga mencintai aku sama sekali. Atau memang selama ini dia tidak pernah mencintaiku?" monolog Agnes dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya Agnes mengatakan kata-kata Tadi hanya untuk melihat reaksi Fix saja. Hanya ingin mengetahui apa yang akan dia lakukan. Tetapi semuanya sekarang telah berakhir. Fic sudah memutuskan akan mengurus perceraian mereka.
" Baiklah tidak masalah mungkin memang ini adalah yang terbaik untuk kami berdua!" ucap Agnes pada akhirnya menyerah juga.
Hati Agnes sudah terlalu lelah menanggapi Fic yang sepertinya tidak pernah ingin memperjuangkan rumah tangga mereka yang selama ini hanya berstatus di atas keras saja.
Agnes tidak ingin mengemis cinta terhadap suaminya. Jadi dia akan melakukan apapun yang akan disodorkan oleh Fic. Agnes sudah memutuskan akan menerima apapun keputusannya dalam rumah tangga mereka.
Tanpa disadari air mata Agnes telah mengalir di kelopak matanya. Agnes tiba-tiba merasakan kesedihan yang luar biasa di dalam hatinya. Ketika mengingat apa yang dikatakan oleh Fic.
Sementara itu Fic yang sekarang berada di dalam ruangannya. Tampak sedang mengamuk besar. Dia melemparkan semua file yang ada di atas mejanya tanpa berpikir panjang sama sekali.
Emosi dan kecemburuan di hatinya saat ini sedang berkecamuk. Nafas Fic naik turun dengan cepat. Matanya nyalang menatap ke sekeliling dan berkali-kali Fic menarik nafasnya dengan begitu dalam berusaha untuk menenangkan hatinya yang saat ini sedang kacau.
" Aaaaaaa, Sialan!! Tahu akan begini, lebih baik kami tidak usah bertemu lagi untuk selamanya. Daripada lebih menyakitkan lagi dari sebelumnya!" ucap Fic seakan menyesali pertemuannya kembali dengan Agnes yang telah menorehkan luka di hatinya semakin besar dan tak berdarah.
" Tolong segera urus kasus perceraianku bersama istriku! Tolong urus segera secepatnya!" ucap Fic langsung menutup panggilan telepon tersebut setelah memberikan instruksi kepada pengacaranya.
Sementara itu Agnes yang saat ini sedang berada di depan pintu ruangan Fic, dia terkejut bukan kepalang ketika tanpa sengaja dia mendengarkan perkataan Fic kepada pengacaranya.
Agnes datang ke ruangan Fic untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya. Bahwa yang dia katakan hanya sebuah dusta untuk membuat Fic marah. Akan tetapi, Agnes mendengar percakapan antara Fic dengan pengacaranya yang sedang memerintahkan untuk mengurus proses perceraian mereka.
Dengan tubuh lunglai Agnes kemudian memutuskan untuk meninggalkan ruangan Fic dan menuju ke ruangannya sendiri.
Sakinah yang saat ini masuk ke dalam ruangan Agnes. Dia tampak mengerutkan keningnya melihat asistennya yang tampak begitu sedih dan pucat wajahnya.
" Agnes kalau kau sakit Pulanglah Jangan memaksakan diri untuk bekerja!" ucap Sakinah pada Agnes.
Terlihat Sakinah sangat mengkhawatirkan kondisi asistennya. Siapa yang menyangka Kalau Agnes malah berlari ke dalam pelukan sakitnya dan menangis sesegukan di sana.
__ADS_1
" Aku akan bercerai dengan suamiku! Hiks hiks!" Sakinah terkejut mendengarkan ucapan Agnes. Dia baru tahu kalau asistennya ternyata sudah menikah.
Sakinah hanya mengelus punggung Agnes dan berusaha untuk menghiburnya. Agar menjadi lebih baik. Sakinah membiarkan asistennya untuk menangis dan meluahkan segala perasaan yang ada di hatinya.
" Menangislah kalau itu bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik. Jangan memendam perasaan di hatimu. Karena itu akan menjadi sebuah penyakit tanpa kita sadari!" nasehat Sakinah kepada asistennya.
Sakinah tidak ingin bertanya apapun kepada Agnes. Karena dia tahu pasti Agnes belum siap untuk menceritakan apapun kepadanya.
Sekitar 1 jam lamanya Agnes menangis di dalam pelukan Sakinah. Sehingga tersisa segukan terakhir yang membuat Sakinah senang. Ya, akhirnya Agnes merasa lebih baik perasaan nya setelah menumpahkan segalanya melalui air matanya.
" Maafkan saya Nyonya Sakinah. Karena sudah mengganggu waktu anda begitu banyak dengan kecengengan saya dan masalah pribadi saya. Saya benar-benar sudah memperlihatkan sikap tidak profesional saya dihadapan anda!" ucap Agnes sambil tersenyum malu tidak berani menatap Sakinah yang sejak tadi hanya tersenyum kepadanya.
" Santailah Agnes. Sekarang setelah perasaanmu lebih baik, kau bisa beristirahat di rumahmu. Besok ketika hatimu sudah mulai plong. Kau bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu!" ucap Sakinah memberikan izin kepada Agnes untuk pulang ke rumahnya.
Agnes hanya terkesiap mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sakinah kepadanya.
Sakinah adalah atasannya yang paling baik. Sepanjang Dia memiliki karir sebagai asisten dan sekretaris di dunia profesional.
" Tidak apa-apa Nyonya. Saya bisa bekerja hari ini. Perasaan saya sudah lebih baik sekarang!" ucap Agnes.
Akan tetapi Sakinah menggelengkan kepalanya. " Tidak Agnes. Pulanglah ke rumah kamu dan istrahat dengan baik. Karena wajahmu saat ini sangat bengkak dan tidak cantik. Apakah kau mau klien kita melihat dirimu yang tidak profesional seperti ini?" tanya Sakinah dengan nada berkelakar sehingga membuat Agnes meringis karena malu.
" Baiklah Nyonya Sakinah. Sekarang aku akan pulang dulu. Besok setelah perasaan aku lebih baik, aku akan bekerja lagi! Terima kasih atas kebaikan anda yang mau memahami perasaan saya saat ini!" ucap Agnes merasa sangat malu dan tidak enak kepada Sakinah.
Sakinah hanya melakukan kepalanya dan memberikan waktu kepada Agnes untuk menenangkan dirinya di rumah.
" Rileks dan bersantailah. Lakukan apapun yang kau inginkan selama masa cuti yang kuberikan ini. Aku harap Setelah Kau Kembali Kau sudah bisa menangani pekerjaanmu lagi seperti sebelumnya!" ucap Sakinah mengulas senyum kepada Agnes.
Agnes yang saat ini memang merasa terasa sangat sesak hatinya. Dia pun setuju dengan ide dari Sakinah untuk melakukan liburan.
" Maafkan saya Nyonya! Sepertinya saya ingin berlibur ke luar kota untuk menenangkan perasaan saya saat ini. Apakah boleh saya meminta cuti selama satu minggu?" tanya Agnes pada Sakinah.
" Yah lakukanlah! Kalau kau memang merasa membutuhkannya! Bukankah selama ini kau tidak pernah mengambil jatah hatimu kau bisa mengambilnya sekarang!" ucap Sakinah dengan begitu pengertian kepada Agnes.
__ADS_1
Karena merasa bahagia. Agnes kemudian langsung memeluk Sakinah dan langsung berpamitan. Karena dia akan segera bersiap-siap untuk pergi ke luar kota dan merilekskan otaknya yang saat ini sedang pening gara-gara masalah nya dengan Fic.
" Nyonya. Tolong jangan beritahukan kepada siapapun tentang kepergian saya!" pesan Agnes saat dia keluar dari ruangannya untuk pergi menuju ke kontrakannya.