
Vivian merasa sangat bahagia sekali. Setelah kapal pesiar yang ditumpanginya sekarang sudah mulai berlayar.
Dengan begitu percaya diri Vivian ikut bergabung dengan para CEO perusahaan terkenal yang ada di kota Jakarta yang bergabung dalam klub kapal pesiar.
Mereka saat ini sedang berkumpul di area restoran yang ada di dalam kapal pesiar dan tampak percakapan hangat ketika mereka makan malam bersama.
Vivian tampak mengerutkan keningnya ketika melihat di sekeliling restoran itu dia tidak menemukan keberadaan Stanley.
" Apakah semua anggota sudah masuk ke restoran semua?" tanya Vivian kepada pelayan yang ada di restoran.
" Semuanya sudah ada di restoran, Nyonya?"
" Lalu kenapa aku tidak bisa menemukan Tuan Stanley Craig dari Craig grup?" tanya Vivian sambil mengerutkan keningnya dengan dalam.
" Tuan Stanley tiba-tiba ada urusan yang mendesak. Sehingga membuatnya akhirnya turun pada saat kapal pesiar hendak berlayar. Perusahaannya diwakilkan oleh asisten dan juga direktur operasionalnya!" Vivian benar-benar terkejut luar biasa mendengarkan informasi itu.
Vivian kemudian menyuruh pelayan itu untuk kembali melakukan tugasnya. Tiba-tiba kepalanya terasa pening setelah mengetahui bahwa Stanley tidak mengikuti acara di kapal pesiar kali ini.
" Apakah Stanley mengetahui kalau aku berada di kapal pesiar ini? Sehingga dia akhirnya Pergi begitu saja?? Ya ampun! Brengsek sekali! Padahal aku sudah mengeluarkan uang banyak sekali untuk bisa ikut dalam pelayaran kali ini!" Vivian tampak begitu marah dengan kenyataan tentang Stanley yang sekarang sudah tidak ada di kapal pesiar yang dia tumpangi.
Untuk dia turun pun sudah tidak mungkin. Karena Papa pesiar sudah berlayar sejak 2 jam yang lalu.
" Ah sialan benar! Kenapa sih Stanley harus melakukan hal seperontal itu? Apakah dia sangat membenciku?" monolog Vivian.
Sepanjang perjalanan, Vivian hanya cemberut dan marah. Walaupun banyak para CEO muda yang tampan dan sukses yang berusaha untuk memikatnya tetapi bagi Vivian mereka semua seperti tidak ada harganya di depan matanya. Karena saat ini target Vivian adalah Stanley. Vivian berusaha untuk menenangkan dirinya bagaimanapun perjalanan 2 minggu dengan kapal pesiar benar-benar akan membosankan kalau dia selalu saja merasa marah dan tidak menikmati perjalanan itu.
Ketika mata Vivian melihat Fic dan juga Abimana dengan begitu percaya diri Vivian pun kemudian mendekati ketiga laki-laki yang mewakili perusahaan Craig group.
" Biarlah ketiga lelaki itu pun tidak masalah bagiku saat ini. Setidaknya aku bisa menggali informasi tentang Stanley dengan mendekati mereka." Vivian berusaha untuk mensugesti dirinya agar tidak terlalu merasa bosan dalam perjalanannya.
Akhirnya selama dua Minggu itu Vivian lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan Fic yang merasa senang dengan adanya seorang wanita yang selalu meramaikan suasana di meja tempat mereka selalu berdiskusi tentang pekerjaan mereka.
__ADS_1
***
Stanley langsung masuk ke dalam rumah di mana saat ini Sakinah masih marah kepadanya karena masalah pelayaran kapal pesiar bersama para CEO yang ada di Jakarta yang seharusnya dihadiri oleh Stanley hari ini tetapi Stanley malam memutuskan turun dari kapal pesiar dan langsung naik ke helikopter untuk mencari Sakinah di kampung halaman sang istri yang dia cintai.
" Nyonya. Di depan ada yang mencari Anda!" seorang pelayan yang ditugaskan oleh Stanley untuk menemani istrinya terlihat melaporkan kedatangan Stanley kepada Sakinah yang sejak pagi hanya cemberut saja.
" Katakan padanya kalau aku tidak ada!" jawab Sakinah yang saat ini masih marah.
" Tapi Nyonya. Tamunya sekarang sudah ada di ruang tamu dan meminta untuk bertemu dengan anda!" pelayan itu tampak takut-takut.
Karena sesuai dengan instruksi dari Stanley. Dia meminta kedatangannya untuk dirahasiakan kepada Sakinah. Karena Stanley ingin memberikan kejutan kepada Sakinah.
Sakinah terlihat menarik nafasnya dalam dalam Dia sedang jengkel ditambah dengan masalah itu membuat dia semakin merasa tidak senang.
" Ih tamu siapa sih?? Ko ada sih tamu yang memaksa begitu? Kalau sudah tidak diterima oleh tuan rumah tuh harusnya pergi! Bukan maksa kayak gitu. Tidak sopan!" akhirnya dengan perasaan menunggu ke ruang tamu dan melihat Siapa yang sudah membuatnya merasa tidak senang.
Sakinah melihat seorang laki-laki yang duduk membelakanginya.
Stanley tampak tersenyum melihat istrinya yang saat ini tampaknya masih marah masalah pelayaran kapal pesiar itu. Sehingga semua orang yang ada di sekitarnya terkena imbas kemarahannya.
" Ih, di tanya diam aja!! Udah masuk rumah orang dengan maksa-maksa ditanya malah diam saja. Nyebelin!" Sakinah sudah bersiap untuk meninggalkan ruang tamu akan tetapi Stanley berdiri dan menarik tangannya dan membuat reflek Sakinah untuk menamparnya.
" Ih gak sopan!" Sakinah sudah bersiap untuk menampar Stanley Tetapi dia terkejut ketika melihat suaminya yang saat ini berdiri di hadapannya.
Sakinah langsung menangis di dalam pelukan suaminya. " Ih, nyebelin banget!! Bukannya kau bilang kalau kau saat ini hendak melakukan pelayaran?" tanya Sakinah di sela-sela isak tangisnya.
Sejak melahirkan perasaan Sakinah memang sangat sensitif. Sedikit masalah saja sudah berhasil membuatnya merasa emosi.
" Aku membatalkan perjalanan itu sayang dan meminta kepada Fic dan Pak Jamal untuk mewakiliku!" Stanley mencium hidung Sakinah yang masih sesegukan karena tangis yang mulai pecah.
" Kenapa?"
__ADS_1
" Karena Nyonya Craig marah padaku dan tidak mengizinkanku untuk pergi!" Sakinah kembali memeluk Stanley. Hati Sakinah saat ini merasa bahagia, terharu dan juga senang.
Segala perasaan itu bercampur aduk di dalam hatinya. Entah mana yang lebih mendominasi tetapi yang jelas Sakinah merasa senang sekarang Stanley berada di hadapannya.
" Terima kasih!" Sakinah benar-benar hanyut dalam suprise yang telah Stanley siapkan.
" Ya udah, ayo masuk ke kamar. Sean kita sepertinya merindukan kamu!" Sakinah menarik tangan Stanley dengan penuh kebahagiaan.
" Tapi aku merindukan mamanya Sean. Gimana dong?? Apakah kau mau membantu?" tanya Stanley membuat sakinah menjadi gemas dibuatnya.
" Ih, apaan sih?" tanya Sakinah merasa haru dengan semua yang sudah di lakukan oleh Stanle untuk dirinya.
Mereka berdua pun kemudian masuk ke dalam kamar dan bertemu dengan Sean. Bayi tampan yang sekarang sedang terlelap dalam tidur nya setelah tadi minum ASI nya.
" Yah, Sean sedang tidur!" Stanley tampak kecewa karena keinginannya untuk segera menggendong putranya harus dia tahan dulu karena melihat Sean yang saat ini sedang tidur dengan lelap.
" Ups!! Aku lupa kalau Sean tadi langsung tidur setelah minum ASI nya!" Sakinah tersenyum pada Stanley.
" Tidak apa-apa. Sayang, duduklah!! Karena akupun merindukanmu. Bukankah kita tidak bertemu sudah cukup lama?? Apakah kau belum bisa untuk ikut denganku ke jakarta?" tanya Stanley sambil memangku Sakinah yang masih dalam tahap nifasnya.
" Bukankah tiga hari lagi rencananya kita akan melakukan aqiqah? Setelah acara akikah selesai. Kita bisa pindah ke Jakarta juga. saya saja aku merasa khawatir dengan keadaan perusahaanku yang ada di sini!" ucap Sakinah sambil menatap Stanley.
Stanley kemudian memangku tubuh istrinya dan mencium tengkuknya untuk sejenak. Melepaskan kerinduan yang selama berapa lama tidak bertemu karena pekerjaan di Jakarta yang sangat sulit di hindari.
Untung saja masalah pelayaran dengan kapal pesiar itu masih bisa di tanggulangi oleh Fic. Sehingga Stanley bisa berada di sini sekarang bersama Sakinah.
Kalau tidak, pasti akan terjadi kembali kericuhan seperti saat Sakinah akhirnya memutuskan untuk mencapai kampung halaman kedua orang tuanya dan meninggalkan Stanley selama hampir lebih dari 1 tahun lamanya.
" Kau khawatir sayang. Nanti aku akan memilih orang-orang terbaik yang akan mewakilimu untuk mengawasi perusahaan di sini. Nanti kau tinggal menerima laporan dari mereka tentang perkembangannya!" Sakinah akhirnya hanya bisa menyetujui segala pengaturan yang akan dibuat oleh sang suami yang jelas jauh lebih mengerti tentang memanage sebuah perusahaan.
" Baiklah! Lakukanlah apa yang menurutmu baik. Aku akan setuju!" Stanley merasa senang mendengar hal itu.
__ADS_1