
Setelah selesai dengan urusannya. Stanley kemudian masuk ke dalam ruang kerjanya. Tentu saja setelah memastikan bahwa pintu kamarnya terkunci dengan aman.
" Kalian harus menjaga pintu dan jendela yang berada di dalam ruangan ini. Kalau sampai istriku meninggalkan rumah ini, maka kalian pasti akan aku tembak di tempat! Paham Kalian?" perintah Stanley kepada 10 orang bodyguard yang sekarang disebar untuk mengawasi kamar yang saat ini ditempati oleh Sakinah yang masih berada di terdalam kamarnya.
Sakinah yang sampai saat ini masih bangun dan belum tertidur. Dia bisa mendengarkan perintah Stanley kepada para bodyguardnya. Hal itu membuat hatinya mencelos seketika.
" Ya Allah apakah begitu tidak berharganya sebuah nyawa bagi Stanley?" monolog Sakinah merasa benar-benar kesal terhadap suaminya yang sekarang mengurung dirinya di dalam kamar mereka berdua.
Stanley terpaksa mengurung Sakinah di dalam kamar mereka karena dia melihat Sakinah yang sudah bersiap untuk meninggalkan Mansion mereka dan pergi ke kampung halamannya yang tidak diketahui oleh Stanley berada di mana.
Saat ini Sakinah berusaha untuk bersabar dan terus bersabar dalam menghadapi kelakuan suaminya yang sangat egois dan tidak mau mengerti perasaannya.
" Kalau dia memang benar-benar mencintaiku seperti yang dia katakan. Lalu kenapa dia begitu tega menipuku?" tanya Sakinah dengan air mata yang deras mengalir di pipinya.
Terlihat Sakinah yang saat ini sedang memukuli perutnya sendiri. Dia merasa kesal dan jengkel dengan dirinya sendiri.
" Bagaimana kalau sampai benih Stanley berada di sini? Ya Allah! Bagaimana ini? Kalau sampai aku hamil. Pasti akan membuatku kesulitan untuk meninggalkan dia. Hiks hiks!" Sakinah terus menangis sepanjang malam.
Sakinah tidak mengetahui bahwa saat ini Stanley terus memperhatikannya di layar yang ada di dalam ruang kerjanya.
" Apakah begitu menyakitkan untuk hamil anakku? Kenapa kau seperti yang sangat menderita?" tampak bulir bening mengalir di kelopak mata Stanley yang merasa sedih karena istrinya ternyata tidak mengharapkan untuk hamil benihnya.
__ADS_1
Stanley tahu bahwa dirinya telah membuat kecewa sang istri dengan tidak benar-benar menutup bisnis haram yang dituntut oleh istrinya untuk ditutup. Hal itu sebagai syarat pernikahan yang di berikan oleh Sakinah ketika dirinya meminang sang istri.
Stanley pun sudah berusaha dengan keras untuk bisa menutup tiga lokal bisnis yang benar-benar tidak disukai oleh Sakinah. Akan tetapi Robert selalu bisa mengembalikan bisnis itu untuk kembali beroperasi sehingga membuat Stanley benar-benar frustasi di buatnya.
Bagi Stanley cinta Sakinah lebih penting dalam hidupnya daripada bisnis-bisnis itu. Dia tidak semiskin itu untuk tetap mau mempertahankan bisnis-bisnis yang tidak disukai oleh istrinya.
Akan tetapi Stanley pun tidak bisa memaksakan kehendaknya terhadap anak buahnya yang telah berjuang untuk mengembangkan bisnis-bisnis tersebut selama bertahun-tahun mengabdi kepadanya.
Kalau Stanley memaksakan diri untuk menutup semua bisnis itu. Pasti akibatnya membuat dia akan kehilangan dukungan anak buahnya yang berjumlah ratusan ribu yang tersebar di seluruh Indonesia.
Apabila ketiga bisnis itu ditutup benar-benar. Maka anak buahnya itu pasti akan kehilangan mata pencaharian mereka dan itulah yang membuat Stanley benar-benar berada dalam dilema dan bingung.
Karena merasa lelah dengan pikiran dan juga tubuhnya. Stanley akhirnya terlelap di dalam ruang kerjanya. Sementara itu Sakinah pun sudah mulai tidur di dalam kamar yang dijaga ketat oleh para Bodyguard yang sudah diperintahkan oleh Stanley.
Pada saat tengah malam. Sekitar jam 02.00 dini hari. Sakinah bangkit dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi junub setelah tadi Stanley memaksa dirinya untuk melayani hasrat suaminya. Sakinah berniat untuk melakukan shalat tahajud untuk mengadukan masalahnya kepada Allah. Maha pemilik kehidupan.
Setelah selesai mandi dan membersihkan tubuhnya. Sakinah pun langsung melaksanakan shalat isya dan juga salat tahajud dua rakaat.
" Ya Allah. Bukakanlah pintu hati suamiku agar dia mau meninggalkan pekerjaan haramnya dan kembali ke jalanmu yang benar. Jadikanlah aku sebagai istri yang selalu sabar dalam menghadapi kelakuan buruk suamiku dan mampu membimbing dia menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amien ya Allah!" doa Sakinah pada malam itu dengan berlinang air mata.
Di atas segalanya. Sakinah merasa bahwa dirinya telah gagal menjadi seorang istri. Karena ternyata Stanley tidak benar-benar melakukan apa yang dia minta ketika dulu dia menyetujui pernikahan bersama dengan Stanley. Laki-laki yang telah mengklaim sebagai pria yang paling mencintainya di atas dunia ini.
__ADS_1
Akan tetapi Sakinah saat ini merasa bahwa Stanley telah memperdaya dirinya dengan melakukan kecurangan di belakangnya.
Setelah selesai shalat. Sakinah kemudian melihat keluar dan ke sekeliling kamarnya.
" Kenapa suamiku tidak ada di kamar ini?" tanya Sakinah merasa heran karena dia tidak melihat Stanley di atas ranjang mereka maupun di sofa yang ada di dalam kamar utama yang menjadi kamar mereka.
Di atas segala keburukan yang dimiliki oleh Stanley yang telah di ketahui oleh Sakinah. Setidaknya Stanley masih menghargai pernikahan mereka berdua. Selama ini Stanley tidak pernah membawa perempuan lain ke dalam rumah mereka. Hal itu lah yang sangat disyukuri oleh Sakinah dari Stanley.
Sakinah yang merasakan perutnya lapar dia pun kemudian menggendor pintu kamarnya.
" Buka pintunya sekarang juga! Aku ingin makan. Apa kalian ingin membunuhku di kamar ini?" tanya Sakinah berusaha untuk tetap sabar walaupun hatinya saat ini sedang menangis karena sang suami yang mengurung dia seharian.
Tidak lama kemudian, datang pembantu yang bekerja di kediaman itu dengan membawa sepiring makanan yang lengkap dengan lauk pauk yang disukai oleh Sakinah.
" Aku ingin makan di meja makan!" ucap Sakinah menatap pembantu yang membawa makanan untuknya.
" Maafkan saya Nyonya tetapi perintah dari Tuan Stanley bawa Nyonya tidak diizinkan untuk keluar dari kamar ini. Sampai Nyonya benar-benar menghapus keinginannya Nyonya untuk meninggalkan mansion dan juga membatalkan keinginan Nyonya untuk bercerai dengan Tuan Stanley!" Sakinah sampai mengeram mendengarkan perkataan pelayan itu yang seakan menegaskan bahwa dirinya sekarang adalah tahanan di mansion sang suami.
Dengan berat hati akhirnya Sakinah pun menerima makanan yang dibawa oleh pelayan itu dan tidak banyak cakap lagi.
Bagaimanapun Sakinah masih bersyukur karena sampai saat ini dirinya tidak kekurangan makanan ataupun kebutuhan lainnya. Stanley benar-benar menjamin semua kebutuhannya tanpa kekurangan apapun selama berada di mansion itu.
__ADS_1