
Sakinah berusaha untuk merelakan anaknya yang sekarang sudah meninggal di dalam kandungannya dia akan berusaha untuk kembali memiliki anak bersama dengan Stanley.
" Sayang, kamu kenapa? Kok sekarang aneh, menggodaku duluan?" tanya Stanley begitu excited melihat Apa yang dilakukan oleh Sakinah yang tidak biasanya menggoda dia.
" Apakah kau tidak menyukainya?" tanya Sakinah berbisik di telinga Stanley yang saat ini sedang berolah raga dengan Sakinah di atas ranjang.
" Aku suka sayang. Aku sangat suka. aku berdoa semoga kita bisa segera memiliki anak lagi sehingga kamu tidak perlu bersedih lagi karena kehilangan calon anak kita," ucap Stanley yang kemudian mencium bibir Sakinah dengan lembut.
Sakinah paling menyukai apapun yang dilakukan oleh Stanley terhadap dirinya.
Stanley selalu mengutamakan dirinya untuk menemukan kepuasan dalam bercinta. Sakinah tampak begitu bahagia dengan cinta dan kasih sayang yang diberikan oleh Stanley kepadanya.
" Sayang, aku berharap anak kita akan secantik kamu!" ucap Stanley dengan berbisik di telinga Sakinah, setelah dia selesai bercinta. Tampak peluh di dahi dan juga tubuhnya setelah dua ronde bercinta pada malam itu.
Sakinah mencium bibir Stanley memberikan hadiah kepada suaminya untuk mengucapkan terima kasih kepada Stanley yang sudah memberikan kepuasan tertinggi kepadanya.
" Aku ingin memiliki anak laki-laki yang setampan dirimu! Kalau punya anak perempuan, maka aku harus bersaing untuk mendapatkan cintamu!" ucap sakinah cemberut. Hanya akting saja.
Karena di dalam hatinya. Sakinah menyerahkan semuanya kepada Allah. Bagi Sakinah, anak laki-laki maupun perempuan adalah sama saja yang penting baginya. Anak itu adalah bukti cinta dari mereka berdua.
" Bagiku kau akan selamanya menjadi cinta pertamaku dan terakhirku. Gak akun ada yang bisa menggantikan kamu di hatiku." ucap Stanley sambil tersenyum dan mencium Sakinah.
Sakinah benar-benar sangat terharu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
" Benarkah sayang?" tanya Sakinah manja sekali.
Stanley pun tidak mengerti. Kenapa sekarang Sakinah begitu agresif dengan dirinya. Tetapi dia mensyukuri semuanya. Karena dengan begitu dia menjadi merasa menjadi laki-laki yang paling bahagia di atas dunia ini.
" Sayang, apa kita perlu pergi bulan madu lagi." tanya Stanley pada Sakinah.
Sakinah terlihat terdiam kemudian menganggukkan kepalanya.
" Tapi kalau kita berbulan madu, pasti pengaturannya akan sangat repot sekali. Aku ga tega dengan anak buahmu sayang. Mereka Pasti sangat kelelahan untuk menjaga kita berdua!" ucap Sakinah yang langsung menundukkan kepalanya.
" Kita akan pergi dengan menyamar jadi tidak akan ada yang tahu siapa kita. Bodyguard yang akan ikut denganku juga akan menyamar menjadi pelancong biasa jadi tidak akan menarik perhatian siapapun!" ucap Stanley sambil tersenyum kepada Sakinah.
__ADS_1
" Sepertinya menyenangkan!" ucap Sakinah sangat bahagia.
" Kau ingin kita berulang madu kemana?" tanya Sakinah dengan wajah berbinar.
Sungguh Sakinah memang benar-benar sangat senang dengan ajakan Stanley untuk berbulan madu bersamanya.
Banyak sekali kejadian akhir-akhir ini yang sudah membuat hati Sakinah menjadi tidak tenang dan sangat tertekan.
Apalagi meninggalnya bayi yang ada di dalam perutnya benar-benar membuat Sakinah tidak bisa merasakan kebahagiaan secara utuh.
Bahkan setiap malam Sakinah masih sering menangis di dalam tidurnya. Hal itu membuat Stanley menjadi sangat terenyuh melihat istrinya yang sedih terus menerus.
Stanley berharap dengan perjalanan mereka akan membuat Sakinah menjadi lebih fresh dan bisa melupakan kejadian buruk terhadap anak mereka yang sudah meninggal di dalam kandungannya.
" Baiklah sekarang kita istirahat karena besok kita akan berangkat pagi-pagi menuju Jepang. Tadi siang aku sudah mengatur semuanya bersama dengan sekretarisku." ucap Stanley begitu bahagia melihat Sakinah yang langsung menciumnya dengan antusias.
" Terimakasih sayang! Aku sudah lama memang ingin sekali berkunjung ke Jepang!" ucap Sakinah yang sangat bahagia sekali.
" Ya sayang. Aku juga sangat ingin mewujudkan impianmu itu!" ucap Stanley.
" Aku sudah beberapa kali membujuk nenek untuk ikut dengan kita. Tetapi dia selalu menolak. Dia bilang dia tidak mau kalau sampai nanti meninggal keluar dari kampung halaman. Karena dia ingin dimakamkan di samping nenekku!" ucap Sakinah menceritakan kepada Stanley.
" Jadi dia bukan nenek kandungmu?" tanya Stanley sambil mengerutkan kening nya.
" Dia adalah pelayan nenekku selama beliau hidup. Selama ini dia yang telah mengurus semua aset Nenekku di kampung dan setelah itu menyerahkannya kepadaku saat aku kemarin kabur dari rumah Mas Renaldi." ucap Sakinah menceritakan yang sesungguhnya kepada Stanley.
" Baiklah kalau seperti itu tidak masalah. Aku nanti akan mengirimkan seorang suster untuk menjaga nenekmu di sana. Kalau ada apa-apa mereka bisa mengabarkan kepada kita!" ucap Stanley sambil membelai rambut Sakinah.
Sakinah pun hanya bisa mengangguk saja dengan semua pengaturan suaminya.
" Terserah padamu sayang. Lakukan saja apa yang menurutmu baik!" ucap Sakinah yang kemudian menusukkan wajahnya di dada pejal sang suami yang selalu menjadi favorit nya saat tidur bersama.
" Ih, sayang, kamu kok suka sekali mengendus ketiak aku sih?" tanya Stanley yang merasa kegelian dengan tingkah istrinya.
" Aku juga tidak tahu sayang. Kenapa aku sangat suka dengan aroma tubuhmu ya?" tanya Sakinah sambil terkikik dan malah semakin menggoda Stanley dengan kelakuan ansurdnya.
__ADS_1
" Hentikan itu sayang! Aih, kau sedang menggoda aku! Hmmm? Sayang, kau jangan salahkan aku kalau sampai aku berbuat macam-macam denganmu!" ancam Stanley yang kini naik ke atas tubuhnya.
Sakinah hanya tertawa dengan kelakuan suaminya yang selalu punya cara untuk menaklukan dirinya.
" Udah sayang, aku menyerah!" ucap Sakinah sambil mengangkat kedua tangannya. Menyerah kepada Stanley yang selalu menang melawan dia.
" Kau yang duluan menggodaku sayang. Sekarang malah menyerah begitu saja. Aku tidak akan melepaskanmu!" ucap Stanley yang akhirnya kembali berolah raga malam bersama sang istri yang selalu menjadi candu untuk dirinya.
Terlihat Stanley yang begitu kelelahan setelah bercinta dengan sang istri beberapa ronde. Stanley sampai tertidur begitu lelap.
Terlihat Sakinah yang terus melihat wajah suaminya yang begitu damai dalam tidurnya.
" Kalau aku pergi meninggalkan kamu. Apakah kau akan baik-baik saja?" tanya Sakinah saat melihat Stanley yang sudah terlelap.
' Tambaknya aku harus meninggalkan Mansion dan memulai kehidupan baruku di kampung halaman. Kalau aku tetap tinggal di sisinya, pasti anakku yang berikutnya juga akan meninggal. Karena begitu banyak musuh yang tidak akan membiarkan anak kami hidup. Stanley, kenapa kok harus hidup dengan begitu banyak musuh?" tanya Sakinah dengan air mata yang berderai.
Sakinah sampai saat ini masih belum bisa melupakan kejadian saat dirinya diculik oleh Robert dan Starla.
Bahkan Starla hampir menyerahkan Sakinah kepada anak buahnya untuk di gilir. Untung saja waktu itu Fic terus melindungi dia dan mengorbankan dirinya untuk dihajar oleh Robert. Kalau tidak, Sakinah pasti tidak akan lagi mampu untuk memandang dunia apalagi menatap suaminya.
" Aku harus pergi dari sini sebelum suamiku bangun!" ucap Sakinah yang kemudian bangkit dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sakinah ingin membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaannya bersama sang suami tercinta. " Maafkan aku sayang aku harus melakukan ini demi keselamatan anak kita yang saat ini sudah ada di dalam rahimku lagi," ucap Sakinah sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Kemarin Sakinah pernah pingsan dan diperiksa oleh dokter dan ternyata dia sedang hamil baru masuk 2 minggu. Aku tetapi Sakinah tidak mau memberi tahukan kabar bahagia itu kepada suaminya. Karena dia takut musuh-musuh suaminya akan kembali mengejar dia dan calon anaknya.
" Aku harus bersembunyi sejauh mungkin. Agar musuh suamiku tidak bisa menemukan aku. aku tidak rela kalau sampai anakku harus mati lagi!" ucap Sakinah bermonolog sendiri.
Setelah membersihkan tubuhnya Sakinah pun kemudian menyiapkan pakaian untuk dirinya sendiri. Dia tahu akan sangat sulit untuk bisa keluar dari Mansion. Karena mengingat penjagaan pengawal yang begitu ketat.
" Aku harus memiliki strategi untuk bisa keluar dari sini tanpa menimbulkan kecurigaan siapapun atau membahayakan siapapun juga!" ucap Sakinah di dalam kamar tamu, tempat dia sudah menyimpan pakaian miliknya yang akan dia bawa ke kampung halaman nya.
Sakinah merasa bersyukur karena selama ini dia tidak pernah mengajak Stanley ke kampung halamannya. Sehingga suaminya tidak tahu di mana kampung halaman itu.
Dengan langkah perlahan Sakinah pun kemudian keluar dari kamar tamu, pakaiannya sudah dia masukan ke mobilnya. Tanpa di lihat oleh siapapun.
__ADS_1
Saat Sakinah berada di pos security, dia tampak kebingungan untuk memberikan alasan kepada security yang menjaga mansion suaminya.