
Stanley berusaha untuk mencari keberadaan Agnes dengan mengerahkan anak buahnya yang mengikuti Dia menuju kampung halaman Sakinah.
" Kamu terlihat sibuk sekali sayang?" tanya Sakinah saat melihat suaminya terus sibuk dengan teleponnya sejak tadi menerima laporan dari beberapa anak buahnya yang telah dia sebarkan untuk mencari keberadaan Agnes sesuai dengan janjinya kepada Fic.
Stanley tersenyum kepada Sakinah kemudian mengelus rambutnya dan mencium keningnya sekilas. Setelah itu dia kembali fokus dengan teleponnya. Sakinah tampak cemberut karena merasa bahwa suaminya lebih memilih kesibukannya daripada dirinya.
" Ya udah aku pergi aja! Kamu lanjutin aja pekerjaanmu. Aku sebaiknya pergi ke kantor aja. Ngapain juga aku cuti? Kalau di rumah cuma melihat suamiku sibuk mengurus perempuan lain!" ucap Sakinah yang mulai kesal karena selama beberapa hari ini melihat Stanley lebih sibuk mencari Agnes daripada bersamanya.
Bukannya Sakinah egois dan tidak mau memperdulikan Fic ataupun Agnes, akan tetapi dirinya sebagai ibu hamil juga membutuhkan suaminya yang tercinta untuk sekedar bermanja terhadap suaminya.
Stanley yang merasa bahwa Sakinah marah kepadanya, dia langsung menutup panggilan teleponnya dan kemudian mengejar Sakinah yang tampak marah kepadanya.
" Maafkan aku sayang. Aku terlalu sibuk mencari Agnes sampai lupa denganmu. Baiklah sayang. Aku akan menyuruh Fic untuk datang ke sini supaya dia sendiri yang mencari istrinya." ucap Stanley sambil menggenggam telapak tangan Sakinah dan meminta maaf kepada istrinya.
" Agnes ada di Tegal, di rumah ibunya!" ucap Sakinah yang kemudian dia langsung pergi meninggalkan Stanley yang bengong demi mendengar ucapan Sakinah.
Saat tersadar Stanley pun kemudian mengejar istrinya yang sudah naik ke dalam mobil dan persiapan untuk pergi ke kantornya.
" Sayang, kau tahu di mana Agnes? Lalu, kenapa kau dari kemarin tidak mengatakan nya padaku?" tanya Stanley merasa bingung dengan sikap Sakinah.
Sakinah hanya menatap suaminya dengan lekat kemudian dia pergi menuju kantor tanpa memperdulikan Stanley.
" Emang kau pernah bertanya padaku?" ucap Sakinah yang bisa didengarkan oleh Stanley secara sekilas.
Stanley tersadar bahwa selama ini dia memang tidak pernah bertanya kepada Aakinah. Apakah istrinya itu tahu keberadaan Agnes. Terlihat Stanley yang menyesali perbuatan dirinya yang telah telepon sekali.
" Pantas saja Istriku marah! Aku pasti sudah membuat kesalahan yang sangat besar yang membuat dia menjadi emosi!" Stanley kemudian bersiap untuk mengambil peralatan penyamarannya dan segera menuju ke kantor milik istrinya.
Begitu sampai di kantor. Stanley langsung masuk ke dalam ruangan Sakinah tetapi di sana tidak ada sang istri tercinta.
" Ke mana Sakinah? Oh Tuhan! Apakah dia kabur lagi? Hanya karena marah padaku?" Stanley tampak begitu frustasi dengan kelakuan Sakinah yang selalu saja memilih kabur daripada menyelesaikan masalah diantara mereka.
__ADS_1
Stanley pun kemudian bertanya kepada sekretaris Sakinah. Di mana keberadaan sang istri sekarang.
" Di mana Nyonya Sakinah?" tanya Stanley dengan status sebagai asisten dari Sakinah.
" Tadi ada masalah pada di pabrik. Sekarang Nyonya sedang pergi ke sana untuk segera menyelesaikan masalah tersebut!" Entah kenapa Stanley merasa tidak nyaman dengan berita itu.
" Pabrik mana?" tanya Stanley kepada Amel, sekretaris Sakinah.
Setelah mengetahui lokasi pabrik yang saat ini sedang didatangi oleh Sakinah, Stanley pun langsung menyusul Sakinah ke sana.
Dengan kecepatan tinggi Stanley menggeber mobilnya. Entah kenapa dia merasa tidak nyaman sekali perasaannya saat ini.
Berkali-kali Stanley terus berusaha untuk menelepon Sakinah tetapi tidak diangkat oleh sang istri.
" ****!! Kenapa kamu gak angkat telpon aku sayang?? Kamu kenapa sih sayang? Kau selalu saja sensitif begini. Aku kan mencari Agnes juga untuk menolong Fic, selama ini Fic yang selalu menolongku. Apakah salah kalau aku sesekali menolong dia? Kenapa kau tidak bisa mengerti kondisiku saat ini sayang, apakah kau tidak bisa pahami aku sedikit saja?" tanya Stanley yang merasa menyesal dengan situasinya saat ini bersama Sakinah.
Begitu sampai di pabrik yang dimaksud oleh Amel, Stanley langsung mencari keberadaan istrinya di pabrik.
" Nyonya Sakinah belum datang dari tadi Tuan. Padahal kami menunggunya sejak tadi, tumben padahal Nyonya Sakinah biasanya sangat cepat dalam merespon masalah yang terjadi pada kami," ucap Manager pabrik yang dari tadi sudah menunggu Sakinah tetapi Sakinah tak kunjung datang.
Stanley terkejut mendengarkan ucapan manajer pabrik milik Sakinah.
" Tapi Nyonya Sakinah sudah berangkat dari kantor pusat sejak 1 jam yang lalu. Bagaimana mungkin dia tidak ada di sini?" tanya Stanley benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini terhadap istrinya.
" Tapi Nyonya Sakinah memang belum sampai kemari, Tuan! Anda bisa melihat CCTV yang ada di pabrik ini. Kalau Tuantidak mempercayai ucapan saya!" ucap Manager pabrik tetap ngotot bawa Sakinah memang belum pernah datang ke pabrik itu hari ini.
Stanley sudah mulai berpikir parno dan mulai ketakutan. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Sakinah dalam perjalanannya menuju ke pabriknya. ' Sayang, kamu ada di mana?' batin Stanley frustasi. Sambil terus mengacak rambutnya dengan kasar. Stanley benar-benar saat ini tidak bisa berpikir jernih.
Stanley kemudian menelpon anak buahnya yang biasanya selalu mengikuti Sakinah ke manapun.
" Adam, di mana istriku? Kenapa aku tidak bisa menemukan dia di manapun?" tanya Stanley kepada anak buahnya yang selama ini selalu dia percaya untuk mengawasi istrinya yang tercinta.
__ADS_1
" Maafkan saya tuan. Tadi ketika Nyonya Sakinah tiba-tiba pergi. Saya sedang berada di kamar mandi. Jadi saya tidak mengikutinya!" ucap Adam yang benar-benar membuat Stanley merasa geram luar biasa.
" Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku! Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu!" ucap Stanley yang merasa sangat marah dengan keteledoran anak buahnya yang bisa-bisanya tidak mengikuti Sakinah di saat sakinah meninggalkan rumah dengan keadaan marah.
" Dasar bodoh!" setelah mengatakan itu Stanley pun kemudian menutup Panggilan telepon kepada Adam.
Adam yang mendengarkan makian dari Stanley, dia benar-benar merasa bersalah. Karena sudah membiarkan Sakinah pergi begitu saja dan sekarang tidak tahu keberadaannya ada di mana.
" Aku memang salah, tapi Tuan Stanley, kenapa harus semarah itu sih? Mungkin saja saat ini Nyoya Sakinah sedang main ke rumah temannya atau kerabat dia kan?" monolog Adam yang merasa tidak nyaman dengan caci maki dari Stanley. Apalagi tadi Stanley pun sempat mengancamnya.
Adam kemudian menghubungi rekannya yang selalu menemaninya dalam bertugas.
" Semoga saja Adi mengikuti Nyonya Sakinah. Kalau tidak, habislah aku!" monolog Adam yang saat ini merasa gemetar memikirkan tentang ancaman Stanley kepadanya.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Adam memberikan salam pada Adi yang saat ini sedang bertugas.
" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh! Ada apa Adam? Kau pergi ke mana saja? Kenapa tadi aku mencarimu kau tidak ada?" tanya Adi pada Adam.
" Aku tadi sedang ke kamar mandi. Tetapi kau tidak menungguku. Kenapa kau pergi gitu aja dan meninggalkanku disini? Sekarang tuan Stanley marah padaku. Karena dia tidak bisa menemukan jejak Nyonya Sakinah," ucap Adam merasa kesal bukan kepalang.
" Adi, Apa kau tahu sekarang Nyonya Sakinah ada di mana?" tanya Adam pada Adi.
Adi kemudian menjelaskan kepada Adam tentang Sakinah secara rinci. Membuat Adam menjadi khawatir dengan apa yang dikatakan oleh Adi kepadanya.
" Kau tunggulah Aku di situ. Aku akan segera menemuimu!" ucap Adam yang kemudian menutup telepon tersebut dan dia pun menghubungi Stanley untuk memberitahukan tentang kabar sakinah yang terbaru.
Akan tetapi berkali-kali Adam terus menelpon Stanley. Tetapi Stanley tidak juga mengangkat panggilannya membuat Adam menjadi khawatir di buatnya.
" Ya ampun suami istri paling hobi membuat orang khawatir begini!" rutuk Adam yang kesal bukan kepalang.
Adam pun kemudian langsung menuju ke parkiran mobil dan segera mengambil mobil miliknya untuk menyusul Adi yang saat ini sedang bersama dengan Sakinah di rumah sakit.
__ADS_1