Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
129. Penyesalan


__ADS_3

Agnes yang saat ini sedang berada di dalam kamarnya menatap semua benda yang ada di sana yang meninggalkan begitu banyak kenangan tentang Fic. Laki-laki yang sangat dia cintai selama ini.


Akan tetapi sekarang cintanya lah yang telah membuat Fic hidup menderita dan akhirnya meninggal karena tekanan batin.


Agnes memeluk foto pernikahan mereka berdua dan mengingat kembali tentang hari-hari bahagianya bersama sang suami.


" Mama? Kenapa mama menangis?" tanya Mark yang sekarang telah berusia hampir 10 tahun.


Pemuda tampan itu kini semakin gagah sama seperti ayahnya ketika masih hidup.


" Sayang, kenapa kau masih bangun?" tanya Agnes yang menghapus air matanya yang kini mengalir di pipinya tanpa permisi.


Agnes memeluk putranya. Buah cintanya bersama Fic.


" Katakan sama Mark. Ada apa Mah? Kenapa Mama terus menangis seperti ini? Biarkan Papa tenang di sana. Tolong Mah. Jangan bebani Papah dengan air mata. Karena tidak ikhlas melepaskannya." ucap Mark berusaha untuk menghibur ibunya yang sedang sedih karena kehilangan suaminya.


Agnes memeluk Mark berusaha untuk mencari ketenangan dan juga penghiburan dari putranya satu-satunya.


" Sayang, kau Istirahatlah. Mama juga mau tidur." ucap Agnes sambil menghapus air matanya.


Mark pun kemudian meninggalkan Agnes yang tadi membaringkan tubuhnya di atas ranjang dan berniat untuk tidur.


Jiwa raga Agnes merasa benar-benar sangat terpukul setelah kepergian Fic yang begitu mendadak.


Agnes kembali mengingat hari-harinya. ketika melihat Fic yang setiap hari hanya melamun dan menangis dalam diam.


Hati Agnes merasakan pilu yang sangat besar dan tidak mampu untuk melihat itu semua.


***

__ADS_1


Sakinah saat ini sedang bersama dengan Stanley yang berada di dalam kamar mereka.


" Tidurlah sayang, sudah malam. Kenapa kau masih terjaga?" tanya Sakinah pada Stanley.


Stanley memeluk tubuh istrinya dan terisak dan mengingat kembali tentang Fic yang sekarang telah meninggalkan mereka.


" Fic masih sangat muda dan dia juga seorang yang sangat energik. Tetapi dia harus kehilangan nyawanya karena tekanan batin yang tak tertahankan. Sayang, aku benar-benar sangat bersalah karena tidak memberitahukan kepada Fic tentang kebenarannya. Aku tidak tahu kalau masalah itu setelah menggerogoti hati dan pikiran Fic sehingga membuatnya menjadi sakit begitu." Stanley kembali mengingat saat-saat terakhir Fic, saat hendak menghembuskan nafas yang terakhir di rumah sakit.


Flash back on


" Tuan, aku mohon agar kau bisa menjaga putriku yang hilang. Kalau suatu saat nanti kau menemukannya. Katakanlah maafku kepada Amanda. Aku mohon Tuan. Berjanjilah padaku. Tolong jaga Mark untukku. Sampaikanlah kepadanya karena aku yang tidak bisa menjalankan tugasku sebagai ayahnya lagi." Fic terlihat menangis dengan begitu sedih.


Stanley menggenggam telapak tangan Fic dan berusaha untuk menenangkan asisten dan juga saudaranya.


" Fic! Cepatlah sembuh dan katakan semua itu sendiri kepada anak-anakmu. Mereka pasti akan lebih bahagia kalau kau yang mengatakannya langsung." ucap Stanley sambil menggenggam tangan Fic.


Sakinah yang ada di antara mereka hanya bisa meneteskan air matanya melihat mereka berdua yang saat ini sedang bersedih.


Sakinah langsung memeluk suaminya yang hampir saja Limbung setelah melihat asisten yang meninggal di hadapannya.


" Sabarlah sayang. Semua makhluk yang bernyawa pasti suatu saat akan kembali kepada Allah. Kita hanya menunggu waktu saja untuk menuju ke sisi-Nya!" Sakinah berusaha untuk menghibur suaminya yang saat ini sedang menangisi kematian Fic.


Agnes yang tadi keluar untuk mengajak Mark pergi ke toilet mengerutkan keningnya melihat Stanley dan Sakinah yang menangis di samping suaminya.


" Ada apa ini?" tanya Agnes merasa bingung.


" Fic sudah meninggal. Apa sekarang kau puas? Kau puas sudah memberikan derita batin untuk suamimu? Kau puas, huh?" tanya Stanley yang saat itu benar-benar sedang kacau.


" Kalau saja kau tidak mengambil Amanda dari tangan Fic dan menyuruh temanmu untuk mengadopsinya dan bermigrasi ke luar negeri tanpa sepengetahuan Fic, mungkin sekarang dia sudah bisa melepaskan penyesalannya dengan mengembalikan Amanda kepada Raymond. Fic pasti akan merasa bahagia melihat putrinya bahagia dalam pengasuhan Raymond." Agnes terkejut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Stanley.

__ADS_1


Agnes tidak menyangka kalau ternyata perbuatannya diketahui oleh Stanley.


" Kalau kau mengetahui tentang itu semua. Kenapa kau tidak memberitahukannya kepada suamiku?" tanya Agnes sambil menatap tajam kepada Stanley yang saat ini begitu membencinya.


" Apakah Kau pikir aku akan tega melihat sahabatku harus menderita tekanan batin karena melihat istrinya yang dia cintai yang sudah berbuat keji terhadap putrinya? Aku sengaja merahasiakan semua perbuatan jahatmu hanya untuk menjaga perasaan Fic." Agnes terkejut mendengar ucapan Stanley.


Sakinah kemudian membawa suaminya untuk keluar dari rumah sakit agar Stanley bisa sedikit melepaskan kesedihannya.


" Sayang Ayo kita jalan-jalan di luar agar pikiranmu bisa kembali tenang." Ajak Sakinah.


Akan tetapi Stanley menolaknya karena dia harus mengurus perpulangan jenazah Fic ke rumah mereka.


" Aku tidak akan mengizinkan jenazah Fic diurus oleh wanita keji itu!" Stanley terlihat begitu membenci Agnes yang sudah berbuat jahat kepada sahabatnya.


Sakinah tidak bisa menghalangi apa yang ingin dilakukan oleh suaminya.


" Lakukan semua yang membuat hatimu tenang." ucap Sakinah yang kemudian membiarkan Stanley mengurus kepulangan jenazah Fic dan dibawa ke Mansion Craig.


Agnes yang sebenarnya tidak setuju hanya bisa menatap semua yang dilakukan oleh Stanley ke atas jenazah suaminya.


" Agnes. Biarkanlah apa yang dilakukan suamiku. Anggaplah itu sebagai penghormatan terakhirnya kepada Fic yang sudah menemani suamiku sepanjang hidup nya. Percayalah suamiku pasti akan memberikan yang terbaik kepada Fic!" ucap Sakinah yang terus berada di samping Agnes yang sampai saat ini masih lemas tubuhnya.


Semua yang dikatakan oleh Stanley benar-benar membekas di dalam hatinya dan dia tidak mampu untuk menanggung itu semua yang benar-benar sudah menggerogoti hatinya dengan rasa bersalah.


" Aku memang seorang istri yang jahat dan tidak layak untuk mengurusi jenazah suamiku sendiri. Biarkanlah Tuhan selalu mengurus semua tentang pemakaman suamiku. Aku tidak keberatan sama sekali." Agnes berusaha untuk tersenyum kepada Sakinah. Walaupun senyum yang begitu sangat dipaksakan.


Sakinah bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Agnes. Akan tetapi Sakinah pun tidak mau untuk terlalu ikut campur dalam permasalahan rumah tangga Agnes dan Fic. Karena Sakinah sadar itu bukanlah kapasitasnya. Permasalahan suami istri hanya mereka yang bisa menyelesaikannya. Sakinah juga selalu menasehati Stanley untuk mengendalikan dirinya agar tidak terlalu ikut campur dalam urusan mereka.


" Sebentar ya. Aku akan keluar dulu untuk mencari makanan. Sejak tadi malam kita semua belum makan apa-apa. Suamiku terlihat begitu lemas tubuhnya." Sakinah kemudian meninggalkan Agnes yang saat ini sedang lemas di sofa sambil terus menatap jenazah suaminya yang saat ini sedang dipindahkan keluar oleh pihak medis.

__ADS_1


" Sayang kita langsung pulang. Karena jenazah Fic akan langsung dibawa ke rumah kita. Kita nanti makan di rumah saja." ucap Stanley menghentikan langkah Sakinah yang tadi hendak pergi meninggalkan rumah sakit untuk mencari makanan buat mereka semua.


__ADS_2