
Setelah semua clear dan anak buahnya sudah meminta maaf atas kesalahan mereka yang sudah berkhianat kepada Stanley. Mereka pun kemudian dibebaskan dari sandraan para pengawal bayangan milik Stanley yang bertugas untuk mengamankan organisasi keadaan genting seperti sekarang ini.
Setelah semua anak buah Stanley keluar dari penthouse, baru terasa lega rumah itu. Setelah tadi terasa begitu sempit dengan begitu banyaknya anak buah Stanley yang berbadan kekar dan seram.
Sakinah yang baru saja bangun dari tidurnya tampak mencari-cari suaminya.
" Ke mana Stanley? Kenapa dia tidak ada di sini? Aduh, lapar sekali!" dengan susah payah Sakinah kemudian bangkit dari ranjang dan mencari keberadaan suaminya yang baru saja mengantarkan anak buahnya untuk keluar dari penthouse.
" Kenapa dia pergi tidak membangunkanku? Bagaimana kalau ada penjahat lagi yang ingin menyakitiku?" tanya Sakinah celingak celinguk mencari suaminya.
" Kamu sudah bangun sayang? Ini aku bawa makanan untuk kita berdua. Kamu pasti lapar kan?" tanya Stanley dengan wajah sumringah dan terlihat begitu bahagia.
Sakinah langsung memeluk Stanley begitu melihat suaminya datang dengan senyum yang membuatnya merasakan kedamaian.
" Tolong ke manapun kamu pergi bawalah aku bersamamu aku benar-benar takut sekali ketika tidak ada dirimu disisiku!" ucap Sakinah di dalam pelukan Stanley yang auto mengelus lembut kepala sang istri tercinta.
Stanley merasa bahagia karena akhirnya sang istri menyadari tentang pentingnya dirinya berada di samping sang istri.
" Maafkan aku ya say. Karena aku udah membuat kamu menderita dan ketakutan. Maafkan aku yang sudah menempatkan kamu di dalam bahaya. Aku sudah membereskan semua orang yang tadi telah membuatmu ketakutan!" ucap Stanley merasa menyesal sekali. Atas kejadian buruk hari ini yang membuat Sakinah ketakutan.
Sakinah kemudian duduk di sofa yang diikuti oleh Stanley yang sejak tadi terus menggenggam telapak tangannya seakan tidak ingin melepaskan sang istri.
" Tidak apa-apa. Aku mengerti tentang risiko pekerjaanmu yang pasti memiliki banyak musuh di luar sana. Aku bersyukur masih diberikan keselamatan dan juga keamanan untukku dan juga calon anak kita!" ucap Sakinah berusaha untuk tersenyum di hadapan suaminya walaupun sebenarnya di dalam hatinya Dia sedang menangis.
Sakinah menangis bukan karena menyesali pernikahannya dengan Stanley hanya saja nasib memang sudah bergulir dan dia tidak mungkin untuk kembali berbalik. Karena bagaimanapun saat ini dia sedang hamil keturunan Stanley yang kelak akan menjadi pewaris organisasinya yang sangat Dia benci.
" Aku berjanji aku akan selalu melindungi dan menjagamu dan juga calon anak kita Percayalah kau tidak pernah sendirian di sini ada puluhan anak buahku yang selalu menjaga dan mengawasimu!" ucap Stanley dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Yah gedung itu adalah milik perusahaan Stanley. Satu lantai di bawah penthouse milik Stanley yang saat ini di tempati mereka telah dikhususkan untuk para pengawal bayangan yang sangat dia percaya yang saat ini dikerahkan hanya untuk menjaga sang istri. Apabila tidak ada di kediamannya, CCTV di mana-mana selalu aktif 24 jam untuk selalu memantau penthouse milik Stanley.
" Lebih baik kita kembali ke Mansion saja ya?Di sana jauh lebih aman. Pengawalmu di sana terlalu stand by dan aku merasa lebih nyaman di sana. Selain ada banyak koki dan juga pelayan yang selalu menemaniku. Kalau di sini setiap hari aku selalu kesepian kalau kau tidak ada di sini!" ucap sakinah dengan raut wajah serius dan membuat Stanley paham dengan keinginan sang istri.
" Baiklah sayang. Sekarang ayo kita makan dulu. Setelah itu kau bisa istirahat lagi. Baru setelah kau merasa fit dan sanggup melakukan perjalanan, kita akan segera pindah ke mansion kembali." ucap Stanley sambil tersenyum kepada istrinya yang langsung menurut padanya.
" Aku sudah baik-baik saja kok sayang. Akan lebih baik kita pindah ke mansion malam ini saja. Rasanya aku juga sudah rindu dengan kamar kita di sana yang jauh lebih besar dari panthouse ini." ucap Sakinah Setelah dia menyelesaikan acara makan malam yang tadi di bawah oleh Stanley dari restoran yang ada di bawah penthouse mereka.
" Baiklah sayang. Kalau itu memang maumu. Tunggu sebentar ya, aku akan memanggil helikopter dulu untuk menjemput kita di sini. Bagaimanapun Aku tidak mau kalau terjadi apa-apa denganmu dan juga anak kita!" ucap Stanley yang kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengambil ponsel yang tadi dia letakkan di atas nakas.
Sakinah yang sudah selesai makan dia pun kemudian membereskan piring-piring bekas mereka makan tadi kemudian mencuci piring dan gelasnya.
Stanley yang sedang sibuk menelpon ketika melihat istrinya bekerja dia langsung menutup teleponnya.
" Sayang aku kan sudah bilang padamu. Istirahatlah! Biarkan semua itu sayang. Nanti akan ada petugas hotel yang akan membersihkannya! Mengerjakan hal-hal seperti itu bukan tugasmu sayang. Tugasmu cukup mendampingiku saja dan jagalah anak yang ada di dalam kandunganmu dengan baik agar dia lahir dengan selamat!" ucap Stanley sambil menarik tangan Sakinah untuk meninggalkan pekerjaannya tadi dan segera membawanya ke dalam pelukannya.
" Tolong segera siapkan Sebuah helikopter untukku dan istriku, bisa kembali ke mansion. Ya segera hubungi aku kalau sudah siap. Aku menunggu!" setelah mengatakan itu Stanley pun langsung menutup panggilan telepon dan membimbing istrinya untuk kembali ke kamar supaya bisa beristirahat lagi.
Akan tetapi Sakinah menolak keinginan Stanley. Karena dia benar-benar sudah bosan terus berbaring di atas ranjang sejak tadi pagi hingga sekarang sudah hampir malam.
" Bagaimana kalau kita jalan-jalan saja atau mungkin menonton bioskop sambil menunggu helikopter datang? Aku benar-benar sangat bosan karena selama seharian aku hanya berbaring di atas ranjang. Aku hanya hamil saja, bukan sedang sakit parah dan tidak bisa melakukan apa-apa!" ucap Sakinah sambil memainkan dada Stanley yang entah kenapa sejak kemarin menjadi hobi barunya terhadap sang suami.
" Sekarang istriku sudah mulai nakal ya? Dan dia juga sudah pintar menggodaku!" ucap Stanley dengan senyum kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
Sakinah hanya tersenyum mendengarkan ucapan suaminya tanah sejujurnya dia pun merasa bingung dan tidak mengerti kenapa dirinya sekarang sangat ingin lengket dengan sang suami.
Padahal kemarin sebelum kehamilannya terdeteksi. Hanya mencium aroma Stanley saja sudah membuat dia ketar-ketir dan bolak-balik ke kamar mandi karena mual.
__ADS_1
Akan tetapi sekarang Sakinah merasakan dirinya selalu ingin bertemu dengan sang suami dan selalu ingin menggodanya.
" Ini bukan mauku. Tetapi maunya anakmu. Aih, dia selalu ingin lengket denganmu!" ucap Sakinah merasa sebal sekali.
" Kenapa kau tampaknya tidak ikhlas untuk melakukan itu denganku?" tanya Stanley sambil tersenyum kepada istrinya.
" Entahlah tapi yang jelas aku merasa sangat cemburu. Karena anak ini selalu saja ingin dekat dengan kamu! Kelihatannya anak kita adalah anak perempuan. Suatu saat pasti akan bersaing cinta dan kasihmu denganku!" ucap Sakinah sambil misuh-misuh di hadapan Stanley.
Stanley hanya tergelak saat mendengarkan kata-kata istrinya yang benar-benar membuat dia merasa bahagia. Karena akhirnya bisa merasakan cinta dari sang istri yang sudah sangat lama dia nantikan.
" Ayolah sayang! Bagaimana mungkin kau cemburu dengan anak kita sendiri? Bukankah itu bagus sayang? Karena sekarang kau selalu menginginkanku, hmm? Tidak seperti dulu. Kau selalu saja menolak dan menjauhi aku. Kau benar-benar membuatku sangat frustasi kala itu!" ucap Stanley sambil mencubit hidung bangir milik Sakinah yang benar-benar telah membuatnya gemes dan semakin mencintai sang istri yang sekarang telah menerima pernikahan mereka berdua.
" Sungguh tidak ada hal yang lebih membahagiakan hatiku. Daripada melihatmu mau menerimaku sebagai suamimu dan dengan tulus mencintaiku!" ucap stenlis sambil memeluk tubuh Sakinah semakin erat dan mencium kening sang istri dengan begitu lembut membuat Sakinah benar-benar terharu hatinya dan semakin menghangat.
Stanley menerima telepon dari anak buahnya yang tadi dia minta untuk mengirimkan helikopter untuk menjemput mereka berdua.
" Nanti ketika anak kita sudah lahir, aku akan memberikan dia banyak hadiah. Karena aku harus berterima kasih padanya. Berkat dia membuatmu selalu lengket dan selalu merindukanku!" ucapnya lagi.
" Kau tidak mau memberikanku hadiah? Kan aku yang sudah memberikan anak untukmu. Kenapa malah anakmu yang dapat hadiah? Ya ampun kau benar-benar sangat aneh!" ucap Sakinah sambil misuh-misuh dan menjauh dari Sherly yang saat ini sedang sibuk menerima telepon dari anak buahnya.
Akan tetapi Stanley menahan tangan sakinah dan tidak mengizinkannya untuk pergi darinya.
" Duduklah! Aku hanya sebentar menjawab telpon!" bisik Stanley di telinga Sakinah yang akhirnya hanya bisa menopang kepalanya dengan telapak tangannya.
Sambil menatap ketampanan sang suami yang meningkat ribuan kali lipat. Setelah kemarin anak buah Stanley telah membuat dia takjub. Setelah mereka semua berusaha sekuat tenaga bahkan mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan hidupnya dan bayi yang ada di dalam kandungannya.
Sakinah masih ingat dengan jelas. Bahwa kemarin ada dua orang anak buah Stanley yang tertembak. Karena mereka menjadi perisai di hadapannya. Ketika anak buah Robert yang hendak menembak dirinya.
__ADS_1