Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
125. Sabar selalu


__ADS_3

Raymond saat ini sedang bersama dengan Amanda yang tidak mau lepas darinya.


Gadis kecil itu benar-benar menyayangi Raymond karena pemuda itu menjadikannya sebagai kebahagiaan untuk dirinya.


Di saat Amanda hendak pergi ke toilet, Raymond menggendong gadis kecil itu dan melayaninya dengan begitu baik.


" Sayang, udah?" tanya Raymond yang kemudian menyuruh baby sitternya untuk mengurus Amanda yang ada di toilet saat anak itu sudah selesai.


Babysitter itu pun kemudian mengurus Amanda, setelah selesai langsung menggendongnya untuk bertemu dengan Raymond di kantornya.


" Papa! Ayo kita makan malam dulu! Apakah papa tidak lapar bekerja terus?" tanya Amanda sambil bergelayut manja kepada Raymond yang auto meninggalkan semua pekerjaannya dan mencium gadis kecil yang cantik itu.


" Sayang Pulanglah dulu bersamanya Nany, Papa masih ada kerjaan yang belum selesai. Papa akan menemui kamu di rumah, setelah semuanya beres. Ok?" tanya Raymond sambil membujuk Amanda yang saat ini sedang cemberut kepadanya.


" Tapi Pah, Amanda lapar dan ingin makan bersama papa!" Amanda mulai cemberut dan menarik tangan Raymond agar mengikuti kemauannya.


Raymond kemudian meminta kepada asistennya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Sementara dirinya langsung menggendong Amanda dan keluar dari kantor.


" Bian, selesaikan ini semua. Karena besok semua berkas ini harus kita bawa untuk meeting bersama dengan Tuan Stanley yang kebetulan sedang berkunjung ke Swiss," perintah Raymond kepada Bian asistennya.


Bian hanya menganggukan kepala dan kemudian langsung mengambil file-file yang tadi ditunjukkan oleh Raymond untuk dibawa ke ruangannya.


" Tuan Raymond kalau sudah ada Non Amanda begitu menurut dan tidak bisa mengatakan tidak kepada anak gadis itu. Aku khawatir dia nanti menjadi anak yang manja dan juga arogant. Bagaimana nanti kalau Tuan Raymond memiliki istri lagi. Apakah istrinya juga harus mengalah kepada gadis kecil itu?" Bian hanya menggelengkan kepala melihat Raymond yang begitu memanjakan gadis kecil bernama Amanda Lorez.

__ADS_1


Semua orang tahu kalau Amanda tidak diterima di keluarga Kingford mengingat status Amanda yang bukan anak kandung dari Raymond.


" Papa di mana mama?" tanya Amanda sambil memeluk Raymond dengan manjanya khas anak kecil.


" Bukankah Papa sudah menjelaskannya padamu? Kalau Mama kamu sekarang sudah ada di surga. Amanda harus banyak-banyak berdoa agar Mama di sana bahagia diterima amalnya dan diampuni dosa-dosanya!" Ucap Raymond sambil mengelus rambut putrinya agar Amanda bisa tertidur Selama perjalanan ke rumah mereka.


Babysitter yang merawat Amanda selama ini tampak begitu takjub melihat ketampanan tuannya yang begitu baik terhadap Amanda.


Wulan adalah seorang gadis Indonesia yang di bawa ke Swiss oleh Raymond untuk menjadi pengasuh Amanda ketika Raymond mengunjungi kedua orang tuanya yang menetap di Indonesia.


Tadinya Raymond juga memiliki keinginan untuk menetap di Indonesia. Tetapi melihat perlakuan Tiara yang selalu membuat aman dan tidak nyaman akhirnya Raymond pun memutuskan untuk kembali ke Swiss dan menjalani kehidupan mereka di sana.


Sekarang sudah hampir 3 tahun yang lalu sejak terakhir Raymond dan Amanda mengunjungi Indonesia.


Ketika melihat Amanda sudah terlelap Raymond pun kemudian langsung menggendong gadis kecil itu ke dalam kamarnya.


" Papa. Apakah Papa bisa tidur denganku?" tanya Amanda sambil menggenggam telapak tangan Raymond yang tadi menggendongnya masuk ke dalam kamar.


" Tidak bisa sayang. Kau tidurlah di sini bersama Nany. Papa masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di ruang kerja. Nanti kalau sudah jam makan malam, papa akan membangun kamu tidurlah dulu!" Raymond tegas dalam hal itu. Karena bagaimanapun dia sadar kalau Amanda bukan anak kandung nya. Raymond sadar ada hal-hal yang harus dijaga di antara mereka berdua.


" Wulan, temanilah Amanda tidur. Mungkin dia takut tidur sendirian aku pergi dulu!" Wulan mengangguk lalu membujuk agar mau tidur bersamanya.


Raymond kemudian keluar dari kamar Amanda tanpa mempedulikan Amanda yang mulai rewel Setelah dia keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Di dalam ruang kerjanya terlihat Raymond yang saat ini sedang memikirkan sesuatu.


" Ya Tuhan apakah benar kalau aku akan hidup sendirian saja bersama Amanda? Sepertinya ini benar-benar tidak bagus untuk kesehatan mentalku sendiri. bagaimanapun Amanda bukan anak kandungku tidak mungkin kalau kami harus selalu bersama. Aku takut ada fitnah di antara kami. Walaupun aku benar-benar menyayanginya!" monolog Raymond yang saat ini sedang menatap foto Vivian dan dirinya di saat menikah dulu.


Raymond terlihat meneteskan air mata ketika melihat foto yang selalu menjadi teman kesepiannya. Teman patah hatinya yang sampai saat ini masih belum juga sembuh.


Seandainya Raymond bisa membuka pintu hatinya dia pasti bisa mendapatkan calon istri yang lebih dari sekedar Vivian hanya saja Remon yang selalu menutup diri dan tidak pernah bisa melihat wanita lain di sekitarnya.


Raymond mengusap foto Vivian. Tiba-tiba saya jahat Raymond merasa terhiris ketika mengingat pertemuannya bersama dengan Fic sewaktu dia pulang ke Indonesia dulu.


" Laki-laki yang sudah menyakitimu, dia tidak lebih daripada aku kalau di lihat dari segi mana pun juga. Tapi kenapa kau tidak bisa melupakan dan melepaskan dia? Mengapa kau tidak bisa mencintaiku Vivian? Kenapa?" hati Raymond benar-benar tersakiti dan sangat penasaran dengan hal itu.


Tanpa terasa Raymond tertidur di ruang kerjanya sambil memeluk foto pernikahannya bersama Vivian.


Wulan yang kebetulan mau membangunkan Raymond karena sudah jam makan malam. Wulan terkesiap saat dia melihat majikannya yang matanya sembab dengan memejamkan mata sambil memeluk foto pernikahannya.


" Kasihan sekali Tuan Raymond hidupnya begitu menderita karena cintanya tidak sampai terhadap Nyonya Vivian. Seandainya Tuan Raymond mempunyai sedikit perasaan saja untukku, aku pasti akan menyambut dan membahagiakannya. Tapi sayang cinta tuan Raymond hanya untukmu Nyonya Vivian. Kelihatannya aku harus menyerah dengan tugas yang diberikan oleh Nyonya Tiara untuk menaklukkan tuan rumah agar mau menjadi suamiku." Wulan terlihat menghela nafas dengan berat dan kemudian memilih untuk keluar dari ruang kerja Raymond yang terlihat begitu rapi.


Raymond adalah pria perfeksionis yang tidak memaafkan berantakan dan kotor.


Oleh karena itu Raymond selalu menekankan kepada semua pekerjaannya untuk selalu rajin membersihkan rumahnya. apalagi mengingat Amanda yang memiliki alergi terhadap tubuh membuatnya semakin overprotektif terhadap Amanda.


Swtelah Wulan keluar dari ruang kerja terlihat Raymond membukakan kelopak matanya.

__ADS_1


" Jadi benar yang dikatakan oleh detektifku. Kalau Wulan memang ditugaskan oleh ibuku untuk merayuku? Ya ampun! Apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu mama kenapa kau benar-benar memaksakan kehendakmu kepadaku? Sehingga kau tidak pernah benar-benar meninggalkanku sendiri." Monolog Raymond sambil menggelengkan kepalanya.


__ADS_2