Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
73. Usaha terus


__ADS_3

Sakinah merasa pusing kepala karena Agnes yang meminta resign kepadanya. Padahal Sakinah sudah merasa nyaman dengan Agnes yang gaya kerjanya cepat dan efisien.


Harus kemana Sakinah mencari pengganti Agnes yang sudah membuatnya merasa nyaman dalam bekerja bersama.


Saat Sakinah merasa kesal tiba-tiba saja James atau Standley sudah ada di sana.


" Selamat siang!" ucap Stanley yang saat ini sedang menyamar.


" Eh, Selamat siang. Tuan James?? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Sakinah yang saat ini sedang pusing kepalanya karena memikirkan Agnes yang meminta resign dari kantornya.


Stanley terlihat mengerutkan keningnya. Dia merasa heran sekali melihat Sakinah yang tidak biasanya. Ya, biasanya Sakinah selalu rileks dan santai dalam menanggapi masalah dalam hidupnya. Baru kali ini Stanley melihat Sakinah terlihat pusing seperti itu.


" Ada apa?" tanya Stanley merasa heran dengan Sakinah.


Sakinah bangkit dari kursi dan mendekati Stanley yang saat ini sedang berdiri di depan pintu kantornya.


" Silahkan masuk Tuan James!" ucapnya.


Stanley pun kemudian duduk. Menatap Sakinah yang sekarang perutnya makin besar karena usia kehamilan yang sudah besar.


" Ada masalah kah? Kenapa wajahmu terlihat tidak bahagia?" tanya Stanley lagi.


Sungguh Stanley tidak akan merasa tenang sebelum mengetahui masalah Sakinah saat ini yang juga mengganggu hatinya.


" Tidak ada masalah apa-apa. Ini hanya masalah intern perusahaan. Lebih tepatnya, masalah pribadiku sendiri!" ucap Sakinah yang kemudian meralat pernyataannya.


" Masalah apakah?" Stanley semakin mendekatkan dirinya kepada Sakinah agar bisa mendengar lebih jelas apa yang dia katakan.


" Asisten ku minta resign. Sementara aku sudah merasa nyaman dengan dia dan kau tahu kan? Zaman sekarang sangat sulit untuk mencari asisten yang handal dan bisa dipercaya!" ucap Sakinah yang terlihat sedih.


" Apakah kau bersedia kalau aku merekomendasikan seseorang untuk menjadi asisten kamu?" tanya Stanley dengan senyum penuh arti.

__ADS_1


Sakinah menatap Stanley. " Siapa yang akan kau rekomendasikan padaku?" tanya Sakinah pada Stanley yang saat ini sedang menatapnya dengan lekat.


" Aku," ucap Stanley dengan senyum penuh arti.


" Ayolah Tuan James! Kau jangan bercanda! Kau adalah seorang CEO perusahaan investasi yang terkenal. Bagaimana mungkin kau akan menjadi asistenku? Hey, berapa aku akan membayarmu?" tanya Sakinah sambil menggelengkan kepalanya.


" Kau tidak membayarku jika tidak apa-apa kok. Asal kau bersedia berada di dekatku itu sudah lebih dari cukup!" ucap Stanley sambil tersenyum pada Sakinah.


Jantung Sakinah berdebar sangat kencang. Saat dia mendengar Pengakuan dari Stanley. Sakinah sudah tahu kalau laki-laki yang berada di hadapannya adalah suaminya sendiri yang saat ini sedang menyamar. Entah karena apa Sakinah pun tidak mengetahui alasan Stanley tetapi Sakinah berpura-pura tidak tahu tentang hal itu.


" Anda jangan bercanda! Masalah profesional tidak bisa diselesaikan dengan lelucon semacam itu!" ucap Sakinah sambil berusaha untuk memalingkan wajahnya dari tatapan Stanley yang sangat mematikan.


Sungguh Sakinah berusaha sekuat tenaga agar tidak sampai terpengaruh dengan semua ucapan Stanley yang dia tahu sedang merindukannya. Entah kenapa tiba-tiba saja anaknya ada di dalam kandungan Sakinah terus bergerak dan tidak mau tenang.


" Kenapa?" tanya Stanley mengerutkan keningnya karena khawatir dengan Sakinah yang tanpa kesakitan menanggapi gerakan anak yang ada di dalam kandungannya yang terus bergerak dan tidak mau berhenti.


" Aku tidak tahu. Kenapa anak di dalam kandunganku dari tadi terus saja bergerak seperti sedang main bola dia. Menendang terus!" ucap sakinah sambil meringis karena kesakitan.


" Sayang, jangan nakal ya, kasihan Mamah kalau kau nakal begitu!" ucap Stanley sambil mengelus perut Sakinah dan berusaha untuk menenangkan anaknya.


' Sayang ini papa! Tenanglah sayang. Kau jangan menyakiti mamamu! Kasihan mama kamu sayang!' batin Stanley sambil mencium perut sakinah dengan begitu lembut sambil terus mengelusnya.


Sakinah sampai berkaca-kaca matanya melihat Stanley yang begitu telaten menenangkan anak yang ada di dalam kandungannya.


' Maafkan aku yang sudah begitu egois memisahkanmu dengan anak kita! Aku hanya tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita!' bathin Sakinah dengan kesedihan yang luar biasa yang saat ini menguasai hatinya.


Dan sakinah untuk beberapa saat lamanya terdiam meresapi kebersamaan mereka kali ini yang terasa sangat berharga sekali bagi mereka berdua.


Seperti yang ada ikatan batin antara ayah dan anak. Bayi yang ada di dalam kandungan Sakinah pun sekarang mulai tenang. Sehingga Sakinah tidak lagi merasa kesakitan ataupun tidak merasa menderita karena perbuatan anak yang ada di dalam kandungannya yang terus aktif dan tidak mau anteng di sana.


" Terima kasih karena kau sudah membantu untuk menenangkan anaknya ada dalam kandunganku! Tuan James hebat sekali!" ucap sakinah dengan suara gemetar karena menahan rasa haru di hatinya.

__ADS_1


Stanley hanya bisa menganggukan kepala. Kemudian menjauh dari Sakinah. Jujur saja, kalau tidak karena dirinya yang membentengi diri dengan sangat kuat, dan mensugesti dirinya. Kalau sampai Sakinah tahu tentang penyamarannya. Maka Sakinah pasti akan meninggalkannya lagi. Pasti sejak tadi Stanley sudah menyergap Sakinah dan meluapkan segala kerinduan yang ada di dalam hatinya. Karena selama beberapa bulan berpisah dengan sang istri tercinta.


" Tidak apa-apa. Bagaimana? Apakah kau mau menerimaku sebagai asistenmu? Setidaknya, ketika bayimu melakukan hal itu lagi, maka aku masih bisa membantumu!" ucap Stanley kepada Sakinah.


Sejak tadi Stanley terus menundukkan kepalanya. Jujur saja! Saat ini dia sangat pening sekali kepala atas dan bawah karena harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menyergap Sakinah.


Penderitaan itu begitu besar bagi Stanley. Karena harus menahan diri untuk tidak menyentuh istrinya sendiri.


" Ada apa?" tanya Sakinah kepada Stanley yang sejak tadi terus menggelengkan kepalanya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.


" Aku pergi dulu. Teleponlah aku kalau kau sudah memutuskan akan menerima aku atau tidak sebagai asisten!" setelah mengatakan itu Stanley memilih langsung pergi meninggalkan Sakinah ya untuk menjaga kewarasan dirinya sendiri dia harus menjauh dulu dari Sakinah saat ini.


Begitu sampai di ruangannya, Stanley terlihat begitu frustasi.


" Ya ampun! Berapa lama aku harus menjalani hidup seperti ini? Ya ampun!! Aku bisa gila lama-lama! Karena tidak bisa menyentuh istriku sendiri!" ucap Stanley sambil mengacak rambutnya sendiri.


Sementara itu di kantornya Sakinah pun sejak tadi terus menggibah-ngibas tubuhnya sendiri karena merasa kepanasan.


" Ya ampun aku harus bagaimana? Apakah aku harus tetap berpura-pura tidak mengetahui kalau dia adalah suamiku? Berapa lama? Aih, Kenapa tiba-tiba cuaca hari ini begini panas? padahal aku sudah ku turunkan suhunya!" Sakinah sampai bangkit dengan susah payah. Karena sejujurnya kandungannya memang seharusnya sudah untuk beristirahat dan bersiap-siap untuk melahirkan.


Akan tetapi Sakinah yang memaksa kan diri untuk tetap berangkat bekerja karena merasa tanggung jawab dengan perusahaan yang sekarang dia kelola.


Bi Warsih sudah semakin tua dan kekuatan nya sudah semakin rapuh. Bahkan Bi Warsih sudah semakin sering sakit.


" Aiiiiih, tadi kau sudah tenang. Kenapa kau sekarang seperti ini lagi? Apakah Kau juga merindukan ayahmu nak?" tanya Sakinah sambil mengelus perutnya yang tampak bergelombang karena pergerakan anak yang ada di dalam perutnya.


" Sayang, tenanglah!! Kalau kau terus seperti ini. Ayahmu nanti akan curiga kalau mama sudah tahu tentang dia. Bagaimana kalau nanti dia pergi meninggalkan kita nak?" tanya Sakinah tampak frustasi sendiri.


Sungguh Sakinah pun merasakan tersiksa karena harus berpisah dengan suaminya sendiri untuk sebuah alasan yang sebenarnya dia pun tidak mengerti. Apakah alasan itu tepat ataukah tidak.


" Maafkan Mama sayang! Mama yang egois karena sudah memisahkan kalian berdua! Mama tidak mau kalau sampai kehilanganmu lagi sayang!" ucap Sakinah tampak begitu sedih hatinya karena perpisahan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2