Kesabaran Seorang Sakinah

Kesabaran Seorang Sakinah
105. Hidup baru Vivian


__ADS_3

Vivian untuk menghindari pandangan miring dari orang-orang dia pun kemudian memilih untuk menikah dengan sahabatnya yang ada di Swiss.


Hanya pernikahan di atas kertas untuk menutupi status kehamilan yang saat ini sedang dia jalani.


" Apa kau yakin kalau pernikahan kita hanya di atas kertas?" Tanya Raymond yang benar-benar tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Vivian.


Vivian hanya tersenyum sinis kepada Raymond.


" Sudahlah Ray! Bukankah hubungan ini adalah sama-sama menguntungkan? Bukankah kau juga membutuhkan status sebagai seorang suami agar kau bisa mendapatkan harta warisan dari keluargamu yang kaya raya itu?? Jadi stop untuk melakukan hal aneh yang hanya akan membuatku marah terhadapmu!" Vivian meninggalkan remon yang terkejut karena ternyata Vivian mengetahui tujuan pernikahan yang mereka lakukan.


Raymond mengejar Vivian sampai ke dalam kamarnya. " Ayolah Vivian! Aku rasa kalau kita benar-benar menikah itu tidak ada masalah sama sekali. Kau juga tidak mempunyai seorang kekasih hati yang benar-benar kau cintai sama sepertiku yang tidak memiliki siapapun untuk aku cintai." Raymond terus berusaha untuk membujuk Vivian agar mau menjalani pernikahan mereka secara normal.


Vivian yang sudah merasa sangat trauma dengan hubungan seorang laki-laki dan perempuan dia memilih untuk menyerah dan tidak ingin lagi menyakiti hatinya sendiri untuk hal yang tak bermanfaat.


" Sudah cukup membuat kepalaku stres dan pusing. Kau lakukan saja bagianmu dan aku akan melakukan bagianku! Jangan sampai rengekanmu itu malah membuat persahabatan kita menjadi hancur!" Vivian yang sudah mulai kesal terhadap lemon akhirnya mulai mengeluarkan senjata Rahasianya yang sangat ditakuti oleh Raymond selama ini.


Raymond akhirnya hanya bisa menghela nafas dan meninggalkan Vivian dalam kesendiriannya.


Vivian sudah memutuskan akan membunuh semua perasaannya terhadap seorang lelaki yang selama ini hanya memberikan rasa sakit hati dan juga penderitaan terhadap dirinya.


Fic adalah orang terakhir yang pernah dia cintai. Walaupun Vivian tidak terlalu yakin seberapa besar dia mencintai Fic. Tetapi dia sadar bahwa dia memang terobsesi dengan laki-laki tampan itu yang sudah membuat dia berhasil menjadi seorang ibu.


Di dalam kamarnya Vivian tampak sedang memperhatikan foto USG yang baru saja tadi pagi dia dapatkan dari rumah sakit.


" Putriku aku yakin kalau kita bisa hidup tanpa cinta seorang laki-laki!" Vivian terlihat meneteskan air mata kesedihan di wajahnya.


Raymond yang saat ini sedang memperhatikan Vivian dari arah jendela hanya bisa mengelus dada.


Raymond tahu betul bahwa saat ini sahabatnya benar-benar sedang menderita dan sangat kesakitan.


Raymond hanya ingin menjadi obat penyembuh bagi luka hati Vivian. Akan tetapi apalah daya sahabatnya itu hanya menganggap dia sebagai suami di atas kertas yang tidak layak untuk dia cintai seutuhnya.

__ADS_1


Raymond menghela nafas dengan berat dan dia sadar bahwa dirinya memang telah jatuh cinta kepada Vivian sejak lama hanya saja dia tidak berani untuk mengakui perasaan cinta itu kepada sahabatnya yang benar-benar keras kepala.


" Vivian Aku yakin bahwa suatu saat nanti aku pasti bisa untuk mendapatkanmu sebagai Istriku yang sesungguhnya! Aku tidak keberatan untuk menjadi ayah dari anak yang ada di dalam kandunganmu. Selama kau mau menerimaku sebagai suamimu!" monolog Raymond yang saat ini benar-benar sedang kebingungan Bagaimana caranya untuk bisa menaklukkan seorang Vivian.


Sementara itu Vivian di dalam kamarnya bahkan sampai sedang menenggak wine.


Raymond yang melihat kejadian itu langsung merebut gelas yang berisi wine dari tangan Vivian.


" Vivian! Apakah kau gila? Kau sangat menginginkan kehamilan itu. Tapi sekarang kau sedang berusaha untuk membunuhnya?" tanya Remon berusaha untuk menyadarkan Vivian bahwa apa yang saat ini sedang dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar.


Vivian hanya menatap Raymond dengan perasaan sendu. Dia tahu kalau sahabatnya itu mencintainya. Tapi entah kenapa dirinya tidak bisa untuk menerima cinta tersebut.


" Aku mohon padamu Vivian. Tolong sadarlah dan kembalilah untuk menjalani kehidupan kamu secara normal. Lupakanlah orang-orang yang tidak menghargai dirimu dan fokuslah kepada orang yang mencintaimu. Karena hanya dengan kau mencintai dirimu sendiri maka kau pun akan dicintai oleh orang lain!" Raymond terus berusaha untuk menasehati Vivian agar bisa membuka hatinya dan juga pikirannya.


Vivian yang saat ini sedang setengah mabuk hanya bisa menangis di dalam pelukan Raymond.


Raymond tahu bahwa kelemahan Vivian adalah minuman beralkohol dan Vivian memiliki toleransi yang sangat rendah dengan minuman beralkohol.


Raymond bukanlah lelaki bajingan yang memanfaatkan wanita yang sedang mabuk untuk melakukan sesuatu yang dia inginkan.


Setelah melihat Vivian yang memejamkan matanya dan sudah mulai tenang Raymond pun kemudian menyelimuti tubuhnya agar Vivian tidak kedinginan.


" Selamat malam Vivian. Aku pasti akan selalu menunggumu untuk menyambut cintaku untukmu. Untuk saat ini aku akan terus bersabar dan selalu mendampingimu di sini!" Raymond kemudian menutup pintu kamar Vivian dan kembali ke kamarnya sendiri.


Raymond sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah memaksa Vivian untuk menerima cintanya.


Seorang lelaki sejati dia tidak mau memanfaatkan kelemahan seorang wanita.


Vivian hanya bisa menangis di dalam kesepiannya dia tahu bahwa Raymond adalah laki-laki yang baik yang sangat layak untuk dia cintai tetapi sampai saat ini hatinya masih belum bisa dan belum sanggup untuk menerima cinta baru di dalam kehidupannya.


Rasa trauma karena disakiti oleh laki-laki benar-benar telah merusak otak dan pikiran sehingga dia tidak mempercayai laki-laki manapun untuk menerima cintanya.

__ADS_1


Vivian akhirnya terlelap juga. Setelah dia lelah untuk meratapi kehidupannya yang sangat menyedihkan sekali.


" Semoga suatu saat kau bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri Raymond dan bisa keluar dari pernikahan bodoh ini!" doa Vivian sebelum akhirnya dia benar-benar terlelap dalam tidurnya.


Sementara itu Raymond lebih memilih untuk menyesap wine di atas balkon kamarnya.


" Aku tahu bahwa luka hati seorang Vivian sangatlah besar itulah yang membuat dia tidak mau membuka perasaannya untuk siapapun. Entah berapa lama aku akan bisa bertahan untuk menunggu perasaan dia terbuka tapi aku yakin bahwa usaha tidak akan pernah menghianati hasil!" monolog Raymond yang mulai menghabiskan wine yang ada di hadapannya.


Raymond adalah seorang peminum yang handal toleransinya terhadap alkohol sangat tinggi bahkan sampai Dia menghabiskan 4 botol wine dia masih tetap sadar.


Raymond sekarang sudah menjadi seorang pewaris dari keluarganya Setelah dia menikahi Vivian.


Keluarga besarnya mengetahui bahwa anak yang ada di dalam kandungan Vivian adalah milik Raymond dan mereka sangat senang sekali dengan berita itu.


Oleh karena itu sang ayah tanpa merasakan keraguan sama sekali langsung melimpahkan saham perusahaannya kepada Putra tunggalnya.


Raymond sebenarnya yang benar-benar diuntungkan dalam pernikahan tersebut.


Sementara Vivian hanya mendapatkan status sebagai calon istri dan anaknya diakui sebagai keluarga Kingford.


Kingford?? Ada yang ingat dengan David Kingford?? Yang sebagai tokoh di novel Author yang berjudul " Apa kabar sayang" Raymond adalah cicit dari David Kingford. Putra dari Tiara dan Raja Kingford.


Setelah mulai merasa Kepalanya pusing Raymond akhirnya memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Raymond tidak mau kalau sampai nanti mengundang masalah kalau sampai kedua orang tuanya melihat dirinya yang mabuk saat datang ke kantor.


Raymond kemudian tidur dan mengistirahat kan tubuh dan pikirannya yang saat ini benar-benar sedang kacau balau karena memikirkan Vivian.


Keesokan pagi ini ah Remon dan Vivian sudah siap untuk berangkat ke kantor mereka masing-masing layaknya orang asing yang tidak saling mengenal satu sama lain.


Persahabatan mereka sepertinya luntur karena kepentingan mereka masing-masing yang telah tercapai.

__ADS_1


" Raymond! Apa kau masih marah karena keinginanmu yang tidak bisa ku turuti?" tanya Vivian yang akhirnya tidak tahan juga saat melihat Raymond yang benar-benar marah terhadapnya.


__ADS_2