Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 100


__ADS_3

...Hari ini aku tidak ke kantor karena aku mau pergi ke dealer mobil bersama mas Rahman, aku membawa surat-surat jika diperlukan nantinya....


"Sayang,.sudah siap?" tanya ku pada Mas Rahman.


Hari ini, kami memakai baju dengan warna yang sama seperti mau ke pesta saja. Kami berjalan beriringan menuruni tangga satu persatu, ibu sedang bermain dengan Rania sedangkan Silvi sedang bermain dengan ponselnya.


"Kalian mau kemana?" tanya ibu.


"Mau keluar sebentar, Ma aku nitip Rania ya?" kataku.


"Iya, kalian pergi saja tapi ingat bawa motornya harus hati-hati," kata ibu, kami hanya mengangguk lalu berjalan ke depan sedangkan mas Rahman mengambil motor di garasi.


"Kapan kita bisa punya mobil ya, Tih?" ujar ibu membuat aku menoleh ke arahnya, aku hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu.


"Kami pergi dulu ya, Bu?" kata ku menyalami tangannya, Aku naik motor bersama mas Rahman. Motor ini tidak ku jual karena motor ini hasil jerih payah ku waktu bekerja dulu sebelum menikah.


Satu jam perjalanan, kami sampai di dealer mobil. Mas Rahman memarkirkan motor lalu kami bersama-sama masuk ke dalam.


"Ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya seorang karyawan disana.


"Kami ingin melihat mobil, Pak," kataku tersenyum.


"Oh ya, Mari ikut saya kalau begitu Bu, pak?" kata karyawan dealer tersebut menunjukkan kami ke arah mobil yang berjejer rapi, mataku terpesona dengan mobil Vaz*ro tapi aku tahu kalau harganya lumayan tinggi.

__ADS_1


"Mau yang mana, Bu?" tanya karyawan itu lagi dengan sangat ramah.


"Bagaimana, Mas?" tanyaku pada Mas Rahman.


"Terserah sama kamu sayang, pilih saja yang kamu inginkan," kata Mas Rahman tersenyum. Aku mengelilingi showroom mobil yang besar itu. pandangan ku tertuju pada Honda Brio berwarna kuning.


"Bagaimana kalau mobil itu, Mas?" tanya ku.


"Boleh, kalau kamu suka?" kata Mas Rahman.


"Pak, kami mau mobil yang ini," kata ku.


"Baiklah, mari ikut saya pak, Bu?"


"Mas, kalau mahal nanti gimana?" tanya aku.


"Sudah, kita lihat saja nanti," kata Mas Rahman, aku hanya mengangguk.


*** ***


Di Rania Resto.


Silvi sudah berada di restoran, kini ia di percaya menjadi menejer di restoran tersebut karena tidak mungkin Ratih dan Rahman mengelola semuanya karena mereka harus tetap bekerja, karena pelanggan sangat rame di waktu siang. Silvi berinsiatif membuat karyawannya untuk mengantarkan minuman pada meja nomor 10.

__ADS_1


Dia mengambilnya nampan berisi minuman tadi, lalu berjalan ke depan untuk mengantarkan minuman tadi.


"Minumannya, Mbak!" Seru Silvi meletakkan minuman tersebut.


"Iya, terimakasih," kata Perempuan yang memakai kaca mata hitam.


"Kamu yang kemarin bersama Fadli kan, ternyata kamu hanya seorang pelayan," Hina Tania melihat Silvi mengantarkan minuman untuknya, Silvi menahan emosi karena tidak mungkin dia mengamuk. Apalagi, pelanggan lagi ramai-ramainya.


"Maaf, saya permisi dulu?" kata Silvi.


"Hai, tunggu! apa kau malu jika aku melihat wanita yang di sukai oleh Fadli hanyalah seorang pelayan," ejek Tania.


"Apa masalah kamu jika aku hanya seorang pelayan, apakah aku meminta uang mu tidak bukan dan ingat, Fadli sangat mencintaiku. Jangan pernah lagi mengirim makanan untuk Fadli, ngerti," Ancam Silvi lalu berjalan masuk ke dalam, ia sangat kesal karena harus bertemu dengan Tania. Wanita di masa lalu Fadli.


Drrtt...Drrtt...


Suara ponsel Silvi berdering lalu melihatnya Ternyata panggilan dari Fadli.


"Ada apa?" jawab Silvi dengan ketus.


"Kok cemberut begitu, kenapa?" kata Fadli merasakan ada sesuatu yang membuat mood Silvi berubah.


"Tania ada disini," kata Silvi lagi.

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2