
Happy reading 🍁
Tiga bulan kemudian.
Semenjak Tania di tangkap dan pencarian mas Rahman tidak mendapatkan hasil, mas Rahman di nyatakan meninggal oleh pihak kepolisian tapi aku tidak bisa menerima begitu saja. Hatiku masih mengatakan mas Rahman masih hidup tapi apalah dayaku sampai saat ini aku belum bisa menemukan mas Rahman.
Poster sudah aku sebarkan di berbagai media tapi tidak ada seorang pun yang tahu, dimana mas Rahman berada.
Hari ini aku lebih awal ke kantor karena Anggara mengatakan kalau kami akan ada pertemuan dengan perusahaan besar, tapi aku belum mendapatkan informasi apa-apa tentang perusahaan yang akan kami bekerja sama.
Aku menuruni tangga, ibu sudah kembali seperti semula tidak lagi bersedih. Beliau sudah ikhlas dengan kepergian Mas Rahman, sementara aku tidak mungkin larut dalam kesedihan. Kini, akulah yang menjadi tulang punggung keluarga.
Untung saja, Mas Rahman meninggalkan restoran untuk di kelola sehingga kini sudah berkembang pesat.
"Mbak, udah rapi aja mau kemana?" tanya Silvi.
"Mbak mau ke kantor Sil, kebetulan hari ini ada pertemuan kerja sama dengan perusahaan terbaru," kata ku mengambil roti lalu membubuhkan selainya dan kembali menutup dengan roti satu lagi.
Semenjak kehilangan mas Rahman, makan ku tidak teratur lagi. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja dari pada dirumah.
__ADS_1
"Wah, sibuk sekarang ibu sekretaris!" goda Silvi yang sedang makan.
"Kamu bisa saja, sudah mbak berangkat dulu," Kataku berjalan Keluar lalu menaiki mobil.
Aku mengendarai mobilku sendiri, semenjak kepergian mas Rahman semua membuat aku harus menjadi wanita tangguh. Aku melirik jam masih pukul 7:30 masih ada kesempatan aku untuk sampai lebih cepat ke kantor.
Jalanan sangat macet membuat aku harus hati-hati dalam mengemudi. Sampai di kantor, aku berjalan ke ruangan ku. Mempersiapkan berkas-berkas penting untuk mengajukan kerja sama dengan perempuan baru.
"Ratih, apa kamu sudah siap?" tanya Anggara dengan stelan yang sudah rapi.
"Sudah, Pak. Apa kita pergi sekarang?" tanya ku lagi.
"Baik, Pak." Aku mengambil berkas tadi lalu berjalan mengikuti Anggara.
"Kamu naik mobil ku saja," kata Anggara, aku hanya mengangguk lalu duduk di samping.
Di dalam perjalanan, kami hanya diam tanpa seseorang yang memulai pembicaraan. Seakan merasa canggung.
"Bagaimana hubungan kamu dengan Stefani?" tanyaku basa-basi.
__ADS_1
Anggara menoleh ke arahku lalu kembali fokus menyetir mobilnya.
"Baik, katanya ia akan kembali ke Indonesia dalam waktu dekat," kata Anggara.
"Kenapa? bukankah kuliahnya belum selesai," tanyaku.
"Mungkin liburan dan dia ingin bertemu dengan ibunya," kata Anggara, aku hanya diam lalu mengangguk.
Mobil Anggara mengarah pada warung di tepi jalan, lalu berhenti di sana.
"Kok berhenti disini?" tanya ku.
"Kita sarapan dulu, tadi sebelum ke kantor belum sempat sarapan," kata Anggara turun dari mobil begitu juga dengan aku yang belum makan tadi pagi.
Kami masuk ke dalam, aku memesan nasi goreng dengan telur dadar di atasnya sedangkan Anggara memesan nasi putih dengan ikan gurame.
Selesai makan, kami kembali menaiki mobil ke cafe selayang pandang untuk menjalankan kerja sama dengan perusahaan pak Brata dan Tak lama kemudian, kami sampai di cafe tersebut.
Aku turun dari mobil mas Anggara begitu juga dengannya, kami masuk ke dalam cafe tersebut tapi aku tak sengaja menabrak seseorang.
__ADS_1
"Brukk...brukk,"