Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 73


__ADS_3

Silvi menggendong Rania yang sudah menangis lalu memeluknya, ia tidak tahu ada dimana. Matanya sengaja di tutup saat di dalam perjalanan, kini ia ada di kamar yang pengap dan tidak ada jendela untuk bisa keluar.


"Semoga Mbak Ratih bisa menemukan kami," kata Silvi memeluk Rania yang masih menangis. Mungkin ia haus atau merindukan Ratih.


Silvi mencoba menenangkan Rania dan menidurkan keponakannya itu, ia tidak tahu harus bagaimana. Apa yang harus ia lakukan untuk bisa kabur dari sana.


🍁🍁🍁


Matahari sudah kembali ke peraduannya, cakrawala terlihat indah di langit. Aku juga belum menemukan putriku dan Silvi, kemana mereka bawa. Mungkin semua ini juga ulah Riko, jika benar aku tidak akan mengampuni mereka.


"Apa kamu sudah tahu mereka ada dimana?" tanya ku pada Anggara.


Kami sudah ada di Villa, hari sudah malam mungkin besok kami akan mencarinya.


"Besok kita bersiap-siap kembali ke Jakarta," kata Anggara.


Apa, pulang ke Jakarta! Apa-apaan ini putriku saja belum di temukan dia sudah mau pulang. Apa dia hanya memikirkan dirinya dan Stefani saja tanpa memikirkan tentang putriku.

__ADS_1


"Pulang maksud kamu apa? Putriku belum di temukan lalu kamu mau kembali ke Jakarta setelah menemukan Stefani begitu," teriakku dengan nada satu oktaf.


Aku tidak perduli jika dia menilai aku cemburu padanya tapi aku merasa sakit hati karena dengan mudahnya ia meminta ku untuk kembali ke Jakarta. Sementara putriku belum aku temukan, bagaimana aku bisa pulang.


Mata Stefani dan Anggara membulat menatap keduanya ke arahku. Aku tidak perlu yang terpenting aku tidak mau pulang sampai putriku di temukan.


"Mereka ada disana makanya aku mengajak untuk besok pulang ke Jakarta," kata Anggara.


"Maksud kamu apa? tanyaku kembali.


"Jadi kemarin sebelum meninggalkan Rania dan Silvi, aku memasukkan alat pelacak pada baju Rania karena aku yakin pasti akan ada orang yang akan melakukan semua ini," kata Anggara.


"Aku harus menelpon ibu?"


"Jangan, Ratih. Besok kita akan menemukan mereka, percayalah aku sudah memasukkan alat pelacak dengan begitu kita mudah untuk menemukan mereka," kata Anggara lagi. Aku hanya diam memikirkan perkataan Anggara tapi aku begitu khawatir dengan keadaan putriku.


Anggara terus menatap ponselnya, aku terus berperang dengan perasaanku. Mas Rahman belum juga aku ketahui keberadaannya, kemana dia pergi!.

__ADS_1


"Mbak minum dulu tehnya?" kata Stefani memberikan aku segelas teh. Aku mengambilnya lalu meneguknya karena kerongkongan ku terasa kering.


"Bukankah ini jalan kerumah pak Yanto?" kata Anggara membuat aku menatap ke arahnya, lalu mengambil ponsel yang ada di tangannya dan melihat aplikasi yang mengarah ke arah pak Yanto, mungkin aplikasi pelacak yang ada di baju Rania.


"Kamu benar, memang alamat ini menunjukkan ke rumah pak Yanto," kata ku.


Anggara hanya diam lalu aku kembali memberikan ponselnya sedangkan Stefani hanya diam.


"Boleh aku meminta sesuatu?"


"Apa, katakanlah?" kata Anggara.


"Suruh anak buahnya untuk memantau Rania jika mereka ada disana sampai kita pulang," kata ku. Aku hanya ingin keselamatan putriku aman, aku hanya tidak ingin kehilangannya lagi.


"Oke, bagaimana dengan suamimu? apa dia sudah bisa di hubungi," tanya Anggara lagi.


"Belum, aku tidak bisa menghubungi nomornya lagi?" kata ku menatap ke arahnya.

__ADS_1


Jika ia mau mendengarkan penjelasan ku mungkin tidak akan seperti ini.


__ADS_2