Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 62


__ADS_3

Matahari mulai kembali ke peraduannya, aku duduk di gazebo villa menatap langit senja. Kami sudah sampai ke sebuah villa yang dekat dengan perbukitan, suasana disini sangat sejuk membuat aku sedikit kedinginan.


"Kamu sedang apa, sayang?" tanya mas Rahman memelukku dari belakang.


"Aku lagi lihat sunset, mas. suasana disini sangat nyaman," kata ku masih menatap langit senja, aku berharap ini bukanlah sesaat tapi selamanya akan seperti ini.


"Apa kamu suka suasana disini!"


"Aku suka Mas, suasana disini sejuk dan dingin," kata ku mas Rahman hanya diam lalu meletakkan kepalanya di ceruk leherku.


Terpaan nafasnya terasa teratur, aku hanya diam dan terus merasakan kehangatan seperti ini.


"Sayang, kita masuk kedalam aja" Kata mas Rahman.


Aku hanya mengangguk lalu masuk ke dalam terlihat Rania sedang bermain dengan mainannya di temani dengan Silvi. Aku mengambil obat untuk Silvi, kadang dia sering lupa minum obat kalau tidak ingatin.


"Silvi, minim obat dulu?" ujarku memberikan beberapa butir obat padanya.


"Iya, Mbak,"

__ADS_1


Silvi mengambil obat di tanganku, lalu menelannya satu persatu.


"Mbak, perut aku kok semakin hari semakin besar ya?"


Pertanyaan Silvi membuat kami berdua terpaku, pasalnya kami tidak memberitahu padanya tentang kehamilannya karena tidak di izinkan oleh dokter Lusi takut mentalnya terganggu kembali.


"Memangnya, Silvi tidak ingat tentang yang Silvi alami," aku bertanya hati-hati, walaupun sudah banyak perubahan tapi bisa saja ia kembali histeris jika mengingat apa yang sudah terjadi padanya.


"Aku... aku...!"


"Sudah tidak usah di paksakan jika kamu tidak mengingatnya, sekarang kamu tidur saja," kata ku mengajaknya untuk tidur.


"Ayo, berbaring. Sekarang kamu tidur ya?" Kataku menyelimuti tubuhnya yang sedikit berisi, aku harap sepulang dari sini Silvi akan sembuh dan mengingat semuanya kembali.


Aku kembali berjalan keluar lalu masuk ke kamar, aku melihat mas Rahman masih memainkan gawainya. Aku berjalan ke kamar mandi untuk mengganti pakaianku dengan piyama.


"Mas, kok gak tidur!" tanya ku sekembali dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang di belikan mas Rahman.


Aku berjalan ke arah tempat tidur lalu menaikinya untuk merebahkan tubuh yang lelah karena perjalanan tadi pagi.

__ADS_1


"Sayang, kemari lah?" Aku menggeser tubuh agar lebih dekat dengannya lalu bersandar di dada bidang miliknya.


"Sayang....!"


"Kenapa, Mas?" tanya ku.


"Tidak ada, Mas hanya ingin seperti ini bersama kamu. Hanya ada kita berdua," kata mas Rahman mengelus puncak kepalaku.


"Bukannya kita sedang berdua, Mas," ujar ku.


Mas Rahman hanya mengangguk, aku begitu nyaman dalam dekapannya. kami berdua larut dalam pikiran masing-masing, sesuatu jatuh di keningku seperti air mengalir, aku menyapunya dengan tanganku.


Darah... dari mana darah ini datang. Apa darah ini, aku membalik badan mengarah pada mas Rahman dan mataku membulat kala melihat darah keluar dari hidung mas Rahman.


"Mas... Mas Rahman...bangun Mas," aku mencoba menggoyang tubuh mas Rahman. Tidak ada jawaban tandanya mas Rahman pingsan, aku membaringkan tubuh mas Rahman lalu mengambil air dan sapu tangan untuk membersihkan darah dari hidung mas Rahman.


Setelah membersihkan darah di hidung mas Rahman, aku mencari obatnya. Aku mencari di dalam tas tak ada obat mas Rahman disini, apa aku lupa membawanya.


Ah, aku baru ingat kalau obat mas Rahman sudah habis. Bagaimana ini?

__ADS_1


__ADS_2