Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
ketika istriku tak lagi meminta uang 58


__ADS_3

Anggara pulang bersama Stefani yang hanya diam sejak dari tadi, tak biasa ia hanya diam seperti ini mengganti pikiran Anggara.


Anggara menepikan mobilnya di pinggir jalan, lalu ia turun untuk membeli minuman lalu kembali masuk.


"Minumlah dari tadi kamu hanya diam saja, kenapa?" tanya Anggara membuka botol minuman lalu memberikan pada Stefani.


Stefani yang sedang melamun menatap Anggara lalu mengambil minuman dan meneguknya.


"Apa kamu sudah tenang?" tanya Anggara khawatir, pasal ia yang mengajak Stefani untuk melakukan usulannya.


"Apa aku ini wanita murahan sehingga di jadikan sebagi umpan?"


Stefani bertanya pada Anggara dengan tetap melihat ke depan, air matanya terus meleleh tanpa henti.


"Maksud kamu apa! Apa kamu marah karena aku mengajak kamu untuk menjebak lelaki itu," tanya Anggara menatap wajah cantik Stefani.


"Apa aku tidak boleh marah, apa aku hanya diam di saat kamu perlakukan seperti itu. Apa aku ini wanita kotor Hah,"


Teriak Stefani dengan pertanyaan beruntun membuat Anggara diam, ia bisa merasakan sakit yang di rasakan oleh Stefani. Anggara tidak menyangka jika semua itu membuat Stefani terguncang.


"Maafkan aku, maafkan aku,"

__ADS_1


Kata Anggara lirih meminta maaf, ia menarik stefani dalam pangkuannya. Ia merasa bersalah karena telah melibatkan Stefani, perempuan yang tinggal di rumahnya.


Sesaat mereka larut dalam pikiran masing-masing lalu kembali sadar di saat pandangan mereka kembali beradu.


"Bapak kenapa memeluk saya," tanya Stefani yang sadar ia berada dalam pelukan Anggara.


"Siapa yang peluk kamu, tadi aku hanya resflek itu saja sewot," kata Anggara mencibir mulutnya.


"Bilang saja cari kesempatan dalam kesempitan," kata Stefani melirik Anggara, mukanya memerah mengingat ia berada dalam pelukan Anggara.


"Kenapa senyum-senyum, apa kamu suka aku peluk," tanya Anggara.


"Jangan ngadi-ngadi deh, Pak. Tidak mungkin aku suka di peluk sama bapak," kata Stefani mengalihkan pandangannya pada jendela samping.


Anggara kembali menghidupkan mobilnya, malam semakin larut tapi mereka juga belum sampai rumah. Sesekali Anggara melihat ke arah Stefani begitu juga sebaliknya.


"Kenapa dia manis sekali, apa aku jatuh cinta padanya. Kenapa jantung ku berdetak hebat," batin Anggara.


Anggara mencoba fokus menyetir mobil, ia menepis segala perasaan yang mulai berkelana di kepalanya.


"Pak Anggara kalau seperti ini tampan sekali," batin Stefani.

__ADS_1


Haduh, kenapa aku memikirkan pak Anggara. Dia kan lelaki dingin, apa aku sudah padanya. Mana mungkin aku jatuh cinta pada lelaki dingin ini.


Stefani menggeleng kepalanya, menghapus segala bayangan yang mulai menghantui pikirannya.


Dua jam kemudian, mereka sampai di pelataran rumah Anggara. Lampu rumah sebagian sudah di matikan, itu tandanya orang rumah sudah mulai tidur.


Anggara membuka pintu lalu mereka masuk ke dalam, Stefani berjalan masuk ke kamarnya.


"Tunggu, mau kemana?" tanya Anggara.


"Mau tidur, mau apalagi," kata Stefani kesal.


Cup...


Anggara mencium kening Stefani, lalu berjalan menaiki tangga satu persatu. Stefani melongo melihat perlakuan Anggara.


"Mimpi apa aku dicium sama pak Anggara!" lirih Silvi berkata.


Stefani berjalan ke kamarnya dengan perasaan bingung, ia terus memegang keningnya lalu membuka pintu kamarnya. ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Apa tadi pak Anggara tadi sedang bermimpi!"...

__ADS_1


__ADS_2