Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang

Ketika Istriku Tak Lagi Meminta Uang
Ketika istriku tak lagi meminta uang 133


__ADS_3

"ibu...!" Aku berteriak melihat ibu jatuh pingsan yang tidak jauh dari ku, aku meletakkan nampan berisi air minum begitu saja. Silvi dan Amelia berlari ke arahku dan kaget melihat ibu sudah pingsan.


"Ibu kenapa, Mbak?" tanya Silvi.


"Ibu pingsan, bantu mbak bawa ibu ke kamar dan setelah itu hubungi dokter," kata ku mencoba mengangkat ibu ke kamar bersama-sama. Kami sedikit kewalahan mengangkat ibu karena tubuh beliau yang berisi.


Setelah meletakkan ibu di atas tempat tidur, aku menghubungi dokter keluarga untuk datang ke rumah dan setelah itu baru aku menghubungi Mas Afnan.


Entah apa yang terjadi dengan ibu, aku tidak tahu. Mungkin saja beliau memikirkan putranya yang sudah meninggal, padahal selama ini tidak pernah ibu pingsan jika tak ada beban yang di pikirkan ibu.


_____________&&&&&&&&________________


"Bagaimana, Apa kalian sudah menemukan mereka?" tanya Afnan melalui ponsel pada seseorang, sepertinya ada seseorang yang terjadi sehingga membuat dia menghubungi seseorang.


Setelah menghubungi seseorang, Afnan kembali meletakkan ponsel di atas meja kerjanya lalu duduk di atasnya.


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan mereka?" tanya Anggara yang kini berada di ruang Afnan, ia sangat galau karena Stefani tidak mengabarinya sama sekali.


Jadi dari pada terus memikirkan yang tidak-tidak, ia pergi keruangan Anggara.


"Belum, mereka tidak bisa di temukan di mana pun. Sepertinya mereka sudah pergi dari kota ini," kata Afnan mengambil rokok dalam celananya miliknya, lalu mengeluarkan dan menghisapnya.

__ADS_1


Asap rokok mengepul di udara, memenuhi ruangan yang besar itu. Sampai hari ini, Afnan juga belum bisa menemukan orang yang merusak wajahnya.


"Mungkin saja, apa kamu mencurigai seseorang selain mereka?" tanya Anggara.


Afnan mengangguk lalu kembali mengeluarkan asap yang mengepul di udara bebas.


"Siapa....?" tanya Anggara penasaran.


"Bu Sekar....!" Kata Afnan.


"Apa....!"


Suara ponsel Afnan berbunyi ternyata telfonan dari Ratih lalu mengangkatnya.


"Hallo, Sayang, ada apa?" Tanya Afnan melalui sambungan telepon.


"Ibu pingsan, kamu pulang ya?"


"Baik, aku akan segera pulang!" Kata Afnan kaget mendengar Bu Romlah jatuh pingsan.


__________________&&&&&&_______________

__ADS_1


"Bagaimana keadaan ibu, dok?" Tanya ku setelah dokter memeriksa kondisi ibu yang lemah.


"Beliau tidak apa-apa mungkin terlalu banyak beban pikiran sehingga membuat ibu anda pingsan dan demam Ini resep obat untuk di tebus, kalau begitu saya permisi dulu" Kata dokter tersebut.


Ratih mengambil resep obat tersebut dan Mas Afnan baru saja pulang dari kantor setelah aku menghubunginya.


"Bagaimana keadaan ibu dan kenapa ibu bisa pingsan?" tanya Mas Afnan.


"Kata dokter demam dan mungkin banyak beban pikiran sehingga membuat beliau tidak tidur semalaman?" Kata Ratih pada Suaminya.


Afnan duduk di tepi ranjang, lalu menggenggam tangan ibu. Kami keluar karena tidak ingin mengganggu Mas Afnan.


Setelah menemui ibu Mas Afnan keluar, kami duduk di ruang keluarga begitu juga dengan Silvi. Amelia sudah pulang karena ia tidak bisa berlama-lama di rumah.


"Apa ibu sudah bangun, Mas!" tanya ku.


"Belum, biarkan ibu tidur. Oh ya Sil, pernikahan kalian akan berlangsung dua minggu lagi, tadi mas sudah membahasnya bersama Fadli," kata Mas Afnan.


"Tapi Mas biayanya....!"


"Kamu tidak perlu memikirkan itu semua, biar Mas yang tanggung kamu persiapkan saja pernikahan kalian masalah biaya mas yang tanggung," kata Mas Afnan lagi. Aku hanya mengangguk, tidak ada sedikitpun rasa marah karena ia menanggung semua biaya pernikahan Silvi. Toh, Mas Afnan sudah memberikan segalanya untuk ku.

__ADS_1


__ADS_2