
"Apa kamu kenal dengan lelaki yang ada di foto ini?"
Aku menunjukan foto masa kecilnya bersama dokter Fadli, Silvi mengambil ponsel dari tangan ku lalu menatap lekat foto tersebut dan kembali menatap ku.
"Dari mana dapat foto ini, Mbak?" Tanya Silvi terus menatap foto tersebut.
"Dari si empunya foto tersebut," kata ku.
"Siapa...?"
"Dokter Fadli, apa kamu ingat!" tanyaku berjalan ke arahnya.
Silvi hanya diam mungkin mengingat masa-masa kecilnya, masa-masa sekolahnya. Terlihat di foto itu mereka berseragam ke sekolah.
"Ah, aku ingat Mbak. Dia adalah Mikky satu sekolah dengan aku tapi waktu naik ke kelas dua, dia pindah ke luar negri," kata Silvi.
"Lalu siapa Mikky, namanya dokter Fadli," kataku lagi.
"Dulu sejak kami sekolah, aku dan dia tidak pernah berteman. Setiap hari ada saja dia membuat ulah sehingga dia memanggil aku Mouse dan aku menamakan dia dengan Mikky, Mbak? ternyata dia sudah jadi dokter sekarang," kata Silvi tersenyum mungkin mengingat masa lalunya bersama dokter Fadli.
"Tapi Mbak kenal dia dimana?" Tanya Silvi.
"Tanya saja sama Mas mu, Dek?" Kata ku menaikkan alis ke arah mas Rahman yang sedang mengelus kepala Rania, putri kami yang masih tertidur.
"Ah, mbak gak asik. Masak suruh nanya' sama mas Rahman," kata Silvi cemberut dengan bibir menggerucut.
"Lagi apa sih," tanya mas Rahman ikut bergabung bersama kami.
"Ini loe Mas, Silvi menanyakan tentang Dokter Fadli?"
Mas Rahman menatap heran ke arah Ratih dan Silvi, ia bingung apa yang harus dia ceritakan.
"Dokter Fadli, maksudnya apa?"
Mas Rahman juga belum mengerti.
"Mas ingat gak tadi pagi kita ke rumah sakit, saat aku menanyakan foto di dalam ruangan dokter Fadli ternyata foto Silvi waktu SMA," kataku.
"Ah, iya. Jadi yang kamu bahas tadi itu foto Silvi, kenapa gak bilang dari tadi," kata mas Rahman duduk di samping ku.
"Sejak kapan kamu mengenalnya, Silvi?"
"Tidak Mas, aku dan dia hanya teman sekolah," kata Silvi duduk di dekat ku.
"Lalu kenapa dia bisa menyimpan foto kalian jaman dulu," tanya mas Rahman.
"Tahu ah, mas tanya saja sama Mikky,"
"Mikky, siapa Mikky,"
Lagi-lagi mas Rahman Kembali bertanya dengan raut wajah bingung.
"Mas Kepo ya?" Kata ku menggodanya.
__ADS_1
"Udah ah, Mbak aku pulang dulu ya? Besok aku datang lagi," kata Silvi berjalan keluar lalu mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja.
Ternyata hari sudah sore, tak terasa karena obrolan terlalu panjang membuat kami tidak sadar jika hari hampir menjelang malam.
"Ibu istirahat saja di rumah, biar Ratih yang jagain Rania," kataku.
Ibu sedang duduk menyandarkan tubuhnya di kursi samping Rania menatap ke arahku.
"Memangnya kamu tidak apa-apa sendirian disini?" Kata ibu khawatir.
"Rania tidak sendirian, Bu. Kan ada aku," kata Mas Rahman baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, Bu. Besok ibu kesini lagi," kataku.
"Baiklah, ibu pulang dan kalian jaga cucu ibu baik-baik," kata ibu sambil mengelus pipiku, mas Rahman hanya tersenyum lalu mengantar ibu sampai di depan pintu.
*** ***
Di sepanjang perjalanan, Silvi terus teringan tentang pembicaraan di rumah sakit. Memorinya berputar tentang masa-masa ia sekolah dan selalu berantem dengan Dokter Fadli.
"Apa benar Mikky masih menyimpan foto kami, mana mungkin? Kami sudah lama tidak bertemu," Gumam Silvi sendiri di dalam Taxi yang di tumpanginya.
Tak lama kemudian, Silvi sampai ke rumah di susul taxi yang lain di belakang membuat Silvi berhenti melangkahkan kakinya ke arah pagar.
"Ibu pulang kok gak bilang-bilang, padahal bisa pulang bareng aku lhoe," kata Silvi berdiri di depan pintu gerbang.
"Kamu kan gak ngajak ibu apalagi setelah mbak mu bahas tentang si Mikky - Mikky itu," kata Bu Romlah membuka pagar rumah.
"Apaan sih ibu, bikin Silvi malu saja," kata Silvi mengerucutkan bibirnya, Bu Romlah mengambil kunci rumah di dalam tasnya lalu membuka pintu dan mbak Siti.
"Kemarin katanya sih lama disana soalnya orang tuanya sakit di kampung, memang kenapa?" Kata ibu berjalan ke kamar mereka yang ada di bawah.
"Gak kenapa-napa sih Bu? Kangen aja sama mbak Siti, kan dia udah jadi bagian dari keluarga kita." Kata Silvi menaruh tasnya di atas tempat tidur.
"Sudah, nanti kalau orang tuanya sembuh pasti pulang juga kok." Kata Bu Romlah berjalan ke kamar mandi, Silvi mengambil handuk lalu keluar dari untuk membersihkan tubuhnya di kamar mandi belakang.
"Aku mandi di luar saja kalau nunggu ibu pasti terlalu lama," kata Silvi.
*** ***
Di kediaman Dokter Fadli.
"Sampai kapan kamu terus mencari dia, bro!"
Seseorang lelaki duduk di atas tempat tidur, sementara seseorang lagi duduk di kursi sambil menatap foto seorang perempuan.
"Entahlah, aku ingin sekali bisa menemuinya," ujar dokter Fadli
"Kalau dia sudah menikah, apa yang akan kamu lakukan," tanya seseorang lelaki berperawakan sedang tapi memiliki bulu mata tebal.
"Menikah, aku rasa tidak?"
"Kenapa kamu begitu yakin, bukankah kalian sudah lama tidak bertemu lagian kalian terpisah sejak SMA,"
__ADS_1
"Tidak, Dit. Aku yakin kalau dia belum menikah," kata dokter Fadli.
"Kalian berdua itu hanya cinta monyet dan aku rasa dia juga sudah menikah, mungkin saja dia sudah melupakan kamu. Lelaki yang selalu mengganggu dia waktu di sekolah," kata Radit sahabat Fadli.
Fadli terdiam, ia membenarkan semua perkataan Radit sahabatnya. Kemungkinan besar memang perempuan yang membuat hatinya berbunga kini telah menikah.
"Apa aku harus berhenti untuk mencarinya?" tanya Fadli pada Radit.
Radit menaikkan kedua bahunya tanda dia juga tidak bisa memberikan saran yang sudah menjadi sahabatnya semenjak menjadi seorang dokter.
"Tanyakan pada hatimu, jika kau yakin dia masih sendiri maka kejarlah dia walaupun ke dasar bumi tapi jika suatu saat kamu menemukan dia telah bahagia bersama yang lain, jangan kecewa," Radit menepuk bahu sahabatnya.
Radit banyak tahu tentang wanita yang membuat Fadli masih betah untuk sendirian, wanita yang selalu bertengkar dengannya sehingga guru menamakan keduanya Mikky Mouse.
"Mouse, mungkinkah kita akan bertemu kembali," gumam Fadli dalam hatinya.
"Ayo, kita tidur karena besok kita harus berangkat ke rumah sakit yang ada di Jakarta Selatan." Kata Radit menaiki kembali tempat tidur yang berukuran size yang ada di apartemen miliknya.
Fadli terlahir dari keluarga sederhana, karena kecerdasan ia menjadi seorang dokter dan kini dia memiliki apartemen sendiri atas pencapaian ia selama ini menjadi seorang Dokter.
Fadli beranjak dari kursi kerjanya menuju tempat tidur yang empuk, ia mengusap wajah dengan keduanya dan menghembuskan nafas dengan gusar, ia menaiki tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Radit, perlahan matanya mulai terpejam masuk ke alam mimpi.
Sang fajar mulai terbit, burung-burung mulai terbang untuk mencari makan. Silvi yang sudah siap-siap untuk berangkat bekerja menenteng tasnya dengan menaiki taxi.
"Jalan Pak?" Kata Silvi tersenyum.
Tak lama kemudian, Silvi sampai di depan restoran lalu turun dan tak sengaja menabrak seseorang lelaki.
"Anda bisa jalan tidak sih," kata Fadli
Seseorang lelaki menghardik Silvi yang tak sengaja menabraknya.
"Maaf, saya tidak sengaja pak! Lagian jalanankan luas kenapa bapak harus jalan di depan saya," kata Silvi menatap ke arah ke arah Fadli dengan geram, baru kali ini ia melihat perempuan yang berani dengannya.
"Kamu harus...!"
"Maaf ya, pak. Saya harus kerja dan tidak bisa meladeni bapak?" Kata Silvi berlari ke arah restoran tanpa melihat ke belakang itu.
"Mata itu mirip sekali dengan seseorang tapi siapa?" gumam Fadli dalam hati.
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang?"
"Ayo, pagi-pagi udah bikin mood berantakan saja? baru pagi ini ada perempuan yang berani marah sama loe," kata Radit menertawakan Fadli yang tadi sempat beradu argumen dengan Silvi tapi ocehan Radit tidak digubris oleh Fadli.
"Kenapa dari tadi diam saja?" tanya Radit.
"Loe perhatiin gak wanita tadi?" tanya Fadli.
"Memangnya kenapa?" Tanya Radit yang sedang menyetir mobil mereka untuk berdua ingin berangkat ke rumah sakit.
"Dia mirip sekali dengan Mouse, bulu matanya begitu indah," gumam Fadli tak sadar memuji Silvi.
"Mungkin saja dia adalah perempuan yang kamu cari selama ini," kata Radit.
__ADS_1
"Entahlah," kata Fadli menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu memilih untuk melihat ke arah jendela mobil.