
Hari ini adalah hari yang sakral bagi Silvi, Hari dimana ia akan menjadi pasangan sah di mata hukum dan Agama.
Ya, Hari ini pernikahan Silvi dan Fadli sebagaimana yang sudah disepakati oleh keduanya. Dia begitu cantik dalam balutan baju pengantin berwarna putih, ia memakai baju adat Sunda.
Acara akad nikah akan segera dimulai, Silvi turun dari lantai atas di temani Bridesmaids di sampingnya. Semua mata memandang ke arahnya, ia benar-benar cantik.
Silvi duduk di samping Fadli untuk melangsungkan akan nikah.
"Apa akad nikahnya sudah bisa kita mulai?" tanya pak ustadz.
"Sudah, Pak!" tanya ku.
"Saya terima nikah dan kawinnya Silvi Handayani binti Ramli di bayar tunai,"
Para Saksi"Sah"
"Sah....!" Kata semua para undangan, setelah akad nikah pak ustadz membaca doa dengan hening.
Acara akad nikah sudah selesai, kini di sambung dengan acara pesta. Silvi berjalan ke kamar untuk menggantikan baju lalu menggantikannya dengan baju pesta.
Suana pesta sangat meriah, tidak henti-hentinya para tamu undangan memberikan ucap selamat di atas pelaminan yang sudah di hias begitu cantik dan mempesona.
Aku berjalan ke meja hidang untuk mengambil minum yang sudah habis. Namun seseorang mengangetkannya.
__ADS_1
"Mbak, Ratih?" Panggil seseorang gadis cantik berambut panjang. Aku menoleh ke arahnya, mata ku membulat saat melihat Stefani juga ada disini.
"Stefani, kamu sudah pulang dari London?" Tanyaku melihat dia berada di pesta pernikahan Silvi tapi dia pergi sama siapa. Aku celingak-celinguk mencari Anggara pasti dengannya Stefani pergi. Mana mungkin Anggara membiarkan Stefani pergi sendiri.
"Kamu datang sama siapa, Stef? tanyaku.
"Sama Pak Anggara,Mbak!" Kata Stefani tersenyum.
"Hai, sudah berapa kali aku bilang jangan panggil aku bapak, panggil aku sayang!" Kata Anggara berbisik di telinga Stefani membuat Stefani merinding.
Aku yang melihat dua manusia yang sedang jatuh cinta memilih pergi dari pada harus melihat mereka, terlihat Mas Afnan baru saja selesai menerima telpon.
"Ada apa,Mas?" Tanya ku.
"Tidak apa-apa, sayang! Mas keluar dulu sebentar, ada sesuatu yang harus Mas selesaikan," kata Mas Afnan.
"Tidak lama kok sayang, cuma 5 menit?" tanya Afnan berjalan keluar dari pesta lalu berjalan dengan terburu-buru.
______________&&&&&&&&________________
Bugh....bugh....
Tendangan membabi buta mengarah pada dua preman, lelaki yang berbaju hitam terus memukul mereka sehingga mereka mengatakan siapa orang yang menyuruh mereka untuk melakukan penyiraman terhadap wajah Rahman.
__ADS_1
Rahman menatap kedua preman tersebut dengan mata menyala seakan ia akan menerkam mereka hidup-hidup.
"Katakan siapa yang menyuruh kalian atau saya akan...!"
"Bu Sekar... Malam kami di suruh untuk mengangkat kau dari mobil itu lalu menyuruh kami untuk merusak wajah kamu,"
Pengakuan yang sangat mengejutkan, ternyata ia tidak salah menebak. Dia masih ingat jika dalam setengah sadar dia melihat seorang perempuan yang tak lain ada Bu Sekar.
"Bawa mereka ke kantor Polisi dan ingat, suruh polisi untuk menangkap Bu Sekar. Aku rasa ada seseorang yang menyuruh mereka.
"Baik, kami akan melakukan semua perintah tuan," kata lelaki yang memakai baju serba hitam, sepertinya ia seorang intel dalam menemukan seseorang.
Afnan kembali ke pesta adiknya yang hampir selesai, sebagian tamu sudah pulang. Hanya kerabat keluarga yang masih berada disana.
"Selamat sayang, akhirnya kamu menikah juga. Semoga kalian bahagia dan ingat Fadli untuk selalu menjaga Silvi, ini kado pernikahan mbak dan Mas mu," kata Ratih memberikan tiket bulan madu ke Bali, Silvi sangat terharu lalu memeluk Ratih lalu di susul oleh Afnan dari belakang.
"Makasih Mas tanpa kalian, aku mungkin tidak akan menikah dengan Mas Fadli." kata Silvi memeluk mas Afnan, aku hanya tersenyum menoleh ke arahnya.
Rasa bahagia meliputi dua keluarga, orang tua Fadli sangat baik memperlakukan Silvi. Semoga saja memang begitu selamanya, hubungan mereka dalam keadaan bahagia selalu.
Kami pulang setelah acara selesai, ibu pulang bersama kami dengan mobil milik Mas Afnan yang baru.
"Akhirnya Silvi menikah juga ya, Mas?" Kata ku menoleh ke arahnya sedangkan Rania sudah tidur.
__ADS_1
"Iya, sayang! semoga pernikahan mereka langgeng selalu," kata Mas Afnan. Aku hanya mengangguk tanpa bicara apa-apa lagi.
Hubungan ibu dan Bu Lydia sudah membaik setelah kejadian kemarin, tidak ada yang harus di salahkan. Mungkin sudah takdir bagi Afnan, ibu bisa melihat Afnan dalam diri Mas Rahman walaupun pada nyatanya tidak sama.