
"Silvi...!" Aku kaget melihat Silvi yang sudah berlumuran darah. Siapa yang menabrak dia dan pergi begitu saja, masih ada orang yang tidak mau bertanggung jawab seperti ini.
Aku memangku kepala Silvi, baju ku terkena darah Silvi tapi aku tidak peduli setidak aku harus bisa membawanya ke rumah sakit.
"Pak, tolong bantu saya membawa dia ke rumah sakit. Dia adik ipar saya," kataku.
Beberapa warga mengangguk lalu membantu membawa Silvi masuk kerumah sakit, kecelakaan yang dia alami memang tidak jauh dari rumah sakit hanya menyebrangi jalan saja.
Dokter sedang menangani Silvi sementara mas Rahman masih menjalani kemoterapi, siapa yang harus aku dahulukan. Aku berjalan mondar-mandir terus melihat melihat ruang UGD yang belum terbuka dari tadi.
Ah, sebaiknya aku hubungi ibu saja dan berkata kalau Silvi ada di rumah sakit sekarang. Aku mengambil ponsel di dalam lalu menekan nomor ibu.
Beberapa kali ibu tidak mengangkatnya, kemana beliau pergi. Aku terus menghubungi ibu sampai ke 5 kali ibu baru mengangkatnya.
"Hallo, ada apa Ratih?"
"Ibu ke rumah sakit sekarang, Silvi mengalami kecelakaan,"
"Iya, ibu kesana sekarang?" Aku mematikan ponsel setelah menghubungi ibu mertuaku.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Silvi keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana keadaan adik ipar saya, dok?" tanyaku.
__ADS_1
"Keadaannya baik-baik saja tapi luka di kepalanya membuat ia sampai sekarang tidak sadarkan diri," kata dokter tersebut.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Dok?
"Kita tunggu sampai dia sadar dulu setelah itu baru kita lihat perkembangannya," kata dokter lagi, aku hanya mengangguk lalu berjalan memasuki ruang UGD. Aku melihat tas berada di dekatnya, Apa itu tasnya Silvi.
Aku berjalan mengambil tas Silvi, bukan lancang tapi aku hanya ingin melihat apa yang ada di dalam tas. Mungkin dari situ aku bisa cari tahu kemana dia selama ini.
Pelan-pelan aku membuka tasnya, tidak ada yang mencurigakan hanya ada lipstick dan bedak di dalam tasnya, aku terus merogoh tasnya hingga semua barangnya keluar, aku melihat sesuatu terjatuh dari tasnya.
Tespeck, tespeck siapa ini? Apa ini punya Silvi. Apa aku harus membicarakannya pada dokter agar aku tahu Silvi hamil kalau pun benar siapa yang menghamilinya.
Aku berjalan keluar lalu melihat ibu sudah datang lalu berhamburan ke arahku, aku memasukkan tespeck itu agar ibu tidak tahu mengetahui hal ini.
"Masih di ruang UGD, sebentar lagi akan di pindahkan keruang inap," kataku.
Ibu langsung berlari ke ruang UGD meninggalkan aku sendirian, aku melihat jam sudah menuju pukul 11 siang tandanya aku sudah lama meninggalkan mas Rahman di ruang kemoterapi.
Aku berjalan ke arah ruang kemoterapi, takut mas Rahman sendirian disana. Aku melihat mas Rahman sudah selesai di kemo tapi dokter tidak membiarkan dia pulang sampai tubuhnya tidak lemah.
"Mas, Maaf tadi aku...!"
"Tidak apa-apa? Kemari lah," kata mas Rahman. Aku masih berdiri di depan pintu takut dia akan memarahi ku karena aku sudah terlalu lama meninggalkannya.
__ADS_1
"Mas, aku ingin mengatakan sesuatu,"
"Apa, katakan apa yang ingin kamu katakan,"
"SIlvi mengalami kecelakaan, Mas," kata ku.
"Silvi, kecelakaan kok kamu tahu!"
"Ya, tahu lah. Wong istrimu ini yang membawanya," kata ku.
"Lalu dimana dia sekarang!"
"Di ruang UGD tapi mas aku tadi menemukan sesuatu di dalam tasnya Silvi,"
Aku mengeluarkan tespeck di dalam tas ku lalu memberikannya pada mas Rahman, aku ingin tahu apa pendapatan mas Rahman tentang tespeck itu.
"Tespeck, maksud kamu Silvi...!"
Mas Rahman menggantungkan ucapannya, mungkin ia tidak percaya dengan perbuatan Silvi tapi itulah kenyataan yang harus di terima.
"Masalah ini nanti kita bahas lagi, sebaiknya kita jenguk Silvi saja," kata mas Rahman bangun dari ranjang rumah sakit. Aku mengambil kursi roda lalu membantu mas Rahman untuk duduk di atas kursi roda.
Efek dari kemoterapi membuat tubuhnya melemah, aku harap akan ada kesembuhan untuk mas Rahman meskipun sangat mustahil tapi masih berupaya untuk menyembuhkan penyakit mas Rahman.
__ADS_1
Hanya Allah yang tahu ajal seseorang.