
Aku terkejut saat ibu mengatakan di depan ada polisi, apa yang terjadi sehinga polisi berada disini. Apa semua ini ada sangkut pautnya dengan Bu Sekar sepertinya aku harus turun ke bawah bersama mas Rahman.
"Baiklah, Bu! aku akan turun ke bawah bersama Mas Rahman," kata ku sedikit gelisah.
"Ya sudah,ibu tunggu di luar. Ingat jangan lama-lama," kata Ibu.
Aku hanya mengangguk lalu ibu kembali turun ke bawah menemani polisi tersebut.
"Ada apa sayang?" tanya Mas Rahman.
"Di depan ada polisi, Mas. Ayo kita temui mereka mungkin saja ada yang penting," kata ku mengajak mas Rahman untuk ke luar dari kamar meski di luar hujan masih lebat.
Kami turun ke bawah, terlihat dua polisi sedang berbicara dengan ibu terlihat Ramah.
"Tuh, mereka datang?" Kata ibu setelah melihat kami turun di tangga yang terakhir. Kami duduk berhadapan dengan polisi tersebut.
"Begini, kedatangan kami hanya ingin mengabarkan kalau Bu Sekar mengalami serangan jantung, mungkin beliau terlalu stres memikirkan apa yang telah menimpa keluarganya.
"Astaghfirullah, serangan jantung. Apa semua ini benar pak atau hanya akal-akalan Bu Sekar agar terlepas dari hukuman," kata ku sedikit tidak percaya, mana mungkin Bu Sekar mendapatkan serangan jantung mendadak kalau bukan hanya akal-akalan saja.
"Kami rasa tidak, Bu. Kalau bapak dan ibu tidak percaya, bisa melihatnya di rumah sakit sejati yang tidak jauh dari kantor polisi pak," kata seseorang polisi.
__ADS_1
"Baiklah pak, mari kita kesana saja agar semakin jelas," kata Mas Rahman.
Aku hanya mengangguk lalu berjalan kembali kamar untuk menggantikan pakaian. Rasanya ingin sekali melihat Bu Sekar, aku masih tidak percaya jika dalam semalam dalam penjara ini Sekar bisa masuk rumah sakit.
Aku memakai baju one set, agar lebih nyaman ketika berjalan dan hijab dengan warna yang senada, aku turun ke bawah dengan tas selempang berada di bahuku sedangkan Mas Rahman tidak menggantikan pakaian.
Kami berangkat ke rumah sakit dengan di antarkan pak polisi, setelah sampai disini kami langsung menuju ruangannya. Di luar, ada seseorang polisi perempuan yang bertugas untuk menjaga Bu Sekar mana tahu ia berusaha kabur.
"Mari, Pak,Bu!" Ujar polisi perempuan mengajak kami masuk ke dalam, kami hanya mengangguk dan betapa kagetnya aku dan mas Rahman ternyata benar Bu Sekar berada di rumah sakit.
Tubuhnya terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan selang infus dan alat medis lain, Tak lama kemudian Dokter masuk ke ruangan Bu Sekar.
"Apa ibu ini keluarganga Bu Sekar!" tanya seseorang dokter pada ku.
"Begini, Pak. Kami tetangga Bu Sekar kebetulan keluarganga di kampung, ada apa ya pak. Sepertinya serius sekali," tanya ku menatap dokter tersebut.
"Begini, Bu. Kondisi Bu Sekar sangat kritis karena serangan jantung mendadak bisa berakibat fatal, kami ingin bertemu dengan keluarga Bu Sekar atau anaknya begitu," kata Dokter tersebut.
Kami saling memandang, lalu mas Rahman berbicara dengan polisi lalu polisi tersebut mengangguk dan menghubungi seseorang mungkin saja menyuruh untuk membawa Riko ke rumah sakit.
"Mas kita pulang saja yok, lagian aku malas bertemu sama Riko nanti dia semakin membenci kita," kata ku membisikkan sesuatu di telinga mas Rahman, Mas Rahman mengangguk lalu berjalan ke arah polisi yang masih sedang berbicara.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu soalnya ada yang harus kami urus," kata Mas Rahman pamit, polisi hanya mengangguk lalu kami keluar dari ruang rawat.
Aku turut prihatin dengan keadaan yang menimpa Bu Sekar, mungkin juga semua yang terjadi padanya adalah karma karena sudah jahat kepada kami.
🍁
🍁
🍁
Tak lama kemudian, Riko sampai di rumah sakit lalu berlari ke arah Bu Sekar yang terbaring lemah, ia juga belum bangun dari tidurnya.
"Bu,kenapa jadi begini! Bangun Bu, jangan tinggal Riko sendiri," kata Riko menangis melihat Bu Sekar tak sadarkan diri, Polisi hanya diam melihat Riko menangis.
Ia terus mencoba untuk membangunkan Bu Sekar tapi sayang, untuk membuka mata saja ia enggan apalagi jika harus menikah.
Tit....tit....
Suara monitor terdengar nyaring,Riko melihat ke arah monitor dan dua garis sudah lurus. Pak polisi memanggil dokter untuk menangani Bu Sekar, Dokter mencoba mempompa jantungnya tapi sayang jantungnya semakin lemah hingga garis pertama itu lurus.
Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un....
__ADS_1
Ucap dokter setelah bunyi nyaring terakhir kalinya, Riko menangis sembari menggoyang tubuh ibunya.
"Semua ini gara2 mereka, aku akan membalas kalian sampai kapan pun," gumam Riko dengan mata memerah.